Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
Bab 132



Saat pembelajaran kelas kembali dimulai, Risya sedari tadi terlihat nampak gelisah. Seolah tak nyaman dengan situasi sekarang ini. Dadanya terasa berdebar dan suhu tubuhnya terasa panas.


Rhaegar yang merasa sedikit terganggu pun lantas melirik ke arah gadis yang duduk di sebelahnya. "Rin, lu kenapa?" Tanyanya. Raut Rhae seketika terlihat khawatir tatkala melihat wajah Risya yang nampak memerah.


Laki-laki itu sontak mengangkat tangannya dan hendak menyentuh dari Risya. Namun, Risya malah langsung menepisnya sebelum mengenai dahinya hingga membuat Rhaegar sampai terkejut dibuatnya.


"Kenapa?" Tanya Rhaegar lagi. Wajahnya tak bisa berbohong kalau sekarang ia memang tengah mengkhawatirkan gadis itu.


"Gak, gue gak apa-apa, kok," sahut Risya sambil memaksa bibirnya untuk tersenyum. Senyumnya palsu tapi tak ada yang menyadari ifu.


Dahi Rhaegar seketika mengerut. "Gak apa-apa gimana sih maksud lu? Muka lu merah tuh, lu sakit?" Ia menatap Risya dengan seksama, menelisik wajah cantik itu yang terlihat memerah dan berkeringat.


Risya langsung menggeleng kecil. "Gue gak sakit," ujarnya berusaha untuk tidak membuat Rhaegar khawatir.


"Serius, Rin?" Risya lalu menganggukkan kepala. "Terus kenapa?" Lanjut Rhaegar.


"Kenapa apanya sih? Gue gak ngerti maksud pertanyaan lu." Risya berucap dengan nada ketus hingga membuat Rhaegar kembali terdiam dengan pikiran nya.


Sembari menatap ke arah papan tulis, laki-laki itu juga sesekali melirik ke arah Risya. Masih dengan perasaan khawatir, takut kalau bocah itu kenapa-kenapa. Apa memang tidak apa-apa, ya? Perasaan Rhae mulai tak enak.


Tak berselang lama, Risya kembali menyeletuk kepadanya. "Gar, AC kelas kita gak nyala, ya? Kok panas banget udaranya." Risya menjadikan buku tulisnya sebagai kipas manual, ia juga gelisah dan berusaha menahan dirinya.


Rhae kemudian mengalihkan pandangan pada AC lalu kembali menatap Risya. "Nyala, kok," katanya. "Lu kok aneh malah kepanasan? Padahal duduknya juga udah di dekat jendela yang kebuka."


Rhae nampak bingung melihat Risya yang nampak berkeringat padahal angin yang melewati jendela sudah lumayan sejuk dan ditambah AC pula. Apa masih kurang?


"Ah, sial!" Umpat Risya pelan. Ia kemudian langsung berdiri hingga membuat Rhae yang memperhatikan dirinya sejak tadi dibuat terkesiap karena ia yang tiba-tiba saja beranjak.


"Bu!"


Guru di depan kelas sontak menoleh dan menjawab, "iya, Risya?"


"Saya mau permisi ke toilet, Bu!" Seru Risya kemudian.


Guru pengajar di depan pun sejenak melirik jam yang tergantung di atas papan tulis. "Silahkan, tapi setelah itu langsung masuk kelas dan jangan berleha-leha di sana." Beliau berkata sembari menatap anak muridnya itu.


Risya langsung menganggukkan kepala, dan berlalu keluar dari dalam kelas. Setelah gadis itu keluar, guru itu kembali menatap seluruh anak di dalam kelas.


"Yang lain, tetap perhatikan papan tulis dan jangan sibuk mengobrol sendiri apalagi membuat keributan!"


"Baik, Bu!" Sahut mereka serempak.


Suasana di dalam ruangan itu kembali tentram dan hanya di penuhi oleh suara guru di depan. Menit demi menit telah berlalu dengan cepat, selama itu juga Rhaegar selalu melihat ke arah pintu.


Ini sudah lewat beberapa menit, tapi Risya juga tak kunjung kembali ke sini. Dan entah mengapa itu membuat perasaanya tidak nyaman.


"Al!" Panggil Rhaegar seraya menusuk punggung Alby menggunakan pulpen.


Alby lantas menoleh sepintas. "Kenapa?" Tanyanya tanpa suara.


