Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
Bab 98 | DNLM



"Zhan."


Angga menepuk pipi Rizhan dengan pelan, anak itu terlelap dengan nyenyak sampai rasa nya Angga tak tega untuk membangunkannya. Mungkin tadi Rizhan kelelahan, ditambah perut yang terasa lapar saat menunggu Relvan.


Biasalah, ya, anak-anak jika kelelahan pasti tidurnya bakal nyenyak. Sebenarnya, Rizhan itu bukan bocah sih, ia anak yang sudah beranjak remaja, umurnya pun sudah menginjak tujuh belas tahun saat ini. Tapi karena tubuhnya lebih mungil diantara teman-temannya, jadi ya begitu.


"Ng?" Rizhan bergumam dengan mata yang masih terpejam.


"Bangun dulu," kata Angga lembut. Angga menarik tubuh Rizhan untuk duduk tapi masih disangga dengan tubuhnya agar anak itu tidak terjatuh.


Rizhan masih terlihat memejamkan mata, mengumpulkan nyawanya untuk sepenuhnya sadar dari tidur lelapnya, ia kemudian mengangkat tangannya, hendak mengucek mata namun tak jadi sebab Angga langsung menahannya.


"Jangan di kucek, Zhan. Entar mata lu perih," ucap Angga, jadi Rizhan hanya bisa mengerjapkan matanya perlahan.


"Jam berapa?" Tanyanya dengan suara serak khas orang yang baru bangun dari tidur.


"Udah sore, mungkin sekitaran jam lima. Kenapa?" Tanya Angga. Rizhan nampak menggelengkan kepalanya. "Lu mau makan sekarang apa nanti?" Tanyanya lagi.


Mata Rizhan mengedip dengan lucu. "Sekarang," sahutnya, sebab perutnya juga masih terdengar keroncongan.


"Relvan udah balik ke sini, Le?" Rizhan menatap Angga dengan lekat. Sepertinya ia tertidur terlalu lama.


"Udah, dia balik dari se-jam yang lalu."


Rizhan seketika melotot dengan mata yang melebar, nampak segar seolah habis cuci muka. "Kenapa gue gak dibangunin sih?!" Keluhnya kesal.


Angga menghelakan nafasnya. "Pending dulu marahnya, mending lu makan dulu." Mendengar perkataanya, Rizhan langsung saja beranjak dari duduknya setelah memastikan ia sudah terbangun sepenuhnya.


Benar, sebaiknya ia mengisi nutrisi dulu, kalau nanti pingsan, kan, tidak lucu.


"Gue tadi pengen bangunin elu tapi malah gak tega, elu tidurnya nyenyak banget, Zhan. Kata yang lain juga biarin aja lu tidur," ucap lelaki itu seraya mengikuti Rizhan dari belakang. Tujuan utama mereka ialah dapur.


Rizhan tak menyahuti ucapannya, anak itu nampak celingukan ke sana kemari dan membuat Angga yang tengah menatapnya pun nampak mengernyitkan dahinya.


"Cari apa?" Tanyanya.


Rizhan menoleh sekilas. "Yang lain pada ke mana, Le? Kok gue nggak liat?"


Paham siapa yang dimaksud oleh Rizhan, Angga pun memberitahukan nya bahwa teman-teman yang lain sedang berada di ruang tengah, ruangan yang berbeda dengan tempat mereka berkumpul sebelumnya.


Mendengar mereka sedang bermain play station pun Rizhan lantas menganggukkan kepalanya paham. Sesampainya mereka di dapur, Rizhan mendudukkan dirinya di salah satu kursi di meja makan dengan tenang. Sebab Angga hanya menyuruhnya untuk duduk saja dan menunggu, sedangkan lelaki itu sibuk memanaskan jatah makanan miliknya. Baik sekali 'kan, Angga?


"Nih," ujar Angga sambil ikut duduk di sebelah Rizhan. "Mumpung udah anget." Ia menyodorkan sepiring nasi goreng seafood kesukaan Rizhan, melihat itu Rizhan pun mengangguk dengan antusias. Ia menyendok nasi tersebut dan memasukkan ke dalam mulut.


"Lu udah makan?" Tanya Rizhan setelah menelan suapan pertamanya. Angga memandang ke arah Rizhan yang makan dengan lahap.


"Udah, tadi gue sama yang lain makan bareng," ucapnya. Lelaki itu tersenyum tipis dan mengusal rambut Rizhan hingga membuat anak itu menatap sepenuhnya pada ke arahnya.


"Muka lu gak usah cemberut gitu! Nanti kapan-kapan 'kan kita semua masih bisa bareng." Angga mengulas senyuman ketika Rizhan menanggapinya dengan anggukan lesu alias tak ada semangatnya sama sekali.


"Lu mau minum susu?" Tawarnya. Berusaha memecahkan suasana sepi di antara mereka, kebetulan Angga memang anak yang banyak berbicara jadi mudah saja mengakrabkan diri dengan yang lainnya.


"Emang ada?" Sahut Rizhan. "Rey 'kan belum belanja."


"Ada, tadi Relvan yang beliin. Gak tau tuh anak kenapa tumben banget," sahut Angga sambil terkekeh kecil. Rizhan kini terlihat nampak mengembangkan senyum manisnya, ah jika saja anak ini tidak punya orang tua mungkin Angga akan pangsung mengadopsinya.


Ia ingin sekali, Tuhan!!


"Boleh deh," sahut Rizhan setelahnya.


Dan tak membutuhkan waktu yang lama juga, Angga kini kembali dengan membawa segelas susu dan menaruhnya di depan Rizhan. Susu full cream yang rasa vanilla, susunya sedikit hambar namun rasanya tidak amis, jadi Rizhan suka-suka saja.


