Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
Bab 33 | Waspada



"Kenapa?" Tanya Rhaegar karena merasa ditatap oleh Risya.


"Lu suka Nina?"


"Nina siapa?"


Risya mengerutkan keningnya. "Masa gak tau?!" Protes nya.


"Heh Bocil! jangan lupa kalau Rhae murid baru," sahut Alby gemas.


Risya nyengir lebar setelah tersadar karena perkataan Alby. Rhae adalah murid baru dan pasti ia belum mengenal protagonis wanita, tapi kalau menurut cerita bukan nya mereka sudah pernah bertemu ya, sebelum Rhaegar masuk ke sekolah dan menjadi murid baru??


Rhae bertemu Nina saat mereka tak sengaja bertabrakan bahu di toko buku, Nina terjatuh lalu Rhaegar membantunya berdiri. Pada saat pandangan pertama, Rhae langsung jatuh cinta pada gadis itu dan memutuskan untuk mencari tahu lebih jauh tentang nya. Tapi seperti nya semua itu tak terjadi, kan? Buktinya Rhaegar tak mengenali Nina?


"Yang mana sih orangnya?"


"Yang sana tuh!"


Risya mengernyit masam kala Rhae bertanya tapi sambil menatap wajah nya dan tak mengikuti arah lirikan mata nya. Jelas lah ia tidak tahu kalau hanya mendengar saja tapi tak melihat objek yang ia tunjuk.


Risya menyelis sinis. "Lu liat nya kesana, bukan ke gue!" Ucapnya sembari memutar kepala Rhaegar.


Posisinya mereka duduk membentuk segitiga, karena meja berbentuk persegi panjang, Risya duduk di sisi lebar nya, sedangkan dua lelaki itu saling berhadapan -berada di sisi panjang meja-. Kalau disejajarkan ketiga nya, Risya berada di tengah-tengah mereka.


"Udah liat," singkat Rhae. Ia hanya memandang sekilas ke depan.


"Gimana?" Tanya Risya menantikan respon Rhae melihat Nina.


Rhaegar mengernyit. "Gimana apa nya?" Tanya nya bingung.


"Si itu."


"Biasa aja," sahut Rhaegar gamblang.


Risya memukul lengan Rhae. "Kok biasa aja sih?!" Sergahnya membuat Alby menatap Risya yang nampak terlihat kesal karena jawaban Rhae tak memuaskan.


"Emang kenapa sih, Sya?" Tanya Alby penasaran sambil menyuap makanan ke dalam mulut. Ia tak mengerti kenapa Risya terlihat seperti menginginkan Rhaegar menjawab bahwa dia menyukai Nina.


"Bukan gitu Al. Tapi kan-"


"Tapi kan?" Rhaegar menaikkan alisnya memandang Risya yang tak melanjutkan ucapan nya.


"Nggak tau ah! Kalian mah gak asik!" Risya menggembungkan pipi seraya melipat tangan ke dada. Ngambek.


"Lah kok ngambek?" Tanya Alby sambil menyeruput minum nya.


Rhaegar menarik hidung Risya gemas. "Jadi gue harus bilang suka sama cewek yang nama nya Nina itu?" Tanya nya.


Risya tak bergeming dan enggan menjawab pertanyaan Rhae. Bukan ngambek beneran sih, hanya saja ia tak mau mereka menanyakan alasan di balik pertanyaan nya. Kalau begini mereka tak akan penasaran lebih lanjut.


"Yaudah deh gue suka," ucap Rhae membuat Risya nampak melirik ke arah nya. "Tapi bo'ong ahhaha.."


"Rhaegar Ngeselin!" Risya mencubit lengan Rhae berkali kali hingga membuat sang empu meringis. Cubitan nya mantap juga.


Alby mengurut dahi tak paham dengan kelakuan mereka berdua, dipertemukan bukan nya akur, ini malah seperti kucing dan tikus.


Alby menarik tangan Risya agar berhenti mencubit Rhaegar. "Udah berhenti, kulit Rhae itu keras kayak baja, nanti malah tangan lu yang sakit," sergah Alby. Risya berhenti lalu mengerjap menatap tangan nya kemudian mengangguk lugu, ia tak membantah dan menurut saja pada Alby. Macam kucing yang habis kena omel pemilik nya.


Rhaegar tertawa tapi tangan nya bergerak meraih sedotan dan melemparkan nya ke arah lelaki di depannya ini. Enak saja kulit nya dibilang baja, kalau tenaganya sih bisa kalau dibilang sekuat baja.


"Heh! Buang-buang sedotan lu!"


Rhae mencibir Alby tanpa suara hanya menggerakkan mulutnya saja. Setelah itu ia menatap ke arah Risya.


"Erin," panggil nya.


