
Hachuu!! Hachuu!!
Risya terus bersin sebab hidungnya terasa gatal, sepertinya ia hendak flu. Tadi malam ia sempat menggigil kedinginan disertai demam dengan suhu yang lumayan bikin satu rumah khawatir. Penyebab utamanya karena hujan kemarin. Harusnya ia bergegas mandi saat itu, namun keadaan tak memungkinkan ia untuk melakukan hal itu. Alhasil, jadinya malah berakhir seperti ini.
Tapi pagi ini Risya sudah agak baikan, agak mendingan dan suhu tubuhnya kembali seperti normal. Namun hidungnya merasa seperti tidak baik-baik saja.
"Gak usah sekolah aja ya, sayang?" Mommy Aliya nampak mengkhawatir sang anak. Tadi malam ia terus terjaga karena Risya tak bisa jauh dari dirinya, pun anak itu nampaknya tengah bermimpi buruk pada saat itu.
Mommy mengusap kepala Risya seraya sedikit merapikan rambut sang anak yang sedikit berantakan.
"No," tolak Risya. "Biarin Caca sekolah, okey? Lagian waktu itu Caca udah banyak banget libur, sayang tau kalau ketinggalan pelajaran terus." Ia mengerucutkan bibir mungilnya, sejujurnya Risya tak terlalu suka dengan yang protective seperti mereka. Namun di satu sisi ia juga bahagia, punya orang tua yang selalu memperhatikan dirinya.
Daddy Vino menatap Risya setelah ia terlihat menghela nafas panjang. "Kamu mau minta apa, hm? biar Daddy beliin. Tapi gak usah sekolah, ya."
Risya menanggapinya dengan gelengan kepala, bersikeras untuk tetap menolak kehendak mereka. Tetap menolak dan kekeuh untuk pergi ke sekolah.
Sekarang keluarga tersebut sedang berada di meja makan dan sedang melakukan sarapan. Mommy mengira anak perempuannya itu tidak akan sekolah untuk hari ini, ia juga tahu kalau suhu tubuh sang anak sudah menurun pagi ini.
Padahal kemarin malam Risya sempat drop tapi pagi ini malah ingin melakukan aktifitas berat di luar rumah. Sekolah dan belajar, itu terasa lumayan berat untuk anak yang menderita demam. Bisa membuat mereka bertambah pusing dan kembali drop seperti sebelumnya. Kalau tak berjaga-jaga 'kan kasihan juga mereka.
"Ca," panggil Sigra. Risya hanya menatap lelaki itu sekilas. "Kalau ntar nanti di sekolah kamu pingsan gimana?" Tanyanya.
Lelaki itu juga sangat mengkhawatirkan sang adik. Harusnya kemarin memang benar ia harus menghubungi salah satu suruhan Daddy untuk menjemput mereka, tak usah nekat menerobos hujan walau cuma gerimis saja. Imun tubuh orang berbeda-beda, salah satunya kayak Risya ini, mudah sakit.
"Hei, i'm strong girl," katanya. Berusaha meyakinkan mereka bahwa ia akan baik-baik saja. "Kalau pingsan 'kan tinggal dibawa ke UKS, kenapa susah?" Sambungnya hingga membuat kedua orangtuanya berserta kakak laki-lakinya tak dapat lagi berkata-kata.
"Tapi ini seriusan kamu mau sekolah?" Sigra kembali bertanya sambil mencoba menempelkan punggung tangannya ke dahi Risya. Suhunya terasa normal.
"Iya, abangku sayang," sahutnya seraya menurunkan tangan sang kakak dari dahinya. Sigra seketika mengembangkan senyum di bibirnya kala mendengar perkataan Risya. Rasa khawatirnya seketika sirna namun akan kembali lagi setelahnya.
"Gak usah senyum-senyum!" Ucapnya ketus.
Risya nampaknya ingin merusak suasana hati Sigra yang berbunga-bunga sejenak. Lelaki itu lantas mendengus karena sang adik juga karena sang Mommy dan Daddy-nya malah ikut menertawai dirinya.
Setelah menyelesaikan sarapan, keduanya kemudian berpamitan dan segera berangkat ke sekolah. Tak lupa juga, Risya kembali meyakinkan kedua orangtuanya untuk tidak perlu terlalu khawatir padanya. Dan Sigra pun juga bilang pada mereka kalau ia akan menjaga sang adik dengan benar.
