
Seorang pemuda mungil tengah berguling-guling di atas kasur empuk milik nya. Ia bingung ingin melakukan apa dihari ini, ia tak punya teman di tambah rumah nya juga sepi karena kedua orang tua nya tengah pergi.
"Telepon Lele ah." Gumam nya seraya mencari kontak Angga lalu menghubungi nya.
Angga tidak mengangkat telepon nya membuat pemuda itu menggerutu kesal. "Huh? Kok gak diangkat?"
Ia terlihat bingung lalu mencoba menghubungi Angga lagi namun ternyata berakhir sama. Angga tak mengangkat telepon nya.
"Apa Lele sibuk ya?" Pikir nya.
"Apa telepon Rey?"
"Hmm.. Zhan gak deket sama Rey, dia juga agak galak. Dia gak cocok sama Zhan tapi kenapa dia bisa se frekuensi sama Lele ya?"
Pemuda yang bernama Rizhan itu mengerucutkan bibir nya sambil memutar-mutar mata nya kesana kemari. Lalu mengubah posisi tubuh nya jadi tengkurap.
"Apa Relvan? Tapi Zhan gak yakin. Kalo Sigra kayak nya emang gak bisa."
Posisi nya kini berubah lagi jadi terlentang. Ia menatap langit-langit kamar nya. "Jalan - jalan sendiri aja dah. Jarang - jarang Rizhan jalan tanpa pengawasan."
Ia beranjak sambil tersenyum senang dengan keputusan terakhir nya. Usai bersiap, ia pun keluar dari kamar, tanpa pamitan karena tak ada sesiapapun di rumah nya.
Setelah memeriksa rumah dengan benar, ia segera mengunci pintu lalu bergegas ke garasi motor.
Menyalakan motor nya dan memanasi kuda besi itu sebentar, memasang helm, baru kemudian melajukan motor nya.
Jalanan nampak terlihat ramai, dari ujung sana sampai ujung sini karena banyak kendaraan roda dua dan empat yang berlalu lalang dijalan ini.
Disepanjang perjalanan, Rizhan terus bersiul karena terlalu senang jalan - jalan tanpa pengawasan.
Ia menghentikan laju motor nya dan singgah di penjual takoyaki di pinggir jalan. "Kang! Berapaan?" Tanya nya.
"Dua puluh ribu satu kotak ini." Kata Akang penjual.
Rizhan menganggukkan kepala. "Satu ya, kang!"
Ia berdiri dan menunggu sambil menatap sekeliling tempat ini. Jajanan nya pasti enak karena banyak yang membeli disini.
"Ini, dek."
"Terimakasih." Sahut Rizhan seraya memberikan uang pas pada penjual dan ditanggapi dengan anggukan ramah.
Ia duduk di sebuah kursi seraya memakan makanan yang ia dibeli tadi. Usai makan, ia beranjak lagi dan mengendarai motor nya menembus jalanan kota.
"Hmm.. mau kemana lagi ya? Rizhan masih laper."
Berkendara sambil berfikir namun beruntung tak menghilangkan fokus nya pada jalanan. Ia singgah di jajanan sotong goreng tepung di seberang Sekolah Dasar Purnama.
"Akang! Beli ini." Rizhan menunjuk sotong goreng tersebut dan si penjual pun segera menyajikan pesanan pemuda itu.
"Terimakasih." Rizhan membayar kemudian meninggalkan tempat tersebut. Ia menghabiskan semua jajanan itu dengan mood yang sangat baik.
Setelah puas berkeliling, Rizhan singgah ke taman yang berada di belakang salah satu universitas ternama di negara X.
Ia melihat banyak anak kecil bersama keluarga nya tengah menghabiskan waktu bersama. Rizhan tersenyum manis melihat nya namun senyum nya seketika luntur kala melihat seorang anak kecil duduk sendiri di pinggir taman sambil membawa sebuah keranjang berukuran sedang.
Di hampiri nya anak kecil tersebut yang ternyata sedang berjualan kue. Anak kecil itu melihat ada yang mendekat pun mendongakkan kepala nya menatap Rizhan.
"Kakak mau beli?" Tanya nya.
Rizhan hanya tersenyum saja lalu ikut duduk disamping anak laki - laki itu. "Ini jualan punya adik sendiri?" Tanya nya seraya melirik keranjang kue di tangan kecil anak itu.
"Punya ibu." Sahut anak itu.
"Adik bantu ibu jualan ya?"
Anak kecil itu mengangguk. "Sering jualan disini?" Tanya Rizhan, sudah seperti ingin menginterogasi orang.
"Iya, sering nya disini karena banyak orang. Kadang juga jalan keliling didekat komplek perumahan sana." Tunjuk anak itu pada komplek perumahan di seberang jalan.
"Adik sekolah gak?"
"Enggak."
Rizhan mengerutkan kening. "Kenapa?" Tanya pemuda itu.
Anak kecil itu menatap Rizhan dengan mata polos nya. "Kan ini hari libur, kak. Besok baru sekolah lagi."
Rizhan lantas terkekeh dan menepuk - nepuk pelan puncuk kepala si anak kecil. "Sa ae lu!" Sahut nya.
Anak kecil itu menatap Rizhan dengan bingung. "Kakak mau beli gak?" Tanya nya.
Rizhan menganggukkan kepala. "Satu nya berapa?"
"Seribu."
"Kakak beli semua." Ucap Rizhan tanpa berpikir panjang.
