Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
Bab 95 | DNLM



Risya berjalan ke arah dapur lalu meletakkan piring dan gelas bekas ia makan di wastafel dapur dan mencuci nya hingga bersih. Bi Iyem tersentak kaget, wanita paruh baya itu kebetulan lewat dan melihat nona muda nya tengah berkutat di dapur.


"Non, biar bibi aja yang cuci piring nya."


Mendengar suara seseorang yang dikenalinya, Risya menengok kepala nya sekilas menatap orang tersebut. "Gak usah, Bi. Cuma ini aja kok, Caca bisa nyelesain sendiri," sahut nya lalu kembali fokus pada kegiatan nya.


"Enon lain kali taruh aja di sana nanti bibi yang cuci," kata Bi Iyem.


Risya hanya mengulas senyuman tanpa merespon nya dengan ucapan. Usai mencuci piring tersebut, ia menata nya dan mengeringkan tangan nya yang basah ke lap kering yang tergantung di dinding dapur.


"Oh iya, Mommy kemana ya, Bi?" Risya tak melihat Mommy nya saat ia turun tadi padahal ia sudah celingukan mencari.


"Nyonya balik ke kantor, Non, katanya ada yang ingin beliau kerjakan."


Risya mengangguk-anggukan kepala. Sebagai ibu rumah tangga yang juga sibuk dengan pekerjaan di luar, Risya memaklumi sang Mommy yang jarang berada di rumah bahkan Daddy-nya pun juga begitu. Lagian dulu ia juga sering ditinggal kak Agas, jadi ia biasa saja dengan suasana yang seperti ini.


Risya melangkahkan kaki nya ke arah meja makan, gadis itu mendudukkan diri nya di sana. Tangan mungil nya meraih satu buah apel yang ada di meja makan dan mengupas kulit buah tersebut.


"Enon mau bibi bikinin susu?" Tawar Bi Iyem sambil mengulas senyuman.


Risya menatap Bi Iyem sejenak. "Boleh deh, Bi, yang rasa stroberi ya," sahut nya sembari memasukkan satu potong apel ke dalam mulut nya.


"Siap, Non!"


Tak membutuhkan waktu yang lama, bibi kembali menghampiri Risya dengan membawa segelas susu dan menaruh nya di depan anak majikan nya.


"Makasih, Bi."


"Sama-sama, Non." Risya tersenyum sebagai balasan. "Bibi mau ke belakang dulu ya, kalau mau apa-apa nanti panggil Bibi aja."


Risya mengangguk kecil sambil mengangkat jempol nya ke hadapan Bibi. Punggung Bibi menghilang di balik pintu dan kini hanya tertinggal sendirian yang ada di sana.


Ia mengedarkan pandangan sambil sibuk mengunyah makanan yang ada dalam mulut nya. Alis nya tiba-tiba berkerut, seperti nya ada yang salah atau ada sesuatu yang ia lupakan. Tapi apa ya?


Risya nampak berpikir sejenak sambil mengetuk-ngetukkan jemari nya ke meja. Oh! Ia membelalakkan mata nya dengan lebar. Sigra kan masih ada di kamar nya, kenapa ia bisa lupa?!!


Segera ia habiskan segelas susu itu dan menyumpal mulut nya dengan potongan apel yang tersisa sambil berlari menaiki tangga. Tangan nya terulur memutar gagang pintu kamar nya, setelah pintu terbuka lebar ia terdiam kaku melihat pemandangan di depan nya.


Sigra juga tengah menoleh ke arah adik nya dengan wajah yang membeku. Risya mengerjapkan mata nya, ia terkejut bukan terkejut karena melihat ekspresi Sigra melainkan... Laptop milik nya ada di tangan Abang nya. Apa... Apa yang tengah Sigra lakukan?


Risya melangkahkan kaki nya dengan cepat dan merebut laptop tersebut. Dilayar nya tertera video tentang perundungan Nina saat di toilet sekolah tadi. Jantung nya terasa berhenti berdetak tapi ia masih mencoba menetralkan raut wajah nya.


Ekspresi nya langsung berubah saat menatap Sigra. "Kenapa pinjem punya Caca gak bilang-bilang sih?! Lain kali biasain jangan ganggu privasi orang!" Sahut nya ketus sambil memasang raut kesal yang begitu kentara.


Sigra tersentak kaget kala mendengar intonasi suara Risya yang meninggi. Apakah Risya marah?? Tapi ia tak menyangka adik nya akan se marah itu namun ia 'kan juga tak sengaja karena terbawa nafsu penasaran nya.


