Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
DNLM 11



Tok tok tok..


"Masuk." Ucap Aiden yang masih enggan berpaling dari laptopnya.


"Permisi pak.. ini ada beberapa berkas yang perlu bapak tandatangani." Ucap Renata setelah dipersilahkan masuk.


"Bacakan." Perintah Aiden yang masih fokus denagn laptop yang berlogo buah digigit.


"Dokumen pertama tentang pembangunan hotel di Bali. Pak Ilham selaku pemimpin disana membutuhkan persetujuan bapak untuk menambah lahan karena akan dibangun taman hotel yang akan menarik minat wisatawan yang berkunjung pak. Dokumen kedua tentang hotel yang ada di Berastagi. Mereka mengajukan beberapa rencana, yaitu menambah kamar hotel, memperbesar kolam renang dan membuka restaurant disamping hotel pak. Tujuannya sama yaitu menarik minat pengunjung. Saya kira berkas ini perlu bapak baca untuk yang lebih terperinci. Sisanya adalah laporan dari manajemen keuangan kantor cabanh yang ada di Padang, Surabaya dan Bandung pak." Ucap Renata menjelaskan.


"Letakkan diatas situ" Ucap Aiden menunjuk lemari pendek disampingnya.


"Apa jadwal saya setelah ini?" Tanya Aiden.


"Hari ini hanya ada undangan makan malam dari perusahaan Electric. Jadi setelah ini bapak free. " Kata Renata.


Tiba-tiba handphone Aiden berbunyi membuat Aiden mengalihkan pandangannya. Ia melihat nama 'Elsha ❤' yang tertera dilayar ponselnya.


"Silahkan keluar." Mendengar perintah Aiden, Renata langsung keluar. Renata sempat melirik layar ponsel Aiden yang menampilkan nama Elsha yang dilengkapi emoticon hati bewarna merah. Itu membuatnya berpikir 'mungkin pak Aiden butuh privasi bersama kekasihnya' batinnya. Memikirkan hal itu membuat Renata cekikikan karena sudah berani mengintip ponsel bos nya.


***


"Ada apa Olive?" Ucap Aiden lembut. Sangat berbeda saat ia bicara dengan Renata.


"Lo dimana? Gue mau pulang." Ucap Olive dari sebrang telpon.


"Owh maafkan aku, aku lupa Aku ak.." ucapan Aiden terputus.


"Lo tuh gimana sih, lo sendiri yang bilang mau antar jemput gue. Sekarang malah lo yang lupa buat jemput gue. Kalau tau kekgini mending gue pulang aja!." Aiden meringis mendengar suara Olive yang sedang kesal.


"Aku akan menjemputmu, tunggu aku dan jangan kemana-mana." Kata Aiden yang langsung menutup telponnya. Aiden berlari menuju parkiran membuat karyawannya menatap bosnya itu tak percaya. Bahkan Aiden sangat panik saat berada di lift membuat para karyawan yang berpapasan bertanya-tanya.


***


"Lama banget sih tu orang jemput gue. Tau gini mending gue terima tawaran Sarah buat nganter gue." Ucap Olive yang menunggu didepan kampusnya.


'Kenapa gak gue telfon aja dia, siapa tau dia lupa buat jemput gue. Tapi.. masa iya sih Aiden lupa jemput gue.' Ucap Olive dalam hati. Kemudian ia memutuskan untuk menelfon Aiden.


"Ada apa Olive?" Ucap Aiden lembut yang membuat Olive muak.


"Lo dimana? Gue mau pulang." Ucap Olive kesal.


"Owh maafkan aku, aku lupa Aku ak.." ucapan Aiden terputus.


"Lo tuh gimana sih, lo sendiri yang bilang mau antar jemput gue. Sekarang malah lo yang lupa buat jemput gue. Kalau tau kekgini mending gue pulang aja!" Olive sangat kesal mendengar kalau Aiden lupa menjemputnya. Olive merasa dirinya tidak penting sehingga Aiden dengan mudahnya melupakan Olive.


"Aku akan menjemputmu, tunggu aku dan jangan kemana-mana." Kata Aiden yang langsung menutup telponnya. Olive tambah kesal dengan kelakuan Aiden yang bertindak semaunya.


'Seharusnya lo bujuk gue supaya gue gak ngambek. Ini malah lo buat gue tambah kesal sama lo.' Batin Olive.


"Awas aja lo Aiden, berani banget lo lupa buat jemput gue." Gerutu Olive. Kemudian Olive memutuskan untuk menunggu Aiden di halte depan kampus agar Aiden mudah menemukannya.


Beberapa menit Olive menunggu, mobil Aiden datang dan berhenti didepannya. Olive memasang wajah tak bersahabat saat Aiden turun dan menghampirinya.


"Ayo pulang." Ucap Aiden yang mendapat lirikan sinis dari Olive. Olive menghentakkan kakinya masuk kedalam mobil Aiden meninggalkan sang empunya. Aiden terkekeh geli merihat tingkah Olive yang sangat menggemaskan.


Diperjalanan pulang, Olive tak berbicara sedikitpun. Aiden beberapa kali menanyakan beberapa hal pada Olive agar gadis itu berbicara. Namun Olive menjawabnya hanya dengan anggukan dan gelengan membuat Aiden Frustasi.


🐨


Semementara Daren dan Viona sudah sampai di mansion Aiden. Daren tak ingin menyembunyikan sesuatu dari Aiden sehingga membuat pria itu kecewa padanya.


"Olive pasti memaafkanmu." Ucap Daren membuat Viona menoleh. Kemudian berkata


"Iya, dia pasti memaafkanku. Dia gadis yang baik, tidak sepertiku." Ucap Viona tersenyum getir.


