Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
Bab 82 | Mulai Mendekati



"Udah siap?"


"Siap!"


"Go!"


Risya menggenggam jari telunjuk Daddy Vino dengan erat sambil berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Setelah dipikir - pikir lagi, Daddy Vino memutuskan untuk membawa putri nya pulang ke rumah saja dan merawat gadis kecil itu disana.


Tentu saja Risya tidak menolak keputusan sang Daddy karena itu memang keinginan diri nya sejak awal yaitu, pulamg ke rumah. Selain supaya mereka tidak jauh menjenguk nya ke rumah sakit, di rawat di rumah membuat nya tidak akan merasa kesepian. Sebab jika Daddy Vino dan Mommy Aliya pergi bekerja serta Sigra yang pergi ke sekolah, masih ada Bibi di rumah dan ART lain nya yang bisa menemani nya kala ia merasa sendirian.


"Caca mau makan ice cream, mau pancake strawberry, mau-"


"Gak," sahut Sigra yang sedari tadi diam sembari mengikuti Mommy, Daddy dan adik perempuan nya itu pun kini ikut menimpali celotehan yang keluar dari mulut Risya.


Risya lantas mendelik ke arah Sigra dengan tatapan sinis. "Dad! Liat Abang," adu nya pada sang Daddy.


"Sigra," tegur Daddy Vino membuat Risya sontak memeletkan lidah ke arah Sigra yang memandang nya dengan jengah.


"Dasar cepu!" Desis Sigra pelan. "Tapi kamu baru sembuh, Ca," kata lelaki itu lagi.


"Ya, tau. Emang nya Caca ada bilang mau makan semua itu sekarang?" Tanya Risya sambil tersenyum mengejek.


Sigra yang tak dapat berkata - kata lagi pun memilih diam dan mengantar mereka ke depan mobil. Mommy terkekeh pelan sekarang Risya suka sekali berdebat dengan Sigra dan menjahili Abang nya itu padahal dulu seperti nya mereka terlihat tak sedekat ini.


Mommy, Daddy serta Risya kini masuk ke dalam mobil, sedangkan Sigra tak ikut karena ia ingin menjenguk Relvan sebentar. Tadi lelaki itu sudah berjanji dengan teman - teman nya.


"Abang gak ikut masuk mobil?" Sigra menggelengkan kepala membuat Risya mengerutkan dahi nya. "Kenapa?" Tanya nya lagi.


Sigra hanya tersenyum, menutupkan pintu mobil lalu melambaikan tangan ketika mobil sudah melaju meninggalkan rumah sakit.


"Kenapa?" Risya menatap Mommy dan Daddy nya dengan tatapan bertanya.


"Abang kamu ada urusan sebentar," sahut Mommy Aliya seraya mengusap rambut putri nya lembut.


"Urusan apa?"


Daddy Vino menatap ke arah putri nya. "Kata nya teman sekolah nya masuk rumah sakit. Jadi dia mau jengukin."


Risya mengernyit dalam. "Satu rumah sakit sama Caca tadi?" Daddy Vino mengangguk sembari mengusal pelan rambut putri nya.


"Hm?" Risya masih mengernyit sambil mengusap dagu seolah sedang berfikir. Melihat hal itu, sang Mommy jadi ikut bingung dan segera menanyakan nya pada putri nya tentang apa yang sedang dipikirkan oleh Risya


Risya menggeleng pelan seraya mengulas senyuman manis agar sang Mommy tidak khawatir. Tapi di dalam kepala nya tak berhenti berpikir dan menerka - nerka siapa yang tengah dijenguk oleh Sigra.


Hm? Apakah Relvan?


**


"Sorry lama," ucap Sigra saat sudah melangkah masuk ke dalam ruangan tempat Relvan dirawat.


"Yoi, bro!" Rey langsung menyahut sebelum Relvan membuka mulut nya untuk bersuara.


"Ngomong - ngomong elu ngapain sih?"


"Maksud nya?" Sigra menatap Angga dengan bingung. Rizhan yang berada di sebelah Angga lantas mencubit pinggang lelaki itu sedikit keras hingga membuat Angga meringis tertahan.


"Gak ada, gak ada. Gue salah nanya," ujar Angga sambil nyengir kuda. Angga masih meringis seraya melirik si pelaku yang terlihat cuek tanpa perasaan bersalah pada nya.


"Cewek lu udah pulang?" Tanya Sigra seraya duduk di kursi yang bersebelahan dengan ranjang pasien. Relvan sudah duduk juga sambil menyandarkan punggung nya, tak enak kan kalau ia rebahan saat teman yang satu nya ini datang?


Relvan mengerutkan dahi nya. "Cewek gue?" Tanya nya memastikan.


"Nina maksud nya, Van," timpal Rey.


"Oh, iya. Tapi dia bukan cewek gue," ucap Relvan enteng.


"Bagus dah." Sigra bergumam pelan dan tak terlalu mendengarkan kalimat terakhir dari ucapan Relvan. "Sorry, gue gak bawa apa - apa."


