
Hari ini pihak Bank datang mengunjungi kediaman keluarga Olive. Pihak Bank memutuskan untuk melelang perusahaan Olive. Olive pun ikut menghadiri acara pelelangan perusahaannya. Dia akan melihat siapa yang berhasil mendapatkan perusahaannya kemudian Olive melancarkan aksinya untuk bernegoisasi dengan pemilik perusahaannya yang baru.
Suara Mc mulai terdengar membuka acara pelelangan perusahaan. Olive mendengar perusahaaannya dilelang dengan harga awal tiga Milyard. Semua orang tidak terkejut mendengar harga tersebut, mengingat perusahaan keluarga Olive merupakan perusahaan yang besar mambuat harga tersebut terbilang murah.
Olive melihat beberapa orang menawar perusahaannya, dan akhirnya perusahaannya itu jatuh ke tangan seseorang dengan harga 15 Milyard. Hal itu membuat Olive menghela nafas nya kasar. 'Semakin tinggi harga yang ditawarkan untuk perusahaan itu, maka semakin sulit pula untukku mendapatkannya kembali' batin Olive. Namun walaupun begitu, Olive tak patah semangat untuk mendapatkan perusahaan itu kembali. Dari perusahaan itulah orang tuanya mencari makan dan membesarkan dia hingga tumbuh menjadi seperti ini. Terlalu banyak kenangan disana, hal itu membuat Olive harus mendapatkannya kembali.
Selesai acara pelelangan, Olive langsung menghampiri orang yang mendapatkan perusahaan itu.
"Hallo, selamat malam. Bisa bicara sebentar" ucap Olive yang langsung diangguki oleh orang tersebut.
Jika Olive menilai, orang ini terlihat gagah, tampan dan masih muda. Sangat sulit untuk dibujuk, pikir Olive. Olive pun mengajak orang tersebut kesalah satu tempat yang bisa dijadikan tempat mengobrol.
"Perkenalkan, saya Elsha Olivia. Saya putri dari pemilik perusahaan sebelumnya diacara pelelangan tadi..." Olive menghentikan kata-katanya dan melihat respon pemuda di depannya ini.
"Hallo nona Elsha, saya assistant Roby. Sebenarnya saya adalah tangan kanan perusahaan Gavin Corporation yang diutus untuk menghadiri acara ini. Jadi saya tidak berhak untuk bernegoisasi tentang perusahaan ini." ucap assistant Roby, kemudian berdiri hendak meninggalkan Olive.
"Tunggu pak, aku ingin perusahaan ini kembali ketanganku, ini adalah satu-satunya peninggalan alm. Ayahku.. aku mohon.." Olive menahan dan memohon pada Roby. Olive mengeluarkan air matanya.. namun Roby sama sekali tidak merasa iba melihatnya.
"Tolong nona, perusahaanmu sudah tidak mungkin kau dapat kembali. Jadi pergilah..." ucap Roby pada Olive. Namun Olive tidak mau pergi, ia akan berusaha meskipun harus menanggung malu nantinya.
Tak lama, handphone Roby berbunyi.. Roby segera mengangkat telponnya. Roby berjalan menjauhi Olive sehingga Olive tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan di telpon. Olive hanya bisa memperhatikan Roby yang sedang menelpon dari jarak jauh.
Setelah selesai menelpon, Roby menghampiri Olive.
"Nona, anda ditunggu oleh tuan Aiden.. mungkin nona bisa mendapatkan kembali perusahaan itu." Awalnya Olive bingung dengan apa yang dikatakan assistant Roby, namun kalimat terakhir membuatnya punya harapan untuk mendapatkan perusahaannya kembali.
"Mari ikuti saya nona." ucap assistant Roby. Mereka berjalan beriringan menuju parkiran gedung pelelangan. Roby pun membukakan pintu mobil untuk Olive, dan supir membawa mereka ke tujuan.
'Mewah banget nih mobil, harganya pasti milyaran. Apa bisa gue bernegoisasi sama pemiliknya.' Batin Olive.
Setelah 1 jam dalam perjalanan akhirnya mereka sampai disalah satu kediaman keluarga Gavin. Assistant Roby mempersilahkan Olive untuk masuk kedalam mansion tersebut. Sedangkan Olive asik dengan dunianya sendiri.
'Gila banget, ini namanya istana bukan rumah. Bener-benar kaya dong orang yang beli perusahaan gue.' Batin Olive. Olive masih kagum menatap sekeliling sehingga tak sadar sudah tertinggal jauh oleh Roby.
"Nona? Apakah anda tidak mau masuk?" ucao Roby memecahkan lamunan Olive.
"Owh.. iya" Olive pun mengangguk kikuk menjawab pertanyaan Roby.
