Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
DNLM 8



Aiden kembali ke mansion setelah mengurus kerjasama antara perusahaan FG inch dengan Wijaya Group di Singapore.


Dia ingin kedatangannya disambut oleh Olive. Namun, itu hanya menjadi hayalannya saja. Mana mungkin Olive melakukan hal itu pada orang yang sudah menculiknya.


Ketika sampai didepan mansion, Aiden disambut oleh kedua pengawalnya termasuk Roby yang menjadi salah satu diantaranya.


Namun ketika membuka pintu utama, Aiden dikejutkan dengan Olivia yang memakai topi kerucut dan memegang kue tart menyambutnya.


"Hai πŸ‘‹πŸ».." ucap Olive menyambut Aiden dengan melambaikan sebelah tangannya.


"Selamat ulang tahun untukmu.." ucap Olive seraya menyodorkan kue tart yang sudah dipotongnya ke mulut Aiden. Aiden terdiam beberapa saat. 'Gadis ini tahu hari ulang tahunku? Apa dia mencari tahu nya?' Batin Aiden. Memikirkan hal itu membuat Aiden tersipu. Hal itu tak luput dari pandangan Olive, melihat hal itu Olive tersenyum.


Kemudian Aiden menguasai mimik wajahnya kembali seperti biasa. Aiden pun memakan kue yang disodorkan Olive untuknya. Tiba-tiba Aiden berlari menuju dapur dan meneguk air minum. Sedangkan Olive tertawa melihat Aiden yang lari kepedasan.


"Bwahahahaa lo lucu banget" tawa Olive pecah melihat muka merah Aiden. Aiden yang mendengarnya pun menghampiri Olive yang sedang menertawainya.


"Kau menertawaiku? Kau senang?" Tanya Aiden menatap tajam Olive.


"Tentu saja hahah.... ups maaf sengaja eh gak sengaja" ucap Olive berusaha menahan tawanya. Kemudian Aiden pergi ke kamarnya tanpa mengucapkan apa-apa. Olive terdiam menatap kepergian Aiden.


'Apa gue keterlaluan banget ya. Gue kan cuma bercanda. Ishh tapi gue merasa bersalah banget.' Batin Olive.


Tanpa Olive sadari, Aiden memperhatikannya dari atas sambil tersenyum melihat Olive.


'Apapun akan ku korbankan agar kau bahagia, dan melupakan semua kesedihanmu. Meskipun dengan membunuhku' batin Aiden.


Satu jam yang lalu.


Aiden baru sampai dibandara, ia menunggu supir yang akan datang menjemputnya. Handphone nya berdering, Aiden melihat nama Roby tertera dilayar ponselnya.


"Hallo, ada apa Roby." tanya Aiden to the point.


"Maaf mengganggu tuan, sepertinya nona Olive membuatkan kue ulang tahun untuk anda.." ucap Roby terjeda.


"Lalu apa masalahnya?" Tanya Aiden.


"Nona memasukkan bubuk cabai yang cukup banyak kedalam kue itu. Saya hanya takut anda akan..." pernyataan Roby terjeda. Namun Aiden paham akan kekhawatiran Roby pada kesehatannya.


"Tak apa Roby, aku akan baik-baik saja." Ucap Aiden dan langsung memasukkan ponselnya kesaku celananya.


🐨


Dilain tempat, Viona sedang duduk dikantin sendirian. Seharusnya Bella dan Sarah akan menemaninya hari ini, namun mereka izin cuti untuk menyelesaikan suatu urusan katanya. Dan Viona tidak mau mengambil pusing tentang hal itu.


Entah keberuntungan atau kesialan yang akan menimpa Viona hari ini, tiba-tiba Rafi salah satu cowok populer dikampus datang dan duduk dihadapan Viona. Hal itu membuat kantin yang cukup ramai semakin heboh melihat kedekatan Rafi dan Viona. Viona yang mengagumi awalnya menatap Daren dari jauh, kini beralih kepada Rafi yang duduk dihadapannya.


"Kenapa? Gue boleh duduk disini kan?" Tanya Daren yang membuat lamunan Viona buyar seketika.


"Hah? Eh.. gapapa kok." Ucap Viona yang sangat gugup. Tak berapa lama, makanan yang dipesan oleh Viona datang. Viona segera menyantap makanannya untuk mengalihkan rasa gugup yang sedang melanda nya.


"Nama lo siapa?" Ucap Rafi yang membuat Viona tersedak. Rafi yang panik pun langsung mengambilkan air putih dan menyodorkannya pada Viona.


"Makasi, nama gue Viona. Viona Angel." ucap Viona berusaha melanjutkan memakan makananya.


"Ohh.. nama gue Rafi Willem , lo bisa panggil gue Rafi." Ucap Rafi lembut. Viona melanjutkan acara makannya yang sempat terhenti karena perkenalan singkat yang dilakukan sang idola kampus.


Tak ingin lama-lama. Setelah menyelesaikan makanannya, Viona beranjak dari tempat duduknya. Namun lengannya langsung ditahan oleh Rafi.


