Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
Bab 53 | Heboh Pt.2



"Dad, Caca bareng abang aja ya?"


Daddy Vino melirik Risya dengan kernyitan. Mungkin ia merasa aneh dengan permintaan anak nya. Risya sendiri pun merasa aneh berkata seperti itu ketika mobil sudah melaju dan menjauh dari rumah.


"Terus kamu mau Daddy turunin dijalan?" Tanya nya karena tak mungkin ia menunggu anak laki - laki nya itu dipinggir jalan.


Risya mengerucutkan bibir seraya menatap keluar kaca mobil yang tertutup rapat dan melihat pengendara yang sedang berlalu lalang.


"Tadi Caca nggak dibolehin diantar supir, tapi kok Daddy sendiri pakai supir?" Protes nya sambil menoleh ke arah sang Daddy.


Daddy Vino menaikan sebelah alis nya. "Ini sekretaris Daddy, bukan supir." Sahut nya.


"Sama aja, Dad. Dia nganterin Daddy terus duduk didepan. Dia yang jalanin mobil berarti dia supir." Debat Risya.


Daddy Vino nampak terdiam seolah tak ingin berdebat dengan anak nya itu. Risya mendengus lalu melirik ke arah asisten Daddy.


"Pak sekretaris, turunin Risya agak jauh dari sekolah ya?" Pinta nya.


Ia tau, ia pasti akan jadi pusat perhatian dan bisa menggemparkan satu sekolahan jika orang - orang melihat nya turun dari mobil ini apalagi bersama Daddy.


Si pak sekretaris hanya diam, ia melirik ke arah spion dalam mobil. Seperti nya ia juga tak bisa diajak kerja sama, sudah jelas ia tak mendengarkan perkataan Risya. Ia hanya menuruti perintah sang atasan atau atas persetujuan Vino saja.


Risya menghela nafas berat, pasrah. Biar saja, terserah nanti kayak gimana.


Tak terasa mobil sudah mendekati GIBS, ia jadi deg-degan ketika melihat banyak orang.


Tangan nya sudah berkeringat dingin namun ia seperti pandai menutupi perasaan gugup ini. Tapi tak biasa nya ia begini, ia sudah sering tampil didepan banyak orang saat kuliah dulu, sudah terbiasa dengan publik dan banyak nya manusia. Tapi perasaan ini? Apa ini perasaan pemilik tubuh??


Namun saat di pasar malam waktu itu, ia pun tak merasakan perasaan semacam ini. Lantas sekarang karena apa??


"Sayang kamu baik - baik aja, kan?" Daddy menatap Risya khawatir, ia mengelap keringat yang mengucur di dahi anak nya.


Risya menatap sang Daddy sepintas, namun mata nya terasa memanas.


"I'm okey." Sahut Risya lirih.


Daddy memeluk nya tiba-tiba, seketika itu juga tangis Risya pecah. Tak tahu kenapa, ia terisak di pelukan sang ayah. Daddy Vino mengusap punggung anak nya, berusaha menenangkan tangis Risya.


"Nggak apa - apa, Daddy ada disisi kamu." Tutur nya. Ia seolah takut kalau anak nya mengingat sesuatu hingga membuat nya jadi seperti ini.


"Daddy.."


"Daddy disini." Kata Daddy Vino. Ia membiarkan Risya tenang dulu, sebelum mereka keluar dari mobil.


Selang beberapa menit Risya mulai tenang, ia beringsut dari pelukan Daddy Vino sambil mengusap sisa air mata.


"Udah tenang?" Tanya Daddy Vino sambil mengusap kepala Risya dan ikut menghapus jejak air mata di pipi anak nya. Risya mengangguk dengan hidung yang sedikit memerah.


"Caca mau pakai bedak dulu biar gak kelihatan habis nangis." Risya merogoh tas nya dan mencari benda itu. Tadi ia membawa nya untuk berjaga - jaga kalau bedak di wajahnya hilang saat bermain nanti, tapi kalau tak memakai bedak pun wajah natural nya sangat cantik.


