Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
Bab 61 | Tukang Rusuh Comeback



Hari ini sekolah masih berjalan seperti biasa, murid GIBS nampak terlihat gembira pagi ini. Tak tahu apa yang membuat mereka senang, tapi mungkin saja karena festival kemarin.


Soya menghirup dalam - dalam udara segar pagi ini yang belum tercampur polusi. Suasana menyejukkan disekolah masih terasa, mungkin karena halamannya asri sebab ditanami pepohonan hias serta bunga - bungaan lainnya.


Soya melangkah sambil celingak - celinguk ke kiri dan kanan. "Risya mana ya?" Gumam nya pelan. Sedetik kemudian ia terdiam, ia nampak melupakan sesuatu hal.


"Oh iya, dia kan semalem masuk rumah sakit. Mungkin hari ini dia gak sekolah." Raut wajah nya terlihat murung setelah mengingat itu, namun ia paksaan untuk tersenyum dan tetap terlihat biasa saja.


Ia kembali melangkah menuju kelas dengan senyum tipis yang menghiasi bibirnya. Usai beberapa menit, ia pun sampai di depan kelas. Ditilik nya keseluruhan isi kelas, masih agak sepi. Hanya ada sebagian murid yang sudah datang, sisa nya pasti agak siangan.


Pupil nya nampak membesar ketika melihat teman baiknya sudah datang dan duduk tenang didalam kelas. Ia melangkah dan mendekat ke arah meja nya. Laura tak menengok, mungkin saja dia tak menyadari kehadiran Soya karena sibuk dengan ponsel nya.


"Pagi, Lau!" Sapa Soya ketika sudah berada di depan meja nya. Ia menaruh tas, dan ikut duduk disamping Laura.


Yang disapa seketika langsung mendongak kala menyadari suara siapa yang telah menyapa nya. "Oh, Soya. Pagi!" Sahut nya. Ia melirik ke arah pintu kelas. "Kok gue bisa gak sadar sih kalau elu udah dateng?" Tanya nya namun terdengar seperti keluhan.


Soya terkekeh geli, ia mengambil ponsel nya juga dan memainkannya. Mumpung belum bel. "Gimana mau nyadar coba? Lu aja sibuk banget sama ponsel." Gerutu nya.


Laura langsung menyengir ke arah Soya kemudian menatap cewek itu dengan lekat. "Eh, kemarin gimana?"


Soya melirik sekilas, alis nya mengernyit kala mendengar pertanyaan itu. "Apaan?" Tanya nya, bingung.


Laura mendecakkan lidah nya. "Pertandingan nya." Ujar nya membuat Soya mengangguk-anggukkan kepala nya. "Sayang banget gue cuma nonton sebentar. Siapa yang menang?"


"Basket putri kita." Jawab Soya sekenanya tanpa memandang Laura yang tengah tersenyum sumringah.


"Udah gue tebak sih dari awal liat. Pasti Risya yang paling banyak cetak point, kan?" Soya mengangguk saja.


Laura memandangi Soya lekat-lekat. "Muka lu kenapa sih kusut banget? Ada masalah ya?"


Soya menggeleng pelan seraya menjawab, "gak ada, kok. Cuman ada yang gue pikirin."


"Mirikin apaan?" Tanya Laura.


Soya nampak menghela nafas panjang. "Entar deh lu ikut aja kalau jadi." Kata nya hingga membuat Laura bingung. Perkataan Soya terlalu ambigu.


"Ikut keman--"


Belum juga menyelesaikan ucapannya, Soya lebih dulu memotong nya dengan menaruh telunjuk dibibir nya lalu menunjuk ke arah pintu.


Ia mengikuti arah yang ditunjuk oleh Soya, ternyata ada seorang guru yang masuk. Ia menghembuskan nafas kasar, padahal kan tadi belum selesai bertanya. Sungguh ia benar-benar penasaran. Tak apa nanti masih bisa ia tanyakan lagi.