"Eh, lo mau pulang? Bareng sama gue aja." Ucap Rafi yang langsung menarik tangan Viona. Hal itu membuat Viona takut kalau Daren melihatnya. Berbeda dengan Rafi yang menyeringai. Rafi membawa Viona ke mobil nya.


Rafi melajukan mobilnya untuk mengantar Viona kerumahnya.


"Nanti malam lo bisa keluar gak Vie?" Ucap Rafi memecahkan keheningan.


"Hah!? kemana?" Tanya Viona terkejut.


"Gue mau ngajak lo jalan, lo mau gak." Tanya Rafi yang masih fokus menyetir.


Beberapa menit kemudian mereka sampai dihalaman rumah Viona.


Rafi menahan Viona yang hendak turun dari mobilnya. Mereka bertatapan satu sama lain. Rafi menatap bibir Viona yang menggoda. Tanpa sadar mereka saling mendekat hingga bibir mereka bertemu satu sama lain. Viona mendorong Rafi saat ia mulai sadar apa yang mereka lakukan.


"Maaf Vio, gue nggak sadar." Ucap Rafi merasa bersalah.


"I..iya gue masuk kedalam dulu " ucap Viona yang tersipu malu. Rafi hanya membalas perkataan Viona dengan anggukan.


Setelah Viona masuk kedalam rumahnya, Rafi kembali melajukan mobilnya.


Didalam rumah, ternyata Dewi melihat kalau Viona diantar oleh seseorang.


"Itu yang antar kamu siapa Vie?" tanya Dewi saat Viona masuk.


"Itu Rafi teman aku mah." Ucap Viona seraya duduk di sofa.


"Ganteng ya Vie, kelihatannya tajir." Ucap Dewi.


"Gantengan Daren mah, kelihatannya emang tajiran Rafi. Tapi aku jatuh cinta sama Daren mah." Ucap Viona yang membuat dewi mendengus kesal.


"Mendingan kamu sama Rafi aja deh. Daripada nunggu Daren itu, dia aja belum kenal kamu Vie." Kata Dewi.


"Tapi mah..." ucap Viona terputus.


"Udah gak ada tapi-tapian. Mendingan kamun buang harapan kamu sama Daren. Sekarang kamu lihat aja Rafi yang udah jelas didepan mata kamu." Kata Dewi yang kemudian berlalu pergi meninggalkan Viona.


🐨


Di mansion keluarga Gavin, Roby dan seorang dokter berlari memasuki kamar Aiden. Olive yang melihatnya pun bertanya-tanya


'Siapa yang sakit?' Batin Olive.


Rasa penasaran membuat Olive berlari mengikuti langkah Roby dan dokter itu. Kini Olive dapat melihat dokter itu memeriksa Aiden. Roby yang melihat Olive pun langsung menghampirinya.


"Apa kau sudah cukup puas nona?" Ucap Roby berbisik. Pertanyaan Roby membuat Olive bingung.


"Maksudmu?" Tanya Olive tak mengerti.


"Jangan pura-pura bodoh nona, kau adalah gadis yang sangat pintar bukan?. Bahkan kau sendiri tahu kalau keluarga mu ingin melenyapkanmu. Dan kau juga tahu bahwa tuan Aiden sangat mencintaimu. Bahkan ia rela mencicipi kue cabai yang kau buat demi menyenangkan hatimu. Meskipun itu bisa melenyapkan nyawanya." Ucap Roby yang menjawab kebingungan Olive.


Olive sedikit terkejut, teryata Roby begitu pintar mengetahui kalau selama ini dia berpura-pura tidak tahu.


'apakah Aiden juga tahu semua rencana gue selama ini?' Pikirnya. Namun ia menepis hal itu, sekarang yang terpenting adalah keselamatan Aiden.


'Apa benar Aiden tahu kalau gue mencampurkan bubuk cabai di kue itu. Kalau memang benar begitu, bukan gue yang pantas menertawakannya. Pasti setelah ini dia akan menertawakan kebodohanku' Batin Olive berteriak.


Setelah Roby pergi mengantar dokter itu. Olive langsung menghampiri Aiden yang sedang terbaring lemah diranjangnya.


"Aiden, maafin gue.." ucap Olive lirih.


"Gue bener-bener gak tau kalau lo alergi bubuk cabai. Gue nggak bermaksud buat lo jadi kekgini. Pliss, lo harus sembuh. Nnti gue gak punya teman berantem lagi." Ucap Olive yang mencoba tertawa diakhir kalimatnya.


🐨


"Mah, Vio mau keluar malam ini." Ucap Viona yang sedang nonton tv bersama mama nya.


"Kemana? Tumben ada yang ngajak kamu keluar."ucap mamanya yang masih fokus menonton.


"Rafi yang ngantar aku siang tadi ngajak jalan, kan mamah sendiri yang bilang kalau aku harus dekat sama Rafi. " Ucap Viona.


"Oh ya? Bagus dong, kamu harus dandan yang cantik malam ini." Ucap Dewi tak kalah semangat.


"Iya mah ." Ucap Vio..