
Malam yang semula nya dingin dan senyap kini mulai terdengar suara kicauan burung saling bersahut-sahutan di pagi yang masih berselimutkan embun.
Lama-kelamaan, kini rasa hangat mulai menyentuh permukaan, sebab mentari nampak telah memunculkan sinar nya. Ia telah menyingsing dan berlabuh dari singgasana nya.
Risya, ia terbangun sedikit lambat dari biasa nya, sebab tak bisa memejamkan mata karena terlintas bayang-bayang kisah asli yang tidak teralur dengan jelas dan sedikit buyar dari cerita.
Lama-lama ia jadi hanya ingin berdiam diri saja tanpa ingin berbuat apa-apa, namun karena Soya adalah tokoh favorit nya dan jika bukan juga seperti nya ia juga tidak bisa tinggal diam. Ia 'kan perempuan pembela kebenaran:v mana bisa membiarkan para penjahat berkeliaran.
Hoaaam...
Risya menutup mulut nya, tangan nya terangkat untuk mengucek mata lalu mengerjap perlahan. Menarik tubuh nya ke atas untuk merenggangkan dengan santai padahal sekarang jam sudah menunjukkan pukul enam lewat tiga puluh dua menit.
"Gue gak bisa tidur, sial!" Gumam nya sambil beranjak dari atas kasur.
Risya lebih dulu membereskan tempat tidur nya baru mandi dan yang lain nya. Ia akan turun ke bawah setelah menyelesaikan semua kegiatan pagi nya sebelum berangkat ke sekolah.
Risya berdiri di depan cermin, memandangi pantulan diri nya dari sana. "Gue pikir lebih baik di gerai aja daripada diikat satu macam ekor kuda."
Ia meraih satu ikat rambut di laci meja. "Mending bawa ikat rambut juga deh, siapa tahu kalau nanti malah gerah."
Usai itu, ia kemudian turun ke lantai bawah dan sarapan bersama keluarga nya. Mommy tak akan marah 'kan karena ia lama??
Risya mengendikan bahu nya, lebih baik ia cepat turun saja tak usah berpikir yang macam-macam. Ia menengok, ternyata di sana hanya terlihat Sigra bersama Daddy-nya saja.
Ia menarik kursi yang berada tepat di sebelah Sigra. "Loh, mommy ke mana, Dad?" Tanya nya.
Daddy Vino menatap anak perempuan nya. "Mommy kamu udah berangkat duluan, Ca, ada meeting pagi."
"Nggak bareng Daddy?"
"Enggak." Daddy Vino mengulas senyuman hangat. "Kamu tumben bangun telat?" Tanya Daddy lagi lalu melirik jam di pergelangan tangan nya. "Bentar lagi gerbang sekolah kalian bakalan ditutup."
Risya menampilkan cengiran imut nya dan berkata, "Caca gak bisa tidur, enggak tau kenapa."
"Ada yang kamu pikirin, hm?" Sigra menatap lekat sang adik seraya mengusap surai cokelat yang terasa lembut di jari-jari tangan nya.
Risya menggeleng kecil. "Gak ada, kok," sahut nya sembari mengalihkan pandangan menatap sebuah sandwich di hadapan nya. "Udah jangan diwawancara lagi, Caca mau makan dulu," tambah nya sambil menahan satu jari di depan bibir Sigra.
Sarapan pagi mereka telah berlalu, kini mereka bergegas menuju tempat masing-masing. Sigra dan Risya ke sekolah sedangkan Daddy Vino menuju kantor nya.
"Caca ikut Abang, nih?" Tanya Risya sembari memasang helm ke kepala nya.
"Iya." Sigra menolehkan kepala nya menatap sang adik. "Kalau gak bareng Abang, emang kamu mau berangkat bareng supir?"
"Mau lah!"
"Gak." Sigra langsung menyergah dengan wajah datar nya, padahal ia sendiri yang tadi nya bertanya lalu ia sendiri juga yang sewot seketika. "Udah naik! Keburu ditutup beneran ini."
"Ck." Risya terdengar mendecakkan lidah nya namun tetap naik ke atas motor Abang nya. Ia nampak mengernyit bingung kala Sigra tiba-tiba menyerahkan sebuah jaket untuk nya.
"Apa?" Risya mengerjap dengan bingung.
