
Tertawaan kedua perempuan itu menggema memenuhi toilet putri tersebut. Sungguh, mereka terlihat bahagia sekali kala melihat penderitaan yang dialami oleh Nina akibat perbuatan mereka. Nina terisak sambil menutup wajah nya dengan kedua tangan nya.
"Cantik banget lu," celetuk Re --cewek yang pertama membully Nina-- sambil tersenyum senang. Wajah Nina sedikit lebam di sudut bibir nya akibat bekas tamparan yang di layangkan kedua orang itu.
"Itu karma buat lu yang sok cantik, karena sifat lu yang sok care sama semua orang, ceper, itu juga bikin lu berada dalam masalah kayak gini." Mo --cewek yang memperlihatkan sesuatu di ponsel pada Nina-- menatap Nina tanpa rasa iba.
"Well, sebab yang lain nya juga bukan karena itu aja," timpal Re sambil mendengus kecil.
Nina menurunkan kedua tangan nya dari wajah ke arah lantai toilet dan menyentuh dingin nya lantai tersebut. "Hiks... Kak, salah aku apa?" Tanya nya lirih.
Re memutar bola mata malas, mengibaskan rambut panjang nya ke belakang dan melipat tangan ke dada. "Heh! Udah dong nangis nya, berisik banget!"
"Ngerusak pendengaran gue aja!" Timpal Mo juga.
Re masih saja menatap nya dengan malas dan bertambah jengah. "Nina Erabel, anak emas yang di banggakan semua guru bahkan ke sekolah sebelah, lu tau pada dasar nya cewek - cewek di sini atau pun di luar sana rata - rata gak ada yang suka sama lu. Kalau lu ngerasa mereka suka, itu cuma perasaan elu doang. Asli nya mah enggak, gak usah kepedean deh!" Ucap nya.
"Lu gak tau 'kan perasaan anak - anak yang elu kalahin di OSN kemarin?" Tanya Mo seraya menatap Nina. "Walau emang dalam pertandingan kalah emang itu biasa tapi mereka pada dendam semua sama elu tentu nya. Hati - hati aja lu nanti nya," tambah nya dengan kekehan kecil.
Re, mengangkat dagu Nina agar bertemu pandang dengan nya menggunakan kaki nya, tak berperasaan memang. "Lihat gue, bangsat!" Teriak nya di depan wajah Nina setelah menurunkan kaki nya. "Gara - gara elu, gue kena imbas nya karena kalah dalam olimpiade. Gue di amuk sama nyokap gue, gue di pukul sama bokap gue, lu tau gak rasa nya itu gimana?!!" Mo sontak mengusap pundak Re agar perempuan itu tenang dan meredakan emosi nya.
"T-tapi, hiks... Tapi itu bukan salah aku!" Bantah Nina sembari memberanikan diri menatap mereka.
"Terus salah siapa?!" Balas Re. "Elu mau nyalahin gue?! Lu mau bilang kalau itu semua salah gue, gitu?!"
Plakk!!
Nina meringis saat telapak tangan Re menyentuk pipi nya, rasa panas dan perih begitu terasa di tambah Re malah menarik rambut nya tanpa memperdulikan kondisi rambut nya yang kotor ini.
"Kak, hiks... Sakit... Lepasin rambut aku," pinta Nina memelas.
Re seakan tak perduli dengan nya, perempuan itu malah semakin memperkuat jambakkan di kepala Nina. "Ini semua salah lu! Lu yang salah! Jal*** lu bangsat!" Saking emosi yang menguasai, Re tanpa hati mendorong kepala Nina ke dinding toilet putri.
Duk!!
Melihat itu, Mo sontak menghentikan teman nya yang hilang kendali. Sedangkan Nina terlihat berderai air mata saat merasakan sakit di kepala nya.
"Re! Udah, Re!" Mo langsung memeluk teman nya untuk menenangkan dia. "Kita cuma mau bully dia, bukan mau bunuh dia," bisik nya lirih.
