
Olive berjalan menuju kampusnya. Ia memutuskan untuk mendiami Aiden agar pria itu peka dengan perasaannya. Alhasil Olive pergi kekampus dengan berjalan kaki.
Setibanya dikampus, Olive dikejutkan dengan seseorang yang meneriaki namanya dari jauh.
"Olivee!!" Ucap seseorang membuat Olive menoleh kebelakang. Disana Olive bisa melihat Salsa berlari kearahnya diikuti Deniaa dibelakangnya.
"Salsa! Denia!, lo berdua kok disini?" Tanya Olive heran.
"Ih elo mah, kita berdua balik bukannya dipeluk, disambut, eh malah lo tanya kek gitu." Kata Denia pura-pura ngambek.
"Bukan gitu, gue cuma penasaran aja. Lo mah ngambekan" ucap Olive sambil menoel-noel pipi Denia.
Mereka pun berpelukan layaknya teletubis.
"Jadi kenapa kalian balik kesini? Bukannya cuti smester masih lama yaa.." ucap Olive bingung.
"Kita pindah kesini Liv, kita mau deket sama lo hehehee. Gue juga udah izin sama Granpa, gue cerita tentang lo. Jadi Grandpa ngizinin gue balik kesini." Kata salsa senang.
"Kalau gue emang kepingin aja kita ngumpul bareng, jadi gue ikutin Salsa. Bonyok gue juga gak ngelarang." Kata Denia.
"Jadi gimana sama tante Dewi dan Viona Liv?" Tanya Salsa penasaran.
"Mereka yang bunuh Bunda sama Ayah gue. Kayak yang gue ceritain kemarin. Mereka juga jual gue Sal." Kata Olive. Olive memang menceritakan segala sesuatu yang terjadi selama Salsa dan Denia pergi. Itu juga alasan Salsa dan Denia kembali ke Indo.
"Trus gimana sama orang yang beli lo? Kok lo diizinin kuliah. Bukannya lo bisa kabur ya? " Tanya Denia penasaran.
"Entahlah Dee, gue ngerasa beruntung juga kalau orang yang beli gue gak punya niat buruk sama gue. Dia bahkan ngizinin gue kuliah dan menuhi semua kebutuhan gue. Tapi..." kata Olive terputus.
"Tapi apa Liv?" Tanya Deniaa.
"Tapi Viona tinggal sama gue sekarang." Ucap Olive yang membuat Salsa dan Denia bingung.
"Eh... tunggu tunguu. Gue kok gak ngerti gini yah. " ucap Salsa.
"Gue juga gak ngerti Sal. Viona bilang dia dijual sama mamahnya. Trus dia berhasil kabur sama orang suruhan Aiden. Viona datang ke gue trus minta maaf sama gue. Gue gak tau harus maafin dia atau enggak. Gue percaya kalau dia dijual sama mamah nya, karna Aiden udah nyelidikin itu semua. Tapi gue ngerasa kalau Aiden suka sama Viona. Dan gue..." kata Olive yang terputus.
"Cemburu?" Tanya Viona melanjutkan kata kata Olive yang terputus. Olive mengangguk samar membuat Salsa terkejut.
"Lo suka sama Aiden Liv?!" Tanya Salsa tak percaya. Olive pun terdiam. Disaty sisi ia menang menyukai Aiden. Tapi ia malu mengakuinya. Bagaimana nanti jika Aiden hanya memberinya harapan palsu.
"Gue gak tahu..." ucap Olive bimbang.
"Olive..." panggil seseorang membuat mereka bertiga menoleh. Ternyata yang memanggilnya Sarah dan Bella.
"Ini kenalin, mereka berdua ini teman gue selama gue kuliah disini namanya Sarah dan Bella." Ucap Olive mengenalkan pada Salsa dan Denia.
"Nah, kalau ini Salsa dan Denia.. mereka sahabatku saat sma dulu. Sebenarnya mereka kuliah diluar negri, tapi sekarang mereka berdua akan kuliah disini bareng kita." Kata Olive mengenalkan pada Sarah dan Bella.
