
Tit.. tit.. tit
Monitor Elektrodiagram itu berbunyi hingga membuat seorang perempuan yang tengah memejamkan mata disamping ranjang pasien pun tersentak kaget.
Kejutan pertama saja belum selesai, ini malah ditambah lagi dengan seorang pasien perempuan yang terbaring di ranjang itu tiba - tiba saja kejang.
Ia beranjak panik seraya memencet tombol dan memanggil - manggil dokter. "Dokter! Dokter!!" Pekik nya riuh.
Ia terus memencet tombol saking panik nya sambil terus menatap seseorang yang berbaring di ranjang. Ia ingin menangis dan berlari menyeret seorang dokter kesini namun ia tak bisa meninggal ruangan ini begitu saja. Kalau terjadi sesuatu pada pasien itu bagaimana??
Pintu ruangan terbuka bersamaan dengan seorang dokter yang baru saja datang tergopoh-gopoh diikuti beberapa orang perawat dibelakang nya.
"Adik saya, Dok!" Tunjuk nya ke arah ranjang pasien. Gurat khawatir tercetak jelas di wajah nya serta perasaan cemas yang terus membuncah.
"Nona bisa tunggu diluar sebentar? Biar kami periksa dulu." Ujar seorang perawat ramah pada perempuan yang tengah cemas tadi.
Perempuan itu mengangguk walau hati nya masih terus mengajak tubuh nya untuk tidak keluar dari ruangan ini.
Ia pun melangkah keluar dengan perasaan cemas yang terus menyelimuti, ia nampak mondar mandir depan pintu ruangan. Ingin mengintip namun tak ada celah dan tak terlihat penampakan didalam.
Ia menggigit jari nya, kalut. Sambil terus memanjatkan doa untuk adik nya. Apakah adik nya baik-baik saja?? Ya Tuhan, semoga saja dia tidak kenapa - kenapa. Kalimat itu terus ia ucapkan berulang kali di dalam hati.
"Kak Agas?"
Ia sontak menoleh kan kepala menatap seseorang yang berdiri tak jauh dari nya sambil tersenyum simpul.
"Tia?" Gumam nya. Itu adalah Sintia, teman baik adik nya yang terkadang ikut menemani nya semenjak adik nya tak sadarkan diri. Sintia gadis yang baik, ia juga telah menganggap nya sebagai adik.
Sintia menghampiri perempuan bernama Agastia itu. "Kakak kenapa diluar?" Tanya nya lalu beralih menatap pintu ruangan VIP.
"Tia, Riel.."
Sontak saja Sintia panik kala mendengar nama itu. "Riel? Riel kenapa, kak?" Ia tanpa sadar memegang kedua pundak Agastia dan mengguncang nya pelan.
"Kakak gak tau. Tapi Riel tiba - tiba aja kejang - kejang." Sahut nya sedikit lirih dengan mata yang sendu.
Sintia terkesiap sambil mengerjap cepat. Pikiran nya juga ikut kalut sejenak. Apakah Azriella baik - baik saja? Apakah sudah ditangani dokter? Lalu bagaimana keadaan nya sekarang?
"Kakak udah panggil dokter?" Tanya nya membuat Agastia mengangguk kan kepala.
"Dokter masih didalam." Sambung Agas. Teman adik nya itu kemudian menuntun nya untuk duduk sebentar. Mungkin bermaksud ingin menenangkan.
"Kakak yang tenang ya, ayok duduk dulu." Kata Sintia seraya mengusap bahu Agastia untuk memberikan kekuatan. "Riel pasti baik - baik aja, kakak percaya kan sama Tia?" Agastia mengangguk saja walau masih ragu-ragu dengan perkataan Sintia.
Selang beberapa menit mereka terdiam, tak lama seorang dokter keluar dari ruangan dan sontak membuat Agastia beranjak cepat.
"Gimana Dok? Adik saya baik - baik aja kan?" Tanya nya penuh kekhawatiran.
"Syukur lah Tuhan masih sayang dengan ciptaan-Nya, dan saat ini pasien sudah berhasil melewati masa koma nya." Sahut Dokter tersebut sambil tersenyum kepada kedua perempuan didepan nya.
Agastia terkejut sekaligus haru mendengar pernyataan Dokter. Penantian yang sudah beberapa bulan ia tunggu akhir nya dikabulkan sang pencipta juga. Agas membalikan badan menghadap Sintia dan memegang kedua sisi bahu perempuan itu.
