Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
Bab 29 | Permintaan Maaf



Soya merapikan rambut serta penampilannya. Untung saja ia sudah mandi, jika tidak bagaimana nasibnya bertemu pujaan hati dalam keadaan tak mandi. Bisa-bisa nanti Relvan tambah ilfil dengannya.


Ia menuruni tangga dengan anggun, senyum selalu terbit di bibir manisnya menyapa Relvano dengan lembut.


"Vano udah lama, ya?"


Relvan menengok menatap Soya yang terlihat cantik dan anggun hari ini. Ia terkagum beberapa saat kemudian kembali cuek seperti biasa lagi.


"Nggak."


Soya tersenyum, tak memasukkan ke hati kecuekan Relvan terhadapnya. Ia memaklumi karena Relvan memang sering berbicara singkat juga pada yang lain, jadi tak masalah Relvan memang irit bicara.


Soya menilik ke atas meja kemudian menatap ke arah Relvan. "Mau minum apa? Mumpung gue mau ngambilin." Tanya Soya sok cuek padahal dalam hati nya lagi berbunga-bunga.


"Air putih aja."


Soya melangkah ke arah dapur, lalu segera kembali membawa segelas air untuk Relvano dan menaruhnya di atas meja. Ia juga membawa beberapa cemilan untuknya.


"Tumben pagi-pagi lu ke sini, mau jualan?" Soya duduk di salah satu kursi ruang tamu sambil melirik sekotak kue di hadapan Relvan.


Relvan tak berbicara tapi ia menggeser kotak tersebut ke arah Soya. Soya mengernyit, apa sih maksudnya, kalau tak berbicara mana ia tahu artinya.


"Buat gue?" Tanya Soya memastikan diantara kebingungannya. Relvan menganggukkan kepala membuat Soya mesem-mesem tak jelas di dalam hati.


Soya berdehem. "Dalam rangka apa?"


"Maaf."


"Untuk?"


"Untuk yang hari itu."


Soya mendelik, hari itu kapan?? Bukannya melupakan, hari yang telah berlalu kan banyak. Hari kemarin juga bisa, hari yang dulu-dulu kan juga bisa. Lagian Relvan ini juga banyak salah dengan dia, jadi ia bingung kesalahan yang mana jadi Relvan meminta maaf.


Ngomong-ngomong tentang hari kemarin sepertinya Soya melupakan sesuatu tapi apa ya??


Relvan berdecak melihat kelemotan Soya dalam berfikir. "Ck. Obat," ujarnya singkat.


"Oh yang itu..." Soya menggaruk kepalanya yang tak gatal, ia melirik ke arah lain sambil berpikir. Ternyata karena tuduhan obat waktu itu, apa ia terlalu banyak pikiran ya jadi sering lupa, padahal hukuman mereka masih berjalan sampai Minggu depan. Dalam pikirannya Soya jadi teringat siapa tukang rusuh pembuat onar hari itu, membuatnya jadi tidak mood untuk membahas masalah ini lagi.


"Gak apa. Udah gue maafin," ucap Soya menarik lekuk bibirnya, ia mengembangkan senyum.


Relvan terpaku, apa semudah itu ia dimaafkan?? Padahal ia juga memberikan sedikit luka pada Soya hari itu. Ia kelewat marah waktu itu, jadi tanpa sadar melukainya.


"Luka lu.."


"Udah sembuh, kan udah di obatin jadi nggak kerasa lagi sakitnya." Soya tetap tersenyum usai mengatakan nya. Sebenarnya tidak sepenuhnya sembuh, masih sedikit ngilu terasa di rahangnya. Bekasnya pun sedikit pudar, ini tak lagi terlihat karena ia tutup dengan foundation untuk bekas yang tersisa.


Relvan terdiam memandang senyum Soya yang masih mengembang. Ada yang janggal tapi ia tak mengerti itu.


"Sorry. Gue kelewat marah saat itu, karena dikuasai amarah juga jadi tanpa sadar gue lukain lu. Dan sorry udah raguin bekal dari bunda, gue gak bermaksud begitu."


