
"Gimana?" Tanya Rey menatap Relvan yang duduk di bangku sampingnya.
"Dia juga gak tau," sahut Relvan tanpa menatap lawan bicaranya. Ia sedang bermain game, karena kelas mereka juga sedang jam kosong.
"Kok bisa? bukannya kelas mereka gak jauh?"
"Entah."
"Eh, sebenarnya ada yang aneh sih sama data yang gue kirim ke elu kemarin."
"Aneh?"
Rey mengangguk. "Selain nama sama status pelajar dia di sekolah ini, semuanya kayak di sembunyikan, bahkan nama lengkapnya aja gue gak ketemu."
Relvan melirik Rey sekilas lalu kembali menatap ponselnya. "Ya mungkin dia punya privasi tersendiri dan gak mau orang lain tau," ucapnya sambil mengendikan bahu acuh.
Rey menganga tak percaya, kalau Relvan tahu dia punya privasi lalu untuk apa Relvan meminta nya menyelidiki perempuan itu??
"Nah tuh lu tau! Ngapa nyuruh gue nyari tau tentang dia?!" Pekik Rey membuat seisi kelas menatap ke arah mereka.
"Ck." Relvan mendecakkan lidah dan tak menanggapi pekikan Rey.
Rey mengalihkan pandangan menatap seisi kelas. "Apa lihat-lihat?! Mau gue cium?"
Yang lelaki dengan cepat mengalihkan pandangan mereka, sedangkan yang perempuan terang-terangan masih menatap Rey dengan mata penuh cinta, apalagi saat mendengar kata cium dari lelaki tampan tersebut.
Mereka memekik histeris, membuat Rizhan menutup telinga. Pendengarannya terasa berdengung karena pekikan para wanita. "Gila." Gumamnya pelan.
"Tapi kenapa juga sih di sembunyikan, kayak orang berpengaruh aja," keluh Rey setelah semua mata dikelas tak lagi menatapnya. Kemudian ia tersentak sendiri usai mengatakannya. "Jangan-jangan beneran orang berpengaruh lagi!" Sergahnya memandang ke arah Relvan.
Relvan mengendikan bahu membuat Rey merotasikan matanya. "Gue juga penasaran, jangan-jangan elu suka ya sama tu cewek?" Tanya Rey sambil memicing curiga.
Relvan tak bergeming membuat Rey semakin menerka kalau Relvan menyukai perempuan itu. "Beneran suka lu?" Tudingnya.
"Ri-"
Rey langsung menghentikan Relvan ketika ingin menyebut nama itu. Ia menaruh telunjuk di depan bibir Relvan kemudian mencondongkan sedikit tubuhnya ke arah Relvan.
"Jangan sebut namanya.." bisik Rey seraya menutup sisi samping bibirnya dengan tangan. " Lu liat gak tuh di depan?" Relvan menaikan sebelah alisnya tapi tetap mengikuti arah lirikan Rey. "Telinga pak wakil itu tajem, gue gak ngerti tapi Sigra terlalu sensitif kalau kita sebut nama dia."
Rey kembali menegakan tubuh dan membenarkan posisi duduknya. "Satu alasan deh!"
Relvan menghela nafas. "Mirip seseorang," ucapnya.
"Mirip seseorang? Sia-"
Kriiinggg..
Rey tak dapat melanjutkan pertanyaannya lagi karena bel istirahat telah berbunyi di tambah ketiga temannya sudah mendekat ke meja mereka.
"Kafetaria kuy!" Ajak Rizhan memandang ke empat temannya.
"Yok lah!" Sahut Angga.
Relvan juga Rey beranjak mengikuti mereka yang melangkah ke luar kelas.
................
Kelas XI-IPS1
Hatchiii! Hatchiii! Hatchiii!
Risya mengusal hidungnya yang terasa gatal, ia bersin beruntun sebanyak tiga kali sampai membuat Rhae serta Alby khawatir.
"Gue gak sakit," ucap Risya kala dua temannya terus-terusan mengajaknya ke UKS.
"Tapi lu bersin mulu, biasanya itu tanda-tanda flu," tukas Alby
"Bukan. Kayaknya ada yang ngomongin gue deh," celetuk Risya dengan tangan yang masih mengusal hidung.
"huh? ngomongin elu?"
•
•
•
Sesampainya di kafetaria, mereka mengedarkan pandangan menilik seisi tempat dan memilah meja yang akan mereka tempati.
"Mau ngambil sendiri apa di ambilin?" Tanya Angga menatap mereka satu persatu.
Rey yang berada di dekat Angga pun merangkul pundaknya dengan wajah sumringah. "Di ambilin lah coy! Tumben lu baik, kena angin apaan?"