Risya berjalan bersebelahan dengan Sigra, ia mengeratkan jaket tebalnya sebab pagi ini embun masih merambat di permukaan bumi. Dinginnya pun terasa menyentuh kulit. Tapi udara seperti ini memang sedap untuk dihirup.
"Pagi!"
Dari arah samping, Alby menghampiri Risya dan menyapanya dengan ucapan selamat pagi sambil mengulas senyuman hangat. Ia juga mengulurkan tangannya mengacak pelan rambut Risya.
Melihat hal itu, Sigra langsung memukul kecil tangan Alby dan menjauhkannya dari sang adik. "Gak usah pegang-pegang!" Ucapnya dengan wajah garang.
Alby nampak mencebik karena kesal. "Pelit banget lu!" Sahutnya dan Sigra meresponnya dengan ketidakpeduliannya.
Risya lantas tertawa kecil melihat mereka. Sungguh, ia jarang sekali melihat Sigra berinteraksi dengan orang lain selain dengan teman-teman lelaki itu sendiri dan juga Nina. Dengan perempuan itu pun hanya tipis-tipis saja.
Alby sedikit menundukkan kepala menatap Risya. "Eh, Sya, kok badan lu gak nambah tinggi sih?" Celetuknya dengan heran. Setelah mendengar sapaan Alby tadi, mereka berhenti dan belum melanjutkan langkahnya lagi.
Risya langsung menatapnya dengan sinis. "Lu mau gue gorok apa, ya?" Katanya, membuat Alby seketika memberikan cengiran konyol.
"Galak banget dih, Nona muda." Alby berucap dengan bumbu-bumbu candaan sebagai pelengkapnya, tapi Risya 'kan memang Nona muda, ya, jadi sedikit menggodanya juga tak apa.
Risya ingin menyahut namun tak jadi karena mendengar suara seseorang yang menyahut lebih dulu, membuatnya seketika harus menolehkan kepala dan menatap ke arah sejurus.
"Hooh, Galak banget sih, Sya. Masa mau gorok orang?"
"Rizhan?" Gumam Risya. Di sisi anak itu ada teman-teman Sigra yang lain juga.
"Hai!" Sapa Rizhan sambil tersenyum hangat.
Risya terdiam sejenak sebelum menjawab, "Oh, hai juga!"
Alby langsung menyentil pelan jidat milik Risya, lantaran juga ia kesal karena tadi sapaan paginya tak dijawab oleh Risya sedangkan giliran orang lain menyapanya malah dijawab. Alby 'kan jadi mengiri.
"Pilih kasih banget lu, Sya! Giliran sapaan gue tadi gak dibales," gerutunya.
Risya mengusap jidatnya dengan bibir yang nampak mengerucut. "Sakit, bego!" Ketusnya terhadap lelaki itu.
Sigra lantas mengusap lembut dahi sang adik. Untuk Sigra hanya menatap Alby dengan tajam, kalau ia mengamuk tadi saat adiknya dijitak seperti itu mungkin saja mereka akan berakhir di ruang guru saat ini.
Lalu kemudian Risya kembali berkata untuk sekedar menjawab sapaan Alby, biar lelaki itu tidak iri lagi. "Iya, pagi juga Alby," jawabnya seraya menjangkau kepala Alby untuk bisa mengacak kecil rambut lelaki itu.
Alby seketika terdiam dengan mata yang terlihat melebar. Kejadian itu tengah disaksikan oleh beberapa lelaki yang ada di sana, entah mengapa mereka juga ingin diperlakukan seperti itu oleh Risya. Tak terkecuali Sigra.
Aduh, apa sih yang mereka ini pikirkan? Tidak jelas sekali.
"Sya, kepala gue gak dielus juga?" Rizhan menatap Risya dengan puppy eyes nya. Membuat mereka semua tersentak seketika.
"Eh?" Risya mengerjap dan jadi bingung sendiri melihat tingkah lelaki itu. Kenapa minta elus dengannya? Sama emak lu sono!
Ucapannya membuat Rizhan mendelik sinis sambil mengerucutkan bibir. "Gue bilangnya Risya, ya, bukan Sigra!" Tukasnya.