Daddy terkekeh sambil geleng - geleng kepala. Sempat saja anak nya itu berkata begitu.


"Caca kalau takut pegang tangan Daddy, ya?" Ucap nya.


Risya menggeleng kan kepala. "Caca udah nggak apa - apa, Dad. Caca bisa sendiri, udah gak takut lagi." Sahut nya. Dan sang Daddy tahu kalau anak itu nya sedang berbohong.


Daddy Vino tersenyum tipis dan mencubit hidung Risya pelan. "Nggak usah bohong." Tukas nya.


Risya lagi - lagi meyakinkan sang Daddy bahwa ia akan baik-baik saja, akhir nya Daddy Vino mengiyakan tapi terus mengawasi anak nya.


Diluar mobil terlihat banyak orang, mereka seperti menunggu orang didalam mobil ini keluar. Dan Risya tebak mereka pasti tahu ini mobil siapa.


"Ayo bareng sama Daddy." Ucap Daddy Vino melihat anak nya yang seolah tak yakin untuk keluar sekarang.


Pak sekretaris keluar dari mobil lebih dulu, ia membuka kan pintu untuk Tuan dan Nona nya. Seketika orang - orang berkerumun kala Daddy keluar dari mobil mewah ini.


Beberapa kamera bermunculan dan memotret dari segala sisi, karena ini pertama kalinya Daddy Vino ke sekolah dan jadi perwakilan pemilik yayasan. Biasa nya kakek Jaya yang selalu hadir dalam acara satu tahun sekali itu.


Risya yang masih berada didalam mobil terdiam dengan kaku, kaki nya seolah tak ingin melangkah keluar. Ia memandang lurus ke arah kerumunan, entah kenapa ia jadi berharap ada yang menjemput nya disini selain sang Daddy.


**


Lima pengendara motor sport melaju di jalanan yang ramai, dengan helm full face yang terpasang keren di kepala.


Mereka saling beriringan, melaju dengan kecepatan rata-rata layak nya penguasa jalanan. Tapi tenang saja, mereka masih mematuhi peraturan lalu lintas kok.


Bruuummmm....


Kecepatan melambat kala mereka sudah hampir sampai di tempat tujuan. Sekolah, tempat para siswa menimba ilmu.


Mereka mulai melewati gerbang utama dan memasuki kawasan sekolah. Satu persatu masuk menuju area parkiran.


Sigra menghentikan motor tepat diparkiran itu, menaruh motor tersebut dan melepas helm full face yang ia kenakan.


Selepas helm itu terlepas, Sigra menyugar rambut nya ke belakang hingga pekikan para siswi yang lewat di area parkiran membuat nya menoleh ke arah mereka. Sigra hanya memandang mereka namun itu bisa membuat pipi para siswi merona dan mereka menjerit tertahan.


Tak paham lagi dengan perempuan yang tak bisa melihat pria tampan seperti itu, kenapa mereka selalu menjerit??


"Oi, Gra. Nih bocah nggak bisa ikut main, kaki nya cidera." Kata Angga sambil menunjuk Rizhan.


Sigra menganggukkan kepala. Ia lihat seperti nya Rizhan memang cidera, dari cara berjalan nya saja sudah terlihat aneh. Dan tidak apa-apa kalau Rizhan tidak bisa ikut. Masih ada pemain cadangan di tim mereka.


"Kenapa?" Tanya Relvan sambil turun dari motor dan melangkah beberapa langkah menjauh dari motor nya. Teman - temannya juga melangkah mendekat kearah nya.


"Keseleo, jatuh di kamar mandi." Sahut Angga lagi.


"Ngapain lu? Main bebek - bebek an di kamar mandi?" Rey terkekeh menatap Rizhan, Rizhan yang kesal pun berjinjit dan menggeplak kepala Rey.


