
"Egar! Lu apa-apaan sih?!" Risya menyela, dengan langkah yang cepat ia menghampiri Rhaegar. "Lu marahin Soya?" Risya melotot sambil berkacak pinggang di hadapan laki-laki yang menatap me arahnya itu.
"Ck." Rhaegar mendecakkan lidahnya. "Gue gak marahin dia, kok. Cuma ngomel aja."
Risya semakin melototkan matanya. "Ya sama aja lah, dongo!" Sergahnya sambil mengangkat tangan seolah hendak menggeplak kepala Rhaegar.
Tapi laki-laki itu langsung menangkap tangannya, Rhae menatap Risya dengan tatapan tidak biasa. Seperti marah tapi juga bukan. Wajah Rhae terlihat datar, tak ada lagi ekspresi yang ia tampilkan selain itu.
"Lu marah-marah sama gue cuma karena perihal ini? Padahal gue kayak gini juga karena ngebelain elu." Suaranya terdengar dalam dan pelan, Rhaegar sedikit menundukkan kepala dan memberikan tatapan sendu kepada Risya.
Saat itu juga, Risya seketika terdiam membisu. Tubuhnya langsung kaku, ia menelan ludahnya kesusahan dan menahan pandangannya agar tidak menatap penuh ke arah Rhaegar.
Genggaman tangan Rhaegar seketika terlepas sebab Alby yang lantas menarik mundur Risya dari hadapan temannya itu. Laki-laki itu, berdiri di depan Risya seolah menjadi tameng karena takut gadis itu terluka. Situasinya terasa tak nyaman, Alby yang kurang paham pun harus meluruskan sesuatu kalau-kalau ada sebuah kesalahpahaman di antara semuanya.
Rhaegar mendesah dan menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia mendelik ke arah Alby. "Kenapa? Lu juga mau marahin gue karena ngomel ke cewek?" Tanyanya sebelum Alby ikut andil dalam berbicara.
Alby mendecakkan lidahnya. "Rhae, gue belum ngomong apa-apa aja udah lu tuduh sembarangan." Ia berkata seraya menatap Rhaegar dengan bingung.
"Terus apa? Gue marah bukan tanpa alasan, jelas-jelas dia yang salah karena ngasih air kayak gitu ke Erin." Sembari berkata seperti itu, Rhaegar melirikan matanya ke arah Soya yang tak dapat membuka suara.
Alby pun sontak melirik ke arah Soya sebelum akhirnya arah pandangannya kembali menilik Rhaegar. "Rhae, siapa tahu, kan, itu bukan Soya?"
"Lu tanya sama Erin, siap yang ngasih dia air mineral."
Sedetik berikutnya, Alby langsung membulatkan matanya, ia menolehkan kepalanya ke arah Risya seolah bertanya kepada gadis itu, apakah yang diucapkan Rhaegar itu benar adanya? Atau cuma tebakan saja?
Risya juga merasa gugup mau jawab kayak gimana. Kalau ia bilang iya, pasti masalahnya bertambah rumit. Kalau bilang tidak juga akan semakin rumit. Arghh!! Ia pusing!
Sebenarnya yang memberinya air mineral itu kan memang Soya, tapi yang memasukan obat sialan ke dalamnya sepertinya bukan dia.
Alby mengerutkan keningnya. Fix, Alby langsung mengartikan kalau diamnya Risya berarti jawabannya 'iya'. Laki-laki itu menatap Soya dengan lekat.
"Soy, lu beneran ngelakuin hal itu ke Risya?" Raut wajah Alby nampak sedikit kecewa.
Soya langsung menyela. "A-Al, emang gue yang ngasih air mineral itu ke Risya tapi bukan gue yang masukin sesuatu ke dalam sana. Gue berani sumpah sama lu pada."
"Lu punya bukti?" Rhaegar kembali menyergah.
"Terus lu juga punya bukti apa jadi nuduh gue kayak gini?!" Ujar Soya sambil menatap laki-laki itu dengan nafas memburu.
Laura seketika merasa pusing. "Se-sebentar, oi!" Laura menyela perdebatan mereka. Detik itu juga, semua mata tertuju padanya.
Laura menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan. Beberapa detik ia melakukan hal itu sebelum akhirnya matanya melirik ke arah Alby, Rhaegar, Risya hingga berhenti tepat pada Soya.
"Gue bukan mau nyalahin Soya atau pun nyalahin yang lainnya, bukan juga mau ngebela tapi gue cuma mau ngasih sedikit penjelasan biar kalian berhenti salah paham. Kali ini dengerin, pliss... Gunain logika masing-masing."
Laura menjeda kalimatnya, teman-temannya terlihat tenang hingga ia bisa melanjutkan pembicaraan. "Soya emang benar kasih air mineral itu ke Risya. Tapi sebelum itu, elu-," telunjuknya menunjuk Rhaegar. "Lu kan laki, Rhae, harusnya lu bisa bicara ajak bicara baik-baik dan nggak usah ngegas juga."
