Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
Bab 30 | Terlambat



Risya harus bergegas pergi karena ia terbangun sedikit terlambat hari ini. Setelah mandi dan lain sebagainya, ia langsung menyambar tas sekolah dan segera turun dari kamar.


Melangkahi tangga dengan cepat tanpa takut tersandung saat melewatinya. Tangannya sibuk membenahi dasi yang terpasang di leher. Ia tak mungkin sarapan karena ini sudah lumayan siang dan sudah pasti ia datang terlambat.


"Bibi kok nggak bangunin Caca, sih?" Keluh Risya kala bertemu bi Iyem di bawah.


Bi Iyem melangkah dan meraba dahi Risya memastikan masih panas atau tidak. Kemarin Risya sakit, ia demam dan suhu badannya tidak turun juga sampai malam.


"Enon emang udah enakan?" Tanya bibi khawatir.


"Udah kok. Kenapa gak di bangunin, Bi?" Rengek Risya.


Bi Iyem merasa tak enak pada nona mudanya, pasalnya tadi Sigra berpesan kalau Risya tak usah dibangunkan karena masih sakit, jadi bibi menurutinya dan tak membangunkan Risya.


"Maaf non. Bibi kira Enon memang masih sakit, tadi Aden bilang kalau Enon enggak usah di bangunin jadi bibi turutin." Sahut bi Iyem. Bukan bibi yang menjaga Risya kemarin melainkan Sigra yang bersikeras untuk merawat Risya.


Ah elah, Sigra s*alan!!


"Ya udah deh, Caca mau berangkat dulu, bi. Udah telat banget ini." Ucap Risya berpamitan pada bi Iyem.


"Enon mau sarapan dulu atau mau bibi buatin bekal?" Tawar bi Iyem.


"Nggak usah bi, entar Caca makan di kafetaria sekolah aja. Caca berangkat!!" Pekik Risya sambil berlari keluar dari rumah.


...•...


...•...


Mobil Risya melaju menuju sekolah, ia meminta mang Asep untuk ngebut agar sedikit cepat sampai ke sana. Karena ini adalah hari Senin, ia tak bisa mengharapkan kalau gerbang belum tertutup. Dan jika gerbang sudah ditutup, ia tak akan di perbolehkan masuk ke sekolah kecuali menggunakan cara lain.


Saat mobil yang ia tumpangi memperlambat kecepatan nya, Risya menilik dari jarak yang lumayan jauh dari gerbang. Sepertinya benar gerbangnya sudah tertutup.


Risya menghentikan mang Asep sedikit jauh dari gerbang utama. Ia meminta di turunkan disini saja, awalnya mang Asep tak mengindahkan ucapannya tapi karena Risya mengancam dan kekeuh ingin turun disini, mang Asep tak bisa berkutik lagi dan mengiyakan saja.


Risya melambaikan tangan saat mobil yang dibawa mang Asep meninggalkan sekolah. Ia berlari ke pagar belakang yang tak ada penjaganya, ini adalah jalan yang biasa di gunakan anak-anak nakal yang suka bolos. Jadi kali ini giliran ia yang mencoba.


Netra nya menilik sekeliling mencari sesuatu yang bisa membantunya menaiki tembok tersebut. Ada meja bekas yang sudah rusak disini, tak tahu siapa yang menaruhnya di dekat pohon besar di luar pagar.


Sebenarnya bisa saja jika ia ingin langsung masuk lewat gerbang utama tanpa perlu repot-repot menaiki tembok, tinggal bilang bahwa dia cucu pemilik sekolah kan beres. Kalau pun satpam nya tak percaya, ia bisa menelpon Daddy atau yang paling simple adalah dengan memanggil Sigra.


Tapi Risya tak ingin melakukan itu, ia malas dan tak ingin menggunakan kekuasaan sebagai dalih atas keterlambatannya. Kalau dengan cara ini ia pun ketahuan dan di hukum, tak apa, ia masih bisa mengatasinya sendiri.


Dengan perlahan Risya menaiki meja tersebut lalu ancang-ancang untuk melompat agar bisa meraih dan memegang kuat sisi atas tembok tersebut. Tangan sebagai tumpuan agar dapat menahan berat badannya, Risya menaiki tembok dengan setengah tenaga yang dikerahkan.


