
Malam ini di jalan Permata Raya terlihat begitu ramai karena dipenuhi oleh para pemuda yang sedang berkumpul disana. Dua orang pemuda tengah bersiap digaris start dengan keadaan motor yang sudah bersiap melaju.
Seorang pemuda -salah satu dari anggota kedua geng itu- membawa bendera kecil ditangan lalu berdiri didepan kedua motor itu. Karena ini bukan di sirkuit, jadi tak ada wanita berpakaian minim yang menginstruksi kedua nya.
"Ready?" Tanya nya.
Relvan dan pemuda blasteran saling melirik dan melemparkan tatapan sinis serta mengejek. Kedua nya kemudian mengangguk sambil menarik ulur gas motor masing - masing.
Three...
Two...
One...
"Go!"
Bruuummmm....
Motor melesat dengan cepat dan kali ini Relvan berada didepan, ia memimpin jalan. Pemuda blasteran tersenyum smirk, ia membiarkan Relvan memimpin toh nanti ia juga yang akan jadi pemenang.
Kini bergantian lagi, pemuda blasteran yang mencoba membalap Relvan, kedua nya melesat cepat dan sempat beriringan sampai ke garis finis. Namun...
Bruuummmm... Brak!!!
Tiba - tiba ada sebuah mobil yang datang dari arah berlawanan menabrak motor Relvan dengan kecepatan tinggi. Motor tersebut terpental dan pengendara nya terseret aspal beberapa meter dari motor. Sedangkan si penabrak sudah kabur entah kemana.
Kejadian itu membuat waktu terasa melambat. Para penonton pun tak berkedip, mereka malah terdiam kaku dan melongo ditempat.
"Relvan!!"
Pekikan dari Rizhan membuat semua orang tersadar dari pikiran mereka. Bocah itu berlari kesana lebih dulu, mendatangi Relvan yang terkapar di pinggir jalan.
"Bangsat!" Umpat Angga dan berlari sontak menghajar pemuda blasteran.
Entah kenapa dari sekian banyak anak buah lawan, Angga malah menghajar pemuda blasteran. Padahal bisa saja kan ini adalah rencana salah satu anak buah lawan ?? Kasihan sekali si pemuda blasteran yang selalu jadi sasaran.
Bugh!
"Anjing!"
"Akhh! sshht.." pemuda blasteran nampak meringis lalu memandang nyalang pemuda didepannya itu.
"Dari awal lu udah ngerencanain ini, kan?! Lu mau celakain kita semua hah?!!" Sarkas Angga didepan wajah pemuda blasteran. Tak perduli kalau air liur nya muncrat-muncrat karena sekarang ia sedang marah.
Anggota pemuda blasteran mendorong dada Angga agar menjauh dari pemimpin mereka. "Kenapa lu bisa nyimpulin ini semua rencana kita? Emang elu punya bukti hah?! Kecelakaan di tempat balapan itu wajar, bego!!"
Bugh!!
"Iya wajar kalau lu semua ikut mati disini!!"
Bugh!
Angga kembali menyerang mereka. Seketika semua nya saling menghajar satu sama lain, Rey pun ikut menyerang lawan bersama para anggota yang ada disini.
Tidak imbang jika dilihat dari jumlah geng satu dengan geng lain. Anggota Tiger Black lebih sedikit dari mereka, namun jika menurut tenaga maka sembilan puluh persen geng Tiger Black yang akan menang malam ini.
Di satu sisi, Rizhan tengah melepas helm Relvan dengan hati-hati, kaca depan helm tersebut pecah akibat terbentuk siring aspal.
"Relv? Masih sadar gak?" Rizhan memangku kepala Relvan diatas paha nya lalu menepuk pipi pemuda itu pelan.
Darah mengucur dari dahi Relvan, mungkin karena terbentur tadi. Tangan serta kaki nya pun berdarah karena bergesekan dengan aspal.
Relvan mengangguk lemah, kepala nya terasa sakit dan telinga nya terasa berdengung. Ia lemas dan susah untuk beranjak. Kalau bisa memilih, mungkin ia akan memilih berkelahi sampai mati dibanding tabrakan begini.
Rizhan begitu cemas sekarang, ia menatap ke arah teman - teman nya yang lain. "Aduuh malah pada kelahi lagi! Ini gimana cara gue ngangkat nya?"
Ia bingung bagaimana cara ia membopong Relvan, sedangkan tubuh nya terbilang sangat kecil dari tubuh besar pemuda itu. Apa tidak penyet dia kalau tertindih tubuh Relvan??
"Zhan..."
Rizhan terlihat melamun karena tengah memikirkan sebuah cara, kepala nya mendadak buntu sekarang hingga membuat nya tak mendengar suara lirih pemuda yang kepala nya tengah dipangku nya.
Relvan meringis melihat nya. "Rizhan.." panggil nya lagi sedikit lebih keras.
Uhuk! Uhuk!
Rizhan langsung menoleh ke arah nya dengan panik. "Ha? Kenapa?" Panik nya, ditambah lagi ia melihat mata sayu Relvan yang hendak menutup.
"Lu jangan tutup mata dulu, ya. Gue hubungin ambulance." Segera Rizhan menelpon pihak rumah sakit. Hanya itu cara yang harus ia lakukan sekarang, dari pada membiarkan Relvan sekarat jika lambat bertindak.