"Soya itu cewek kalau mata lu masih jelas liatnya." Laura sempat memberikan tatapan sinis pada Rhaegar. "Di sini emang Soya maupun gue, kita sama-sama salah karena ngasih sembarangan ngasih air itu tanpa diteliti lebih dulu. Tapi, kalau boleh jujur, ini nggak sepenuhnya salah kita."
Penuturannya seketika membuat Rhaegar mengernit. "Terus lu dapet dari mana?"
Soya menghela nafas panjang. "Gue dititipin sama seseorang, cewek. Dia bilang itu air mineral punya Risya, dan tanpa berpikir panjang juga ya udah gue ambil. Gue pikir karena itu punya elu -Risya- jadi gak apa-apa."
Risya mengerjap pelan, pantas saja sebelum ia menyambut botol yang diberikan oleh Soya, ia juga sempat mengernyit. Tadi itu Soya bilang 'nih, air punya lu', Risya juga tanpa berpikir yang aneh-aneh pun langsung mengambilnya.
"Lu ingat wajahnya gak?" Tanya Alby kemudian.
Suara mereka mulai menyurut, tidak terlalu terdengar oleh yang lain. Lagipula, anak-anak di dalam kelas itu tidak mengerti dengan permasalahan mereka. Walau mendengar sedikit pun mereka malah ngang-ngong-ngang-ngong saja.
Soya terlihat menggelengkan kepalanya. "Gue lupa muka dia kayak gimana, tapi gue cuma ingat di dekat bibir dia ada tahi lalat," ucapnya pada mereka.
Risya mencerna ucapan Soya dengan cermat, mengingat ingat apakah ia pernah bertemu dengan perempuan seperti yang dikatakan oleh Soya di sekolah ini. Seketika, Risya terkesiap sendiri kala mengingat sesuatu.
Risya menatap Soya dengan seksama. "Lu inget gak gimana gaya rambutnya?" Soya pun terdiam, ia nampaknya mencoba mengingat-ingat tapi tidak ingat.
"Emm... Gue ingat, gue inget!" Seru Laura tiba-tiba. "Kalau nggak salah, rambutnya itu tuh kayak model di Curly gitu, Sya."
Soya sontak membulatkan matanya. "Nah iya, ya, gue baru inget." Soya menimpali perkataan laura.
Risya mengedip pelan. Tidak salah lagi, sepertinya itu perempuan yang pernah ia temui hari itu. Gadis itu nampak mendesah, ia lalu maju dan mendekati Soya. Tangannya terangkat dan memegang kedua punyak Soya seraya berkata, "Soy, gue percaya sama lu. Gue percaya, elu bukan orang yang gitu."
"L-lu beneran percaya sama gue?" Risya menganggukkan kepalanya. "Lu gak takut kalau semisal omongan gue tadi cuma bohongan, biar gue tetep dalam keadaan aman?" Soya bertanya dengan air mata yang seketika terjun membasahi pipinya.
"Sstt..!" Risya mengulas senyuman. "Seandainya lu boong juga gue bakalan percaya."
Soya mengusap air matanya sendiri. "Risya, gue lagi ngomong serius," keluhnya karena Risya terlihat seperti ingin bercanda.
Risya terkekeh seketika. "Intinya, pada akhirnya elu nggak salah, Soya." Tangan mungilnya terulur menghapus air mata Soya. "Lu nggak perlu ngerasa bersalah sama gue, Soy. Ini bukan salah elu."
Risya kembali meyakinkan Soya, karena ia tahu pasti perempuan ini akan menyalahkan dirinya terus menerus. Mendengar itu, Soya langsung berhambur peluk, memeluk Risya dengan erat.
"Hiks... gue minta maaf. Maafin gue sekali lagi, Sya. Gue ceroboh, nggak hati-hati ngasih sesuatu ke elu." Soya berucap sambil terisak dalam pelukan Risya. Laura yang melihat itu pun ikut berhambur ke dalam pelukan mereka.
Rhae menghembuskan nafasnya ke udara berkali-kali. Ia tadi langsung emosi, apalagi tahu yang jadi targetnya adalah orang yang ia sukai. Sial! Laki-laki itu nampaknya hendak bicara, namun ia urungkan saat mendapatkan sebuah isyarat dari Alby.
Teman-teman sekelas Soya hanya saling pandang, tanpa ingin ikut campur dan menyela. Mungkin ini urusan pribadi mereka, pun ketua kelas di dalam sana langsung menyuruh penghuni kelasnya untuk menutup mulut agar tidak sampai meluber ke telinga guru.
...•...
...•...
...•...
...•...
...Bersambung...