Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
Bab 127



"Ke kantin, kuy!"


Rizhan tiba-tiba langsung melompat ke punggung Angga hingga membuat lelaki itu sedikit oleng karena dia. Untung Relvan menahannya karena ia tepat berada di dekat mereka.


"Hati-hati, lu bisa jatuh," katanya kepada Rizhan yang nampak menyengir lucu.


"Thanks, Van," ucap Angga dan Relvan sontak menganggukkan kepala. Ia lalu melirik ke arah Rizhan yang tengah menyengir di belakang punggungnya.


"Turun gak lu?" Katanya.


Rizhan menggeleng kecil. "Gak!" Sahutnya cepat sambil tertawa kecil. "Capek banget kalau jalan."


"Ntar bawa aja motor lu sampe ke kelas biar gak capek jalan," tambah Rey yang berdiri di dekat Relvan.


"Motor gue gak bisa manjat ke lantai dua, gimana dong?" Guraunya dan hanya ditanggapi tertawaan oleh teman-temannya.


Angga terdengar mendengus. "Zhan, gue takut lu jatuh ntar," ujarnya sambil tersenyum kecut.


"Dibilangin juga kalau gue tuh capek jalan, Lele!" Tukas Rizhan malas.


"Kaki lu gak guna lagi ya? Kalau gak sini gue potongin!" Dengus Angga sembari melangkahkan kakinya keluar kelas dengan Rizhan yang masih menempel di punggungnya.


Relvan menghela nafas dan hanya bisa geleng-geleng kepala saat melihat mereka. Ia kemudian menatap ke arah Rey sambil ikut berjalan menyusul mereka.


"Rey," panggil Relvan. Sang empu langsung melirik ke arah orang yang memanggilnya.


"Kenapa?"


Relvan menatapnya dengan seksama. "Lu abis di tonjok siapa?"


Perkataanya lantas membuat Sigra menoleh seketika. Di sudut mata serta bibir Rey ada sedikit jejak yang tersisa, seperti memar yang disebabkan oleh benturan yang keras. Tapi kalau dilihat sekilas itu memang tak terlalu kentara dan jika dilihat lekat mungkin itu akan terlihat, entah ia menutupinya dengan apa, bedak atau sejenisnya hingga terlihat begitu samar.


"Siapa?" Tanya Sigra juga.


Rey berdehem pelan sebelum menjawab pertanyaan mereka. "Emang kentara?" Tanyanya balik tanpa menjawab pertanyaan 'siapa' yang dilontarkan oleh kedua temannya.


Angga menengokan kepala menatap Rey yang berjalan di belakangnya. Ia kemudian mengangguk sambil berkata, "hooh, Rey, kalau dilihat bener-bener sih terus dari jarak yang deket juga."


"Siapa?"Relvan kembali bersuara sembari melirik Rey yang tiba-tiba terdiam.


"Gue gak tau," ujarnya dengan jujur. Ia benar-benar tidak tahu dengan tiga lelaki yang mengeroyok dirinya, namun kalau hanya praduga ia bisa menebak mereka siapa.


Angga langsung mengernyit. "Emangnya lu gak ngenalin itu siapa?" Rey menggelengkan kepala hingga membuat mereka terdiam semua.


"Kok bisa? Berapa orang emang?"


"Tiga."


"Gila!" Celetuk Angga dengan wajah seriusnya. "Parah banget udah itu! Perlu dihajar balik gak?"


"Kita belum tau siapa mereka, jadi jangan asal ngomong pengen hajar," timpal Relvan hingga membuat teman-temannya terdiam dengan pikiran masing-masing.


Saat sudah hendak mendekati kafetaria, Sigra tiba-tiba berhenti begitu saja. "Kenapa, Gra? Tanya Rey yang otomatis ikut berhenti. Teman-temannya yang lain pun juga melakukan hal serupa sepertinya.


"Gue balik dulu."


Rizhan mengernyit dalam. "Kemana?" Tanyanya sambil memandang Sigra.


"Kelas. Bentar, ada yang ketinggalan," sahut Sigra. Bukan hal penting sih, hanya ponselnya saja ketinggalan. Tapi entah mengapa, ia tak bisa meninggalkan benda pipih itu begitu saja.


"Dompet lu ketinggalan apa begimane?" Tanya Angga.


"Ponsel," sahut Sigra singkat.


Sigra lantas mendengus lalu membalikan badannya. Tanpa membalas perkataanya, ia berjalan meninggalkan mereka. Rizhan memandang Sigra yang menjauh dari pandangan, ia yang masih berada di punggung Angga pun mengeratkan pelukannya di leher lelaki itu. Takut jatuh, meskipun Angga sudah membantu menahan kakinya.


