Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
Bab 34 | Keadaan yang Memanas



Bunyi pecahan kaca seketika menyadarkan Laura dari lamunan, ia tersentak seraya menatap ke lantai dimana Soya yang nampak jatuh terjerembab. Dan beruntung wajah Soya tak mengenai keramik karena siku yang menahan. Makanan nya sudah berhamburan serta gelas yang dibawa telah pecah akibat terhempas.


Kafetaria hening. Laura mengerjap pelan, ternyata suara itu karena Soya terjatuh toh? Wait!!


Laura segera melangkah cepat menghampiri Soya yang masih tak beranjak. Makanan nya sudah ia letakan sembarang di meja orang, tak perlu dipikirkan ia harus membantu teman nya dulu.


"Soya! Lu kenapa? Lu ngapain begini dilantai?!" Tanya nya beruntun.


Laura melirik tangan Soya yang terkena pecahan gelas dan mengangkat nya. "Ya ampun! Tangan lu berdarah!!" Jerit nya.


Soya tak menyahut ucapan Laura, ia beranjak dan menatap nyalang orang yang menyebabkan ia terjatuh. Penghuni kafetaria tak ada yang bersuara, mereka semua bungkam dan melihat kejadian selanjut nya. Entah keberuntungan atau kesialan karena tak ada guru yang berada disini.


Brak!


Soya menggebrak meja dengan kekesalan yang luar biasa. Penghuni meja tentu saja terkejut atas ulah gadis itu.


"Maksud lu apa sih?!" Pekik Soya.


"A-ap-"


"Lu kenapa nyari gara-gara mulu sama gue hah?!" Potong Soya. "Lu kira gue gak tau apa?! Elu kan yang udah ngalangin kaki buat gue jatuh?!!"


"Soya, aku nggak-"


"Apa?! Lu mau berlagak kalau bukan lu penyebab nya, gitu?!"


Rey beranjak dari duduk nya, ia melangkah dan menyergah ke arah Soya. "Lu apaan sih? Malah nyalahin orang yang lagi makan," ucap nya membela.


"Iya gue tau kalau mata lu buta," geram Soya dengan suara dalam. Dan sekali lagi ia menggebrak meja tersebut membuat seisi kafetaria terperanjat. "Tapi semua orang juga lihat kalau dia yang nyari gara-gara!!!" Pekik Soya seraya menunjuk tepat di depan wajah Nina.


Soya mengalihkan pandangan menatap penghuni kafetaria. "Lu semua lihat kan?!" Mereka nampak terdiam membuat Soya memekik geram. "Jawab!!" Geram nya. Seisi kafetaria pun mengangguk reflek.


Ya, sebenar nya sebagian dari mereka melihat kejadian tadi kalausanya penyebab Soya terjatuh adalah karena tersandung kaki Nina. Dan kalau yang tidak melihat bisa bilang ini tak mungkin, karena kaki yang menghalangi itu hanya terlihat sepintas saja kemudian di tarik kembali saat target nya terjatuh. Tapi bagi yang melihat mereka tak bisa bilang bahwa ini ketidaksengajaan, lagian jarak meja ke meja lain tak terlalu jauh.


Soya berdecih kala Rey nampak terdiam, teman-teman se meja nya pun tak ada yang mau angkat bicara bahkan Relvan?


"Lu lihat kan sekarang?!" Tanya Soya. "Nggak bisa ngomong lagi kan lu?" Lanjut nya lagi.


"Hiks.. a-aku nggak sengaja Soya, hiks." Tukas Nina membuat sebagian orang merasa kasihan pada nya.


"Tuh kan?! Dia aja bilang gak sengaja kok, lu nya aja yang berlebihan!" Bela Rey lagi.


"Berlebihan mata lu tiga!! Tangan Soya sampai berdarah gitu lu bilang berlebihan?! ****** lu aja noh yang sengaja nya berlebihan!!" Pekik Laura geram.


Plak!


Suasana mendadak hening ketika sebuah tamparan mengenai pipi kiri Laura. Tak ada dentingan sendok yang terdengar atau pun gesekan kursi saat manusia beranjak.


Rasa nya begitu membekas dan perih, Laura sampai menoleh saking kencang nya tamparan yang dilayangkan itu.


"Maksud kamu apa Ra?! Aku nggak punya masalah apa apa ya sama kamu!" Sergah Nina dengan berurai air mata.


Laura mengembalikan tatapan nya dan menatap Nina tajam. Sedangkan Soya terdiam, dalam diam nya ia mengeratkan gigi serta mengepalkan tangan menahan amarah yang sedari tadi ingin meluap.


