Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
Bab 131



"Lu kalau mau nyari masalah mending gak usah ke sini!"


Rizhan menyeletuk dengan perasaan yang mendadak kesal. Padahal lagi senang-senangnya damai tapi kini malah tiba-tiba mendapat gangguan. Bukannya apa, tapi setiap ada Nina pasti ada saja masalah yang dibuatnya. Entah gabut atau bagaimana.


Nina menggeleng cepat, berusaha menyergah agar mereka tidak salah paham padanya. "Kita gak nyari masalah, Zhan. Maaf..," katanya dengan lembut.


Ana nampak memutar bola matanya dengan malas sambil melipat tangan ke depan dada saat mendengar ucapan Nina. Si Nina ini kenapa sih? Tadi di kelas tadi dia juga nampak terlihat marah, lah sekarang? Ck. Ana berdecak pelan dan sempat berpikir kalau temannya ini sedikit aneh, mana tadi pinggangnya dicubit lagi. Kenapa coba? Bikin kesal saja!


Relvan menghela nafas, ia memandang Rizhan dan berkata, "udah, Zhan. Lu jangan marahin Nina."


Rizhan hanya melirik tanpa menyahuti perkataan lelaki itu. Lagian mana ada ia memarahi Nina, ia, kan tadi cuma berkata agar para perempuan itu paham.


"Risya, sekali lagi aku ngewakilin temen aku buat minta maaf, maaf ya?" Nina hanya bisa menatap Risya dengan perasaan cemas karena perempuan itu tak menyahuti dan malah mendapat pembelaan dari para lelaki disekelilingnya.


Risya menghembuskan nafas panjang. "Bukannya temen lu itu punya mulut sendiri? Kenapa harus diwakilin? Gak bisa ngomong?"


"Sialan lu!" Sentak Ana langsung.


"Kenapa lu jadi marah? Gue, kan, cuma nanya," ujar Risya dengan wajah datarnya.


"Nanya lu itu kayak ngehina tau!" Sahut Ana lagi. Risya terlihat menaikan sebelah alisnya dan itu sontak membuat Ana bertambah kesal padanya.


"Minta maaf kek minimal. Kan, katanya tadi gak nyari masalah." Alby ikut menimpali percakapan di antara mereka.


Ana mengeratkan giginya, kesal dengan pembelaan para lelaki ini terhadap Risya. Lila yang sedari tadi jadi penonton pun hanya terdengar helaan nafas darinya. Ia bingung hendak menimpali apa, sekarang sepertinya ia kebanyakan memilih diam daripada berbicara.


Lila lalu menutup matanya sejenak kemudian setelah itu ia menengokan kepalanya menghadap Ana. "Minta maaf aja, Na, biar kelar." Lila berkata sembari menepuk pundak temannya itu.


"Hellow? Lu udah gila, Lil?" Pekiknya sambil menatap Lila dengan tatapan tak percaya. Para siswa yang melihat pun sontak memasang kuping dan menatap lekat permasalahan apa yang terjadi selanjutnya.


"Sejak kapan lu mau ngebela orang lain kayak gini?!"


"Gue gak ngebela, Ana. Emang dari tadi gue ada ngomong apa?" Lila menatap Ana lekat-lekat. "Gak ada, kan?"


"Ck." Penuturannya berhasil membuat Ana terdiam dan tak bisa menyergah lagi. Perempuan itu kemudian menatap Risya dengan pandangan tidak suka.


"Gue minta maaf!" Ucapnya dengan nada ketus dan parahnya lagi ia tidak mennatap ke arah Risya tapi ke arah lain.


"Lu kalau mau minta maaf yang bener lah!" Ujar Rhaegar dengan tatapan tajam. Makanya kalau memang tidak berniat meminta maaf itu, ya, jangan bikin masalah!


"Banyak banget, sih, maunya! Yang penting, kan, gue udah minta maaf!" Tukas Ana.


Nina meneguk ludahnya dengan susah payah saat menyadari tatapan ketujuh lelaki itu nampak tak ada yang terlihat bersahabat pada mereka, bahkan Relvan pun?


Ia berusaha berbicara baik-baik pada Risya yang kini malah menjadi tokoh utama. Sial! Ia harus pura-pura baik padanya.


"Risya, kamu gak mau maafin Ana, ya? Ana, kan, udah minta maaf sama kamu."


Risya tak menjawab dan hanya diam, ia menelisik mereka dengan seksama. Sejak tadi sebenarnya ia tak mendengarkan pembicaraan mereka, ia malah sibuk beropini dalam hati dan malah keasikan sendiri. Hingga sebuah senggolan pada lengannya langsung membuyarkan semuanya.


