Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
DNLM 23



Aiden berjalan menuju kamar Olive. Ia mengetuk pintu kamar Olive berkali-kali, tapi tidak ada respon sama sekali dari Olive.


'Apakah dia tidur siang? Ah mungkin saja.' Batin Aiden.


Kemudian Aiden melangkah menjauh dari kamar Olive. Ia berjalan ke arah pintu keluar. Hal itu membuat Viona heran.


"Bukannya kak Aiden mau berbicara dengan Olive, kok cepat sekali." Gumam Viona yang masih dapat didengar oleh Dira.


"Kak!" Kata Viona membuat Aiden menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Viona.


"Sudah berbicara dengan Olive? Kakak mau kemana? " tanya Viona berurutan.


"Dia tak membuka pintu nya, mungkin dia sedang tidur. Kakak tidak ingin mengganggunya." Kata Aiden tersenyum menatap kedua gadis yanga sudah menjadi adik nya itu.


"Terus kakak mau kemana?" Tanya Dira mengulangi pertanyaan Viona.


"Aku mau ke kantor, masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan." Kata Aiden


"Kalau begitu, kakak pergi dulu ya." Kata Aiden melanjutkan.


"Iya kak, hati-hati." Kata Viona dan Dira yang melambai kearah kakak nya.


Beberapa saat setelah Aiden pergi, Olive turun dari tangga membuat perhatian Viona dan Dira terarah pada nya. Olive yang melihat itu hanya mendengus kesal. Ia yang awalnya ingin mengambil minum mengurungkan niat nya dan kembali keatas. Dira heran melihat gadis itu, terlihat sombong dan tak sopan.


"Kenapa sih Olive itu, padahal kan nggak diapa-apain." Kata Dira yang membuat Viona mendelik.


"Dia gak suka lihat aku." Kata Viona lirih.


"Kalau gak suka ngapain dilihat, bikin kesel aja." Kata Dira kesal.


Tak lama Olive kembali keluar dari kamarnya membuat Dira menatapnya tak suka. Sedangkan Viona mencoba untuk Fokus dengan Tv yang menyala.


Olive tak memperdulikan tatapan sinis dari Dira, dia hanya berlalu dari hadapan mereka tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


****


Olivia


Dee, gue udah didepan rumah lo. Turun dong.


Sesaat setelah mengirim pesan, Denia muncul dihadapan Olive menampilkan senyum manis nya.


"Yuk masuk Liv." Kata Denia mempersilahkan Olive masuk.


"Lo mau minum apa Liv?" Kata Denia pada Olive.


"Gausah lah Dee, gue gak haus. Ntar gue ambil sendiri aja." Kata Olive terlihat tak bersemangat.


"Lo kenapa Liv? Ada masalah? Lo bisa cerita ke gue." Kata Denia lembut.


"Yaudah kita ke kamar gue aja yuk, biar lebih enak ngobrol nya." Kata Denia yang langsung disetujui oleh Olive. Sesampainya di kamar, Olive merebahkan diri nya diatas ranjang milik Denia.


"Nah, sekarang lo bisa cerita sama gue." Kata Denia yang duduk di samping Olive yang sedang berbaring.


"Si ****** balik lagi." Kata Olive membuat Denia tak percaya.


"Viona?!" Ucap Denia.


"Iya lah siapa lagi, tapi dia gak sendirian. Dia bawa temen yang kayaknya lebih tua dari kita beberapa tahun." Kata Olive yang membuat Denia semakin terkejut.


"Gue gak nyangka deh, apa tujuan mereka balik lagi." Kata Denia.


"Gue nggak tau soal tujuan mereka, tapi gue nggak nyaman kalau deket-deket sama Viona." Kata Olive menggelengkan kepalanya.


Denia yang melihat sahabat nya itu merasa simpati dengan kisah hidup Olive yang rumit. Dia mengerti, tidak mudah untuk memaafkan seseorang berkali-kali. Mungkin rasa kecewa yang dirasakan Olive sangat besar, membuat Olive sangat takut ketika bertemu dengan sosok yang mengecewakan nya.


'Gue cuma bisa berdoa buat lo Liv, semoga ini ada hilmah nya. Gue harap lo nggak bakalan sedih lagi kedepannya. Gue bakalan cari tau tujuan Viona balik lagi.' Batin Denia