Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
Bab 36 | About Festival



"Bapak rasa kalian sudah paham apa yang bapak sampaikan tadi. Nanti kalau ingin detil nya lagi kalian bisa menanyakan itu pada OSIS yang bersangkutan."


"Baik, pak!"


Bapak tersebut keluar dari ruangan aula dimana para ketua tim ekskul dikumpulkan. Menyisakan anak anak di dalam aula yang tengah berbincang.


"Gue nggak salah denger kan apa yang dibilang pak botak tadi?"


"Kalau salah denger nggak mungkin kita semua di kumpulin di sini. Berarti emang bener ya? Tumben banget."


"Iya ya. Tapi syukur deh sekalian cuci mata, sepet banget liat muka muka siswa di sekolah ini mulu.


Seorang OSIS mengetuk meja membuat atensi mereka teralih pada nya.


"Perhatian! Kalau sudah paham, kalian bisa persiapkan kelompok masing-masing. Tentukan siapa yang akan tampil nanti, jika sudah di tentukan, ketua bisa melapor dan mendaftarkan diri untuk anggota nya."


"Detil lebih nanti kita beri tahu di grub, biar nggak ada yang tertinggal info."


"Oke!"


...•...


...•...


...•...


...•...


Didalam salah satu ruang kelas, terlihat masing masing anak di dalam sana membentuk satu kelompok yang terdiri dari tiga orang anggota. Mereka hanya ditinggalkan tugas tanpa pengawasan seorang guru. Para guru disibukkan dengan rapat yang mengharuskan mereka meninggalkan kelas.


"Dengar-dengar festival sekolah bakal diadakan dalam waktu dekat lho." Ucap seorang siswi dengan rambut yang di kuncir kuda. Ia berucap pada teman sekelompok nya.


"Wah, beneran?" Sahut siswi yang berbadan sedikit gemuk.


"Ya bener lah, lu liat aja nanti pasti pengumuman nya bakal di pajang di mading sekolah."


"Elu tau dari mana emang?"


"Temen gue kan ada di OSIS tuh, jadi gue tau dari dia. Cuma sekilas itu aja sih, detil lebih nya mana mau dia ngomong. Kata nya biar kita itu tambah penasaran." Jelas siswi kuncir kuda tadi.


"Paling juga sama aja kayak tahun tahun sebelum nya."


"Kali ini beda." Ucap seorang siswa yang baru bergabung dengan mereka. Ia juga sekelompok dengan dua siswi tadi dan baru saja datang dari toilet.


"Beda apa nya? Jenis lomba? Peraturan lomba?"


"Bukan, kali ini sekolah kita ngundang sekolah terdekat. Tanding sekaligus sparing persahabatan sama sekolah lain." Terang siswi yang baru datang itu.


"Udah dibolehin lagi? bukan nya..."


"Sstt.. udah deh. Yang penting sekarang udah dibolehin kan."


"Gila sih! Kalian tau gak? Anggota basket putra sekolah sebelah itu ganteng ganteng tau! Apalagi nih ya, ketua tim nya bikin hati gue lemes."


"Tau banget gue! Kyaa!! Ganteng banget emang. Kalau lihat dia, gue itu ibarat lilin yang dibakar api, meleleh."


"Lebay banget!" Celetuk siswi berbadan sedikit gemuk seraya menoyor dahi siswi kuncir kuda dan siswi rambut keriting. "Ketua tim basket putra kita juga nggak kalah ganteng kok. Bahkan menurut gue dia itu cowok paling tampan di sekolah manapun."


Dan akhirnya mereka ribut mempermasalahkan ketampanan lelaki dengan versi masing masing.


Alby, Risya dan Rhaegar sedari tadi tak terlalu fokus mengerjakan tugas mereka. Karena kebisingan di kelas membuyarkan fokus tiga orang itu, dari para siswi bergosip hingga siswa nya pun ikutan. Mereka bermain sepak takraw, saling lempar kepalan kertas, coret coret papan tulis dan hal absurd lain nya.


Tapi dari semua kebisingan yang ada, yang lebih masuk ke pendengaran Alby, Risya serta Rhae hanya seputar tentang pembicaraan singkat mengenai festival sekolah.


Dua diantara nya saling melirik dari balik bulu mata dengan raut tanya. Alby yang menyadari itu langsung menerka apa yang ingin teman nya tanyakan.


"Mau tahu tentang festival sekolah'?" Terka nya, membuat Rhae dan Risya mengangguk serentak.


"Festival sekolah itu diadakan satu kali dalam setahun, atau yang biasa GIBS sebut sebagai 'the friendship day between schools. Dengan kata lain sekolah kita mengadakan festival tersebut dalam rangka menjalin persahabatan dengan sekolah terdekat lain nya lewat perantara lomba." Ucap Alby mulai bercerita.


"Itu fakta yang sebenar nya, tetapi sudah beberapa tahun ini sekolah kita berhenti untuk mengundang sekolah lain. Entah karena hal apa. Jadi untuk beberapa tahun itu, festival hanya diadakan di lingkup sekolah dan peserta nya pun hanya warga sekolah saja."


Risya mangut mangut mengerti seraya mengunyah snack ditemani sekotak susu rasa stroberi yang bertengger di atas meja nya. Sedangkan Rhaegar sedikit sedikit juga mencomot makanan Risya.


Alby memandangi mereka dengan tatapan malas tetapi tetap melanjutkan cerita. "Walau pun kegiatan mengundang sekolah lain diberhentikan, semangat siswa siswi tak berhenti sampai di situ juga. Mereka tetap bersemangat melaksanakan lomba karena hadiah yang ditawarkan juga menggiurkan. Bukan untuk perorangan tetapi untuk kelompok. Sebuah piala dan sebuah benda yang harga nya ratusan juta." Lanjut nya.