Sedikit melelahkan juga tapi ini membuat ia berhasil melewati tembok belakang sekolah. Risya melompat dan mendarat memijak tanah. Matanya awas menilik sekeliling, kalau-kalau kena pergok anggota OSIS.


Karena merasa tidak ada siapa-siapa, ia pun berlari menuju kelas. Tapi bagaimana caranya ya?? Sedangkan lapangan upacara berada di tengah sekolah, dan kelasnya berada di lantai dua. Karena ini sedang upacara bendera pasti anggota PMR yang bertugas di belakang barisan tiap kelas akan memperhatikan sekelilingnya. Belum lagi anggota OSIS yang bertugas di keamanan.


Risya menilik di balik tembok, memperhatikan bocah-bocah SMA yang sedang upacara. Sambil memikirkan harus melewati jalan mana agar selamat sampai tujuan dan berujung aman.


Entah karena terlalu sibuk berpikir atau terlalu sibuk menonton mereka, Risya tak mendengar suara langkah kaki mendekat ke arahnya. Hingga sebuah tepukan mendarat di pundak membuat Risya tersentak dan hampir berteriak kalau saja tak ada sebuah tangan yang menutupi mulutnya.


Risya di seret menjauh dari dinding tempat ia bersembunyi tadi, dengan kondisi mulut yang masih ditutup oleh orang tersebut. Risya sempat berpikir kalau itu adalah penculik yang menyamar dan menerobos masuk ke sekolahnya, lalu menculik anak konglomerat macam dia dan menjadikannya sebagai sandera untuk meminta tebusan.


Lelaki itu melepas tangannya dari mulut Risya. "Lu ngapain ngintip di situ, udah kayak maling aja." Keluhnya pada Risya.


Risya memukul kepala bagian belakang Alby kencang. "Heh dungu! Lu kira lu juga kagak mirip penculik apa?! pake bekap mulut gue segala!"


Alby meringis, lalu berujar, "ya maaf. Lagian lu ngapain juga sih di situ? Lihat apaan emang?"


Risya berkacak pinggang dan menunjuk-nunjuk Alby dengan jari mungilnya. "Buta ya lu?! Elu lupa apa gimana? Ini kan Senin, ya lu pasti tau gue lihat apaan! Elu juga, ngapain sih disini? Kenapa gak ikut baris?"


Risya mengomel dengan wajah garang, namun yang terlihat bukannya menakutkan malah jadi menggemaskan. Alby tersenyum menatap gadis yang sedang mengomelinya, ia menurunkan telunjuk Risya dan menahannya di genggamannya.


Alby tertawa kecil. "Jangan marah-marah nanti cepet tua," tegurnya sekaligus meledek Risya.


Risya mendengus kesal, ia melipat tangan ke dada dan membuang pandangan ke arah lain membuat Alby semakin mengejeknya.


"Utututu... Ngambek nih?"


Melihat Risya tak bergeming, Alby semakin gencar menggodanya. Ia juga memanggil-manggil Risya macam manggil anak kucing. Menyebalkan.


"Yah.. padahal gue bawain coklat buat princess yang ngambek pagi ini, tapi kayaknya dia gak mau."


Tak lama kemudian Alby terdiam membuat Risya bergeming dan melirik ke arahnya, bertanya-tanya kenapa lelaki ini tiba-tiba tak bersuara lagi.


Risya tersentak saat lengannya di tarik oleh Alby tiba-tiba. Ia dibawa bersembunyi di belakang tanaman pagar hias yang di tanam di belakang sini. Risya mengernyit, baru ingin berbicara sepatah kata, Alby lebih dulu memotongnya.


"Ap-"


"Sstt!! Jangan berisik." Potong Alby cepat.


Risya menatap Alby heran, ia terdiam kala lelaki ini menunjuk ke arah depan, bersamaan dengan suara langkah kaki seseorang mendekat. Langkahnya terdengar banyak, apa lebih dari satu orang?? Jantung Risya menjadi berdegup tak karuan saat langkah tersebut semakin terasa mendekat ke arah mereka.


Tubuhnya beringsut tatkala salah satu diantaranya mulai membuka suara.


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...tbc...