"Wahh.. asik nih dapet teman baru hihiii." Ucap Sarah senang.
"Iya.. tambah rame tambah seru." Ucap Bella menimpali.
"Yaudah, kalau gitu sekarang kita makan siang bareng aja. Itung itung ngerayain pertemanan kita." Ucap Denia hang mendapat lirikan geli dari Olive. Salsa pun menoyor kepala Denia.
"Alah, bilang aja lo laper kan. Gak usah cari alasan lain lah Dee, gue tau kok kalau lo laper." Ucap Salsa membuat gelak tawa Olive. Sarah dan Bella juga ikut tertawa membuat Denia menggerutu kesal.
Mereka pun berjalan bergandengan menuju kantin kampus dengan Olive yang berada ditengah.
'Gue senang memiliki sahabat seperti mereka. Mereka yang selalu mendukung gue dan memberikan semangat buat gue. Gue sayang kalian' batin Olive.
🐨
Viona sedang menunggu seseorang di sebuah cafe. Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya orang itu tiba dan duduk dohadapan Viona.
"Gimana kabarmu.?" Tanya Daren menatap Viona.
"Gue baik, Aiden juga memperlakukanku dengan baik." Ucap Viona tersenyum getir. Memang Aiden berbuat baik padanya, tapi tidak dengan Olive yang masih mengibarkan bendera perang pada nya.
"Aku akan menikahi mu." Ucap Daren yang langsung ditolak oleh Viona.
"Gue gak mau. Gue pingin mendapatkan maaf dari Olive. Gue juga pingin ngelindungi dia sebagai perminta maaafan gue." Ucap Viona mencari alasan.
"Lo nggak takut hamil?" Tanya Daren menatap Viona serius.
"Apa aku terlalu buruk dimatamu sehingga kau tidak ingin memiliki anak denganku?" Tanya Daren membuat Viona tertegun. Sungguh ia tak bermaksud demikian.
"Bukan gitu.. aku masih belum siap untuk memiliki anak. Aku ingin melindungi Olive sebagai permintaan maaf ku. Karna aku tahu kalau mamah ku akan selalu mengusik Olive. Apalagi saat ia tahu kalau Olive hidup bahagia." Kata Viona memberi penjelasan. Bagaimanapun juga ia tak ingin membuat Daren jauh darinya. Karna saat ini hanya Daren yang bisa mendukungnya dan memberikan semangat untuknya.
"Baiklah, aku akan menunggumu." Ucap Daren mengerti membuat Viona tersenyum.
'Kau akan menungguku? Apa kau suka padaku Daren? Jika itu benar, akan kupastikan penantianmu tidak akan sia-sia.' Batin Viona menatap Daren.
***
Olive pulang dari kampus sore hari. Sebenarnya jam kuliah Olive sudah berakhir pukul 11.00 siang hari. Tapi karena ia malas bertemu dengan Aiden, Olive mengajak teman-temannya untuk jalan-jalan sekedar menghabiskan waktu bersama.
Saat sampai dimansion Aiden, Olive tak melihat mobil yang dipakai Aiden terparkir di garasi. Olive berhenti sejenak.
"Biasanya dia jam segini udah dirumah.." gumam Olive dan melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.
"Hey Devi.." ucap Viona memanggil salah satu pelayannya.
"Iya nona?" Sahut Devi sembari berjalan kearah Olive.
"Apa Aiden udah pulang? Gue gak lihat mobilnya digarasi." Tanya Olive menunjuk garasi.
"Iya nona. Tuan belum pulang sejak tadi." Ucap Devi membuat Olive berdecak.
Mendengar pernyataan Devi membuat Olive mengecek handphone nya. Memang sedari tadi Olive menonaktifkan ponselnya karena Olive tak ingin Aiden menghubunginya. Ternyata ada banyak notifikasi dari Aiden. 'Aduuh.. pasti si Aiden bakalan marah sama gue' batin Olive panik.