Beruntung kepala Nina tidak berdarah saat terbentur dinding keramik tersebut dan mungkin hanya akan meninggalkan memar saja. Nina lemas, ia benar - benar merasa tak berdaya untuk sekedar beranjak dari duduk nya.
***
Seseorang dari arah luar berlari masuk ke dalam kafetaria, dengan langkah tergesa - gesa ia berlari ke arah meja Relvan dan teman - teman lelaki itu yang terlihat tengah berbincang - bincang.
"Kak!" Panggil siswi itu dengan nafas tak beraturan. Seketika satu meja pun tersentak kaget mendengar suara yang tiba - tiba itu.
"Kenapa?" Tanya Alby bingung sekaligus mewakili rasa penasaran teman - teman nya.
"Itu." Siswi itu menunjuk ke arah pintu masuk, mereka mengikuti arah tunjukan nya namun tak menemukan apa - apa. Di sana memang tidak ada siapa - siapa maksud nya di sana tidak ada sesuatu yang menarik perhatian yang lain nya.
"Apaan sih?" Tanya Rizhan seraya menatap ke arah Angga, lelaki yang di tanya nampak mengendikan bahu karena ia juga tidak tahu.
Siswa tadi nampak mengatur nafas nya lagi sebelum meneruskan ucapan nya pada mereka. "Nina," ucap nya dan langsung di sambar oleh Rey.
"Dia, dia kena pukul."
"Hah?!" Tidak ada yang tidak bingung di sini, semua nya saling pandang dengan raut tanya.
"Ngomong yang bener lu!!" Rey seketika beranjak dari tempat duduk nya, suara nya yang terdengar meninggi pun dapat mengalihkan atensi para penghuni kafetaria sekolah.
Siswi tersebut nampak kaget dan terlihat menelan ludah nya dengan susah kala Rey menatap nya dengan tatapan tajam. "Bener, kak. Maksud aku, si Nina di bully sama dua orang yang aku gak tau siapa, di toilet putri XI IPA1." Rey terbelalak lebar dan lantas berlari ke sana diikuti oleh yang lain nya.
Brakk!!
"Nina!"
Waktu seketika membeku saat tak mendapati orang apa yang katakan siswi tadi sana, bukan orang yang tersebut melainkan Soya yang nampak berjongkok dengan mata terbelalak melihat kedatangan mereka. Ah, Soya pasti kena salah paham lagi saat ini.
"Nina, hei." Rey menepuk pipi Nina pelan, tak perduli dengan bau menyengat dan merusak penciuman yang menguar dari tubuh perempuan itu. Ia menoleh menatap Soya dengan nyalang.
"Soya, lu gak ada kapok - kapok nya ya?! Lu apain lagi si Nina?!!" Sarkas nya. Seperti nya Nina pingsan sebab perempuan itu terlihat menutup mata nya, bukan mati karena nafas nya masih terasa.
"B-bukan gue! Gue gak salah! Gue baru masuk toilet keadaan dia udah kayak gini. Lu jangan nyalahin gue!" Ujar Soya.
"Halah! Ngaku aja deh lu! Gak usah banyak alasan!"
"Gue bilang bukan ya bukan! Lu budeg apa gimana?!"
Perdebatan terjadi di sana hingga menyebabkan beberapa orang mulai berkumpul di toilet putri untuk melihat mereka. Tiba - tiba dua orang menerobos masuk ke dalam dan langsung mendorong tubuh Soya hingga membuat pinggang belakang Soya menghantam sisi wastafel.
"Heh, bit**!" Lila, perempuan itu menatap Soya sambil melotot kan mata nya. "Lu gak usah ngerasa sok paling kasihan deh di sini! Jelas - jelas cuma elu yang sendirian ada di toilet dan pasti elu 'kan yang bully Nina sampai kayak gitu?!"
"Lu main tuduh - tuduh aja tanpa bukti," tukas Soya merasa tak terima dengan tuduhan mereka. Ia memang ada di sini tapi apa itu cukup untuk membuktikan kalau ia yang bersalah atas masalah ini??
"Bukti apa lagi emang?! Ada nya elu di sini juga udah bisa bikin lu jadi tersangka!"
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
...Bersambung...