
"Ila!"
Gadis yang dipanggil Ila itu mengalihkan pandangan ke arah dapur. "Kenapa Bun?" Tanya nya.
Bunda Seya keluar dari arah dapur dan melangkah ke ruang tamu. Ia melihat anak perempuan nya yang tengah tengkurap di sofa sambil menonton acara di televisi.
"Beliin bunda tepung gih di minimarket depan." Ucap nya.
"Bang disuruh bunda tuh beli tepung." Ucap Soya pada Elio.
Elio yang sedari tadi diam di sofa yang bersebelahan dengan adiknya pun melotot. "Bunda kan suruh elu yang beli, bukan gue! Iya kan Bun?"
Soya cemberut, ia mengerucutkan bibir sambil menatap sang bunda. "Abang aja ya, Bun. Ila lagi males buat jalan, udah enak rebahan."
"Banyak alesan lu! Bilang aja males, ribet bener bahasa nya!" Celetuk Elio.
Soya nyengir kuda ketika perkataan Elio memang benar ada nya dan tidak meleset sedikitpun.
Bunda Seya geleng - geleng kepala melihat anak gadis nya itu. Ia mendekat dan menarik lembut tangan anak nya untuk bangkit dari rebahan.
"Udah, cepet beliin bunda. Didepan doang itu nggak jauh."
Karena ditarik pun akhir nya Soya beranjak dan dengan lunglai ia melangkah melewati sang bunda.
Bunda Seya mengerutkan kening kala anak gadis nya itu melewati diri nya dan melangkah menuju kamar.
"Eh mau kemana, La?" Tanya nya hingga membuat Soya menoleh.
"Ambil jaket dulu, Bun. Masa mau pakai kayak gini aja?" Bunda Seya menatap pakaian yang dikenakan anaknya, dress tanpa lengan. "Entar kalau Ila diculik orang gimana?" Lanjut nya.
Elio langsung mendelik sinis. "Dih! Siapa juga yang mau nyulik elu? Yang ada penculik nya kali yang rugi karena elu makan nya banyak!"
Soya seketika memasang raut masam hingga membuat bunda Seya terkekeh. Si sulung memang suka sekali mengganggu si bungsu, apalagi urusan mengejek, beh! Nomor satu.
"Ya sudah sana kamu ambil jaket dulu." Bunda Seya mengusap kepala anak nya dan Soya membalas nya dengan anggukan.
Setelah mengambil jaket lalu memasangkan nya ke badan, Soya keluar dari kamar dan menuju ke lantai bawah.
"Duit nya mana Bun?" Soya pun menadahkan tangan ketika ia menanyakan tentang uang.
"Duit mulu lu!"
Soya memutar bola mata malas memandang Abang nya. "Terus mau pakai apa belanja nya?! Pakai daun?!" Tanya nya.
"Udah bang, kamu tuh malah gangguin adek terus." Tegur bunda Seya.
Karena merasa dibela, Soya memeletkan lidah ke arah Elio. "Iya tuh Bun, Abang gangguin Ila mulu. Tugas kuliah tuh diurusin! Kayak gak ada kerjaan aja." Tukas nya.
Elio ingin melempar bantal ke arah Soya namun sang bunda langsung menghentikan nya.
"Udah bang nanti adek kamu malah nggak jadi pergi." Bunda Seya memberikan selembar uang kertas berwarna merah. "Tepung yang merek nya jeruk purut, uang sisa nya boleh kamu jajanin."
Soya langsung sumringah dan tersenyum lebar. "Oke deh, Bun!" Sahut nya bersemangat karena mendengar sisa duit nya boleh ia belikan jajanan.
"La, sekalian ya beliin jajanan juga buat gue!" Pekik Elio kala Soya melenggang pergi keluar pintu.
"Ogah!" Sahut nya dengan memekik juga.
Soya keluar dari rumah dan menuju minimarket depan sana. Ia memilih berjalan kaki lantaran malas menaiki motor. Lagipula suasana sore hari disini sangat menenangkan walau terik matahari masih terasa menyengat.
Minimarket nya terletak di seberang jalan raya, sedangkan rumah Soya berada didalam komplek perumahan elit.
Ia menilik ke kiri dan kanan, memastikan tak ada kendaraan yang melintas sebelum ia menyeberang.