Sigra hanya terdiam menatap sang adik tanpa ingin meminta maaf, setelah mengetahui video tadi, di dalam benak nya dipenuhi banyak pertanyaan untuk di tanyakan namun sulit ia ungkapkan. Ia memandang ke arah Risya lekat.


"Dari mana kamu dapet video itu?" Tanya nya.


Risya memutar bola mata nya dengan malas. "Emang penting?" Tanya nya balik dan masih memandang Sigra dengan kesal.


"Abang nanya, Ca," sahut Sigra.


"Abang kenapa juga sih buka privasi orang lain tanpa izin?"


"Tapi kamu 'kan bukan orang lain."


Risya memandangi Sigra dengan sangat. "Jadi apa aja yang udah Abang liat?" Desak nya sambil melipat tangan ke dada.


"Cuma itu," sahut Sigra. Risya memicingkan mata curiga. Melihat itu Sigra nampak menghela nafas panjang. "Abang beneran cuma lihat itu aja, itu juga baru diputar dalam beberapa menit bahkan setengah video aja gak nyampe."


Risya melirikkan mata nya ke arah layar laptop yang masih menyala, kalau dilihat dari mata Sigra juga, seperti nya lelaki itu tidak berbohong pada nya. Tapi mana tahu, mungkin saja itu hanya untuk mengibuli nya supaya percaya.


Risya mendecakkan lidah nya lalu menghempaskan tubuh nya ke atas kasur setelah menaruh laptop milik nya di tempat yang aman. Kalau dipikir-pikir, Sigra nampak tak berekspresi berlebihan seolah itu bukan hal yang mengejutkan untuk nya.


Selama beberapa waktu lalu yang ia amati, Sigra seperti nya tak perduli dengan Nina seolah berbanding terbalik dari kisah asli nya. Dari kelima tokoh utama itu, hanya Rey dan Relvan yang terlihat menyukai Nina. Namun Relvan ini nampak abu-abu, ia seperti menyukai perempuan itu namun juga tidak. Seperti bunglon yang dapat berubah-ubah.


Entah ia yang kurang teliti mengamati mereka atau bagaimana, walaupun sudah membaca jelas isi keseluruhan cerita namun seperti nya ia masih keliru dengan semua nya. Tentang perasaan mereka yang sebenar nya atau bahkan hal kecil lain nya. Namun satu hal yang pasti, perihal tentang Nina dan rencana yang dibuat oleh perempuan itu masih berjalan pada semesti nya.


Risya melirik Sigra dari ekor mata nya, sedua nya memang saling terdiam beberapa saat sambil sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Terus apa tanggapan Abang tentang hal itu?" Tanya Risya tiba-tiba.


Sigra nampak terdiam sejenak. "Kamu jawab dulu, kamu dapet bukti itu dari mana?" Risya hanya diam memandang Sigra tanpa ingin menjawab pertanyaan nya. "Gak mau jawab?" Tanya nya lagi.


Risya tetap saja memilih tak bergeming, namun tak berselang lama ia pun menjawab, "gak."


Suara nya terdengar lirih, Sigra tahu sejujur nya adik nya belum bisa mempercayai diri nya secara penuh. Tapi kenapa ya? Apa mereka masih belum dekat?


"Kamu udah tau 'kan sejak awal kalau cewek itu gak salah?"


Risya mendelik sambil mengernyitkan dahi nya. "Cewek itu?" Gumam nya kecil. Ia menatap mata Sigra. "Soya maksud nya?" Sigra mengangguk membenarkan. "Risya mengendikan bahu nya. "Emm... maybe," sahut nya acuh.


"Terus kamu sengaja biarin kesalahpahaman itu berlangsung?" Sigra bertanya pada adik nya. Sebenar nya ia juga tak terlalu perduli dengan semua hal itu, toh itu semua tak ada hubungan nya dengan dia dan juga Risya.


Tapi mengapa adik nya terlihat sangat perduli dengan perempuan yang bernama Soya itu?


"Ya, biar nenek Kunti puas dan biar temen Abang juga nyesel," sahut Risya membuat Sigra mengerutkan kening nya.


"Temen Abang?" Risya memandang Sigra dengan jengah.


"Gak usah pura-pura gak tau deh!" Sentak Risya. Sigra terkekeh kecil, ia memang pura-pura tidak tahu hanya agar adik nya berkata yang sebenar nya dari mulut sendiri.


"Lalu mau kamu apain video itu?" Tanya Sigra yang mendapat senyuman miring dari Risya tanpa diikuti sepatah katapun dari mulut nya.


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...Bersambung...