"Njir!! Kayak sama siapa lu, Gra!" Celetuk Rey yang merasa aneh dengan perkataan teman nya itu. Biasa nya Sigra tak pernah merasa tak enakan seperti itu, apalagi dengan laki-laki seumuran dengan mereka.


Relvan mengulum senyum tipis nya. "Sans aja, Gra. Lagian tuh curut bertiga kagak ada bawa apa - apa juga dah." Rizhan, Angga dan Rey sontak menjelek - jelekan wajah mereka karena merasa disindir oleh Relvan.


"Besok lu udah bisa sekolah lagi?"


Relvan kembali mengulas senyum tipis nya. "Ya, kayak nya gitu," sahut lelaki itu.


"Papa lu pasti gak elu bolehin, Van," sergah Angga.


"Kenapa emang?"


"Elu kan masih sakit," sambung Rey.


Relvan mengerutkan dahi nya. "Gue udah sehat," sahut nya. Ia yakin pasti Papa nya akan mengizinkan nya untuk sekolah besok, lagipula kan hanya kepala saja yang terbentur, sedangkan kaki nya masih baik - baik saja jadi tak ada hambatan saat berjalan.


"Cih! Gii idih sihit. Matamu!!"


Relvan mendecakkan lidah nya. "Gue emang sehat," sahut lelaki itu lagi.


"Taruhan yuk! Tebak Relvan besok sekolah apa enggak?" Ajak Rizhan pada keempat orang teman nya.


"Taruhan nya apaan?" Tanya Angga.


Rizhan mengetuk - ngetuk dagu, memikirkan pilihan yang sedikit menguntungkan untuk mereka. "Kalau Relvan sekolah, kita wajib traktir Relvan di kafetaria," kata nya kemudian.


"Kalau dia gak sekolah?"


"Kalau dia gak sekolah, berarti Relvan harus kasih satu black card punya dia buat kita semua. Gimana?" Tanya Rizhan sambil menaik - naikan kedua alis nya.


Sontak kedua lelaki yang duduk di sofa yang sama dengan Rizhan pun saling pandang dan tersenyum devil. Rey langsung beranjak menghampiri Relvan lalu menjabat tangan tangan lelaki itu.


"Deal!" Ucap Rey sambil terkekeh.


Relvan yang sedang terbengong sebentar baru kini kembali tersadar. "Oi! Ini taruhan nya gak adil! Gue belum setuju," sergah nya tak terima. Ini nama nya dia yang rugi besar.


"Eits! Gak bisa nolak, tadi sudah deal." Rey tertawa puas melihat wajah kesal Relvan, ia kembali melangkah dan duduk bergabung dengan Angga dan Rizhan.


"Tos dulu kita bertiga, karena nebak Relvan gak sekolah besok." Rizhan, Angga serta Rey ber-tos ria sambil terkekeh melihat raut wajah kedua lelaki yang tengah memandang ke arah mereka.


"Lu ikut sirkel mana, Gra?" Tanya Angga. Sigra seketika menaikan sebelah alis nya tapi tak langsung menyahut pertanyaan Angga.


"Kalau Sigra sependapat sama Relvan, berarti Sigra harus serahin satu black card dia ke kita juga," tukas Rizhan sambil terkekeh geli.


Kini giliran Angga yang menjabat tangan Sigra seraya berkata, "deal!"


"Gue gak ikutan," acuh Sigra.


"Cih! Gak gentle," celetuk Rizhan.


"Oke gue ikut."


Relvan memandang teman - teman nya yang tak waras itu dengan malas. Besok ia harus mematahkan tebakan dan semangat mereka untuk menguasai kartu hitam milik nya. Sekali - kali mengerjai mereka yang suka kurang ajar pada nya, ia kemudian menyeringai dalam hati.


Pada akhir nya besok Relvan benar - benar berangkat ke sekolah bersama teman - teman nya. Rizhan, Angga dan Rey nampak lesu karena harus mentraktir Relvan dan Sigra.


"Gara - gara elu nih!" Keluh Rey sembari menarik pipi Rizhan sebagai pelampiasan kesal.


"Kok gue?" Tanya Rizhan seraya menepis tangan Rey.


"Elu sih ngajakin taruhan."


"Kalian nya juga mau," sahut bocah itu. Saat Angga hendak menyergah, Rizhan langsung membekap mulut nya.


"Sstt!! Udah diem, berisik!" Rizhan kemudian melepaskan tangan nya. "Gak boleh disesali kalau udah terlanjur."


"Dasar si bocah!" Gumam Rey dan Angga bersamaan.


Saat jam istirahat telah tiba, keempat lelaki itu kini berjalan menuju kafetaria sekolah. Di dekat persimpangan selasar kelas, mereka berpapasan dengan Nina yang hendak menuju ke arah yang sama. Jadi sekalian barengan aja.


"Udah sembuh, kak?"


