Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
Bab 125



"Dah ah, lu pulang aja sana!"


Risya melepaskan tangannya dari genggaman Rizhan secara sepihak. Ia juga sedikit menjauh dari lelaki itu dan menyembunyikan tangannya serta helm yang ia pegang di belakang tubuh.


Rizhan sedikit menarik sudut bibirnya. "Lu ngusir gue, ya?" Tanyanya sambil memandang lekat.


"Iya!" Sahut Risya ketus sembari mendengus pelan.


"Lu rela nih kalau gue pulang?" Rizhan kembali bertanya dengan alis yang terangkat sebelah dan terus memandang ke arah sang empu.


Risya nampak menghela nafas lelah. "Ya udah sih, kalau gak mau pulang, lu mampir dah, ayok!" Ajaknya lagi.


"Gak lah," sahut Rizhan dengan kekehan kecih hingga membuat Risya terlihat memutar bola mata dengan jengah.


"Ck!" Gadis itu terdengar mendecakkan lidahnya pelan.


"Maaf," ucap Rizhan tiba-tiba dan dengan jahilnya lelaki itu lantas menarik pelan pipi chubby milik gadis di depannya.


Sedangkan Risya sendiri nampak tak mengelak dan hanya tersenyum kecut saja. Risya sempat merasa kalau di depannya ini seperti bukan Rizhan yang ada di dalam cerita.


"Udah sono pulang!" Usirnya lagi.


"Beneran nyuruh gue pulang?" Tanya Rizhan.


Risya memandangnya dengan raut datar. "Lu mau mampir?"


"Enggak," sahutnya.


"Ya udah, mending lu balik!" Tukas Risya dengan malas.


"Sekarang?"


"Tahun depan!" Dengus Risya kesal. Lelah sudah ia berbicara, namun Rizhan nampaknya terus mengajak ia bercanda. Lihat saja lelaki itu, ia malah tergelak setelah Risya menimpalinya seperti tadi.


"Non, temennya masih mau ngobrol di depan pager?"


Suara dari Pak satpam yang menegur mereka pun sontak membuat Risya menolehkan kepala. "Ah, bentar ya, Pak," katanya lalu ia kembali memandang lelaki yang berdiri di depannya.


"Mau pulang sekarang apa enggak? Kalau gak, ayo mampir!"


Rizhan menggeleng kecil. "Pulang lah, Sya," ujarnya.


"Ya udeh, pegi sono!" Sergah Risya. Saat Rizhan hendak menyahut kembali, Risya sontak memotongnya terlebih dahulu. "Lu kalau bikin kesel, gue tabok beneran, nih!"


Ancamannya justru membuat Rizhan sontak terdiam sambil menahan tawa. "Oke, oke," katanya seraya mengangkat kedua tangannya ke udara layaknya seseorang yang tengah menyerahkan diri ke aparat polisi.


Ia menurunkan tangannya dan setelah itu ia pun menyuruh Risya untuk lebih mendekat ke arahnya. Entah untuk apa.


"Apaan?" Risya terlihat mengernyit.


"Sini, maju, agak deketan."


"Ngomong dari sini kan bisa? Lagian gue tuh gak budeg, tau! Terus jarak kita juga gak jauh-jauh amat," sahut Risya dengan ekpresi yang masih sama.


"Ya, gak pa-pa."


Keduanya masih terlihat berbicara dan sedikit terdengar perdebatan kecil sampai-sampai Pak satpam yang masih berdiri di dekat pagar pun terheran-heran dibuatnya. Apa kedua anak itu betah saja mengobrol di depan pagar?? Tak mau masuk kah?


Risya, pada akhirnya pun mendekat ke arah lelaki itu setelah ia sudah lelah mendebatkan sesuatu yang tidak bermutu dan membuang-buang tenaganya.


"Apa?" Tanyanya ketika sudah berdiri dengan jarak yang dekat sekali dengan Rizhan.


Lelaki itu malah menatap Risya beberapa saat sebelum ia meraih salah satu tangan gadis itu untuk digenggamnya. Kenapa, ya, hari ini ia jadi suka sekali saat berkontak fisik dengan Risya?? Aneh memang!


Rizhan berdehem pelan, menetralkan suaranya yang terdengar parau. "Sebenarnya gue gak mau ngomong apa-apa, sih."


"Lah terus lu ngapain nyuruh gue ngedekat, monyet!" Pekik Risya tepat di depan wajah Rizhan. Lama-lama kesabarannya benar-benar habis, nih, karena bocah satu ini!


