Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
Bab 71 | Tantangan Geng Sebelah



"Dateng juga lu?" Tanya seorang pemuda dengan nada mengejek kepada beberapa pemuda yang baru saja datang ke lokasi yang sudah mereka tentukan.


Jalan tol, jalan ini jarang dilewati orang ketika malam tiba jadi tempat ini yang akan mereka gunakan dan bukan ke sirkuit balapan. Jalan nya pun berputar, jadi garis start dan finis akan berada di titik yang sama.


Pemuda itu tersenyum miring menatap keempat orang yang berdiri didepannya. "Kirain geng lu pengecut." Kata nya lagi hingga membuat Rey sontak melangkah dan menyergap kerah baju pemuda blasteran itu.


"Lu kalau mau cepet mati ngomong bangsat!"


Pemuda blasteran itu terkekeh santai seraya menepis tangan Rey yang berada di kerah baju nya. "Weh, Weh. Tenang dong." Ujar nya sambil merapikan kerah yang lecek tadi.


"Gue mau ngajak balapan, bukan baku hantam."


Ia menatap pemuda didepannya dengan santai, sedangkan Rey sudah mengepalkan tangan menahan amarah. Mereka sudah meluangkan waktu untuk datang malam ini tapi malah disambut seperti ini??


Pemuda blasteran itu menatap keempat orang didepannya, ia nampak terlihat mengerutkan kening.


"Oh ini si Bocil yang waktu itu ya? Udah gede ya lu, tapi masih aja bayi. Mending pulang aja lu ke rumah, tidur." Ucap nya membuat semua anggota yang berada dibelakangnya tertawa.


Tawa nya begitu mengejek hingga membuat Rizhan jengkel dan sontak menonjok wajah menyebalkan si pemuda blasteran itu.


Bugh!


Tawa tersebut lantas berhenti dan mereka tercengang kala melihat pergerakan cepat dari si bocah cebol milik geng Tiger Black itu.


"Anjir!" Umpat pemuda blasteran. Ia meringis menyentuh bibir nya sedikit berdarah akibat tonjokkan tadi.


"Ngapa lu nonjok gue?!"


Rizhan hanya menatap nya santai dan datar. Kemudian menyandarkan tubuh ke salah satu motor yang ada didekat nya.


Bocah itu mengangkat bahu nya sambil menatap ke arah pemuda blasteran. "Biasa nya orang yang banyak omong itu cepat mati." Sahut nya gamblang.


Anak buah dari pemuda blasteran hendak menyergah namun segera ditahan oleh ketua mereka.


Pemuda blasteran hanya memberikan kode menggunakan mata dan anak buah nya pun dengan sigap menurut.


Bunyi tepukan tangan mengisi keheningan sejenak yang mereka ciptakan, pemuda blasteran terkekeh kecil seraya melipat kedua tangan ke dada.


"Sekarang anak kelinci tumbuh jadi anak harimau ya? Hebat deh ayah asuh nya." Tukas nya sambil menatap Relvan yang terdiam saja.


Angga mendecakkan lidah melihat tingkah pemuda gila didepannya. "Mending cepetan deh, biar kelar! Mulut lu gak capek apa ngomong mulu?!!"


Pemuda blasteran menaikan sebelah alis nya. "Selow, bro. Lagian masih jam segini." Ia melirik jam di ponsel nya lalu kembali menatap Angga.


"Kenapa? Elu dicariin emak lu ya?" Tanya nya lalu tertawa keras.


Brakk!


Relvan yang geram pun lantas menendang salah satu motor yang berada tak jauh dari dia berdiri. Pemuda blasteran sontak menghentikan tawa nya.


"Mulut lu minta dihajar ya?" Tanya Relvan dingin. Satu persatu dari mereka nampak saling melirikan pandangan, entah mengerti atau tidaknya Relvan juga tidak perduli.


Ia melangkah perlahan mendekati si pemuda blasteran. "Lu udah buang - buang waktu gue buat dateng kesini. Ternyata disini cuma buat dengerin omong kosong lu, gak guna." Relvan menepuk pelan pipi pemuda blasteran. "Kalau mau ngajak baku hantam ya ngomong aja yang bener, gak usah pake acara ngajak balapan."


Pemuda blasteran langsung menjauh selangkah ke belakang. Ia seolah takut pada Relvan yang tengah menatap nya dengan sangar.


"Oke - oke. Gue beneran ngajak kalian balapan." Sahut nya seraya mengangkat kedua tangan ke atas, mirip orang yang tengah menyerahkan diri ke kantor polisi.


"Tapi kemana temen kalian yang satu nya? Gue mau lawan dia."


"Dia gak ada." Ucap Relvan datar.


"Kema-"


"Lu kalau nanya sekali lagi gue hajar lu sampai mati disini!" Sergah Rey dengan nafas memburu.


Yang lain nampak menelan ludah kesusahan sedangkan pemuda blasteran terlihat santai. Ekspresi nya itu terlihat random, sedetik terlihat takut lalu kembali berani dan terlihat santai saja, sedetik kemudian nampak takut lagi.