"Ada apa nona?" Tanya Devi yang melihat Olive panik.
"Tidak papa, kau pergilah.." ucap Olive berlalu meninggalkan Devi yang mematung. Devi hanya mengendikkan bahu melihat tingkah nona nya itu.
Olive duduk diatas ranjangnya sambil menggigit jarinya. Sungguh ia sangat takut jika Aiden marah padanya. Bagaimanapun juga Aiden sudah mengeluarkan uang yang banyak untuk membebaskannya dari Dewi. Harusnya Olive nurut apa yang dikatakan Aiden.
"Kalau udah begini, gue harus gimana." Ucap Olive pada dirinya sendiri.
****
Jam sudah menununjukkan pukul 23.00, tapi Aiden sama sekali belum menunjukkan batang hidungnya. Olive berjalan mondar-mandir didepan pintu utama menunggu Aiden.
Entah kenapa ia tidak bisa tidur sebelum melihat Aiden pulang. Sudah beberapa kali dia mencoba untuk tidur, tapi pikirannya melayang memikirkan Aiden.
"Kemana sih lo.. udah jam segini lo belum pulang juga." Gumam Olive. Dia sudah mencoba untuk menghubungi Aiden, tapi ponsel Aiden tidak aktif membuat pikirannya bercabang.
'Apa Aiden diculik? Kalau mobilnya mogok ditengah jalan gimana? Kalau dia dirampok gimana?' Batin Olive bertanya-tanya. Sangkin khawatirnya, Olive tak mengingat kalau assistant Roby bersama dengan Aiden.
Lama menunggu, akhirnya Olive tertidur disofa yang ada disana.
Jam menunjukkan pukul 02.15 , Aiden barh tiba dirumahnya diantar oleh assistant Roby. Saat masuk kedalam mansion, Aiden melihat Olive yang tertidur disofa. Aiden menghampiri Olive sesaat, lalu pergi meninggalkan Olive disana.
Viona yang terbangun mendengar suara mobil melihat bagaimana Aiden berlalu meninggalkan Olive. 'Apa yang terjadi diantara mereka?' Batin Viona.
Sesaat kemudian Viona tersenyum melihat Aiden kembali turun dari tangga. Namun sesaat kemudian Viona mengerutkan keningnya melihat Aiden berjalan melalui Olive menuju kearah dapur. Melihat itu membuat Viona bergegas menghampiri Aiden.
"Aiden.." ucap Viona membuat Aiden tersentak kaget membuatnya menumpahkan air yang hendak diminumnya.
"Ekhm.. ada apa?" Tanya Aiden sembari membersihkan bajunya yang terkena air.
"Mengapa kau tak membawa Olive ke kamarnya?" Tanya Viona.
"Dia yang memilih untuk tidur disana." Ucap Aiden membalikkan badan.
"Dia tidur disana karena mancemaskanmu, dia menunggumu." Kata Viona menarik lengan Aiden sedikit kesal karena Aiden mengabaikan Olive. Hal itu membuat Viona terpeleset karena menginjak air yang tertumpah tadi. Aiden yang melihat itu membuatnya reflek memeluk Viona, mereka bertatapan sejenak. Hal itu tidak luput dari pandangan Olive, Olive yang mendengar suara keributan dari daour membuatnya penasaran dan segera menghampiri.
Viona melihat kedatangan Olive membuatnya segera berdiri.
"Maaf, gue mengganggu. Gue cuma mau ngambil air minum. Kebetulan air dikamar gue abis." Kata Olive sambil beralu mengambil air putih.
Aiden dan Viona hanya terdiam. Aiden memejamkan matanya mamikirkan Olive yang salah paham untuk kesekian kalinya.
"Lain kali kalau mau melakukannya, lakukanlah dikamar." Ucap Olive berlalu setelah mengambil air outih yang menjadi alibinya.
'Melakukan? Apa maksudnya..' batin Aiden frustasi mendengar kalimat Olive dan berlalu pergi mengejar Olive.