"Tutupin paha kamu," perintah Sigra. "Emang kamu mau diliatin sama cowok mata keranjang di luaran sana?"
Ya siapa juga yang mau! Coba kau pikirkan saja.
Gadis itu mengambil jaket tersebut tanpa membalas perkataan nya. "Bisa gak rok kamu dipanjangin sedikit?" Celetuk Sigra setelah nya.
"Emang kenapa?"
"Kependekan."
Mendengar sahutan dari Sigra membuat Risya mengernyitkan dahi nya dengan sangat. "Lah? Di sekolah ada yang lebih pendek lagi tau, Bang. Ini juga udah termasuk yang lumayan panjang," sahut Risya sambil menunjuk sisi bawah rok nya.
"Ya dipanjangin lagi lah," tukas Sigra dan lantas membuat Risya nampak mendengus.
Nada nya sudah terdengar kesal, padahal rok nya tidak termasuk kategori pendek. Malah ini sudah masuk kategori panjang dari pada cewek-cewek di sekolah nya.
Risya nampak mengerucutkan bibir nya, Sigra yang melihat itu dari kaca spion pun hanya terkekeh geli. Setelah pembicaraan yang berujung ambekan, Sigra menyuruh adik nya agar berpegangan erat karena ia akan ngebut biar tepat waktu.
Beberapa menit setelah melewati berbagai macam bentuk gedung dan apartemen di pinggir jalan, akhir nya mereka pun sampai pada tujuan.
Risya langsung turun dari atas motor, memeluk jaket yang diberikan Sigra dan berjalan melewati lelaki itu. Sebab banyak pasang mata yang menatap ke arah mereka, Risya risih dan tak nyaman dengan pandangan mereka.
"Eh, Ca!" Panggil Sigra. Risya berhenti dan menoleh. "Helm-nya gak dilepas? Mau kamu bawa juga Samapi ke kelas?"
F*ck! Bisa-bisa nya ia lupa hal ini?!
Risya meraba kepala nya yang masih terselubung oleh helm, ia melepas nya dengan canggung sambil tersenyum dengan paksa dan memberikan nya pas Sigra. Namun itu malah terlihat lucu di mata lelaki itu.
"Lucu banget sih kamu!" Sigra tertawa kecil seraya mengacak pelan rambut Risya.
"Dih! Gak lucu tau!" Sentak Risya sambil menyingkirkan tangan Sigra dari kepala nya.
"Pagi cantik!"
Seseorang dari arah belakang dan merangkul pundak Risya secara tiba-tiba. Hampir saja Risya menonjok nya jika tidak tahu siapa pelaku nya. Tangan nya saja sudah bersiap menghajar lelaki itu.
"Jangan main pukul-pukul dong, muka gue mahal!" Sungut Rhaegar.
"Elu ngapain juga main rangkul-rangkul anak orang?!" Tukas Risya sambil melepaskan diri dan tak lupa mencubit perut Rhae sebagai balasan dari rasa kesal nya.
"Jangan marah lah, yang."
"Iwh, yang, yang, pala lu peyang!" Risya memasang ekspresi jelek nya. "Muka lu mau gue tonjok apa?"
Rhae yang tadi nya memasang wajah memelas kini mengganti ekspresi nya saat menatap wajah Sigra, baru sadar dia kalau lelaki itu berada di depan nya.
"Eh, ada babang," ucap Rhaegar sambil tersenyum konyol.
"Babang endasmu dua!" Risya lantas menoyor kepala Rhae. "Yuk, ke kelas aja!" Ajak nya sambil melangkah lebih dulu.
"Eh!" Rhaegar menatap Risya lalu mengalihkan pandangan nya ke arah Sigra. "Kita duluan, Gra," ujar nya yang kemudian berjalan mengiringi Risya.
"Eh si Alby kemana?" Tanya Risya.
"Woi, tungguin gue!" Sang empu yang ditinggalkan dan terlihat menyedihkan.
Sedangkan Sigra masih berdiri dalam diam sambil memasang wajah tak enak dipandang. Sungguh, ia merasa cemburu dengan mereka entah karena apa. Rasa nya hubungan batin ia dan adik nya masih terasa jauh dan tak sedekat kenyataan mereka yang sering bersama.
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
...Bersambung...