Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
Bab 48 | Penyelamatan



"Dad!! Caca ada di dalam hutan kota X bagian Utara!!"


Bugh!


Sebuah tendangan mendarat tepat di rahang milik pria kurus itu. Tenaga yang lumayan, hingga membuat pria itu terpelanting ke belakang dan reflek melepaskan jambakan pada rambut Risya.


Seketika semua orang yang menyaksikan mendadak menjadi patung, mereka terdiam dan melongo. Tercengang pada kejadian yang baru saja terjadi di depan mata mereka.


Hingga ringisan dari pria kurus itu membuat mereka tersadar kalau yang baru saja menendang wajah pria itu adalah gadis yang mereka sekap.


Pria kurus itu meringis karena rahangnya serasa ingin lepas dari tempatnya. Ia beranjak dan menatap tajam pelaku.


"Kurang ajar kau?!"


"Aduh maaf om, saya nggak sengaja." Risya mengedip pelan dan memberikan raut polos pada mereka. "Om sih narik rambut saya kekencengan, jadikan saya reflek begitu."


Risya melangkah ke arah mereka, setiap satu langkah ia maju, para penculik itu satu langkah juga memundurkan kaki nya.


"Kau jangan macam - macam ya?! Atau-"


"Atau saya yang akan kalian habisi disini?" Risya menyambung ucapan bos buncit. Kemudian ia terkekeh melihat bos mereka itu hanya berani berlindung belakang anak buah nya, tak berani maju kedepan.


Risya mengetuk - ngetuk dagu nya sambil melirik beberapa orang yang ada dihadapan nya.


"Emm.. Tadi kata nya ada yang mau main sama Caca ya? Yuk main!"


Bugh!


Bugh!


Bugh!


Risya menghajar beberapa orang didalam ruangan itu dengan tangan kosong namun ternyata orang yang ia hajar memiliki senjata untuk melukai nya. Terpaksa ia mengambil kursi yang tadi ia duduki sebagai senjata perlindungan untuk nya.


Seraya melayangkan kursi tersebut, kaki nya melesat menendang perut seorang penculik yang mencoba menyerang nya dari belakang.


Bugh!


Pria itu terpental dan menabrak tubuh teman nya yang berada dibelakang. Target Risya adalah ketua mereka dahulu, jangan sampai bos buncit menelpon seseorang diluar sebelum kedatangan Daddy dan Abang nya. Bisa bahaya ia disini.


Risya menendang wajah dua orang pria hingga hidung mereka mimisan. Karena tergesa dengan waktu, ia jadi brutal dan menendangi perut serta melayangkan kursi ke arah mereka dengan tenaga hingga mereka memuntahkan cairan kental berwarna merah akibat organ dalam mereka terluka.


Sebagian nya ada yang pingsan dan lemas tak berdaya lagi, sisa nya masih berdiri tegak menghadang gadis itu. Risya juga sebenar nya kewalahan karena ia tidak begitu hebat dalam berkelahi, tapi ia masih bisa menghadapi beberapa orang ini.


Beberapa menit hingga semua nya tumbang, Risya menyeret mereka di satu titik dan mengikat mereka semua jadi satu. Agar mengurangi bahaya akan nyawa nya, ia juga mengecek ponsel bos buncit apakah pria itu sempat mengirimkan pesan pada seseorang atau belum.


Ia terduduk dilantai sambil meringis menahan sakit dan perih di lengannya, ia terkena sabetan pisau. Luka nya terlihat dalam hingga mengeluarkan banyak darah. Risya masih berjaga - jaga kalau sisa anak buah bos buncit datang, jangan sampai ia kehabisan darah disini.


Ia melepaskan baju nya dan hanya menyisakan tank top saja. Tak apa, ini masih mending dari pada ia tak memakai baju sama sekali. Baju seragam yang ia lepas tadi ia balutkan ke lengan nya yang berdarah.


Ia meraih tas nya, mengecek ponsel nya yang ternyata mati. Mungkin lowbat. Risya mendesah nafas berat. Tenggorokan nya terasa kering. Ia beranjak keluar ruangan, netra nya menatap sekeliling ruangan yang lebih luas dari ruangan tempat ia disandera tadi.


Dinding nya sama dengan ruangan tadi, retak dan cat nya pun memudar. Ia melangkah lagi sambil mengedarkan pandangan. Ada sebuah meja dan dua sofa, diatas meja tersebut ada beberapa kaleng soda yang berserakan.