"Eh, btw si Nina masih ada di sini, Le?" Angga menganggukkan kepalanya sekali, lelaki itu duduk tepat di sebelah Rizhan. "Lah, kirain udah pulang?"


Angga menggelengkan kepalanya, "dia pengen di sini dulu katanya, jadi ya Relvan biarin aja, Rey juga gak keberatan."


Ia berucap dengan suara pelan, takut kalau ada yang tiba-tiba ke dapur dan mendengar pembicaraan mereka. Lebih takutnya lagi kalau yang mendengar itu malah jadi salah paham dengannya. Rizhan nampak mengerjap dengan pelan sembari meneguk susu miliknya hingga tersisa setengah dari gelasnya.


"Le!" Panggil Rizhan seraya memasukan suapan yang ke sekian kalinya ke dalam mulut.


"Hm?" Angga terlihat menaikan sebelah alisnya, menunggu perkataan dari Rizhan selanjutnya.


"Pewnah gwak swih--"


"Telen dulu, Zhan," potong Angga lebih dulu sebelum ucapan Rizhan selesai. "Gue gak ngerti lu ngomong apaan."


Angga mengernyit dengan heran. "Emang kenapa, Zhan?" Tanyanya bingung. Tumbenan bocah ini mau membahas tentang Nina?


Rizhan menggelengkan kepala. "Jawab aja, Le," sahutnya.


Angga terdiam sejenak sambil melirikkan mata ke atas sesaat, alisnya kemudian bertaut, mungkin karena sedang berusaha mengingat beberapa memori di kepalanya yang telah berlalu.


"Ketemu, ya?" Angga terdengar bergumam. "Oh, iya." Ia menolehkan kepalanya menatap Rizhan. "Waktu gue nemenin bokap gue ngurus sesuatu, mungkin itu sekitar dua Minggu yang lalu. Karena saat itu gue sama bokap laper, jadi kita mutusin buat makan dulu di restoran X. Waktu gue lagi liat sekitar tuh tempat, gue tiba-tiba gak sengaja liat Nina di sana. Entah sama siapa gue juga gak tau, cowok dewasa, pakaiannya lumayan formal juga."


Angga seketika tersentak sendiri dengan perkataannya, ia juga sampai membelalakkan mata. "Eh, Nina punya Bapak gak sih?" Tanyanya.


Uhuk! Uhuk!


Rizhan yang tengah mengunyah makanan pun langsung tersedak kala mendengar pertanyaan Angga, anak itu dengan cepat meraih gelas dan menenggak isinya. Setelah itu ia kemudian mendelik sinis ke arah Angga.


"Ya mesti punya lah! Emang elu kira dia gimana lahirnya kalau nggak punya Bapak?!"


"Lah?" Angga mengerutkan keningnya. "Lahir 'kan lewat emak bukan bapak, cok!"


Kini giliran Rizhan yang merasa aneh sendiri dengan perkataannya pada beberapa detik yang lalu. "Maksud gue, gimana dia bisa muncul kalau nggak ada bapaknya?"


Angga menghela nafas panjang. "Udah, itu gak penting sekarang, bukan pembahasan kita," ujarnya.


"Lah tadi 'kan elu yang nanya, gimana sih?" Gerutu Rizhan.


Angga tak langsung menanggapi, lelaki itu terdiam sembari memandang Rizhan yang masih sibuk menyuap makanan.


"Menurut lu itu siapa?" Tanyanya.


"Bapaknya?" Sahut Rizhan asal.


Angga kembali terdiam, namun kalau menurut dari penglihatannya, hubungan mereka itu tak terlihat seperti hubungan ayah dan anak. Seperti lebih, mungkin? Gimana, ya? Apa mungkin ada yang salah dengan penglihatan Angga??


"Gue pernah denger tentang dia." Rizhan berbicara namun sedikit menjeda kalimatnya. "Tapi elu bisa jaga rahasia nggak sih? Mumpung yang lain lagi nggak bareng kita."


Angga terlihat mendenguskan nafasnya, memangnya Rizhan kira dia itu mulut ember apa? Walau terkadang khilaf juga sih karena keceplosan. Namun jika rahasia itu sedikit berat, mungkin saja ia bisa menjaganya dengan baik. Mari kita coba.


"Apaan emang?" Tanya Angga penasaran.


"Nina itu anak panti yang kebetulan diadopsi sama salah satu orang terkaya di sini," ucap Rizhan gamblang tanpa perlu basa-basi lagi.


Anak panti?


Angga seketika menganga seolah mencerna ucapan Rizhan, kemudian tak lama ia tertawa hambar. "Lu ngomong apaan sih?" Celetuknya nampak bingung.


Tuh 'kan! Angga tak mungkin bisa percaya begitu saja, namun tak apa ia juga tidak memaksanya. Lagian Rizhan juga hanya ingin berbicara, jadi terserah pada pendapat Angga mau bagaimana.


Rizhan mendecakkan lidahnya seraya menatap angga dengan malas. "Gak percaya 'kan lu?" Tanyanya.


"Ya gak lah!" Sergah Angga cepat berusaha untuk mengusir pikiran negatifnya juga.


Rizhan mengendikan bahunya acuh, "terserah sih, gue juga gak maksa lu buat percaya." Rizhan beranjak seraya mengangkat piring serta gelas yang telah dipakainya untuk segera dicuci. Namun baru beberapa langkah ia kembali berhenti, Rizhan lalu berbalik ke arah Angga seraya berkata pada lelaki itu.


"Tapi, Le, lu harus tau, secantik apapun luarnya gak bakal bisa menjamin kalau hatinya baik juga," ucapnya sebelum kembali melanjutkan langkahnya.


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...Bersambung...