"Tia, kamu denger kan?" Tanya nya senang dengan mata berbinar cerah namun ada kandungan air mata di pelupuk mata nya. Nampak nya itu adalah air mata kebahagiaan.
Sintia mengangguk seraya memeluk kakak teman nya itu, ia juga ikut terharu dan bahagia mendengar berita mengejutkan ini.
"Riel, kakak rindu liat mata kamu." Agastia brgumam lirih namun seperti nya Sintia mendengar gumaman nya. Anak itu mengusap punggung Agas dan menguatkan perempuan itu.
Agastia melepaskan pelukan mereka dan menatap ke arah dokter yang menangani adik nya. "Boleh saya masuk, Dok?"
Dokter tersebut menganggukkan kepala. "Do'akan saja semoga pasien akan segera sadar dalam waktu dekat. Kalau begitu saya permisi dulu." Tutur nya.
"Terimakasih, Dok."
Dokter berlalu meninggalkan mereka yang masih berdiri dan sibuk terharu di depan pintu. "Kakak yang masuk dulu ya, Tia." Izin nya.
Padahal jika tak meminta izin juga tidak apa - apa. Lagipula Azriella kan adik nya, jadi wajar saja kalau Agastia yang harus lebih dulu menghampiri dan melihat kondisi sang adik.
"Iya, kak." Sintia mengangguk dan Agastia membalas nya dengan senyuman sambil melangkah masuk.
Agastia berdiri disisi ranjang seraya mengusap kepala Azriella dengan lembut. "Dek, berat ya udah berjuang sampai sini? Tapi kamu gak boleh capek ya apalagi nyerah, kakak masih butuh kamu disini." Tutur nya penuh kehati - hatian.
Ia mengecup dahi sang adik lalu duduk di samping ranjang sambil menggenggam tangan Azriella yang terasa hangat. "Jangan ikut Mama sama papa dulu, dek. Disini masih banyak orang yang sayang sama kamu."
Mata nya kembali berkaca - kaca namun tak sampai menjatuhkan air mata. "Teman kamu juga ada disini, loh." Kata nya, ia menarik lekuk bibir nya, tersenyum.
"Dia sering jengukin kamu, nemenin kamu disini kalau kakak emang lagi gak bisa nemenin kamu. Teman - teman kuliah kamu juga kadang ke rumah sakit buat jengukin."
"Seneng gak, sayang?" Tanya nya pada Azriella yang tak menanggapi apa - apa.
Ia selalu bersyukur kala masih ada segelintir orang yang selalu menghampiri anggota keluarga nya walau diri kita sudah tidak bisa bangkit sekalipun.
Mereka juga tak perduli walau tidak bisa berkomunikasi dan bersitatap secara empat mata. Hanya dapat menatap dan bicara itupun hanya sepihak aja.
"Jangan jadi Putri tidur lagi ya." Pinta nya sambil terus menampilkan senyum yang tak ingin luntur diiringi dengan air mata yang seketika menetes terjun ke pipi.
"Jangan tidur terlalu nyenyak, sesekali bangun dan liat kakak disini. Kakak gak tau lagi mau ngapain setelah kamu gak bangun lagi. Rumah sepi, Riel. Walau kamu juga gak banyak bicara setidak nya ada di rumah buat nemenin kakak, itu pun sudah cukup."
"Iya kakak tau kok, Agas emang cengeng Riel." Ia terjeda sambil menahan bibir bawah nya yang sudah bergetar menahan tangis.
"Hiks... Maka nya kamu balik ya..."
"Kakak takut disini..."
"Kalau kamu pergi, kakak juga pingin ikut pergi." Ucap nya sambil terisak.
Cukup lama menangis, akhir nya Agastia mulai beranjak dari tempat duduk. Mengambil nafas dan mengembangkan senyum. "Kakak keluar sebentar ya, ada temen kamu yang mau bicara sama kamu." Ujar nya sebelum benar - benar keluar dari ruangan itu.
"Sintia." Panggil Agastia pada teman adik nya.
Sintia lekas mengalihkan pandangan nya dari ponsel. Memasukan ponsel ke dalam saku jaket lalu beranjak menghampiri Agastia.
"Kakak udah selesai. Kamu mau jengukin Riel?" Sintia mengangguk dengan semangat. Agastia tersenyum lalu mengusap rambut Sintia dan memperbolehkan gadis itu masuk ke dalam.
Sintia masuk ke dalam ruangan, ia melangkah perlahan sampai ke dekat Azriella. "Hai, Riel." Sapa nya di awal.