Ia meraih satu kaleng soda yang belum terbuka, ia membuka kaleng tersebut dan menenggak nya sampai habis.


Uhuk! Uhuk!


Ia terbatuk - batuk dan rasa nya ingin muntah, tenggorokan nya ternyata tak bisa menerima minuman sejenis soda. Tapi sayang ia benar - benar haus.


Suara deru mobil mengalihkan atensi nya. Ia mengintip dari jendela kaca yang tertutup rapat. Seperti nya itu bukan mobil milik Daddy, berarti kemungkinan itu adalah anak buah bos buncit.


Mereka datang karena menemukan seseorang yang mereka cari, kan? Apakah mereka menculik Nina?


Huh! Beruntung kali ini Nina selamat karena ada Risya disini. Ia masih memiliki empati dan tak mempermasalahkan itu kali ini.


Risya mengedarkan pandangan, mencari sesuatu yang bisa ia gunakan sebagai senjata. Ada sebuah balok kayu yang terhimpit didekat sofa.


Ia mengambil benda itu dan kembali ke dalam ruangan tempat penyekapan. Untung orang didalam sini belum sadar. Ia menghadang mereka didepan pintu.


Krieeett..


Deritan pintu diluar terdengar, artinya mereka sudah masuk kedalam.


"Cepat jalan!"


"Sabar dong Om, kaki saya sakit nih!"


Risya mengerutkan kening, suara itu bukan seperti suara Nina. Lalu itu siapa?


Klek!


Pintu terbuka perlahan, seorang gadis didorong paksa ke dalam. Saat seorang pria masuk setelah gadis itu, Risya langsung melayangkan balok dan menghantam kepala pria itu.


"Arghh!!"


Pria itu terjatuh dan berteriak ketika merasakan rasa sakit menghantam kepala nya, cairan hangat mengalir dari pelipis nya.


Risya langsung bergerak lincah menyerang teman - teman penculik itu, memukul dan menendang mereka hingga babak belur.


Soya beringsut mundur, ia ketakutan melihat Risya menghajar pria dewasa itu. Dan ia gagal fokus tatkala netra nya menatap lengan Risya yang berbalut kain bernoda darah.


Ia menyeret satu persatu dari mereka lalu menggabungkan dengan orang - orang yang sudah ia ikat terlebih dahulu.


Setelah itu ia membalikkan badan, memandang ke arah gadis yang penculik itu bawa.


"Soya?"


Risya mengerjap pelan, bukan Nina melainkan Soya. Jadi siapa yang merencanakan penculikan ini??


"Risya, t-tangan lu berdarah?" Ucap Soya, ia nampak khawatir walau di sisi lain ia juga takut.


"Nggak apa - apa, tapi kenapa elu ada disini?" Tanya Risya.


"Gue nggak tau, tiba-tiba di seret dan dibawa paksa sama mereka." Soya menatap Risya yang berdiri didepannya, kenapa gadis ini tak membantu ia melepaskan ikatan ditangan nya?


"Elu sendiri kenapa ada disini?" Lanjut nya.


"Gue diculik sama mereka pas pulang sekolah tadi." Soya mangut - mangut, pantas saja Risya masih memakai seragam sekolah.


"Sya, luka lu nggak diobatin dulu?"


"Sya, lu nggak mau bukain ikatan ditangan gue?" Tanya Soya lagi.


Risya menggeleng membuat Soya mengernyit heran. "Kenapa?" Tanya nya.


"Tunggu sebentar lagi." Sahut Risya ambigu.


**


"Cepat selamatkan anak kita, Dad."


Daddy Vino mengangguk, ia menatap anak laki - laki nya dan dibalas anggukan juga.


"Sayang kamu di rumah aja ya, aku sama Sigra yang bakal selamatin Caca." Ia mencium dahi dan bibir istri nya sekilas, kemudian bergegas pergi meninggalkan rumah.


"Hutan kota X bagian Utara." Setelah berucap, sambungan telepon ia matikan sepihak.


Mobil melaju dengan kecepatan tinggi menembus jalanan kota. Ia juga mengambil jalan pintas agar cepat sampai. Beberapa buah mobil di belakang mengikuti mobil nya, mereka terlihat ramai seolah ingin menyerbu bangunan ditengah hutan itu.


Drrtt... Drttt..


Ponsel Sigra bergetar namun ia membiarkan nya saja. Hingga beberapa kali panggilan itu masuk membuat ia kesal setengah mati.


"Siapa sih?!"