"Gak apa-apa lah, biarin dia. Ntar juga dia bakal nyusul kita," ujar Rizhan pada ketiga temannya. Setelah beberapa detik terdiam, mereka akhirnya menganggukkan kepala dan lanjut berjalan.


Sigra, lelaki itu sedikit mempercepat langkahnya menuju ke arah kelasnya. Setelah mengambil ponsel, ia pun hendak menyusul teman-temannya kembali. Namun, saat melewati lapangan basket, ia berhenti sambil memicingkan matanya menatap ke arah lapangan sana.


"Risya?" Gumamnya dalam hati.


Dan entah mengapa, tiba-tiba ia jadi mengurungkan niatnya untuk ke kafetaria dan memilih menghampiri Risya saja. Sudut bibirnya sedikit terangkat ketika menatap wajah Risya yang terlihat ceria. Melihat sang adik bahagia, Sigra jadi ikut bahagia karenanya.


Tapi tak berselang lama, senyum yang tadinya mengembang kini luntur seketika saat melihat Rhaegar yang mendekat ke arah Risya dan seolah terlihat mengecup pipi sang adik singkat.


Dengan wajah datarnya, Sigra langsung melangkah cepat dan mendorong kecil lelaki itu agar menjauh dari sang adik. "Tolong jaga jarak," katanya dengan nada dingin.


Risya nampak terkesiap kaget sambil memasang wajah cengo saat melihat Sigra yang berada di dekatnya. Rhaegar yang didorong pun juga memasang ekspresi serupa, sejak kapan Sigra ada di sini?


"Ngapain di sini?" Tanya Risya seraya menatap sang Kakak.


"Gak ada larangan kalau siswa lain mau ke sini, Sya," ucap Alby sambil menahan senyumnya. Risya langsung melotot ke arah lelaki itu dan menyuruhnya untuk diam.


Risya kembali memandang Sigra yang tersenyum hangat ke arahnya. "Nyamperin kamu, emang gak boleh?" Kata Sigra.


Risya nampak meringis. "Y-ya boleh, sih. Tapi, kan, kayak gak biasanya gitu," cicitnya pelan tapi masih bisa didengar. "Emang gak bareng temen-temen?" Tambahnya sambil menilik ke sekitar sang Kakak.


"Bareng, tapi mereka udah ke kafetaria duluan."


Dua kakak beradik itu terlihat berbincang sedikit hingga membuat Rhaegar memasang raut malas melihat sikap posesif Sigra terhadap wanitanya.


"Rin, jahat banget sih Abang lu! Masa gitu, gak sopan sama adik ipar!" Tukas Rhae yang otomatis langsung memotong percakapan mereka.


Sigra langsung mendelik. "Lu mau gue hajar?" Sahutnya dengan tatapan tajam. Tapi Rhaegar tak takut dan malah semakin menjelekkan ekspresi wajahnya sedangkan Alby tukang tertawa saja.


Risya lantas mendengus melihat kericuhan teman serta kakaknya ini. "Udah ah, jangan bikin masalah," ujarnya sembari menatap ke arah Sigra.


"Bukan Abang, Ca," sergah Sigra. "Itu tuh temen kamu yang ngajak ribut!"


Karena di dekat mereka tak ada siswa lain, jadi Sigra bebas ingin memakai panggilan khusus antara dia dan adiknya. Kalau banyak orang sih lain hal, pasti Risya akan memarahinya juga. Lagipula teman-teman Risya juga sudah tahu hubungan mereka.


Rhae sontak mengelak karena tak terima. "Lah kok lu jadi nyalahin gue? Elu kan yang duluan ngedorong gue!" Katanya.


"Salah lu yang gak ngejaga jarak sama Risya."


"Tapi gue kan gak macem-macem juga!" Sahut Rhaegar.


Risya memandang jengah pada mereka. "Aduh~ bisa diem gak sih kalian? Gue tuh pengen tenang tanpa denger keributan!" Ketusnya kemudian.


"Maaf," ucap Sigra seraya mengusap rambut lembut Risya. Rhaegar juga terdiam dan mengeluarkan sepatah kata setelahnya.


Risya menghela nafas. "Nah daripada itu, mending tanding ini sama gue," tawarnya sambil memperlihatkan bola basket yang sejak tadi berada di tangannya. Daripada gabut, kan, lebih baik bermain biar tidak terlalu stress.


...•...


...•...


...•...


...•...


...Bersambung...