Roby membawa Olive menuju ruang kerja milik Aiden. Sesampainya didepan pintu ruangan yang bertulis 'Aiden Gav' Roby mempersilahkan Olive masuk. Olive yang bingung, langsung bertanya pada Roby.
"Silahkan masuk nona, tuan Aiden adalah orang yang sangat kejam. Jadi hati-hatilah dalam berkata nona." ucap Roby yang membuat nyari Olive menciut. Tak mau menunggu lama, Olive langsung masuk kedalam ruangan itu tanpa mengetuk pintu membuat sang empunya ruangan sedikit terlonjak kaget.
"Woah.." kata yang terlontar dari mulut Olive ketika memasuki ruangan kerja Aiden. Ia memperhatikan ruangan yang berisi buku-buku tebal yang tersusun rapi. Masih mengagumi ruangan itu, Olive dikejutkan dengan suara seseorang. Membuat kesadarannya kembali.
"Katakan tujuanmu." Olive langsung mencari sumber suara bernada dingin yang mampu membuat suasana menjadi canggung. Olive dapat melihat sosok lelaki yang sedang merapikan buku di ujung jendela. Olive yakin itu adalah Aiden Gav sang pemilik ruangan ini.
"Gue.. eh saya mau membicarakan suatu hal yang penting." ucap Olive yang entah kenapa kepercayaan dirinya hilang seketika. Mengingat ucapan assistant Roby, membuat tubuhnya meremang.
"Katakan." ucap Aiden singkat, padat dan tepat.
"Euhh... bisakah saya duduk disuatu tempat." ucap Olive mengembalikan rasa percaya dirinya. Aiden langsung mengalihkan pandangannya menatap tajam Olive.
Olive segera menepis rasa takutnya terhadap Aiden, meskipun tatapan Aiden setajam elang, Olive berusaha untuk tidak terintimidasi oleh Aiden. Bagaimana pun ia harus percaya diri untuk mendapatkan perusahaannya kembali. 'Gue harus bisa' batin Olive.
Aiden terkejut melihat tingkah gadis didepannya ini. Ingin meminta perusahaannaya kembali, namun dengan cara yang angkuh membuatnya terlihat unik dimata Aiden.
Aiden menarik sudut bibir nya tipis, hingga tak terliat sama sekali. Baru kali ini Aiden tersenyum karena wanita, itu pun hanya seorang gadis polos. Aiden sangat tertarik bermain dengan gadis cilik ini.
"Sayangnya gue gak butuh duit lo." ucap Aiden dingin. Tiba-tiba Olive meraih lengan Aiden, hal itu membuat Aiden terkejut dengan tingkah Olive yang tiba-tiba itu.
"Gue.. gue bakalan lakuin semua keinginan lo, tapi gue mohon kembalikan perusahaan gue." ucap Olive yang masih tersimpan keraguan didalam kalimatnya.
Aiden menelisik gadis yang ada dihadapannya. 'Seberapa pentingnya perusahaan ini untukmu, sehingga kau rela mempertaruhkan harga dirimu.' Batin Aiden bertanya-tanya. Karena ia bisa melihat kalau Olive adalah gadis belasan tahun yang masih labil. Bagaimana bisa dia terjun ke dunia bisnis yang dihuni oleh orang-orang yang kejam.
"Ternyata gadis yang ku kira polos sama murahannya dengan wanita diluaran sana." Ucap Aiden dengan tatapan meremehkan. Olive yang mendengarnya terngabga tak percaya. Ternyata yang dikatakan oleh orang-orang benar adanya. Aiden sosok pria angkuh yang tak punya hati.
"Bahkan kau rela merendahkan harga dirimu hanya demi sebuah perusahaan? Ck..ck.." Olive tersentak mendengar kata yang keluar dari mulut pedas Aiden. 'Apa benar, aku sangat murahan?' Batin Olive lirih. Olive sangat berharap Aiden mau mengembalikan perusahaan miliknya, tapi melihat sikap Aiden yang keras kepala dan kejam membuatnya mengubur harapannya dalam-dalam.
"Apa kau nggak bisa berbicara sopan? Melihat sikapmu seperti ini membuatku ragu kalau kau sebenarnya bukan keturunan Gavin. Apa ini yang diajarkan oleh nyonya Gavin? Ck..ck.. mereka pasti menyesal telah melahirkan manusia sepertimu." ucap Olive. Aiden langsung mencengkram lengan Olive kuat, membuat sang empunya meringis.
"Jaga ucapanmu! Ini rumahku, aku bisa berbuat apa saja padamu!." ucap Aiden yang mengunci pergerakan Olive. Hal itu tidak membuat Olive takut, malah semakin berani.
