
Ketika semuanya sudah selesai dan bubar, Sigra malah baru datang ke kelas Soya dan tak lama, disusul oleh kehadiran teman-temannya yang lain. Dan karena kondisi pintu kelas itu tertutup rapat, Sigra tanpa berpikir panjang langsung membukanya dengan kencang.
Brak!!
Anak-anak di dalam ruangan itu lantas terlonjak kaget, mereka reflek menyentuh dada masing-masing seolah menahan jantung mereka agar tidak jatuh ataupun meloncat keluar. Sebagiannya juga ada yang sontak menjerit karena terkejut tiba-tiba.
Sangat beruntung saat Sigra yang tidak sopan itu membuka pintu, tidak ada seorang pun guru di dalamnya. Jika tidak, mungkin ia sudah mendapatkan hukuman karena telah mengganggu kegiatan belajar-mengajar yang tengah berlangsung.
Laki-laki itu menilik lekat ke sekeliling kelas, tak ada yang ia temukan selain tatapan bingung dari penghuni di dalamnya. Relvan menepuk pundak Sigra, awalnya ia juga merasa bingung karena Sigra tidak masuk ke dalam dan hanya berdiri di depan pintu. Tapi sekarang ia paham, sebab tak ada sesuatu di dalam sana seperti yang diberitakan sebelumnya.
Merasa aneh dengan kedatangan Kakak kelas mereka itu, ketua kelas pun langsung bertanya pada Sigra dan juga teman-teman lelaki itu. Ternyata Sigra tengah mencari Risya, dan juga bertanya-tanya tentang pergi kemana Soya setelah masalah tadi selesai. Ketua kelas pun menjawab kalau mereka semua keluar dari kelas ini saja tapi tidak tahu tujuan selanjutnya kemana.
Karena tak mendapatkan jawaban yang sesuai dengan kehendak mereka, akhirnya Sigra dan teman-temannya beralih dari kelas itu. Kelima pemuda itu memutuskan untuk berpencar, terserah mau mencari kemana, menyusuri seluruh penjuru GIBS pun juga tak apa. Relvan bersama Angga. Rey dan Rizhan bersama Sigra.
***
Di tempat lain, Soya keluar dari toilet wanita setelah selesai ia membasuh wajahnya. Matanya masih terlihat sembab karena ia terlalu banyak menangis dipelukan Risya, sampai almamater Risya basah pun Soya tidak merasa.
Hehe, ia malu pada temannya itu. Beruntung kesalahpahaman tadi tidak berlanjut lebih jauh, kalau tidak pasti akan sangat rumit untuk hubungan pertemanan mereka kedepannya.
Soya berjalan dengan langkah yang tidak terburu-buru alias santai saja saat menyusuri koridor sekolahnya. Saat ini terlihat sepi karena jam pelajaran sedang berlangsung di kelas-kelas lainnya.
Dan pada pertengahan jalan, Soya tanpa sengaja bertemu dengan Angga dan juga Relvan. Dengan reflek, ia pun segera menundukkan kepala, menutup sisi wajahnya dengan rambut saat berpapasan dengan mereka.
"Akh!!" Tangannya langsung dicekal erat oleh Angga saat ia berusaha untuk berpura-pura tidak melihat dua lelaki itu.
"Habis dari mana lu?" Tanyanya sambil menatap Soya dengan tatapan tajam.
"Lepasin tangan gue, monyet! Gue cuma abis dari toilet, kok." Soya menyahuti pertanyaannya tanpa menatap orangnya.
Angga memandang Soya lekat-lekat, ada yang aneh dari suara Soya. Terdengar serak seperti orang pilek. Ataukah... Soya habis menangis?
Kalau pilek sepertinya tidak mungkin, yang ia tahu sepupunya ini kondisi tubuhnya baik baik saja. Angga melepaskan cekalan tangannya saat melihat Soya nampak meringis, apa genggaman tangannya tadi terlalu kuat?
"Ila, lu nggak apa-apa, kan? Atau lu sakit?" Angga langsung menyerangnya dengan pertanyaan beruntun. "Suara lu kedengeran beda." Angga lalu menyentuh dahi Soya, bermaksud untuk mengecek suhu tubuh gadis itu.
"Gue nggak apa-apa." Soya kemudian menyingkirkan tangan Angga yang bertengger di dahinya.