[Halo, Gra! Ini gue Rhaegar.] Suara diseberang sana membuat Sigra terdiam.


[Halo?] Merasa tak ada sahutan ia kembali menyapa.


"Kenapa?!" Sahut Sigra, tidak tahu kah ia sedang pusing sekarang ini.


[Risya kemana, Gra? Kok dia belum berangkat, gue udah nunggu sama Alby di apartemen.]


Saat itu juga wajah Sigra berubah dingin. "Mau ngapain lu ngajak Risya ke apartemen?!! Mau gue bunuh?!" Tukas nya.


[Eh, bukan gitu. Kita mau kerja kelompok bukan mau aneh - aneh.]


Panggilan itu langsung Sigra akhiri tanpa peduli dengan si penelpon itu. Ia menatap sang Daddy.


"Daddy tau hutan bagian Utara?" Tanya nya.


Daddy Vino mengangguk. "Daddy pernah dengar ada hutan rimbun disana, tapi tidak tahu ada sebuah bangunan ditengah nya. Lagipula belum ada yang pernah ke sana karena desas - desus nya ada sarang binatang buas."


"Tapi caca disekap mereka disana, Dad. Dan kayak nya itu markas penculik nya." Ucap Sigra.


Selang beberapa menit, mobil memasuki area hutan. Jalan nya tak terlalu besar, hanya muat satu mobil dan satu kendaraan roda dua jika berjalan sejajar.


Hutan nya begitu rimbun hingga sekitar menjadi gelap karena cahaya matahari tak dapat menembus lebat nya daun. Mobil berhenti sedikit jauh dari sebuah bangunan yang nampak tua disana.


Saling berjaga dan awas akan sekitar, takut kalau ada jebakan yang di pasang disini atau ada binatang buas yang kelaparan.


Sampai di depan bangunan itu, ada sebuah mobil yang mereka yakini adalah mobil si penculik.


"Beberapa ikut saya, sisa nya kalian berjaga diluar."


Anak buah Daddy Vino lebih dulu berjalan di depan. Mereka membuka pintu seraya membawa senjata masing - masing. Ruangan yang sepi ini membuat mereka awas.


Karena tak ada yang aneh didalam sini, mereka pun terus melangkah menuju sebuah pintu yang mencurigakan.


Salah satunya bersiap menendang pintu tersebut.


Brak!!


"Angkat tangan!!" Pekik nya. Mereka seketika terdiam.


Daddy Vino dan Sigra segera masuk ke ruangan itu karena tak mendengar suara gaduh di sana. Daddy Vino melihat lantai ruangan itu terdapat bercak darah dimana-mana. Mata nya tertuju pada dua anak perempuan, salah satu dari anak itu membuat mata nya terbelalak lebar.


Ia mengenali dia, itu adalah anak nya yang tengah bersandar pada bahu anak perempuan lain.


Anak perempuan itu terisak. "Om, bantuin teman saya, Om." Pinta nya.


"Ca, Caca!"


Sigra yang menghampiri sang adik pun menepuk pipi nya pelan, pipi yang terasa dingin itu membuat jantung Sigra serasa berhenti berdetak. Harap - harap cemas ia memeriksa nadi Risya, Sigra bernafas lega ketika nadi itu masih berdenyut.


"Tuan, penculik itu sepertinya sudah dibereskan seseorang lebih dulu." Anak buah Daddy Vino menunjuk ke arah beberapa orang yang terikat jadi satu.


Daddy Vino mengeraskan rahangnya. "Bawa mereka semua ke tempat penyiksaan!!" Titah nya dingin.


Ia sedikit berterima kasih kepada orang yang telah menghabisi para penculik itu, namun ia juga geram kala melihat anaknya terluka. Apakah Risya dicelakai oleh orang yang menghabisi penculik itu??


Sigra melepaskan jaket dan memasangkan ke tubuh kecil adiknya. "Dad, kita harus segera ke rumah sakit." Ucap nya sambil tergesa keluar dari bangunan itu.


Ia beranjak sambil menggendong Risya ala koala, ia seperti tak peduli dengan satu perempuan yang tadi menjadi sandaran adiknya.


Daddy Vino yang melihat anak perempuan itu pun menghampirinya. Ia melepaskan jeratan tali tersebut.


"Nak, ayo ikut Om." Ajak nya.


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...tbc...


Selalu dukung karya ini ya🥰 Like, Komentar, Vote, dan Favoritnya. Terimakasih🙏🙏