Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
Bab 43 | Mencoba



Langkah kaki nya seirama dengan detak jantung, ia berjalan dengan santai tanpa tak tergesa gesa. Menyusuri selasar kelas sambil sesekali menatap ke arah lapangan.


Seseorang perempuan dari arah depan berjalan berlawanan arah dengan nya, namun sedikit berlari. Entah salah ia yang yang tengah menatap lapangan atau salah perempuan itu yang tak melihat ke depan hingga membuat kedua nya saling bertabrakan dan jatuh secara bersamaan.


"Aduh!"


Mereka serempak mengaduh, bokong kedua perempuan itu tepat menghantam lantai. Beberapa detik mereka saling meringis, ia berdiri lebih dulu ketimbang perempuan pipi chubby itu.


Lalu menepuk nepuk debu yang melekat di rok nya sambil sesekali menatap perempuan yang masih tertunduk di lantai.


Setelah nya ia mengulurkan tangan membuat si perempuan pipi chubby mendongak dan mengerjap bingung.


"Sini gue bantu." Ucap nya.


Si pipi chubby menerima uluran itu, ia berdiri lalu menepuk nepuk rok nya yang tertempel debu lantai.


"Emm, thanks ya." Ucap si pipi chubby.


Ia terdiam menatap perempuan itu dengan lekat, seperti pernah melihat. Pipi chubby, badan pendek, suara lembut yang khas. Dia kan..


"Lu Risya, kan?"


"Lu Soya, kan?"


Kedua nya tersentak dan tersenyum canggung usai bertanya serempak.


"Ah iya, gue Soya. Lu kenal gue ya?" Tanya Soya, ia memandangi Risya yang terlihat begitu imut.


"Unyu banget, mana pendek lagi." Batin nya.


Risya mengangguk. "Semua anak di sekolah juga kenal sama elu kok, termasuk gue." Tukas nya.


Soya nyengir kuda, menampilkan deretan gigi putih yang rapi.


"Kadang gue lupa kalau gue populer."


"Karena sering mikirin cowok lu ya jadi lupa?" Tanya Risya sambil tersenyum jahil.


Soya tertawa kecil, kenapa ya rasa nya seperti sudah akrab? Padahal ia sedikit susah beradaptasi dengan orang yang baru dikenal.


"Enggak lah. Ngapain mikirin cowok, lagian gue juga nggak punya cowok." Sahut Soya.


"Eh, bukan nya relv-"


"Sstt.." Soya mendesis seraya menutup bibir Risya dengan telunjuk nya. "Udah ya jangan disebut. Gue lagi kemusuhan kalau denger nama nya." Ucap nya, ia menurunkan jari dari bibir gadis itu.


Risya cengengesan imut. "Maaf kalau gitu, gue gak tau soal nya."


Soya mengangguk seraya mengulurkan tangan lagi untuk mengajak Risya bersalaman. "Kita belum berkenalan secara resmi." Kata nya. Dan Risya menyambut uluran itu.


"Risya Erin." Ucap nya.


"Soya Aila Aldic." Ucap Soya.


Mereka melepaskan jabatan tangan dan sama sama menarik lekuk senyum. Mata Soya melirik name tag milik Risya.


"Nama lu Risya Erin, terus huruf S nya singkatan apa?" Tanya nya.


"Emm, itu.." Risya menggaruk kepala nya yang tak gatal. Ia bingung ingin menjawab apa.


Soya seketika tersadar akan pertanyaan nya. Rupa nya ia terlalu ingin tahu hingga membuat gadis itu tak nyaman.


"Ah maaf kalau pertanyaan gue buat lu gak nyaman, nggak perlu dijawab, Sya." Ucap Soya, tak enak hati ketika melihat Risya nampak canggung.


"Maaf ya." Kata Risya.


Soya jadi tak nyaman jika seperti ini, harus nya kan ia yang meminta maaf bukan perempuan ini.


"Nggak apa apa, gue yang harus nya minta maaf disini. Btw gue baru kali ini lihat lu lagi, lu gak pernah keluar kelas apa?" Tanya Soya.