"Giliran gue baik aja masih di tanyain, gak jadi nih!" Sungut Angga.
"Eh gak bisa dong! Udah ngomong begitu lu."
"Udah sana, berisik banget kalian dua," sergah Relvan.
"Iya, berisik," timpal Rizhan.
"E-eh kok gue juga?!"
"Diem monyet!"
"Rizhan juga ikut deh, mau beli susu." Rizhan berlari kecil menyusul keduanya.
Tersisa Sigra dan Relvan yang hanya diam sepeninggalan tiga temannya. Tak ada yang membuka suara diantara mereka dan tak ada yang mau memulainya lebih dulu.
Sigra menghela nafas seraya mengedarkan pandangan, netranya menangkap seorang gadis yang tak lain adalah adiknya sedang tertawa bersama dua orang temannya. Sigra mengerutkan kening, laki-laki lagi? Apa teman Risya semuanya lelaki? Kenapa tak berteman dengan perempuan saja?!
Sigra mendecakkan lidah membuat Relvan yang bersebelahan dengannya melirik. Ia mengikuti arah pandang Sigra pada sesosok gadis yang nampak tertawa.
Relvan jadi teringat perkataan Rey bahwa Sigra akan jadi sensitif jika menyangkut dengan Risya. Apa kalau orang pacaran memang begitu ya? Dia sih tidak tahu bagaimana itu karena belum pernah punya pacar, kalau sekedar dekat seperti Nina, dia pernah. Tapi juga tak pernah se sensitif itu.
"Diva."
Sigra lantas menoleh dengan dahi yang berkerut, apa ia salah dengar kalau Relvan memanggilnya Diva? Apa ketuanya amnesia kalau Sigra tak akan suka jika disebut dengan nama itu.
"Why?"
Relvan mengangkat sudut bibirnya, padahal Sigra tak menyukai itu tapi mau-mau saja menyahut. Apa karena ia ketua?
"Cewek lu?"
Sigra melirik Risya sekilas kemudian memandang Relvan datar. "Bukan."
"Kalau gue dekat-"
"Maksud lu apa?" Sergah Sigra cepat, rautnya berubah dingin.
Relvan hanya terkekeh, ternyata benar adanya Sigra jadi sensitif menyangkut hal itu. Ia menepuk bahu Sigra dan mengatakan tidak apa ia hanya salah bicara. Bertepatan dengan datangnya tiga anak piyak di geng-nya.
"Wih akur ya kalian," kata Angga.
Rizhan mengernyit sambil menaruh sekotak susu serta makanan. "Memangnya mereka pernah berantem?"
"Nggak sih."
Rey tertawa kecil lalu ikut duduk bersama mereka. "Ngomongin apaan?"
"Nggak," ucap Relvan dan Sigra bersamaan membuat Angga, Rey serta Rizhan saling pandang. Sudah begini saja mereka berdua malah kompak.
"Hai, kak! Boleh aku gabung disini?"
Rey mengangkat kepala. "Duduk aja, Nin." Ucapnya mempersilakan.
Nina tersenyum manis lalu duduk di samping Relvan yang kosong. "Aku duduk disini ya?"
Relvan mengangguk dan mengelus puncuk kepala Nina. Nina dengan senang hati dan tak keberatan dengan ulah Relvan, toh ia juga menyukainya.
Sedangkan di meja lain, Risya menilik mereka dengan seksama.
"Lihat apaan sih?" Tanya Rhaegar dan ikut menilik apa yang dilihat Risya.
"Kenapa liatin mereka sih, emang yang disini kurang tampan?" Imbuhnya lagi.
Risya mendelik sebal, memangnya siapa juga yang memperhatikan tampang mereka, orang dia tengah memperhatikan satu perempuan ditengah para most wanted itu.
"Kurang. Bahkan setengah sendok teh pun gak sampe."
"Alby lihat tuh Egar," adu Risya ketika Rhaegar mengangkat tangan hendak menjitak kepala Risya.
"Rhae." Tegur Alby.
Risya mengejek Rhaegar yang terlihat kesal. Ia suka mengadukan Rhaegar pada Alby karena sekarang Alby akan membelanya jika Rhae menjahilinya.
Risya terdiam sejenak, ia melirikan bola mata ke atas sesaat lalu menatap Rhaegar. Rhae ini adalah tokoh tersembunyi di dalam novel yang juga menyukai tokoh protagonis wanita lalu nanti ikut bersaing dengan male lead serta kawan-kawannya.
Apa sekarang Rhae sudah memiliki perasaan pada Nina ya?
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
...tbc...