"Seriusan? Tapi badan lu kok anget?" Laki-laki itu menatap Soya dengan tatapan khawatir.
Soya menganggukkan kepala. "Gue tuh beneran gak apa-apa."
Relvan sejak tadi terus mengerutkan keningnya, Soya terus menunduk dan seolah menghindar agar ia dan Angga tidak bisa menatap wajahnya. Tangannya sontak terulur mengangkat dagu Soya agar bisa menatap ke arah mereka.
Netra hitamnya menatap dalam ke kedua manik cokelat itu. "Siapa?" Tanyanya. Mata Soya terlihat begitu sembab dan hidungnya masih terlihat sedikit merah.
"Hah?" Soya mengerjap pelan, ia seketika tidak paham dengan pertanyaan Relvan.
"Siapa yang bikin lu nangis?" Relvan mengusap mata Soya yang sembab.
Ah, ternyata Relvan mau bertanya itu. Karena tak merasa nyaman dengan posisi seperti ini, Soya menyingkirkan pelan tangan besar Relvan dari wajahnya.
Soya tersenyum kaku sembari menggaruk pipinya yang mendadak terasa gatal. "E... itu tadi gue habis nonton Drakor sama Laura. Alurnya sedih banget jadi kebawa perasaan deh," ucapnya. Tapi Relvan merasa tak ada yang jujur dari penuturan Soya.
"E-eh nggak, kok!" Soya menggeleng ribut. Bisa kacau lagi kalau sekarang dua lelaki ini yang salah paham. "Beneran abis nonton Drakor. Lagian gue juga nggak mungkin di apa-apain sama tuh cowok. Serius." Soya berucap sembari mengangkat kedua jarinya, peace.
Masih dengan tatapan yang terasa membebani Soya. "Kalau lu nggak di apa-apain, terus ini kenapa?" Tanya Angga. "Dahi lu memar." Tangannya mengusap memar yang terdapat di ujung dahi Soya, ia juga tak sengaja melihatnya ketika angin kecil berhembus menyibak rambut gadis itu.
"Memar?" Soya bergumam. Pikirannya juga berputar kenapa ia bisa mendapatkan memar. "Oh, ini gue kepen-" ucapannya langsung terputus ketika mendengar Relvan yang mengumpatkan nama Rhaegar.
"Rhaegar sialan!"
Laki-laki itu langsung berbalik dan melangkahkan kaki dengan terburu-buru. Sial! Apa Relvan mau mendatangi Rhaegar?
"Van! Lu mau kemana?!"
"Temen lu, nyet!" Soya panik sembari menepuk-nepuk pundak Angga dengan kencang. "Kejar cepetan!"
Sontak, keduanya langsung mengejar Relvan. Menyusul dengan cepat sebelum laki-laki itu membuat perkara yang menghebohkan sekolahan.
***
"Emang apa permasalahannya?" Rizhan membuka suara sambil menatap bergantian ke arah Risya, Alby dan juga Rhaegar.
Tadi mereka langsung memutuskan untuk mencari ke sini, berhubung lagi malas juga bagi mereka untuk berkeliling satu sekolah. Dan memang saja, Risya ada di sini bersama dua teman yang biasanya bersama gadis itu. Tapi tidak ada Soya di sini.
"Gak ada, cuma salah paham aja." Rhaegar menyahut, sesekali matanya melirik Risya yang nampak tak mau menyahuti obrolan mereka.
"Kata mereka, lu berantem sama Soya? Lu nggak nonjok atau nyentuh fisik Soya, kan?"
Rhaegar seketika mendengus. "Enggak lah! Emang gue kayak temen lu tuh, si Relvan, Beraninya sama perempuan!"
"Berani banget lu, kalau di denger pasti lu yang bakal berantem sama dia." Rizhan terkikik geli.
"Intinya cuma salah paham aja tadi, kita juga udah maafan. Udah kelar semua," terang Alby. "Eh, gak semua deng."
Masalah siapa dalang dibalik air mineral saja mereka belum menemukannya. Kalau orang yang memberikannya itu pasti bukan pelaku utama.
Rhaegar menganggukkan kepala. "Gue sebagai pihak yang bersalah karena ngomel sama perempuan pun juga udah minta maaf." Ia menghela nafas. "Jadi-"
Brak!
Bugh!
...•...
...•...
...•...
...•...
...Bersambung...