Risya mengerjap pelan. Perasaan ia sudah tak seperti dulu yang suka mendekam di dalam kelas, sekarang ia sudah sering keluar kelas tapi kenapa Soya tak pernah melihat nya ya padahal ia sering mengamati gadis itu lalu kelas mereka juga tak jauh.


"Sering kok keluar kelas, lu aja kali yang gak pernah lihat gue." Sahut Risya membuat Soya tertawa kecil.


"Iya kali ya." Kata nya. "Makasih Sya buat yang waktu itu, gue belum sempat ucapin karena belum ketemu elu." Lanjut nya.


"Itu bukan apa apa kok, jadi nggak usah bilang makasih. Gue cuma nggak suka sama orang kayak mereka. Munafik banget soal nya, playing victim lagi." Ucap Risya blak - blakan.


Soya melongo mendengar perkataan Risya. Blak - blakan sekali gadis ini, beruntung dia hanya menyebut kata 'mereka' bukan langsung nama nya. Kalau ada yang mendengar bagaimana?


Ia sih tidak apa apa, tapi kalau gadis ini yang jadi sasaran Nina dan kawan - kawan bagaimana?


"Btw lu mau kemana?" Tanya Soya mengalihkan topik mereka.


Risya seketika membelalakkan mata nya, ia menepuk jidat nya pelan. "Astaga gue lupa mau ke toilet! Gue duluan ya, Soya."


Risya berlalu dari hadapan Soya sambil melambaikan tangan. Soya terkekeh, terkadang memang begitu ketika tak sengaja bertemu dengan lawan bicara pasti akan lupa tujuan awal sendiri mau kemana. Karena keasikan bercengkrama.


Ia kembali meneruskan langkah nya menuju kelas. Berhenti tepat di depan pintu yang tertutup rapat, ia mengetuk pelan kalau - kalau ibu guru masih didalam.


Karena tak ada yang menyahut, jadi ia mandiri untuk membuka pintu itu sendiri. Ia menggenggam gagang pintu yang terasa dingin.


Ceklek!


Pintu terbuka, ia masuk dan menatap teman - teman nya yang nampak kaku. Ternyata ibu guru sudah keluar dari ruangan ini.


"Sial! Bikin kaget aja lu. Kita kira tadi ada guru lain lagi yang bakal masuk." Keluh seorang perempuan berambut cokelat.


"Lau, pinjem catatan ya." Pinta nya ketika sudah mendaratkan bokong di atas kursi.


"Nih. Salin sekarang aja, Soy. Kalau nggak sempet bisa lu selesaikan di rumah. Lumayan banyak catatan nya entar keburu istirahat." Soya mengangguk seraya mengambil buku Laura.


"Jadi tadi ngapain ke aula?" Tanya Laura, ia memposisikan duduk nya menghadap Soya.


"Kata pak Didi disuruh jadi vokalis buat tampil di festival." Soya membuka buku dan mulai menyalin catatan tadi.


"Yang bener?!" Soya mengangguk. "Bareng siapa?" Lanjut Laura.


Soya menghela nafas. "Lu bisa tebak itu siapa." Tukas nya, malas.


"Oh si lelaki brengsek? Haahh.. ngapain sih bareng orang itu?" Tanya Laura.


Soya mengendikan bahu. "Mana gue tau. Itu request dari anak - anak musik." Kata nya.


"Hih! Klub musik kok aneh sih. Bukan nya mereka punya vokalis sendiri, kenapa malah request orang luar?" Gerutu Laura. Dan Soya lagi - lagi mengendikan bahu nya.


"Mereka sendiri yang mau. Gue awal nya juga mau nolak karena gak yakin sama suara gue, Tapi si bapak suruh gue buat coba. Dan yah.. gue terima."


"Terus si partner lu gimana?" Tanya Laura.


"Dia juga gak keberatan dengan permintaan itu." Sahut Soya.


"Dia juga gak ada protes?"


"Nggak ada."


Laura mengernyit heran, si Relvan tumben tidak protes, biasa nya juga tak terlalu suka jika di sandingkan dengan Soya.


"Lau, kalau gue lupain dan ngejauh dari tuh cowok gimana ya?" Tanya Soya.


