Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
Bab 101 | Terlepas Dari Semuanya



Risya berjalan beriringan bersama kedua teman nya, Alby dan Rhaegar. Padahal sekarang harus nya sudah masuk pembelajaran, tetapi bel tidak terdengar.


Di depan sana, tepat di depan mading sekolah, para siswa nampak berbondong-bondong dan berkerumun entah tengah melihat apa. Alby yang nampak kepo pun langsung menolehkan kepala memandang Risya serta Rhaegar.


Ia bertanya, "kok rame banget sih di depan mading?" Rhaegar menatap sekilas dan menanggapi nya dengan gelengan kepala.


"Mau liat dulu gak? Atau mau langsung ke kelas aja?" Tanya Risya.


"Liat dulu lah, siapa tahu itu berita hot," sahut Alby. Memang kepoan anak nya jadi jangan heran ya.


Sebenar nya Risya sedikit malas melihat berita itu, namun tak apa lah, jadi ia mengangguk saja lalu mengikuti kedua teman nya.


Risya, Alby dan Rhae masih tak bisa melihat apa yang terdapat di mading, ketiga nya terjebak di antara kerumunan. Jadi Alby memutuskan untuk bertanya saja pada orang-orang di samping nya.


"Ada berita apaan? Kok kalian ngumpul di sini?" Tanya nya.


Seseorang yang mendengar pertanyaan itu pun langsung menoleh. "Itu loh, kejadian kemarin. Si Nina ternyata bukan di bully sama Soya," sahut orang itu. "Ada foto bukti, jelas itu dua orang yang bully. Dari postur tubuh nya emang bukan Soya."


Alby memasang wajah dongo. "Lah emang iya ya?" Tanya nya.


"Iya, bukan Soya tapi orang lain," sahut murid yang lain lagi. "Seragam nya itu seragam punya sekolah kita sih."


"Parah banget ya, masa Nina cuma diem aja gak ngomong apa-apa," kata mereka lagi. "Dia malah biarin yang gak tau apa-apa kena salah paham."


"Ih, kok gitu sih?"


"Ya gitu, beruntung 'kan Soya gak dapet skorsing. Kalau dapet itu mah rugi yang ada!" Timpal yang lain.


"Kalau gue jadi Soya ya dan sampe di skorsing tapi nyata nya bukan gue yang bikin salah, behh.. udah gue bales kali tuh cewek! Tuduhan mereka udah gue bikin jadi kenyataan dan gak akan nanggung-nanggung juga!"


Bisik-bisik tukang gosip sudah memenuhi pendengaran pada pagi hari yang cerah ini. Sampai masuk ke website sekolah dan grub gosip lain nya tentang hal itu, mungkin sekalian sebagai bukti atas tuduhan sebelum nya pada mereka yang tidak bersalah.


Karena masih berdesak-desakan, Rhaegar menarik lengan Risya dan membawa nya keluar dari kerumunan. Biar saja Alby tertinggal, nanti ia bisa sendiri jalan keluar.


Rhaegar membawa nya sedikit menjauh dari mereka seraya menunggu Alby juga. "Jangan ikut-ikutan nyempil di kerumunan banyak orang, Rin. Lu bisa ilang," ucap nya.


Risya memasang ekspresi cengo nya lalu sedetik berikut nya ia lantas meninju perut Rhae dengan tidak berperasaan. Tak perduli dengan sang empu yang nampak mengaduh kesakitan karena nya.


Apa Rhaegar mengira dia itu anak kecil hingga bisa berpikir seperti itu?? Ia itu sudah besar, dan kalau tenggelam di kerumunan ia tak akan hilang, sebab ia tahu jalan pulang.


***


Bunyi sebuah dentingan ponsel nampak mengalihkan perhatian beberapa orang yang berada di sebuah ruangan.


Relvan, lelaki itu sontak merogoh saku celana nya karena dentingan itu berasal dari ponsel nya. Sebuah nomor tak dikenali mengirimkan sebuah video yang membuat nya mengernyit dan melihat nya dengan lekat.


"Kak, aku--."


Relvan mengangkat satu jari nya, menahan agar Nina tidak berbicara sebelum ia selesai melihat semua nya. Nina menatap Relvan dengan wajah pias, ia takut kalau melihat Relvan marah. Lebih parah lagi jika lelaki itu tak mempercayai diri nya lagi. Jangan sampai itu terjadi!