"Iya - iya, aduuh... Takut banget gue." Kata pemuda blasteran sambil mengorek kuping dengan jari kelingking. Rey mendecakkan lidah sambil menatap pemuda itu dengan malas.


"Kalau gitu gue mau lawan dia!" Pemuda blasteran menunjuk ke arah Rizhan membuat anggota Tiger Black terkesiap kaget.


Bukan hanya anggota Tiger Black sebenar nya, anggota pemuda blasteran pun tak kalah kaget nya. Kenapa ketua mereka memilih anak kecil sebagai lawan?? Apakah tak ada pilihan lain?? Namun mereka tak bisa menyergah hanya bisa diam saja mengikuti alur.


Relvan memasukan tangan ke saku celana sambil mengangguk - anggukan kepala. "Lu udah gak punya harga diri ya? Jadi berani lawan anak kecil?"


Cuihh!


Pemuda blasteran meludah ke arah sembarang. "Bangsat!" Umpat nya pelan namun Relvan serta yang lain yang berada di dekat pemuda itu masih bisa mendengar.


"Gak berani?" Kata Relvan menantang.


Pemuda blasteran menatap Relvan sambil berkacak pinggang, menusuk pipi kiri nya menggunakan lidah dan tak lupa memasang wajah songong seraya mengangguk - anggukan kepala.


"Oke. Gue lawan lu." Sahut nya mantap.


"Taruhan nya apa?" Tanya Relvan dan menatap nya datar.


"Duit 50 juta."


Anggota yang satu dengan yang lain terkesiap dan saling berbisik - bisik kecil. Jika Relvan menang, darimana si pemuda blasteran mendapatkan uang sebanyak itu sedangkan si pemuda itu juga tengah membutuhkan uang.


"Kalau lu menang, motor gue juga jadi taruhan nya." Sambung pemuda blasteran, lagi.


"Gimana? Deal?" Pemuda blasteran mengulurkan tangan ke depan Revlan.


"Deal." Relvan pun menjabat uluran tangan tersebut sebagai tanda sah perjanjian mereka.


Sebelum mereka bersiap, pemuda blasteran sempat menepuk pundak Relvan sesaat. "Biaya rumah sakit lu tanggung sendiri." Bisik nya.


Pemuda blasteran tersenyum miring sambil menjauh seraya mengangkat tangan membentuk pistol dan menembakkan nya ke arah Relvan.


Wajah nya begitu tengil hingga membuat siapapun yang melihat nya ingin sekali rasa nya menenggelamkan pemuda blasteran itu ke dasar bumi sampai tak terlihat lagi.


"Van, biar gue aja." Rey menepuk pundak Relvan membuat sang empu menatap ke arah nya.


"Kalau gak, gue aja." Tawar Angga juga.


"Kalau gu-"


Rey menahan bibir Rizhan dengan jari telunjuk hingga membuat ucapan nya terhenti. "Lu jangan ikut." Tukas nya.


"Kenap-"


"Lu gak boleh." Relvan ikut menimpali, ia menatap Rizhan yang tengah mengernyit bingung.


"Ish!! Kenapa sih?!" Rizhan menggerutu membuat Angga mendelik ke arah nya.


"Lu gak paham?" Rizhan mulai menatap ke arah Angga yang berbicara. "Dari awal mereka udah mau jebak kita. Dia tau kalau Sigra gak ada dan mau nargetin lu buat balapan malam ini. Dia tau elu yang paling kita jaga dan dia manfaatin itu buat hancurin kita semua."


Angga lambat menyadari yang sebenar nya tentang keinginan lawan mereka. Kalau boleh mengulang waktu, mungkin ia tak akan memberitahukan teman - temannya tentang balapan ini dan langsung menolak nya saja.


Namun semua nya sudah terlanjur seperti ini, mereka sudah sampai ke tempat ini dan tak memungkinkan mereka untuk mundur begitu saja. Sekarang hanya tinggal mempersiapkan diri dengan apa yang akan terjadi pada detik berikut nya.


Rizhan mengerjapkan mata lalu mengangguk paham walau otak nya masih loading mencerna perkataan Angga.


Relvan menepuk kepala Rizhan, membuat bocah itu mendongak menatap ke dalam mata nya. "Nurut ya." Pinta nya lembut.


Rizhan pun menganggukkan kepala saja. Relvan tersenyum tipis melihat nya lalu menurunkan tangan dari kepala Rizhan.


"Van."


Relvan menegok ke arah Angga. "Kenapa?" Tanya nya.


"Biar gue aja yang gantiin. Sumpah dah perasaan gue gak enak sekarang." Ucap Angga nampak khawatir walau tak terlihat kentara. Ia juga merasa bersalah saat ini.


"Gak." Tolak Relvan mentah - mentah. "Lu semua diem aja disini." Ia mendekat ke arah Rey dan berbisik ke telinga lelaki itu.


"Kalau gue kenapa - kenapa, gue serahin sisa nya sama lu semua. Terserah mau dibantai atau enggak." Sambung Relvan seraya menepuk pundak Rey sebanyak dua kali. Rey mengangguk sambil menatap punggung Relvan yang menjauh.


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...Bersambung...