Ia duduk di samping ranjang gadis itu. "Gak kangen ya lu sama gue?" Ia terkekeh geli dengan omongan nya sendiri. "Beneran gak kangen ye lu? Tega bener dah."
Bergurau dengan raut sedih yang dibuat - buat yang dimana jika Azriella membuka mata, sudah ia geplak kepala cewek itu.
"Azriella Monica." Panggil nya, lagi.
"Kenapa lu gak bangun - bangun juga sampe sekarang? Lu tau gak gue kesepian di kampus, sendirian gak ada temen. Sedih banget ye, lu malah ke asik kan tidur." Sintia mempoutkan bibir nya sambil terus bercurhat ria.
"Anak - anak di kampus kita juga pada nanyain kabar lu tau gak? Gak tau ya lu? Maka nya cepetan bangun." Desak nya seraya memainkan ujung jari Azriella. Berharap tangan mungil itu bergerak - gerak walau sekejap saja.
"Hampir tiap hari mereka nanyain dan ya jawaban yang keluar dari mulut gue tetep sama kayak hari - hari sebelum nya. Elu juga belum sadar."
"Mereka hampir tiap Minggu juga besuk ke sini. Lu gak sopan banget tau sama tamu, orang bertamu kok tuan rumah nya malah tidur." Sintia kembali terkekeh kecil.
"Riel. Gue kayak orang dongo njir ngomong sendirian kagak ada yang nyahut." Ia mengusap lembut punggung tangan Azriella dan menatap lembut cewek itu.
"Eh, oh iya gue mau kasih tau sesuatu. Gue punya crush, gila! Ganteng banget." Celetuk nya sambil membayangkan wajah sang doi. "Wajib gue kenalin sih kalau lu udah bangun. Lu tau kan gue gak terlalu bisa menilai cowok itu baik apa enggak, kalau lu bangun pasti sih lu udah nyerocos dan ngomel - ngomel ke gue."
Ia tersenyum kecut, memandang ke arah langit - langit rumah sakit lalu menemplok kan kepala nya ke sisi ranjang.
"Riella..."
"Riella..."
"Riella..."
Mata nya terlihat sendu. "Kata lu kalau gue kangen sama seseorang, gue harus sebut nama dia sebanyak tiga kali." Entah bodoh atau apa, tapi ia selalu mengingat ucapan teman nya itu.
"Gue kangen seseorang, Riel." Kata Sintia pada teman nya yang tengah memakan Snack ringan.
"Hm? Temui aja kalau kangen. Atau lu bisa panggil nama orang itu sebanyak tiga kali, pasti orang yang lu rindu akan datang." Sahut Azriella sambil tersenyum tipis.
Kata - kata itu selalu terbesit di benak nya apalagi sejak ketidakhadiran Azriella. "Gue udah manggil nama orang yang gue rindu sebanyak yang lu bilang, tapi kenapa lu belum balik juga, Riel? Gue kangen..." Tukas nya lirih.
"Lu bohong sama gue. Apa perlu gue teriak ditepi jurang yang jauh dari keramaian buat manggil lu balik ke sini?"
Sintia terdiam, air mata nya tiba - tiba terjatuh begitu saja. Buru - buru ia menghapus jejak nya cepat sambil memaksakan diri untuk tetap tersenyum di depan sahabat nya.
"BesTai, gue balik dulu ye nyet, udah malem. Dicariin emak gue nanti mana gue gak izin lagi." Ia tertawa kecil mengingat kelakuan nya sendiri. "Biasa kan kabur dari rumah." Sambung nya lagi.
"Oh iya, lu baik - baik dimari. Besok gue bakal jengukin lagi." Sintia mengembangkan senyum manis nya. "Cepet buka mata lu ya, Riel." Ia mencium pelipis Azriella sebelum berlalu pergi.
"Papaiii!"
Punggung Sintia mulai menjauh dan menghilang dibalik pintu. Dan tanpa ada yang tahu, air mata seketika mengalir keluar dari ekor mata gadis yang terbaring itu. Siapa sangka, ternyata semua pembicaraan kakak serta teman nya itu sudah ia dengar sedari awal.
Hanya saja, ia tak dapat membuka mata atau menggerakan seujung jari saja. Tubuh nya seolah mati rasa dan tak berdaya. Dan sungguh, ia ingin sekali berlari dan memeluk erat kedua orang itu. Ia benar - benar rindu.
"Tuhan... Apakah kau ingin mempermainkan hidupku lagi?" Batin nya lirih sambil terus berusaha melawan ketidakberdayaan ini.
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
...Bersambung...