"Bukan! Kamar mandi nya licin maka nya kepeleset." Ucap Rizhan, tak memperdulikan Rey yang meringis karena pukulan nya.


"Dibersihin, biar gak kepeleset lagi." Mereka semua menatap Sigra takjub, namun seolah tak ingin mengomentari apapun dari ucapan cowok itu.


"Tapi lu bisa naik motor tuh!" Celetuk Rey, heran.


Rizhan menghela nafas. "Ya bisa, kan naik motor nggak sambil lari juga." Sahut nya.


Angga meraih tangan Rizhan dan memegang nya agar anak itu tak terjatuh. Pasal nya, Rizhan itu sedikit pecicilan, ia sering berlari kecil ketika berjalan. Takut nya sekarang ia lupa kalau kaki nya sedang sakit. Bisa berabe, kan?


Sigra terdiam namun pandangan nya mengarah pada kerumunan dimana parkiran mobil para petinggi berada.


Entah kenapa kaki nya tanpa diperintah langsung melangkah ke arah sana, hingga membuat teman - teman nya bingung menatap Sigra bingung.


"Eh, lu mau kemana, Gra?" Pekik Rey ketika Sigra sudah mulai menjauh dari mereka. Sigra tak menyahut dan langsung mempercepat langkah nya.


Sigra semakin mempercepat langkah nya. Mereka yang melihat Sigra datang pun dengan cepat membuka jalan. Memberi cowok itu ruang agar bisa lewat.


Sigra terus berjalan tanpa mempedulikan sekitar dimana kamera malah ikut menyorot nya juga. Saat ia berhenti tepat didepan sang Daddy, Daddy Vino mendekat ke arah anak sulung nya dan berbisik sesuatu.


Sigra melirik ke arah Daddy Vino seraya menganggukkan kepala. Ia dekati pintu mobil, dan ia bawa orang yang berada didalam itu keluar.


Sekejap suasana menjadi semakin riuh seolah tak menyangka siapa yang keluar dari mobil ini selain sang Daddy.


Sigra melirik Risya yang tengah menundukkan pandangan, tak biasa adik nya begitu. Tangan Risya juga terasa dingin. Apa dia gugup??


"Nggak apa - apa. Jangan nunduk, angkat pandangan kamu. Nanti mahkota nya jatuh."


Sigra berbisik pada adiknya dan perlahan tapi pasti, Risya pun mengangkat kepala. Tapi ia lebih dulu mendongak dan menatap ke arah Sigra baru memandang lurus ke depan seraya menilik sekeliling nya.


Sejujur nya kalau dilihat dari wajah, tak ada rasa takut yang terlihat maupun rasa gugup sekalipun. Karena Wajah Risya datar - datar saja. Namun jika kalian merasakan dari tangan nya yang terasa dingin ini, kalian pasti akan menebak kalau ia sedang gugup. Lalu jika memandang nya secara dekat dan lekat, kalian bisa melihat pupil mata nya sedikit bergetar.


Sebagian orang masih mengagumi ketampanan Daddy Vino, dan sebagian nya lagi nampak berbisik-bisik sambil melirik ke arah Sigra dan juga Risya.


Sigra dengan cepat menarik tangan Risya untuk menjauh dari sana seraya menatap para penggosip itu dengan tajam.


Daddy Vino menatap kedua anak nya yang mulai menjauh dari pandangan, ia ingin sekali memastikan kalau anak bungsunya baik-baik saja. Namun ia masih ada urusan lain sehingga harus bergegas masuk ke dalam.


Dengan keyakinan hati, ia percaya bahwa Sigra bisa menjaga Risya dengan baik.






Soya melangkah menghampiri mereka dengan wajah datar nya. "Ngomong apa lu pada?" Tanya nya membuat mereka memandang Soya dengan bingung.


"Hah? Ngomong apa?" Tanya salah satu nya seolah tak mengerti dengan perkataan Soya.