"Setiap kelas punya etalase piala masing masing, piala dan hadiah lain itu mereka taruh disana agar dapat memamerkan pada anak anak lain serta guru yang masuk ke dalam kelas mereka akan bangga dengan prestasi murid kelas tersebut."


"Kalau dalam satu kelompok ada yang berbeda, maksud nya seperti kelas IPA bergabung dengan IPS, hadiah nya bisa mereka bagi dua. Tapi siapa yang tidak mau berebut dengan benda ratusan juta?"


"Kalau gue sih mesti milih benda ratusan juga kan bisa di jual," komentar Risya.


"Apa sih! Nyahut aja Dugong!" Rhae seketika mengangkat tangan ingin menyentil kening Risya, namun perkataan Alby membuat nya tak jadi berbuat.


"Berantem mulu lu berdua! Mau dilanjut gak nih cerita nya?" Alby sudah berbicara sampai berbusa, jangan jangan tak di dengarkan oleh mereka??


"Oke! Lanjut bang." Seru dua bocah itu serempak.


"Abang mata lu!" Dua manusia berbeda gender itu nyengir.


Alby menghela nafas lelah sebelum berbicara. "Karena rata-rata dari mereka ingin benda ratusan juta itu, jadi langkah terakhir yang adil adalah bergilir. Tahun ini piala untuk kelas IPA dan benda ratusan juta untuk kelas IPS, tahun depan nya piala untuk IPS, benda ratusan juta untuk IPA. Begitu terus sampai mereka lulus jika masih bergabung sampai kelas dua belas."


"Ooh begitu? Kalau tentang lomba nya?" Tanya Risya dengan mulut yang masih mengunyah.


Sebenar nya sih Risya sudah tahu tentang Event itu dari buku, tapi agar Alby tak curiga pada nya maka ia harus banyak bertanya. Pasal nya, pemilik tubuh ini tak pernah peduli dengan acara semacam itu, jadi pasti ia tak tahu. Biasa nya saat acara di selenggarakan, Risya yang dulu akan meminta izin atau setelah absen kelas ia akan pulang lebih dulu. Karena ia cepat bosan jika menonton acara seperti itu. Kalau Rhaegar sih jelas tak tahu karena ia adalah siswa baru.


"Lomba yang diadakan sebenar nya ada banyak. Tapi saat GIBS tidak mengundang sekolah lain, lomba yang dimunculkan hanya basket, futsal, pertunjukan musik sama nyanyi solo. Dan kalau memang benar apa yang dikatakan siswi kelas kita tadi bahwa sekolah tahun ini mengundang sekolah lain, otomatis beberapa lomba yang tidak dikeluarkan bakal di adakan lagi tahun ini."


"Bakal rame dong?" Sergah Risya dengan mata berbinar.


"Nama nya juga banyak orang ya pasti rame!" Sahut Rhaegar membuat Risya menyelis sinis tapi ia tak menghiraukan.


"Banyak jajan nggak, Al? Banyak yang jualan gak?


"Jajan mulu pikiran lu!"


"Nyahut sekali lagi gue sleding kepala lu!!" Risya sungguh jengah, pliss.. ternyata Rhae lebih mengesalkan ketimbang Alby.


"Ya pasti rame sih. Karena ada beberapa sekolah yang bakal jadi tamu disini, makanan nya tambah banyak karena orang orang nya juga banyak. Kurang lebih kayak festival di luar sana." Ucap Alby terkekeh.


Risya mengangguk sambil mencomot snack di tangan nya, tapi tak mendapati isi nya. Ia menilik ke dalam bungkus snack. Kosong?


Ia mendongak lalu menoleh ke ke samping dan melotot menatap Rhaegar. "Egar! Kok dihabisin sih?!" Keluh nya.


"Itu elu kali yang abisin, kok gue yang disalahin?"


"Bohong! Pasti elu!" Tuduh Risya.


"Heh! Demi ikan pari di kolong jembatan! Bukan gue pelaku nya." Sergah Rhaegar.


Risya menggembungkan pipi, memutar kepala ke depan memandang Alby.


"Pengacara Alby." Ucap Risya dan Rhaegar serentak, mereka tersentak karena terkejut berucap bersamaan. Kemudian merubah ekspresi saling mengejek.


"Ikutan aja lu!" Ucap mereka serempak lagi. Risya menoyor kepala Rhaegar, kesal.


"Tolong adili saya, pak. Saya tidak bersalah atas kasus snack kali ini. Justru Tuan Rhae yang harus jadi tersangka, dia melimpahkan tuduhan ini kepada saya."


"Tidak bisa pengacara Alby. Kau harus nya mengadili ku, Nyonya Risya adalah pelaku utama dan dia menuduh ku lebih dulu." Protes Rhaegar dramatis.


"Tuan Rhae, kenapa Anda menuduh saya?"


"Nyonya Risya, bukan kah itu harus nya menjadi dialog saya?"


Alby menghela nafas lelah untuk ke sekian kali nya. Ia menatap jengah kedua bocah itu. Apa dilakukan dua bocah ini serasa menguras setengah nyawa nya. Ia ingin menghilang.


Tolong, jika kalian melihat kamera beritahu Alby. Alby ingin melambaikan tangan. Tak sanggup lagi. Izinkan Alby menyerah.


"Mau sandwich?"


Risya dengan cepat menoleh dan menjawab. "Mauu!" Ia melupakan Rhae dan menyambut pemberian itu dengan mata besar yang berbinar.


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...tbc...