"Tapi lu punya masalah sama temen gue bangsat!" Ucap Laura seraya menyambar sebuah gelas yang berisi air dan menyiram nya ke wajah Nina.


"Akhh!!!" Pekik Nina ketika air itu mengenai wajah nya.


Relvan beranjak dan menendang kursi di samping nya, membuat kursi itu terpelanting jauh. Mereka semua terperanjat dan seketika perhatian orang orang teralih pada Relvan.


"Berisik!!" Tukas Relvan dingin.


Di antara keributan itu, dua orang teman yang se meja dengan mereka hanya duduk terdiam dan tak beranjak sedikit pun. Bahkan mereka sempat sempat nya makan dengan santai di saat begini, walau tadi sempat terganggu saat Soya menggebrak meja mereka.


"Angga nggak misahin Soya?" Tanya Rizhan berbisik dengan mulut yang masih mengunyah.


"Nggak usah, dia bisa selesain sendiri. Kecuali emang sudah keterlaluan, gue bakal turun tangan," sahut Angga. Rizhan pun mangut mangut.


Angga tahu kalau Soya itu adalah gadis yang kuat, luka di tangan Soya tak berarti apa apa bagi gadis itu dan bagi nya itu hanya lah luka kecil. Tapi satu hal yang di takutkan Angga, ia takut jika sesuatu yang ada di dalam diri Soya mencoba memaksa keluar.


Relvan melangkah pelan ke arah Soya berdiri, setiap langkah lelaki itu membuat jantung penonton berdegup, mereka deg degan dan menerka nerka apa yang akan di lakukan lelaki itu selanjut nya.


"Lu gak ada puas nya ya bikin masalah?" Tanya Relvan dalam.


"Gue?" Soya tak menyangka Relvan akan berkata begitu, padahal jelas jelas Nina lah yang mencari masalah dengan nya.


"Gue lu bilang? Harus nya lu bilang gitu ke cewek yang udah rebut elu dari gue, Van?!" Pekik Soya. Tak tahan lagi, air mata nya ikut merembes keluar.


"Harus nya lu bilang itu ke dia! Bukan ke gue!!" Pekik Soya lagi dengan nafas yang memburu. "Dia yang bikin gue jatuh! Dia sengaja bikin malu gue di depan umum!! Kenapa lu disini cuma nyalahin gue?!!" Lanjut nya.


"Cukup.." ucap Relvan.


"Kenapa? Apa karena gue gak pernah ada di mata lu? Apa gue gak berarti? Gue yang duluan berjuang kenapa dia yang lu terima? Kenapa?! Kenapa lu gak pernah suka gue, Van?!!"


"Cukup Soya!!" Bentak Relvan. "Berhenti ngejar gue, gue gak bakal pernah suka sama lo!!!" Lanjut nya lagi dan tanpa sengaja mendorong Soya dengan tenaga hingga terjatuh ke lantai.


Para siswa menjerit histeris saat Soya terjatuh dan telapak tangan nya mengenai beling yang ada di lantai lagi. Relvan tersentak kaget akan hal itu, ia ingin melangkah. Belum sempat itu terjadi sebuah bogeman menghantam wajah Relvan hingga membuat nya mundur beberapa langkah.


"Angga!!" Pekik Nina.


Ya, orang yang memberikan bogeman pada wajah Relvan adalah Angga. Ia yang sedari tadi diam sekarang beranjak tak terima. Ia menonjok wajah Relvan habis habisan lalu di balas balik oleh sang empu. Habis sudah batas kesabaran Angga, ia tak apa jika Relvan menyakiti Soya dengan perkataan. Tapi jika fisik? Angga tak bisa diam.


Rey serta Nina membantu melerai dua lelaki yang saling tonjok menonjok, mereka sampai kewalahan. Sedangkan Laura, ia membantu Soya berdiri.


"Soya, ayo Laura bantu ke UKS. Tangan Soya berdarah," tukas Laura. Soya memandangi teman nya yang menitikan air mata. "Maaf, Laura belum bisa jadi teman yang baik.." ucap Laura lirih.


Ia memapah Soya keluar kafetaria, meninggalkan perseteruan yang masih berlangsung dan tak menoleh lagi.


Sedangkan satu orang diantara yang lain, seorang lelaki yang tengah duduk, tak beranjak, tak membantu, ia hanya menonton santai dengan tatapan polos nya.


Memandang ke depan kemudian menoleh tepat ke arah jam 9. Ia tersenyum tipis menatap perempuan yang juga sedang memandang ke arah nya.


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...tbc...