"Jangan marang dong."


Sang empu malah tergelak seolah melihat Risya yang sedang emosi itu terlihat seperti sebuah pertunjukan yang begitu imut di matanya. Dan kemudian ia nampak terdiam beberapa saat sembari memandang raut kesal yang tercetak jelas di wajah gadis itu.


"Sya."


Risya menilik ke arahnya." Kalau ada masalah kayak gini lagi, bilang sama gue dan gue bakal bantuin lu buat kedepannya. Andalin gue juga gak apa-apa," ucapnya ambigu.


Risya mengerutkan keningnya karena tak terlalu paham dengan maksud dari perkataan lelaki itu. Apa... Maksudnya ia harus bersekongkol dengan Rizhan? Atau apa??


Dan tanpa disadari oleh mereka, di depan kaca jendela yang berada di lantai dua, ada seseorang yang sedari tadi berdiri di sana. Ia terus menatap lekat ke arah mereka berdua dengan sangat, dan dengan wajahnya yang nampak terlihat dingin pula serta tatapan mata yang terlihat tajam. Ia seperti tak suka dengan apa yang ia lihat di depan matanya.


"Lu ngapain deketin adek gue," gumamnya dalam hati.


***


Malam yang panjang pun kini telah berlalu dengan cepat. Pagi sudah mulai merambat dan menyingsing begitu cepat untuk memancarkan sinar cerahnya di hari ini.


Anak-anak sekolah pun juga nampaknya sangat bersemangat untuk mengikuti pembelajaran serta kegiatan sekolah lainnya. Dan hari ini juga upacara bendera akan dilangsungkan seperti biasa di setiap Seninnya. Jadi mereka kini harus bergegas lebih cepat untuk berbaris di lapangan utama.


Di antara anak-anak GIBS yang tengah berhamburan itu, ada Relvan bersama teman-temannya yang berjalan keluar dari kelas dan melangkahkan kaki menuju tempat berkumpulnya semua siswa.


"Hilang? Kok bisa?"


"Ada yang jahil mungkin."


Relvan lantas melirik ke arah sumber suara yang sangat familiar di telinganya, dan di sana terlihatlah Soya dengan beberapa orang temannya yang tengah berjalan beriringan menuju lokasi yang sama.


Gadis itu nampak terlihat begitu ceria, tak ada lagi raut murung atau pilu seperti sebelumnya. Relvan mengepalkan tangannya dengan erat saat menyadari bahwa Soya memang betul-betul menjauh dari hidupnya. Soya begitu bahagia hingga membuat Relvan rasanya tak suka jika sumber kebahagiaan Soya bukan lagi dirinya.


Saking terfokusnya pada Soya, lelaki itu bahkan tak menyadari kalau teman-temannya yang lain sudah berjalan meninggalkannya. Angga yang menyadari kalau ada yang kurang di antara mereka pun lantas menolehkan kepalanya.


"Eh, bentar ges. Ini Relvan kemana?" Tanyanya dan sontak saja Rizhan, Rey serta Sigra berhenti dan melakukan hal serupa yakni; menolehkan kepala.


"Ketinggalan?" Rizhan menelengkan kepalanya sembari menunjuk ke arah Relvan yang tak memandang ke arah mereka.


"Van! Sini!" Pekik Angga. "Elu ngapain diem di situ?" Bukannya menengok dan menyahut, Relvan malah berjalan ke arah lain dan membuat mereka saling pandang satu sama lain.


Di satu sisi, Alby kemudian melepaskan topi yang terpasang di kepalanya seraya berkata kepada Soya, "nih, pakai punya gue aja."


"Terus elu gimana?" Soya mendongakan kepalanya menatap Alby.


"Ya gak gimana-gimana," sahut Alby enteng. "Gak apa-apa, sih, palingan cuma dihukum doang kalau gak pakai itu."


Risya lantas terkekeh geli kala mendengar perkataanya. "Rela dapet hukuman demi ayang, ya, Al," guraunya.


"Apa sih, Sya?" Dengus Soya. Padahal yang tengah di bercandai oleh Risya adalah Alby, tapi malah Soya yang terlihat kesal^^


Rhaegar yang berjalan di samping Risya pun ikut menimpali obrolan mereka. "Gue juga rela, Rin, kalau dihukum demi lu," katanya dan langsung dihadiahi geplakan dari Risya pada lengannya.


"Lu tuh gak diajak!" Ketusnya dengan wajah yang sinis.


...•...


...•...


...•...


...•...


...Bersambung...