Risya mengangkat kepala dan memicing sinis. "Gue Risya bukan Erin!" Balas ia ketus. Risya agak aneh jika dipanggil Erin serasa berada di dunia lain saja. Padahal memang di dunia lain:)


Rhaegar tak menghiraukan, ia malah melempar pertanyaan lagi. "Memang nya kenapa sih gue harus suka dia? Nggak ada cewek lain apa?" Masih saja penasaran perihal tadi. Risya melirikkan mata ke atas sambil mengetuk dagu dengan jari telunjuk. Nampak berpikir keras akan pertanyaan Rhae.


"Cewek lain?"


"Iya."


"Kayak elu misal nya.." lanjut nya pelan bahkan nyaris tak terdengar.


...•...


...•...


...•...


...•...


"Please, tugas tadi susah banget ya ampun!" Keluh Laura. "Kepala gue udah hampir meledak. Udah keluar asap. Udah gak kuat."


Soya terkekeh, ia berbalik menatap temannya. "Namanya aja tugas ya pasti susah," Sahut Soya.


"Tugas itu beban banget ya, nyusahin orang aja," sungut Laura. "Kayak nya gue harus ngambil lagi jadwal les deh, biar pinter juga kayak lain." Lanjutnya.


"Emangnya lu mampu?" Tanya Soya.


"Jelas lah. Cuma bayar satu guru privat lagi masih mampu gue."


"Maksud gue otak lu." Laura nampak terdiam.


Soya menghela nafas. Mereka melangkah sambil berbincang-bincang. "Laura.. nggak perlu di paksain saat otak emang gak mampu dan kuat buat nahan semua pelajaran yang masuk. Nanti malah nambah beban pikiran dan jatuh nya kita yang stres sendiri."


"Terus gimana dong??"


"Coba dulu semampu nya secara bertahap, misal kayak tulis catatan yang penting atau rumus-rumus penting lainnya di buku khusus. Lu bisa pelajarin itu sendiri setiap sebelum tidur atau sesudah bangun tidur. Kalau ada yang gak bisa lu pahami, elu bisa tanya ke teman," ucap Soya.


"Lu harus inget, otak kita itu diciptakan sesuai porsi nya masing-masing jadi nggak usah insecure. Kalau lu cuma lihat nya ke atas, lu gak bakal pernah merasa puas sama hasil yang udah elu gapai." Soya menepuk pundak Laura. "Coba lah belajar lihat ke bawah."


Laura mengangguk, ia memang selalu memaksa diri untuk sesuatu yang belum bisa ia raih. Ia terlalu memaksa otak dan tubuhnya bekerja di luar batas. Alhasil Laura juga sering sakit.


"Kalau nyontek sih enak," celetuk Laura seraya menilik sekitar.


"Nyontek pun harus pintar," sahut Soya. "Lu harus bisa memilah jawaban yang benar, kalau di salin semua nama nya gak punya otak."


Laura terkekeh. "Lu juga pernah nyalin jawaban gue juminten! Berarti lu gak punya otak dong?"


"Lah iya?"


Mereka tergelak bersama. Soya lupa saat itu pernah menyalin jawaban Laura karena ia lupa kalau ada tugas jadi terpaksa sebelum bel masuk ia menyalinnya di kelas.


"Oh iya, ngomong-ngomong tentang kasus lu yang kemarin sama si jelangkung udah di bereskan sama Angkasa kan?" Soya mengangguk. "Gue tebak sih tu jelangkung pasti gak terima karena ada yang belain elu," tutur Laura dan Soya mengangguk lagi.


"Yang belain lu siapa Soy? Sayang banget gue nggak masuk sekolah waktu itu."


"Kata nya Risya anak kelas XI-IPS1."


Laura manggut-manggut lalu melanjutkan perkataan nya. "Si jelangkung sih gak bakal terima saat masalah kemarin selesai gitu aja dan yang paling penting dia pasti gak terima karena orang yang lu suka gak benci sama elu."


"Jadi lu harus hati-hati sekarang, bisa aja dia punya orang dibelakang dia. Paham kan?"


"Enggak."


"Heh?!"


Soya hanya nyengir, sok imut agar Laura tak marah-marah pada nya. "Iya-iya, paham kok." Sahut nya, ia mencondongkan kepala sedikit lalu berbisik. "Kalau si itu tuh punya tameng macam om-om kaya raya gitu kan maksud lu?"


Laura mengiyakan, tadi ia hanya berfikir kalau orang dibelakang Nina itu keluarga atau paman Nina misal nya, tapi Soya malah berfikir kalau Nina itu simpanan om-om. Kan Laura jadi berpikiran negatif!! Ditambah ia pernah melihat nya secara langsung.


"Lu tenang aja, gue bisa jaga diri sendiri."


Laura malah sibuk melamun sendiri, suara Soya pun samar-samar masuk telinga namun tiba-tiba..


PRAANGG!!!


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...tbc...