Relvan terdiam menatap Rizhan dari bawah. "Makasih." Ucap nya lemah. Ia menutup mata membuat Rizhan tersentak kaget bukan main.
"Relvan!!! Lu jangan mati dulu, Van!!"
Rizhan memekik sambil mengguncangkan tubuh sang empu, perkelahian antar geng seketika terhenti dan sontak menatap ke arah Rizhan.
"Mati, bos." Ujar salah satu anggota pemuda blasteran berbisik pada pemimpin mereka.
"Anjing lu semua!!" Angga menyerang pemuda blasteran sekali hingga membuat pemuda itu mundur beberapa langkah kebelakang. Kemudian ia berlari ke arah Relvan.
Rizhan sampai menitikan air mata, perasaan sedih membuncah didalam dada.
"Van.. hiks"
Relvan meringis kala air mata Rizhan menetes mengenai wajah nya. "Gue masih hidup, Zhan."
Rizhan mengerjap cepat kala mendengar suara milik Relvan. "L-lu masih hidup?" Tanya nya seraya mengusap air mata nya.
"Ck! Gue belum mati, bego." Ketus Relvan lirih. Rizhan lantas memeluk tubuh Relvan erat.
"Zhan, kepala gue pusing. Lu jangan peluk erat, gak bisa nafas gue." Keluh pemuda itu. Ia hanya ingin merilekskan tubuh nya bukan ingin menghilangkan nyawa nya.
Rizhan nyengir kuda seraya melonggarkan pelukan nya. Ia mengusap sisa air mata nya yang membasahi pipi. Namun tak disangka si goblok Angga malah menjatuhkan peluk ke arah Relvan dengan kencang dan membuat Relvan tersedak dan membuat Rizhan tercekat.
"Lele dongo!! Relvan bisa beneran mati kalau lu kayak gitu!" Celetuk Rizhan, kesal.
"Bukan nya dia udah mati?" Tanya Angga dengan wajah polos nya seraya mengurai pelukan nya.
Relvan yang membuka mata kini mengangkat tangan lalu memukul kepala Angga pelan karena ia tak mempunyai banyak tenaga. "Lu berharap gue mati hah?"
"Eh?" Angga kaget melihat Relvan yang masih sadar. "Lu belum mati, Van? Kalau lu mau mati, jangan lupa serahin dulu surat penerus keluarga lu sama gue." Canda nya sambil cengengesan.
Relvan tak ingin membuang tenaga dengan banyak berbicara, ia hanya bisa mendecakkan lidah seraya mengacungkan jari tengah ke depan wajah Angga.
Di detik berikut nya Angga mengurungkan rasa kasihan nya kepada Relvan, di saat keadaan sepeti ini sempat - sempat nya lelaki itu mengacungkan jari tengah, mengumpat nya. Tak tahu diri memang Angga ini, padahal tadi dia juga sempat - sempat nya bercanda tentang surat wasiat. Ck.Ck.Ck.
Niuw niuw niuw...
Suara sirene ambulance mengejutkan para pemuda yang masih berkelahi disana. Mereka tersentak dan kalang kabut dengan situasi ini.
"Bubar woi!"
Seorang pemuda menendang tubuh Rey yang tengah menghajar pemuda blasteran sampai babak belur. Pemuda tadi lekas menggotong pemuda blasteran dan bergegas meninggalkan tempat.
Nafas Rey masih memburu, kepala nya juga terasa pening. Mana ia belum sempat makan saat berangkat tadi karena tidak lapar. Sekarang baru merasa lemas.
Rey menghampiri Relvan yang tengah digotong oleh petugas ambulan. Rizhan tersentak kaget saat melihat darah yang ada ditangan Rey.
"Rey tangan lu berdarah?!" Tukas nya.
Rey melirik ke arah tangan nya sekilas, Angga yang tengah memperhatikan Relvan kini ikut menoleh menatap Rey.
"Bukan darah gue." Sahut Rey santai membuat Rizhan mengedip pelan.
"Bukan darah Rey?" Gumam Rizhan pelan sambil terus memperhatikan tangan lelaki itu dan sesekali menatap ke arah ambulan.
Di balik sebuah pohon yang rindang dan minim cahaya, ada sepasang mata yang memantau mereka dari jarak yang sedikit jauh. Ia terus berada disana dari awal kegiatan para pemuda itu.
Karena ada perjanjian yang sudah disepakati dari awal maka ia tak bisa langsung ikut turun tangan. Ia hanya bertugas memantau dan melaporkan segala kejadian. Ia memegang sebuah ponsel lalu menekan ikon panggilan ke sebuah nomor.
Drttt... Drttt...
"Halo, Tuan?" Sapa nya kemudian. "Tuan muda balapan dan kecelakaan di jalan Permata Raya. Saya sudah memerintah mereka untuk mengikuti kemana pergi nya mobil yang menabrak tadi"
[....]
"Benar, mereka tidak bermain di sirkuit."
[....]
"Baik, Tuan."
Sambungan telepon tadi terputus dan sepasang mata tadi mulai menghubungi nomor seseorang lagi.
"Bereskan kejadian di jalan Permata Raya dan cari identitas anak yang bernama xx." Titah nya. Setelah itu kemudian ia pergi dari sana dan meninggalkan tempat kejadian.
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
...Bersambung...