Relvan mengerlingkan mata nya pelan dengan wajah yang masih datar. "Jadi lu bener bukan di bully sama Soya?" Ia menunggu jawaban yang keluar dari mulut perempuan di depan nya.


Jelas ini memang bukan salah Soya. Argh! Kenapa ia bisa bertindak gegabah, tanpa melihat situasi nya lebih dulu?


Angga mengacak rambut nya sendiri dengan kesal sambil memandang Nina dengan sinis. "Ah lu gimana sih?!" Keluh nya pada perempuan itu. "Kenapa cuma diem aja kemarin? Kenapa lu bilang nya gak dari awal?!"


Nina nampak menitikkan air mata. "Kak, hiks.. bukan gitu." Suara Angga terdengar meninggi hingga membuat nya tersentak, lelaki itu seperti nya benar-benar marah pada nya.


"Tanpa lu sadari, sifat lu yang kayak gini nih bisa bikin nama baik orang seketika jadi buruk di mata orang lain!" Sarkas Angga.


Nina menunduk dalam, tak berani menatap wajah mereka satu persatu. Cemas seketika melanda, ia hanya bisa meremat ujung rok nya dengan tangan yang nampak berkeringat. Sejujur nya dalam hati juga ia tengah mengumpat.


"Le, lu bisa diem dulu gak?" Sergah Rey membuat Angga mengepalkan kedua tangan nya. Ia tahu kok, Rey pasti akan membela Nina walau tahu kalau perempuan itu yang bersalah atas semua nya. Dengan dalih, dia perempuan polos yang belum mengerti apa-apa.


Jadi tolong dimaklumi.


As* lu f*ck!!


Gestur tubuh Angga terlihat sedikit menantang, ia berdiri di hadapan Rey. "Kenapa?" Tanya nya. "Elu gak terima kalau gue nyalahin dia?'


Rey tak langsung menyahut, tangan lelaki itu terlihat mengepal juga. Mungkin merasa panas dengan suasana sekarang ini.


"Dan lu tau." Angga kembali bersuara. "Dia malah jadiin Soya sebagai kambing hitam di sini. Gak nyadar kan lu?" Ia kemudian mendengus. "Waktu kemarin dia ikut ngumpul bareng kita, ada gak dia mau ngejelasin masalah ini? Gue tanya sama lu ada gak?!"


"Angga!" Relvan meninggikan suara nya membuat mereka terdiam seketika. Rizhan saja sampai tersentak saat ia tengah termenung menatap kegaduhan teman-teman nya.


"Ck!" Angga mendecakkan lidah nya dan dengan malas menatap Relvan. Lelaki satu itu juga berada di pihak Nina. So, sudah pasti ia juga ingin membela.


Relvan menatap ke arah Nina, terdengar isakan kecil dari perempuan yang masih menunduk di samping nya. Bukan ingin menyalahkan juga, namun sekarang ia nampak nya tak bisa membela.


"Lu perlu jelasin semua nya ke gue," ucap Relvan pada Nina. "Tapi gue minta lu keluar dulu, bisa 'kan?" Perempuan itu mengangguk cepat lalu bergegas meninggalkan mereka semua.


Selamat kali ini, tapi tidak tau setelah nya.


Relvan menatap Angga. "Kenapa?" Tanya sang empu sambil balas memandang lelaki itu. "Lu juga mau ikutan marah sama gue? Ya udah marah aja!"


Relvan terlihat meringis walau tak merasakan sakit. Ia mengurut pangkal hidung nya karena merasa pusing dengan masalah saat ini. Padahal ini sebenar nya bukan masalah mereka tapi mereka malah ikutan pusing.


"Lu coba tenang dikit, Le, bisa pakai kepala dingin 'kan?" Tanya Relvan. "Nina itu cewek, Le."


"Terus menurut lu Soya itu apa? Cowok?" Sergap Angga kemudian. "Dia sampai gak berani bawa surat peringatan yang diberi kepala sekolah kemarin dan malah ngasih itu ke gue. Elu tau 'kan gimana Elio kalau tau itu?"


Iya, Relvan tau. Kakak laki-laki Soya itu pasti akan marah besar pada adik perempuan nya, apalagi tahu kalau Soya itu seorang pembully.


Sejauh ini Soya memang tak pernah bertindak berlebihan, hanya sebatas omongan. Dan baru kali ini ia dihadapkan dengan masalah sebesar ini.


...•...


...•...


...•...


...•...


...Bersambung...