Anak itu mengerjap lucu mendengar ucapan Rizhan. "Semua?" Tanya nya memastikan, karena jarang ada orang yang mau membeli semua jualan nya jadi ia sedikit cengo mendengar itu.
Ia menatap Rizhan yang juga sedang menatap dirinya. "Kakak mau beli semua kue saya?"
"Iya." Tukas Rizhan lembut.
"Ini, kak." Ia menyerahkan nya kepada Rizhan.
"Berapa semua nya?" Tanya Rizhan seraya menerima bungkusan itu.
Si anak kecil nampak menghitung jumlah nya dengan jari kecil nya membuat sudut bibir Rizhan terangkat sempurna. Ia jadi iri sekaligus kasihan dengan anak ini.
Iri karena anak ini sangat berani dengan dunia luar tanpa pengawasan orang dewasa, dan kasihan karena melihat nya membanting tulang diusia yang masih terbilang sangat kecil.
"Empat puluh lima ribu, kak." Ucap anak itu.
Rizhan menyerahkan uang seratus ribu pada nya hingga membuat nya bingung seketika. "Saya gak punya kembalian." Kata nya.
"Ambil aja, kakak kasih sisa nya buat kamu." Sahut Rizhan dengan senyuman termanis. Ia menepuk pelan kepala anak kecil itu lagi.
"Manfaatin dengan baik ya uang nya."
Anak itu mengangguk cepat dan melambaikan tangan ke arah Rizhan. "Terimakasih kakak tampan." Pekik nya riang.
Rizhan melangkah ke arah motor nya, saat ingin memasang helm ia melihat penjual telur gulung disisi kanan taman. Ia jadi mengurungkan niat nya memasang helm dan langsung berlari ke arah penjual itu.
"Kang, telur gulung nya dua puluh ribu ya."
"Siap, dik."
Wajah Rizhan nampak sumringah dan menatap telur gulung itu dengan mata berbinar. Seraya menunggu, ia pun berpikir sejenak tentang kue yang ia beli tadi.
"Eum.. kue nya Rizhan bagiin ke anak jalanan aja kali ya? Gak mungkin Zhan bisa abisin itu sendirian."
"Terimakasih, kang!" Kata Rizhan seraya menirma pesanan nya dan meninggalkan tempat tersebut setelah selesai membayar.
Rizhan kembali mengendarai motor nya, dan melajukan motornya ke arah jembatan. Dibawah jembatan itu banyak pengamen dan anak jalanan lain nya.
"Wahh.. ternyata Rizhan baik hati." Pemuda itu memuji dirinya sendiri setelah usai membagikan semua kue milik nya.
"Saat nya pulang! Zhan gak sabar mau makan telur gulung di rumah."
Dengan hati gembira, ia pun melajukan motor menuju rumah nya. Namun saat di persimpangan jalan, ada seorang pengendara motor yang tidak melihat ke arah depan karena tengah mengotak-atik ponsel.
Rizhan lantas terkesiap dan agar menghindari tabrakan tersebut ia pun berbelok sedikit dan jatuh ke pinggir jalan. Si pengendara satu nya pun kaget dan lantas ikut jatuh juga.
Siku Rizhan nampak mengeluarkan darah karena telah bergesekan dengan aspal, lutut nya pun sedikit mengeluarkan darah juga.
Pemuda itu meringis kesakitan sambil berusaha bangkit.
"Kamu kalau pakai motor itu hati - hati! Untung tidak menabrak saya! Coba ini lihat." Menunjuk keranjang sayur di motor nya. "Jualan saya jadi jatuh ke aspal gara - gara kamu!"
"Kok saya sih?! Ibu tuh kalau lagi pakai motor jangan pegang ponsel dong!" Keluh Rizhan. Ia ingin menangis rasa nya, mana tangan dan kaki nya berdarah sekarang malah kena omel.
"Kamu nyalahin saya?! Jelas - jelas kamu yang salah!" Tukas nya seraya melangkah ke arah Rizhan.
Rizhan tambah ingin menangis kala ibu itu menginjak telur gulung milik nya yang jatuh ke aspal.
"Hiks.. telur gulung Rizhan..."
Orang-orang yang berlalu lalang nampak berhenti di dekat mereka. "Ada apa ini, Bu?" Tanya mereka.
"Ini loh, anak ini mau nabrak saya."
Rizhan menggeleng ribut. "Bukan saya, pak. Ibu ini yang gak lihat - lihat jalan malah pegang ponsel!" Sergah nya.
"Wah berarti salah ibu ini." Bela seorang pria pada Rizhan.
"Tangan kamu berdarah, nak." Ucap seseorang yang berada didekat Rizhan dan memperhatikan anak itu lekat.
Si ibu itu masih ngotot saja seolah tak ingin disalahkan, padahal dia memang salah disini. "Pokoknya kamu harus ganti rugi semua sayuran saya!"
"Gak bisa gitu dong, Bu. Ini kan salah Ibu!" Sahut Rizhan.
Si ibu masih saja ngomel - ngomel tak jelas, sebagian besar orang yang menyaksikan kejadian ini tak terlalu fokus pada ibu - ibu itu. Mereka malah merasa kasihan pada anak ini.
Rizhan menghubungi nomor teman-teman nya namun tak ada yang mengangkat telepon nya. Sungguh, boleh kah ia menangis sekarang??
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
...Bersambung...