Pembelajaran pun berlangsung seperti biasa. Sebagian murid dikelas ini nampak mengeluh saat melihat kelas lain banyak yang jam kosong. Sial nya kenapa kelas mereka malah belajar?!


KRIINGG..!!


Tak terasa jam pembelajaran telah habis dan digantikan dengan bel istirahat yang telah berbunyi.


Soya merapikan buku pembelajaran tadi kemudian berjalan keluar kelas bersama Laura. Mereka berjalan beriringan sambil melirik sekitar.


Tak ada yang membuka suara sampai mereka tiba di kafetaria. Soya memesan makanan nya dan Laura pun melakukan hal serupa.


"Oi, lu belum ngasih tau gue." Kata Laura ketika mereka sudah selesai mengambil makanan.


"Apaan?" Tanya Soya sambil menatap keseluruhan kafetaria.


"Yang tadi. Emang mau kemana? Jadi apa? Kok main rahasiaan sih?"


Pertanyaan beruntun itu membuat Soya sedikit pusing. "Lu diem dulu deh, entar ngikut aja." Ujar nya. Ya sudahlah, Laura pun mengangguk saja.


"Mending kita cari tempat duduk dulu." Lanjut nya.


"Disana aja, noh!" Laura menunjuk ke arah ketua osis yang tengah duduk sendiri.


"Lu yakin?" Laura menganggukkan kepala. Soya nampak sedikit ragu. Di lihat nya lagi sekeliling tempat ini, memang terlihat penuh semua kecuali meja Angkasa.


"Oke." Akhir nya Soya mengikuti Laura saja.


"Eh, ngomong-ngomong Alby sama Rhae kemana ya? Kok gak keliatan?"


Soya mengangkat bahu nya. "Entah, gue juga gak liat mereka." Ujar nya sambil terus melangkah.


Disalah satu meja didalam kafetaria terdapat beberapa pemuda yang tengah duduk sambil menyantap makanan mereka. Salah satunya nampak menatap ke arah lain, hingga ia tak sengaja melihat dua perempuan yang nampak berjalan ke arah mereka.


"Le." Panggil nya seraya menatap lelaki yang duduk di seberang nya.


Angga hanya menaikan sebelah alis nya menatap lelaki yang duduk didepan Rey itu.


"Suruh Soya duduk disini."


"Ha?" Angga nampak loading mendengar perintah nya. Ia tak salah dengar, kan?


"Van, ngomong yang kenceng. Lele gak denger tuh! Malah ha ho ha ho." Celetuk Rizhan yang membuat Angga cengengesan.


"Lu beneran mau dia duduk disini?" Tanya Angga pada Relvan, seolah memastikan lelaki itu lagi.


Relvan mengangguk sekali hingga membuat Angga bertanya lagi. "Yang bener? Lu gak salah makan kan tadi?"


Angga melirik makanan Relvan dan membuat lelaki itu mendengus kesal. "Gak." Sahut nya singkat.


"Tumben banget, Van?" Heran Rey.


Saat Soya lewat di meja mereka, Angga dengan reflek menghentikan nya dengan cara menarik tangan gadis itu.


Soya yang dihentikan oleh Angga pun terkesiap kaget. Ia menoleh menatap lelaki itu dengan bingung.


"Eh! Ngapa lu?" Tanya nya, heran. Kenapa Angga malah menghentikan langkah nya??


"Mau kemana?" Soya mengernyit mendengar nya.


"Ke ujung dunia! Ya mau duduk lah!" Jawab gadis itu ketus. Pertanyaan nya terlalu aneh, apa Angga tak melihat ia tengah membawa makanan??


"Duduk sini aja." Ucap Angga.


Soya tak langsung menyahut, ia melirik ke arah Laura yang terdiam kemudian menatap beberapa orang yang ada dimeja yang lelaki itu tempati. Memang ada kursi yang kosong disitu namun tidak mau duduk disana.


"Ogah!" Sahut nya. Saat ia hendak melangkah, Angga malah menghentikan nya lagi.