"Udah." Relvan mengusap kepala Nina membuat perempuan itu tersipu sambil mengulas senyuman manis.


"Serius?"


"Iya," sahut Relvan dengan senyuman tipis.


"Syukur deh kalau gitu, jangan sakit lagi ya," pinta Nina dan Relvan mengangguk saja.


Mereka meneruskan langkah dan sampai lah di kafetaria sekolah. Mereka memesan makanan masing - masing disana berserta minuman nya.


Sigra sendiri memilih mengambil bakso saja dan minum nya air mineral karena ia tak terlalu menyukai teh sebagai teman bakso.


Sigra mengulurkan tangan dan hendak membuka lemari pendingin namun terhenti dan tidak jadi karena Nina yang lebih dulu menyentuh gagang lemari.


Nina melirik Sigra yang terdiam. "Kakak mau air mineral juga ya?" Cewek itu membuka lemari pendingin lalu menatap ke arah Sigra karena merasa tak menerima jawaban.


"Kak."


"Ya," sahut Sigra menjawab pertanyaan cewek itu.


Nina nampak mengulum senyum nya dan segera mengambilkan sebotol air untuk Sigra. "Biar aku yang ambilin." Ia meraih air mineral lalu menyodorkan nya ke hadapan lelaki itu. "Ini," kata nya.


Sigra menatap botol di tangan cewek itu sejenak kemudian meraih nya. "Thanks." Setelah berterimakasih, Sigra berbalik mendekat ke arah teman - teman nya.


Angga melihat Sigra dan Nina yang melangkah ke arah mereka. "Sekarang kita cari tempat duduk," ajak nya. Lalu berjalan diikuti teman - teman nya.


"Sana aja, noh! Di tengah kosong." Rey menunjuk meja bagian tengah di kafetaria.


"Yuk! Entar malah keduluan orang lain." Mereka mengangguk setuju dan lekas menuju ke sana.


Angga→Rey → Sigra


↑ meja ↓ (posisi duduk)


Zhan→Relvan→Nina


"Kok lu bisa diizinin sama bokap lu buat sekolah sih, Van?" Tanya Rey dengan nada mengeluh. Padahal Relvan dan Sigra sudah bilang bahwa mereka tak perlu ditraktir dan bisa membayar sendiri tapi ia masih bersikeras dengan alasan lelaki harus bisa menepati janji.


"Kenapa? Gue gak boleh sekolah gitu?"


"Bukan gitu, tapi kan lu belum sembuh," sambung Rey dengan cengiran, Relvan hanya menaikan sebelah alis nya lelaki itu.


"Belum sembuh total maksud Rey, Van," timpal Angga sambil ikut nyengir. Kaki panjang nya kini menendang kaki Rizhan yang berada dibawah meja. "Iya kan, Zhan?" Tanya nya meminta persetujuan.


Rizhan sontak mengejek mereka lalu berbisik pada Relvan. Setelah itu ia menatap kedua nya seraya memeletkan lidah ke arah Angga dan Rey. Nampak nya bocah itu tak mau berpihak pada mereka.


"Ck. Gue udah sembuh total," ujar Relvan. Angga hendak menyahut lagi tapi tak jadi saat mendengar ancaman Relvan. "Berisik sekali lagi gue tendang lu berdua dari meja sini."


Sigra tak ikut menimpali obrolan teman - teman nya memilih diam dan memperhatikan saja. Tangan nya hendak mengambil botol saos yang berada di dekat Nina.


Nina yang melihat itu berinisiatif sendiri mengambilkan nya untuk Sigra. "Biar aku yang tuangin," ucap nya sekalian. Sigra menatap Nina yang menuang saos ke dalam mangkok milik nya, sedetik kemudian ia menahan tangan Nina membuat cewek itu menatap ke arah nya.


"Udah, ini kebanyakan."


Nina sontak tersenyum canggung. Bodoh! Kenapa ia tak bertanya dan lebih dulu mengambil tindakan. "Em maaf, kak."


Sigra mengangguk sekali seraya mengaduk bakso milik nya dan kemudian melahapnya. Nina kembali memakan makanan nya juga sambil merutuki diri nya sendiri dalam hati.


Nina meraih air mineral milik nya, tangan nya berusaha membuka tutup botol itu namun tak bisa. "Kak Sigra, bisa tolong bukain air mineral aku?" Sigra menatap Nina datar, meraih botol mineral itu dan membantu nya membuka.


"Makasih," ucap Nina dengan senyuman manis.


Relvan yang sedari tadi terlihat fokus pada makanan hanya diam, padahal sedari tadi juga ia terus menyaksikan interaksi kedua orang itu. Tak ada rasa cemburu di benak nya, jadi ia biasa saja.


Namun ada beberapa pertanyaan yang muncul begitu saja, tumben Nina tidak meminta tolong pada nya? Biasa nya ia tak terlalu memperhatikan Sigra. Ada apa dengan perempuan itu?? Batin nya terus berbicara.


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...Bersambung...