
Risya nampak celingukan ke sana kemari. Entah mencari apa padahal bilangnya mau ke toilet saja. Ia menatap lurus ke depan, lorong kelas terlihat sangat sepi dan tidak ada murid atau guru yang berlalu lalang.
Saat melewati kelasnya Soya, gadis itu sedikit melirik-lirik ke arah ruangan itu. Matanya terlihat mengerjap kala ternyata yang ia cari tak ada di dalam sana.
"Apa di UKS, ya?"
Ia bergumam sendirian sambil mengangguk-anggukan kepala dan langsung menuju ke arah sana. Risya hanya asal menebaknya saja, siapa tahu 'kan dia memang ada di sana.
Risya melangkah dengan santai sambil melihat-lihat apa saja yang telah dilewatinya. Ngomong-ngomong, setelah keluar dari kafetaria, ia bertemu dengan temannya Nina dan sayangnya Risya tidak tahu dengan namanya.
Entah mengapa Risya jadi memberikan air mineral yang gadis itu beli di kafetaria tadi kepadanya. Mungkin karena kasihan dengan Nina, takutnya kalau perempuan itu frustasi. Kalau dia bunuh diri di sekolah 'kan sangat tidak lucu.
Brak!
Saat sudah sampai di depan pintu UKS yang tertutup itu, Risya langsung mendobraknya seraya tersenyum simpul saat melihat wajah terkejut Soya, Laura dan seorang dokter di dalam sana.
"Maaf, Om Dokter," katanya sambil menutup pintu tersebut.
"Gila lu, Sya! Hampir bikin gue jantungan buset!" Keluh Laura sambil mengusap dada. Risya hanya memberikan cengiran kepadanya sembari melangkah mendekati merek.
"Risya, lain kali buka pintunya jangan seperti itu." Risya langsung mengangguk kecil saat mendengar peringatan dari sang Dokter yang tersenyum ke arahnya.
"Siap!" Serunya dengan kekehan kecil. Risya kemudian menatap ke arah Soya. "Soy, tangan lu gimana? Gak apa-apa, kan? Udah diobatin?" Tanyanya.
Soya nampak tersenyum." Udah, kok, Sya. Ini tangan gue gak kenapa-kenapa," sahutnya sambil memperlihatkan tangannya yang sudah diberi perban.
Risya menganggukkan kepala. "Bagus deh, gumamnya dengan nada kecil. "Eh gue liat tadi kayaknya kelas lu pada lagi ulangan, ya?"
"Ulangan?" Kata mereka serempak sambil mengernyit dan saling pandang satu sama lain. Lalu di detik berikutnya, Laura langsung membelalakkan matanya.
"Lah iya, Soy!" Laura menepuk jidatnya. "Guru fisika kan tadi malem bilang kalau hari ini ada ulangan mendadak!"
Kini Soya malah ikutan terkejut juga, pasalnya ia juga baru ingat sekarang. Ia menatap panik ke arah Laura. "Terus gimana, Lau? Kita pasti udah telat banget ini.
Laura terdiam sambil berpikir sejenak. "Ah, gini aja dah." Ia menatap ke arah Soya. "Gue yang ke kelas dan lu tetap aja di sini," usulnya.
"Lah kok gue sih?" Protes Soya. "Terus gimana sama ulangan gue?"
Laura menghela nafas panjang. "Biar gue yang masuk, Soy, entar gue bilang sama tuh guru kalau tadi gue lagi nganterin lu berobat dan lu gak bisa masuk karena sakit," terangnya.
"Apa gak apa-apa gitu?" Tanya Soya ragu. Sebenarnya tak apa sih, kalau guru tahu ada murid yang sedang sakit dan tidak bisa mengikuti ulangan maka murid itu bisa menyusul setelahnya.
"Gak apa-apa, kan lu emang lagi sakit, Soy," kata Laura.
Soya menggigit bibir bawahnya seraya melirik ke arah Risya. Laura yang paham pun kembali berkata. "Sya, lu ada kelas gak?" Tanyanya.
Risya menaikan sebelah alisnya. "Ada sih tapi gak terlalu penting," ujarnya sambil terkekeh.
"Elu, mah! masa pelajaran dibilang gak penting?" Sergah Soya.
"Gue tadi bilang gak terlalu penting, bukan gak penting!" Sahut Risya seraya mendengus.
Laura nampak tertawa kecil saat melihat kedua temannya. "Ya udah sih, lu bisa temenin Soya kalau gitu. Gak apa-apa, kan?"
"Oke," Sahut Risya singkat. Setelah itu, Laura pun berlalu dari hadapan mereka dan meninggalkan ruang UKS saat itu juga.
"Sya," panggil Soya. "Kelas lu gak ada gurunya apa?" Tanyanya sambil menatap Risya. Risya menengok ke aranya sekilas, gadis itu duduk di sebelah Soya, di atas ranjang UKS yang sama dengannya.
"Ada sih," katanya.
Soya menatapnya dengan serius. "Terus gimana cara lu bisa keluar?"
"Izin ke toilet," sahut Risya lagi dengan santai.
"Risya elu tuh ya, ntar kalau lu dicariin gimana?" Soya Samapi geleng-geleng kepala melihat kelakuan temannya ini. Pergi ke toilet adalah alasan yang klasik.