Setelah memastikan tak ada kendaraan yang melintas, ia pun menyeberang dan sampailah ke tempat yang ia tuju. Ia masuk dan membelikan pesanan bunda lalu beberapa jajanan untuk dirinya dan juga Abang nya.
Setelah dirasa cukup, ia membayar ke kasir dan bergegas untuk pulang. Namun saat baru beberapa langkah memasuki komplek perumahan nya, seseorang tiba - tiba membekap mulut nya dan menarik paksa ia untuk masuk ke dalam sebuah mobil.
Ia meronta - ronta supaya terlepas dari orang itu hingga barang belanjaan nya terjatuh ditempat terakhir kali ia berdiri.
"Bunda maafin Ila, tepung pesenan bunda Ila jatuhin disini. Jajan gue ya Tuhan. Selamat tinggal."
Soya meratapi barang belanjaan nya. Ia diseret ke dalam mobil dan di dorong kasar oleh orang itu, beruntung tangan nya bisa menahan jika tidak kepala nya bisa terbentur dinding mobil.
"Om orang gila yah?! Kok saya dibawa sih?! Setidak nya anterin dulu pesenan bunda saya, nanti bunda ngomel!" Keluh Soya.
Para penculik itu mengernyit heran pasal nya gadis ini tidak panik sama sekali dan sempat - sempat nya malah memikirkan barang belanjaan yang dibawa tadi. Tidak tahu saja mereka bahwa didalam hati Soya juga ketar - ketir.
"Heh! Kau itu sedang diculik, bukan diajak jalan - jalan!" Tukas pria berambut gondrong.
"Tau kok om, ya mana ada sih orang ngajak jalan - jalan malah diseret gini, mana maksa lagi." Gerutu Soya dengan suara pelan diakhir kalimat nya.
"Emang nya saya mau dibawa kemana ya om?" Lanjut nya.
"Banyak tanya kau ini! Bisa diam tidak?!" Ucap pria disamping nya seraya menodongkan senjata tajam dihadapan nya.
Soya langsung beringsut ke dinding mobil, menjauh dari om tersebut. "Iya - iya saya diam nih. T-tapi senjata nya dijauhin dulu dong Om, bahaya. Salah - salah bisa kena saya." Ucap nya.
**
Prangg!!
Elio tersentak dan reflek berlari ke arah dapur karena suara tadi berasal dari sana. Ia menatap ke arah pecahan gelas dan melihat sang bunda yang berdiri kaku disana.
Bunda Seya menunduk seolah ingin memungut pecahan itu namun Elio lebih dulu menghentikan nya.
"Bunda jangan diambil, nanti tangan bunda luka. Biar El yang bersihin ini."
Elio mengambil serok sampah dan sapu lalu membersihkan pecahan dilantai itu. Ia menatap sang bunda yang terlihat begitu cemas.
"Bun, Bunda kenapa?" Tanya nya seraya menatap wajah Bunda Seya.
"Bang, adik kamu kenapa belum balik ya? Perasaan Bunda tiba - tiba nggak enak ."
Elio langsung berlari keluar rumah. Setelah mengambil kunci motor, ia bergegas menunggangi motor nya dan melajukan nya menuju minimarket.
Namun saat hampir keluar dari lokasi perumahan nya, ia melihat sekantong belanjaan yang terbengkalai di tengah jalan. Awal nya hanya berniat menyingkirkan ke pinggir namun ia tak sengaja melihat isi dalam nya. Tepung merek jeruk purut dan beberapa snack ringan.
Ia mengerjap cepat seketika pikiran nya tertuju pada adik nya yang kunjung kembali.
**
Di apartemen Alby, Rhaegar sedari tadi memandang ke arah ponsel nya dan menghubungi sebuah nomor namun tak kunjung terhubung.
"Masih nggak aktif Rhae?" Tanya Alby yang baru saja datang dari arah dapur.
Rhaegar menggelengkan kepala. "Dia kemana coba?" Gumam nya.
Alby menghela nafas panjang, perasaan tiba - tiba jadi tak enak. Semoga ini bukan pertanda buruk. Sudah hampir setengah jam mereka menunggu namun Risya tak kunjung datang juga.
"Mau nanya ke temen nya tapi dia kan nggak punya selain kita." Kata nya membuat Rhaegar terpikir akan sesuatu.
"Al, punya nomor Sigra gak?"
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
...tbc...
Selalu dukung karya ini ya🥰 Like, Komentar, Vote, dan Favoritnya. Terimakasih🙏🙏