Soya mendecakkan lidah melihat mereka yang saling melirik satu sama lain. "Ngapain ngomongin Risya?" Sekarang mereka terlihat mengerti apa maksud cewek itu.


"Oh itu, lu belum denger ya berita hot pagi ini?" Soya menaikan sebelah alis menunggu perkataan selanjut nya dari mulut mereka. "Anak yang nama nya Risya itu satu mobil sama Pak Vino." Ujar mereka.


Soya mengernyit dengan sangat. "Terus?" Tanya nya


"Ya udah pasti lah, tuh cewek pasti ja****!"


"Akhh!!"


Soya reflek menarik rambut cewek yang model kuda. Seperti tak punya perasaan, ia hanya diam melihat cewek itu yang meringis kesakitan.


"Ngomong sekali lagi." Ucap Soya dingin.


Cewek itu tak langsung menjawab karena masih meringis, tarikan Soya kencang sekali sih. Beberapa teman nya hanya terdiam ditempat seolah takut untuk menolong.


"Risya..." Soya menarik rambut cewek itu agar ia mendongak ke atas dan pandangan mereka bertemu.


"YANG KERAS NGOMONG NYA!!" Bentak Soya


"RISYA ITU JA****!!" Ia tarik rambut cewek itu sampai terasa ingin rontok dari kepala nya. Lalu Soya lepas tiba - tiba hingga membuatnya terhempas ke lantai.


Soya merunduk, wajah nya ia sejajarkan dengan wajah cewek itu. Ia cengkeram kerah baju seragam nya erat.


"Mulut lu bisa dijaga gak? Gak usah ngomong sembarangan." Ucap Soya dalam.


"Lu kenapa sih?!" Sahut nya sedikit lirih.


Satu teman nya nampak berani maju, ia mendorong tubuh Soya agar cengkeraman itu terlepas. Ia berdiri didepan teman nya yang masih terduduk dilantai, seolah menjadi tameng. Kenapa baru sekarang??


"Lu apa - apaan sih?! Tiba - tiba main jambak rambut temen gue?!" Tanya nya. Sedikit aneh melihat Soya bertindak seperti ini untuk orang lain tanpa ada hubungan nya dengan Relvan.


Soya menatap mereka seraya memutar bola mata. "Tanya aja sono sama mulut lu pada!" Ketus nya.


"Tapi yang kita omongin juga bener, kok!"


"Dimana nya yang bener?!!" Sahut Soya.


"Lu gak usah nyolot bisa gak?!"


"Elu yang duluan!!"


Mereka seketika ingin saling jambak, namun Laura lebih dulu menarik tubuh Soya dan yang jadi lawan Soya juga di tarik oleh beberapa siswa. Mereka saling dijauhkan agar tak membuat keributan yang besar yang terus berlanjut.


"Soya tenang dulu bisa gak lu?" Tanya Laura sambil menahan tubuh Soya. "Pliss, hari ini aja jangan bikin masalah. Kalau habis acara ini, terserah lu aja dah. Gue tetap dukung, tapi jangan sekarang ya?" Pinta nya.


Soya melemaskan otot tubuh nya tapi masih menatap mereka dengan sengit. Ia bisa mengerti perasaan Laura, Laura takut kalau keributan ini bisa membuat acara besar hari ini tertunda dan mungkin juga bisa kacau gara-gara mereka.


Soya menatap mereka tajam sambil menunjuk wajah mereka. "Selamat lu kali ini! Kalau sekali lagi gue denger lu ngomongin dia kayak gitu, gue robek sekalian mulut lu pada biar gak bisa ngomong lagi!'


Mereka semua bergidik ketika Soya memasang wajah serius saat mengatakan kalimat seperti itu.


"Yuk cabut!"


Laura mengangguk kan kepala seraya mengikuti kemana teman nya itu melangkah, ia tahu sekarang tujuan Soya ingin kemana.


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...Bersambung...