"Udah disini aja. Masih muat kok. Cepetan!" Ujar Angga terdengar memaksa. Karena sedari tadi ia ditatap oleh Relvan dengan tajam.


"Dih! Kok maksa?" Tanya Soya. Dan pada akhirnya ia pun mengalah dan ikut duduk juga bersama mereka. Sedikit tak nyaman juga karena ia duduk disamping Relvan.


"Mau tukeran tempat gak?" Bisik Soya pada Laura. Tadi ia mau mengambil tempat itu, namun ia malah keduluan oleh Laura.


Laura yang tengah fokus pada makanan nya pun menengok sebentar ke samping Soya. "Nggak ah!" Tolak nya.


"Please!!" Soya nampak memelas agar teman nya iba terhadap nya, namun sia - sia saja ternyata tak berhasil juga.


"Udah gak apa - apa, dia gak berani macem - macem juga. Mumpung gak ada tukang rusuh disini."


Soya menghela nafas, pasrah. Dan akhirnya ia makan dengan setenang mungkin.


Laura meminum jus di gelas nya sambil menatap mereka satu persatu. Ia mengernyit ketika merasa ada yang kurang diantara mereka.


"By the way, temen kalian yang satunya mana?" Tanya nya membuat Rey menatap nya sinis. Soya pun ikut menatap mereka, ternyata personal nya kurang satu.


"Ngapain lu nanya - nanya dia?!"


Laura memutar bola mata, menatap Rey dengan malas. "Santai elah! Nanya doang kali, sinis banget!" Gerutu nya. Rey nampak berdecih pelan dan tak mau menanggapi lagi.


"Dia ada urusan." Rizhan melerai suasana diantara kedua orang itu. Laura yang mendengar nya pun hanya manggut - manggut saja sebagai tanggapan.


"Oh, ya? Urusan apaan?


"Kepo!!" Sahut Rey dan Angga hampir bersamaan.


**


Di sebuah ruang kelas, ada seorang perempuan yang tengah menatap ponsel nya. Ia tak keluar kelas karena ada beberapa materi yang harus ia selesaikan.


Ia mengeratkan gigi kala melihat beberapa foto yang dikirim oleh seseorang kepada nya. Foto itu diambil kemarin kata orang itu ketika festival sudah berakhir.


"Ja**** sialan!! Selagi gue gak ada lu terus-terusan deketin dia?!" Ia mengepalkan tangan nya.


"Jangan harap lu berdua bisa bahagia selagi gue masih ada. Dan kalau gue gak bisa milikin dia, lu juga gak boleh *****!"


Ia mendengus kesal. Kemarin Daddy nya malah gagal culik seseorang dan aneh nya para penculik nya pun hilang tanpa jejak. Bahkan Daddy nya tak bisa melacak keberadaan mereka.


Ia berfikir sejenak. Jangan-jangan perempuan itu juga punya orang dibelakang yang membantu nya secara diam - diam?


Sialan! Ia tak bisa membiarkan ini, ia tak suka melihat perempuan itu bahagia.


Ia menggeram tertahan. "Dasar ja****!!" Umpat nya. "Lihat aja lu! Gue bakal bikin lu dijauhin sama dia dan dijauhin semua orang juga."


Ia tersenyum miring, murid - murid dikelas juga tak ada yang menyadari. Pun sedari tadi ia menggerutu dalam hati jadi tak ada yang mendengar.


"Biar lu tau rasanya sakit itu gimana, terus terpuruk dan mungkin bisa aja lu bunuh diri." Ia tertawa sinis dalam hati. "Jadi gue gak perlu susah - susah lagi nyingkirin elu."


"Tinggal cewek yang satu lagi. Gue lihat dia juga gak terlalu bahaya dan bisa ngancem posisi gue, berarti gue singkirin dia terakhir."


Ia tersenyum kemudian kembali melanjutkan pekerjaan tadi.


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...Bersambung...