Risya geleng-geleng kepala melihat para lelaki ini, tak paham dengan apa yang mereka pikirkan. Kemudian ia terlihat celingukan setelahnya seperti mencari sesuatu yang hilang di antara mereka.
"Cari apaan, Sya?"Tanya Alby yang ikut celingukan juga.
Risya menatap ke arah Alby. "Egar ke mana, Al, kok gue gak ada liat batang hidungnya?"
"Rhae?" Alby melirikkan mata ke atas sesaat. "Oh, tuh anak katanya sibuk, hari ini dia juga bakal gak masuk kelas," sahutnya. "Dia gak ada ngabarin lu?" Risya menggelengkan kepala. "Kasihan," ejeknya yang membuat Risya mendengus kesal.
Risya membuka tas sekolahnya, mengambil sesuatu di dalamnya dan memberikannya kepada Relvan. "Nih, thanks, ya. Udah gue cuciin juga," katanya.
Itu adalah hoodie yang dipinjamkannya kemarin, sudah dilipatkan nya dengan rapi dan wangi juga. Relvan menganggukkan kepala dan menyambutnya dengan senyuman tipis.
"Eh bentar-bentar." Alby menatap Risya dan Relvan bergantian. "Kok ini gimana? Lu pinjem baju dia? Kalian abis jalan berdua?" Tanyanya beruntun.
"Apaan sih?" Sentak Risya sambil mendelik nya dengan sinis. "Bukan gitu, kemarin 'kan ujan dan itu kebetulan aja," jelasnya. "Udah ah, yuk! Mending kita ke kelas." Risya menyeret Alby untuk menjauh. "Papayy! Duluan yaa!"
"Iya, Sya, tihati!!" Sahut Rizhan sambil melambaikan tangannya. Sudah seperti orang yang mau berpisah saja. Sedangkan yang tersisa termasuk Sigra hanya menatap punggung Risya yang mulai menjauh dari pandangan.
***
Di dalam kelas, Alby masih saja menatap Risya dengan tatapan memicing curiga. "Hayo loh, lu abis jalan berdua apa begimana?"
Risya menghela nafas lelah. "Bukan jalan, Alby," sahutnya dengan sabar. Ia gemas sekali dengan anak yang satu ini, rasanya ia ingin menendangnya ke luar angkasa kalau bisa.
"Berisik sekali lagi bakal gue sambit lu pake nih meja!"
"Hehe, ampun-ampun." Alby nyengir kuda. "Tapi seriusan, Sya, kok lu bisa pinjem baju dia? Kayak udah deket aja." Ia terdengar bergumam di akhir kalimatnya.
"Itu Sigra yang ngasih ke gue, gue sih mana tau kalau itu punya dia," kata Risya.
"Terus?" Alby menatap dengan penasaran.
"Ya udah begitu aja, gak ada terusannya."
"Yahh, kirain ada yang lebih panjang gitu ceritanya," ucapnya membuat Risya terlihat menatapnya dengan malas.
"Sya," panggil Alby setelah lelaki itu sempat terdiam sejenak.
"Hm?" Risya bergumam sebagai jawaban namun tak sambil menatap sang empu karena sibuk menatap ke arah luar jendela.
"Risya, coba lu liat ke gue."
Risya mengernyit seketika sambil menolehkan kepala. "Kenapa?" Tanyanya. Alby terdiam dan tak langsung tak menyahut.
"Oi, kenapa sih lu?" Herannya.
"Muka lu kok pucet gitu? Lu sakit ya?" Alby langsung meraba dahi Risya dan memeriksanya. "Kok gak panas?" Ia bergumam kecil sambil mengernyit.
"Lu kenapa?"
Risya menautkan alisnya. "Kenapa apanya?" Tanyanya bingung.
"Muka lu?" Kata alby.
"Emang kenapa muka gue?"
"Pucet," sahut Alby dengan tatapan khawatir.
Risya menatap Alby yang terlihat khawatir pun ia kemudian berkata, "Udah, gue gak kenapa-kenapa, kok. Ini nih cuma karena gue gak pake make up makanya gitu."
"Beneran?" Tanyanya sambil memandang lekat-lekat. Risya mengangguk kecil seraya tersenyum. "Jangan sakit, Sya," katanya.
"Iya."
Untuk saat ini.
...•...
...•...
...•...
...•...
...Bersambung...