"Rin, lu gak mau jawab perkataan dia?"


Risya mengernyit kala mendengar bisikan Rhaegar di dekat telinganya. "Apaan, Gar?" Tanyanya nampak bingung.


Rhaegar juga nampak ikutan bingung setelahnya. "Permintaan maaf, lu gak dengar apa?"


Risya kemudian mengerjap lalu berdehem pelan. "E... Iya dah gue maafin," ucapnya. Para lelaki yang masih berdiri di sekelilingnya hanya diam melirik dengan tatapan yang sulit.


"Seriusan?" Kata Nina dengan mata berbinar.


Risya hanya mengangguk saja. Sigra yang melihat itu pun rada tidak suka melihat sang adik memaafkan mereka begitu saja. Tapi ia tak bisa berbuat banyak hal, kecuali jika mereka berani menyentuh fisik adiknya.


Karena sebelum ke sini, ia sempat meminta siswa lain untuk membelikan beberapa botol air di kafetaria. Dan sekaligus menyuruh mereka untuk membawakannya ke sini.


"Risya mau juga?"


"Gak, makasih. Gue udah ada."


Risya menolak penawaran yang dilakukan oleh Nina, ia kemudian duduk di kursi dekat Rhaegar dan membuka tutup air mineral miliknya yang sudah sudah seperempat dan meneguknya sampai habis tak tersisa.


Risya mencepol rambutnya dengan asal, sekedar mengangkatnya ke atas agar tak menutupi lehernya. Ia menikmati hembusan angin yang bertiup lembut menerpa wajahnya dan tubuh bagian atasnya.


Dalam diamnya, Risya melirik ke arah Nina dan kawan-kawan yang tengah berbincang kecil dengan Relvan, Rey, Angga, Rizhan dan juga Sigra. Tapi ia lihat sang Kakak hanya sedikit menimpalinya dan itu juga dengan kalimat yang begitu singkat.


"Lu hebat, Rin," puji Rhaegar seraya mengusap kepala Risya.


Risya memutuskan pandangannya yang tadinya ke arah sana kini beralih pada lelaki yang duduk di sebelahnya. "Jelas lah, siapa dulu dong?" Risya membanggakan dirinya sendiri sambil terkekeh hingga membuat Alby nampak mendengus.


"Gaya banget lu!" Katanya dan tak dipedulikan oleh Risya.


"Lu mau minta apa? Bakal kita turutin permintaan lu selama satu hari," ucap Rhaegar.


"Kita?" Risya menelengkan kepalanya.


Alby pun lantas menganggukkan kepala. "Iya, kita semua tadi sempet taruhan, kalau lu yang menang, gue, Rhae sama temen-temen Sigra bakal nurutin semua permintaan lu."


Mata Risya langsung berbinar-binar mendengarnya, ia sampai mengembangkan senyum dan membayangkan apa saja yang bakal ia lakukan dalam satu hari. Ia ingin beli makanan sepuasnya, ingin bermain, dan ingin menghabiskan waktu di suatu tempat yang ia suka.


Ia kembali menatap Alby dan juga Rhaegar. "Tapi seriusan nih kalau semua permintaan gue bakal diturutin?"


"Iya," sahut Rhaegar.


Risya jadi merinding sendiri mendengar nada bicara Rhae yang terdengar lembut. Sepertinya ia lebih menyukai nada bicara bar-bar khas Rhaegar daripada jadi soft begini. Aneh saja gitu rasanya...


"Meskipun gue minta yang aneh-aneh?" Tanya Risya lagi.


"Ya, itu sih tergantung." Alby menyahut. "Kalau bisa, ya, bakal kita turutin tapi kalau emang enggak bisa, ya, lu harus terima."


Risya langsung mengerucutkan bibirnya. "Yah... Gak asik dong," gumamnya kecil.


"Risya."


Sang empu lantas menengok saat mendengar suara Soya yang terdengar memanggil namanya. Ia lihat gadis itu datang bersama temannya yang biasa.


Soya mendekat sambil menyodorkan sebotol air mineral ke hadapan Risya. "Nih, minuman lu," katany.


Risya sempat mengernyit sesaat tapi tangannya tetap menjangkau dan menerima sebotol air mineral pemberian dari temannya itu. Segel botolnya sudah terbuka tapi Risya tidak memikirkan hal-hal lain saat melihatnya. Tapi ia juga tak langsung meminumnya, mungkin nanti, karena sekarang ia sudah tidak haus lagi.


Soya dan Laura kemudian ikut bergabung dan duduk di dekat mereka, lalu kemudian berbincang-bincang sampai bel masuk kelas tiba.


...•...


...•...


...•...


...•...


...Bersambung...