Menunggu beberapa menit akhirnya mobil Aiden tiba dimansion. Olive turun dan langsung masuk kedalam mansion. Saat membuka pintu Olive sangat terkejut melihat Viona yang ada disana. Kemudian Olive menari Viona. Daren yang melihatnya membiarkan apa yang dilakukan Olive pada Viona.


"Ngapain lo kesini?" Kata Olive menatap penuh kebencian. Tak kunjung Viona menjawab. Olive menatap Aiden yang berdiri jauh dibelakangnya.


"Ngapain dia kesini! Bukannya lo tau kalau dia orang jahat? Ngapai lo bawa dia kesini!" Kata Olive marah. Karna dia yakin Aiden akan melindunginya mengingat pria itu sangat mencintainya. Namun sepertinya tidak...


"Jelas-jelas aku pulang bersamamu, bagaimana bisa kau bilang aku yang meembawanya?" Bantah Aiden seolah-olah ia tahu apa yang ada dipikiran Olive.


Lalu Aiden menatap Daren.


"Daren. Ikut keruanganku." Kata Aiden berlalu pergi diikuti oleh Daren.


Kini tinggal lah Viona dan Olive yang saling berdiaman. Olive yang tak ingin melihat Viona beranjak meninggalkan Viona. Namun Viona menahan lengan Olive yang langsung dihempaskan olhe sang empunya.


Olive meanatap tajam Viona.


"Jangan lo sentuh gue dengan tangan kotor lo itu!" Kata Olive mencengkram dagu Viona.


"Gu... gue minta maaf sama lo Liv." Ucap Viona menahan sakit akibat cengkraman Olive.


"Halah! Paling lo cuma pura-pura ajakan?... setelah ini lo dan ibu lo mau jual gue kemana lagi hm..." kata Viona menghempaskan cengkramannya dan beralih menatap sengit Viona.


"Asal lo tau aja Liv, mamah juga jual gue. Dan dia bukan mamah kandungku. Dia hanya menggunakanku sebagai alat balas dendam sama keluarga lo. Guee benar-benar nyesal Liv. Guee minta maaf sama lo.. hiks." Ucap Viona menangis.


Olive terkejut mendengar kebenaran yang dikatakan Viona. Namun bisa saja ini hanya tipu muslihat Viona, mengingat Olive pernah sempat percaya dengan akting Viona dirumah sakit. Tidak... Olive nggak mau terjebak untuk kedua kalinya. Meskipun pada akhirnya ia tahu kelakuan busuk Viona dan Dewi.


"Gue gak mau maafin lo. Lo pikir gue gak tau apa yang lo dan Dewi rencanain selama ini? Hahaa.. gue tau semuanya Vio. Gue tau lo berdua memanipulasi seolah-olah perusahaan gue bangkrut. Gue juga tahu kalau Ibu lo itu yang melenyapkan kedua orang tua guee...hikss" Kata Olive menangis ketika mengingat kedua orang tua nya.


"Dan kalian berdua berencana ingin melenyapkanku jugaa. Tapi akhirnya kalian ngejual gue. Gue tahu itu semua Viona... hiks. Dan lo minta maaf semudah itu seolah-olah perbuatan lo itu cuma kesalahan kecil yang mudah dimaafkan." Kata Olive melampiaskan apa yang dipendamnya selama ini.


"Hati gue terlalu sakit untuk maafin elo. Dan wajah lo ini... wajah lo ini ngebuat gue selalu mengingat kejadian buruk itu." Kata Olive menunjuk wajah Viona.


Kemudian Olive pergi menuju kamarnya meninggalkan Viona yang menangis sendiri.


"Maafin gue Liv, gue udah buat lo ngerasain rasa sakit itu.. hikss" gumam Viona yang kemudian merosot kelantai.


'Gue janji akan menjagamu Liv, gue akan dapatkan kata maaf dari lo. Gue akan ngorbankan apa yang gue punya. Gue akan buat lo bahagia' batin Viona.


***


"Kenapa kau bawa wanita itu kesini?" Tanya Aiden dengan nada mencekam. Daren meneguk saliva melihat tatapan tak bersahabat dari Aiden.


"Dia dijual oleh Dewi. Aku tidak tega melihat nya hancur dan aku tak sanggup untuk menghancurkannya." Kata Daren merasa bimbang.


"Ck... kau tertarik padanya?" Ucap Aiden memastikan meskipun itu sudah terlihat sangat jelas atas kelakuan Daren. Selama ini Daren tidak pernah bermain-main dengan tugasnya. Ia selalu melaksanakan tugasnya dan menepati ucapannya dengan baik. Tapi sekarang, ia malah mengenyampingkan pekerjaannya hanya demi seorang wanita bernama Viona.


Daren yakin sesuatu telah terjadi sehingga membuat Daren merasa bersalah dan berempati, namun hal itu tidaklah penting menurut Aiden. Saat ini yang terpenting adalah kisah cintanya dengan Olive dan kebahagiaannya.


Melihat Daren tidak merespon pertanyaannya membuat Aiden terkekeh.


"Sejak kapan kau tertarik pada wanita?" Tanya Aiden dengan nada mengejek. Daren yang mendengarnya pun mendelik melihat Aiden menertawakannya.


"Baiklah, aku akan memaafkan gadis itu. Tapi kalau dia berkhianat lagi, akan kupastikan dia berakhir ditanganku." Ucap Aiden menunjukkan aura gelapnya.


"Kalau dia berkhianat, aku akan menghabisinya dengan tanganku sendiri dan menyiksanya." Kata Daren membuat Aiden menyeringai.