"Heh.. apa kau hanya berani dengan seorang perempuan aja? Kau ini lelaki, seharusnya kau bersikao baik dengan perempuan. Karena kau terlahir dari seorang perempuan." Ucap Olive menekankan kata 'perempuan' diakhir kalimatnya.
Aiden mengetatkan rahangnya. Ia sungguh kesal dengan gadis kecil dihadapannya ini. Ego Aiden sebagai sosok lelaki merasa terhina dengan sikap gadis itu yang secara terang-terangan merendahkannya.
Aiden menghempaskan Olive diatas ranjang kemudian menelpon assistant Roby. Tak lama kemudian Robby datang beserta penjaga dimansion itu.
"Ada apa tuan? " ucap Roby.
"Cepat kau bawa gadis itu pergi dari hadapanku. Kurung dikamar bawah, jangan biarkan dia kabur dari sini." Ucap Aiden yang membuat Olive tercengang.
"Apa maksudmu!? Biarkan gue pergi dari sini sialan. Gue gak mau dikurung disini." ucap Olive yang nggak terima. Penjaga pun segera menarik Olive.
"Lepasin gueee!... gue mau pulang.." ucap Olive yang dihiraukan oleh mereka. Mereka pun mengurung Olive disebuah kamar yang tidak terlalu kecil.
"Inilah hukuman mu nona, sudah ku katakan jangan memancing emosi tuan Aiden. Tapi kau malah semakin memancingnya." Ucap Roby tersenyum sinis.
"Roby, maafkan aku.. tolong bantu aku terlepas dari sini.. aku mau pulang.. hiks" ucap Olive yang mengeluarkan air matanya. Namun Roby beserta penjaga lainnya pergi meninggalkan Olive yang dikunci diruangan itu.
Olive menangis sambil melihat sekelilingnya. Ia mencari cara untuk bisa kabur dari mansion terkutuk ini. Ia berpikir, mama dan adiknya pasti mencemaskannya. Tapi setelah lama berpikir, ia tak kunjung mendapatkan ide untuk kabur dari sini.
Sejenak ia mulai memperhatikan kamar yang tidak terlalu luas ini. Ia menatap kamar yang dicat sesuai dengan warna kesukaannya. Olive pun berjalan menuju lemari putih yang menyita perhatiannya saat pertama kali masuk ke kamar ini. Olive membuka lemari itu dan menganga takjub atas apa yang dikihatnya. Didalam lemari itu berjejer pakaian wanita yang sesuai dengan ukurannya. Beberapa pasang sepatu yang ada dibagian bawah juga menyita perhatiannya. Olive mulai berpikir seolah-olah kamar ini memang sengaja dipersiapkan untuknya.
'Apa jangan-jangan kni semua sudah direncanakan. Gue dijebak? Tapi siapa? Bahkan aku tak mengenal Aiden.' ucap Olive membatin.
Olive tidak sebodoh itu, ia menyadari bahwa hal ini sudah terencanakan. Tapi sayangnya ia telat menyadari semuanya, sehingga sekarang dirinya terkurung dikamar ini. Olive sudah bertekad untuk mencari tahu semua ini. Tapi ia akan mencari cara terlebih dahulu agar bisa keluar dari mansion ini.
Olive bukanlah orang bodoh yang hanya berdiam diri menunggu pintu kamar dibuka. Olive lebih memilih untuk memanfaatkan semua yang ada dikamar ini. Olive mulai membersihkan dirinya dan mengenakan pakaian yang ada dilemari itu. Ia juga menggunakan aksesoris wajah yang disediakan dikamar itu. Sehingga Olive tampak cerah dari sebelumnya. Tak lama pintu ruangan itu terbuka menampilkan pelayan dan beberapa bodyguard diluar ruangan. Olive melihat beberapa pelayan masuk membawa berbagai macam makanan yang menggugah seleranya.
"Aku ini seorang tawanan atau ratu sih? Sehingga kalian melayaniku seperti puteri raja." Ucap Olive yang membuat mereka terdiam. Namun mereka tak menghiraukan apa yang dikatakan Olive. Mereka berlalu pergi meeninggalkan Olive.
"Ck.. gak seru banget sih mereka. Seperti robot yang tak mau berbicara." Ucap Olive terkikik geli.. Olive melahap makanannya dengan rakus, makanan yang disediakan untuknya sangatlah lezat.
"Um.. enak banget nih makanannya. Kalau kekgini terus, gue bisa betah disini. Tapi gimana sama mama dan viona ya... huh biarkan sajalah, toh mereka sudah besar dan bisa cari makan sendiri." Gumam Olive. Olive memang gak benar-benar sayang sama mama Dewi dan Viona. Mengingat perlakuan buruk mereka membuat Olive benci dengan mereka. Bahkan rasa benci Olive sudah mendarah daging.