Rhae lalu beralih dan duduk di kursi Risya agar lebih dekat dengan teman di depannya itu. "Erin kok gak balik-balik, ya? Padahal udah beberapa menit dia di sana."


Alby mengendikan bahunya saat mendengar pertanyaan Rhaegar. "Gue gak tau, tapi mungkin karena di cewek makanya lama gitu," ujarnya.


Rhaegar mengernyit. "Oh, ya? Emangnya kayak gitu?" Tanyanya dengan raut polos.


"Maybe."


"Aneh betul!" Sergah Rhaegar. "Ngapain coba di toilet lama-lama?"


"Terus gue nanya ke siapa?"


Alby mendecakkan lidahnya. "Ya, mana ketehe!" Tukasnya. "Udah lah, Rhae. Lu fokus aja tuh sama pelajaran di depan. Ntar kalau kita ketahuan ngobrol, bakal dapet hukuman. Lagian Risya pasti tau jalan pulang ke kelas, dia gak mungkin kesasar di dalam toilet."


Alby kemudian tak menghiraukan Rhaegar lagi, dan fokus saja pada bukunya sendiri. Rhaegar sendiri pun nampak menghela nafas panjang dan berusaha berkonsentrasi pada pelajaran yang tengah diberikan.


Tapi sungguh, ia tak bisa. Laki-laki itu kemudian bangkit dari duduknya dan meminta izin untuk pergi ke toilet juga.


"Rhaegar, kamu sekalian cari Risya, ya, dari tadi dia tidak kembali juga." Guru itu memberikan perintah yang membuat Rhaegar langsung menurutinya. Bukankah itu memang tujuannya untuk keluar dari kelas ini?


"Baik, Bu!" Ia lalu berjalan menuju pintu keluar.


"Kenapa, ya? Rhae kok keliatan gelisah?"


Alby membatin sembari menatap punggung temannya yang menghilang dari balik pintu. Laki-laki itu terlihat sangat khawatir padahal Risya hanya meminta izin pergi ke toilet saja. Sebenarnya ada apa??


***


Sedangkan di sisi lain, seorang perempuan terlihat tengah terduduk di dalam salah satu bilik toilet. Nafasnya nampak tak beraturan, ia menekan jantungnya yang terasa berdebar-debar dengan tangan yang gemetar.


"Bangsat!"


Ia mengumpat dengan kesal, keringatnya semakin deras mengucur sebab suhu tubuhnya juga meningkat dan terasa sangat panas. Kepalanya tak bisa berpikir jernih tapi ia tetap memaksanya untuk memikirkan jalan keluar.


"Gue harus apa? Gue gak tau harus kayak gimana."


Ia sudah melepas almamater miliknya dan menyisakan baju seragam dalam yang sudah terbuka kancingnya. Kepalanya sungguh terasa sakit dan pandangannya mulai kabur dan tak terlihat normal.


Ia menekan kepalanya sembari merogoh ponsel di saku almamater. Karena hanya itu jalan satu-satunya yang terpikirkan olehnya. Ia harus mencari sesuatu di dalam benda pipih itu.


Tangannya yang terlihat gemetar itu malah membuat ponsel miliknya terjatuh hingga menimbulkan bunyi yang lumayan keras. Tak berselang lama, suara gedoran pintu pun lantas mengagetkan dirinya.


"Rin! Erin! Lu di dalam, ya? Lu denger gue gak?!"


Itu... Ia kenal dengan suara yang terdengar serak itu milik siapa.


"Rhae..." Risya hanya bisa bergumam seolah tak punya tenaga lagi untuk menyahutinya dengan suara yang sedikit tinggi.


"Rin, lu di dalam, kan? Lu bisa ngejauh sedikit dari pintu gak? Gue mau dobrak!"


"Jangan... Lu gak boleh masuk," gumamnya sambil menutup wajah dengan sebelah tangan. Ia menggigit bibir bawahnya, ia takut kalau saat melihat wajah laki-laki itu ia tak bisa lagi memikirkan apa yang akan terjadi.


Tak perlu berpikir panjang lagi, Rhae juga langsung mendobrak pintu tersebut. Percobaan pertama tak berhasil, namun ia tak mau menyerah dan harus mencoba untuk kedua kalinya.


"Lu kenapa, sih? Lu baik-baik aja, kan?" Batinnya dengan perasaan yang mampu memacu adrenalin nya. Dadanya bergemuruh dan rasanya sangat kacau.


...•...


...•...


...•...


...•...


...Bersambung...