Laura nampak bingung namun ketika paham siapa yang dimaksud Soya, ia langsung menatap gadis itu tak percaya tapi di satu sisi ia juga senang mendengar nya. Arti nya teman nya ini tak akan bersedih lagi karena lelaki itu, kan??


"Bagus! Gue dukung 1000%!" Laura menepuk nepuk pundak Soya. "Kenapa nggak dari dulu aja sih? Baru dapat hidayah ya lu? Baru kebuka mata batin lu?!" Keluh nya.


"Heh! Mata hati bukan mata batin!!" Sergah Soya.


"Ya udah sih, lupain aja tuh cowok. Gak guna kalau lu ngarepin dia mulu, sesekali coba buka hati untuk seseorang lagi selain dia." Tutur Laura.


"Buka hati buat orang baru nggak semudah membalikkan telapak tangan, gue mau bener - bener tulus bukan sekedar pelampiasan doang. Kasihan kan dia kalau gue manfaatin kehadiran nya cuma buat lupain seseorang?"


Laura terdiam kemudian mengangguk sekali. "Iya sih. Tapi gak apa - apa buat obat pelipur lara. Nggak mesti harus jadi pacar juga, bisa lu jadiin teman. Dan kita gak bakal tau kedepan nya gimana, karena cinta itu bisa datang tiba - tiba tanpa aba - aba." Ucap nya.


"Lagian mau buka hati ke siapa coba?" Tanya Soya, sepintas melirik ke arah Laura lalu kembali menatap buku.


"Nah, harus nya itu yang lu tanyain dari awal. Rekomendasi dari gue, si ketua osis." Tukas Laura dengan senyum mengembang.


Soya mengerutkan dahi. "Kenapa jadi ketua osis?"


Pertanyaan Soya membuat Laura mendecakkan lidah. "Poin pertama karena dia berwibawa dan bertanggungjawab, lalu dia tampan, baik hati dan dia nggak bakal nyakitin lu kayak cowok yang sebelum nya."


Soya masih saja mengerutkan dahi. "Tau dari mana emang kalau dia gak nyakitin gue? Siapa tau dia sama aja kayak cowok - cowok yang lain." Celetuk nya.


"Dia belum pernah pacaran kalau elu mau tau." Kata Laura membuat Soya menatap gadis itu dengan mata lebar.


"Serius?"


"Iya, itu juga reaksi gue ketika pertama kali denger tentang Angkasa. Gue nggak percaya kalau dia belum pernah pacaran." Sahut Laura.


Soya menghentikan kegiatan menulis nya, ia memutar - mutar bolpoin di jari. "Belum pernah pacaran nggak bisa menentukan dia bisa nyakitin hati orang atau enggak." Gumam Soya.


"Gue jadi ragu kalau sama dia." Ucap Soya.


Laura mengernyit. "Hah? Kenapa lagi?" Tanya nya.


"Kita belum kenal dia lebih jauh kalau lu lupa. Dia emang keliatan kalem tapi siapa tau diluar sekolah dia itu tukang tebar pesona alias playboy cap kaki badak." Tutur Soya.


Laura menghela nafas panjang dan hanya bisa geleng - geleng kepala, masih saja teman nya ini berpikiran buruk. Tapi kalau sudah masalah si cowok brengsek dia akan berpikiran positif terus. Huh! Cinta memang buta.


"Begini my bestie tercinta." Laura merangkul pundak Soya. "Kalau gue rekomendasi kan buat elu arti nya tuh orang udah gue teliti sampe ke akar - akar nya. Ibarat nya gini, gue udah keluarin lu dari kandang buaya masa gue lempar elu lagi ke kandang harimau. Emang lu mau?!"


Soya menggeleng kan kepala, ia tak mau lagi jatuh untuk kedua kali nya. Ada yang pernah bilang "mati satu tumbuh seribu" yang arti nya jika kita melepaskan satu orang masih ada seribu orang yang akan menunggu kita.


Jadi apa mungkin jika ia melepaskan satu orang ini, ia akan mendapat pengganti yang lebih baik lagi??


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...tbc...