"Ya udah sih, biarin aja," ujarnya sambil tertawa kecil. "Sumpah, gue tuh sumpek banget di dalam kelas, Soy, mana bosan juga sama ngantuk dengerin penjelasan guru di depan."
"Alasan lu aja kali!"
"Bukan alasan!" Bantah Risya.
Dokter yang mendengar pembicaraan kedua siswi itu pun hanya geleng-geleng kepala saja. "Risya," panggilnya tiba-tiba membuat keduanya sontak menoleh dengan serentak.
Risya menelengkan kepalanya. "Kenapa Om Dokter?" Tanyanya.
"Ke sini biar saya periksa," ucapnya. Risya nampak mengerjapkan matanya dan Soya nampak mengernyit dengan heran.
"Elu sakit, Sya?" Soya menatap ke arah wajah Risya dan menelitinya lekat-lekat.
"Enggak, kok," Sahut Risya cepat dengan gelengan kecil. Ia juga sedikit melirik ke arah dokter yang tersenyum padanya. Kenapa dia harus berbicara seperti itu di depan Soya?
Soya langsung menatap ke arah Dokter. "Risya gak lagi sakit, Dok. Kenapa harus diperiksa?" Tanyanya.
"Gak apa-apa," kata si Dokter. "Saya cuma ingin memeriksa kesehatannya. Periksa kesehatan itu bukan cuma buat orang sakit, Soya, yang sehat pun juga boleh."
"Oh begitu, ya?" Gumam Soya sambil manggut-manggut mengerti.
Risya terlihat diam. Ia tak tahu, itu hanya alasan saja biar Soya tidak curiga atau memang kenyataanya memang seperti itu?
"Ya udah sana, Sya!"
Lamunan Risya langsung buyar seketika. Ia kemudian mendelik ke arah Laura. "Lu ngusir gue?" Katanya.
"Ck. Bukan ngusir, Risya, kita kan ini masih satu ruangan," sahut Soya.
Risya nampak menghelakan nafasnya lalu kemudian beranjak dan menghampiri dokter tersebut. Mereka masuk ke dalam ruangan yang lumayan besar, ruangan itu di khususkan untuk konsultasi.
Risya duduk tenang di depan sang Dokter yang menatap ke arahnya. "Risya, sudah beberapa bulan ini kenapa kamu tidak kontrol lagi ke rumah sakit?" Tanyanya seolah khawatir dengan kondisi anak itu.
"Gak apa-apa, Dok." Risya tersenyum simpul. "Saya juga ngerasa udah baik-baik aja."
Dokter tak habis pikir lagi dengan anak ini. "Terakhir kamu pingsan dan nggak bangun selama satu Minggu itu kamu bilang baik-baik aja?" Ia geleng-geleng kepala sambil menghela nafas. Perkataanya langsung membuat Risya tersenyum kecut.
"Kamu masih juga tidak mau memberitahukan ini pada orangtuamu?" Risya tak menyahut tapi ia memberikan respon dengan gelengan kepala. Dan sang Dokter kini tak bisa berbuat apa-apa.
"Risya, berusahalah sedikit saja, setidaknya ini untuk kebaikan hidupmu juga," Katanya namun Risya tak meresponnya dan hanya diam saja.
***
Sedangkan di ranjang UKS. Soya tiduran di sana sambil mengotak-atik ponselnya dan sesekali juga ia melirik ke arah lain kalau-kalau Risya sudah keluar dari sana.
"Lama amat, ya?" Gumamnya. Ia bosan jika ditinggal sendirian seperti ini. Sudah hampir lima menit Risya di dalam dan tak kunjung ke luar. Saking gabutnya, soya sampai menggumamkan nama Risya secara berulang-ulang.
"Ngapain lu gumamin nama gue mulu?"
Sebuah suara seketika membuat Soya terkesiap kaget. Hampir saja ia terjungkal dari atas ranjang kalau saja Risya tak langsung menahan tangannya.
"Risya!" Kesal Soya.
Risya nampak mendengus setelahnya. "Gue gak ada ngagetin elu, ya, elu nya aja yang kaget!" Ketus gadis itu.
Soya seketika memutar bola mata dan membenarkan posisi duduknya menghadap ke arah Risya yang juga duduk di atas ranjang yang sama dengannya.
"Gimana?" Tanyanya membuat Risya mengernyit heran.
"Apanya?"
"Ish! Masa begitu doang gak paham?" Keluh Soya seraya menabok kecil lengan Risya.
"Ck. Lu ngomongnya gak jelas dongo!" Sahut Risya dengan malas.
"Lu jahat banget sih masa gue dibilang dongo!" Protes Soya sambil mengerucutkan bibirnya.
"Kan elu emang dongo!" Dengus Risya. Soya nampaknya tengah merajuk kesal, gadis itu sampai membuang muka ke arah lain dan tak mau menatap ke arah Risya.
"Gak usah sok ngambek lu! Kayak cewek aja!"
Ucapannya langsung membuat Soya menatap Risya dengan frustasi. "Gue kan emang cewek, Sya!" Gerutunya dengan kesal.
...•...
...•...
...•...
...•...
...Bersambung...