Soya menatap Relvan yang berekspresi datar namun Soya tahu ada nada kekhawatiran dalam ucapan Relvan. Soya terdiam, sebenarnya ia tak mengerti kenapa lelaki ini mau meminta maaf padanya dan repot-repot membawakan kue kesukaannya. Soya tidak tahu apakah ini permintaan maaf yang tulus atau hanya sekedar menjaga hubungan keduanya.


"Cie lu khawatir ya?" Tanya Soya sekedar mencairkan suasana tak nyaman di antara mereka.


Relvan mendengus. "Nggak."


Soya mendelik menyipitkan mata dan mengerucutkan bibirnya. "Huh! Bilang aja lu khawatir."


"Ogah! Entar lu malah kepedean."


Soya melirik Relvan yang memakan cemilan yang di sediakan nya dengan santai.


"Iya deh, gue udah maafin." Relvan melirik Soya sesaat. "Btw lu kesini cuma mau minta maaf?"


"Nggak lah. Gue kesini mau ketemu bunda Seya jadi sekalian aja."


Soya sudah tak kaget lagi, Sifat Relvan memang sangat menyebalkan, kadang bikin dia patah hati, kadang buat dia berbunga-bunga, kadang langsung keduanya setelah patah hati lalu berbunga-bunga atau sebaliknya. Begitu terus sampai Soya jengah dengan tingkah laku nya, memberinya harapan setinggi langit lalu menjatuhkannya sampai ke dasar bumi.


"Dih! Bilang aja mau ketemu gue sok banget pake alasan bunda segala." Soya mendengus kala Relvan tak menghiraukan ucapannya.


Lalu senyumnya seketika luntur bersamaan dengan pertanyaan yang dilontarkan Relvan padanya.


Relvan jika di rumah akan memanggil Soya dengan nama 'Ila juga tapi jika di luar ia akan memanggilnya 'Soya.


Soya memandang lekat Relvan, ia tak mengenal Risya tapi seperti pernah mendengar namanya. Tapi kenapa Relvan bertanya tentang gadis itu, apakah Relvan ingin mendekatinya?? Tapi kenapa harus bertanya tentang gadis lain pada perempuan yang menyukainya? Apa Relvan sengaja melakukan itu??


"Emang kenapa, Van? Lu suka sama dia?"


Diluar dugaan Relvan malah menggelengkan kepalanya membuat Soya mengernyit heran, lalu untuk apa dia menanyakan itu jika bukan karena suka??


"Terus kenapa nanya?"


"Nggak. Kali aja lu kenal, kelas kalian kan deketan."


"Gue gak tau, tapi kayaknya pernah denger nama tu cewek. Lu tau banget ya tentang dia?"


Relvan menengguk minumnya setengah setelah itu ia menatap Soya dan bertanya, "lu inget gak kejadian waktu itu ada satu cewek yang belain elu?"


Soya mengangguk, ia inget kok cewek yang waktu itu belain dia, tapi apa hubungannya cewek itu dengan Risya? Apa jangan-jangan...


"Itu yang namanya Risya," ucap Relvan


Tiba-tiba Soya jadi kepikiran tentang pesan yang di terimanya hari itu ada hubungannya dengan gadis yang di maksud Relvan tadi. Tapi bisa saja sih kalau pembelaan serta peringatan yang tertulis di pesan hanya kebetulan waktunya bersamaan, atau keduanya memang orang yang sama??


Soya mengerjap pelan. "Lu tau dari mana?" Tanyanya.


"Rey," sahut Relvan tanpa menoleh ke arah Risya, ia sedang sibuk dengan ponselnya.


"Aneh gak sih kalau dia kenal kita?" Imbuh Relvan. Entah kenapa kali ini ia ingin berbicara banyak dengan Soya.


"Dia? Si Risya tadi?" Tanya Soya sedikit bingung, pasalnya kata 'dia itu bisa merujuk pada dua orang yang disebutkannya, bisa Rey atau Risya.


"Iya."


"Lu cowok populer, Van. Dan gue juga termasuk cewek famous di sekolah, jadi gak ada yang aneh sih menurut gue kalau dia juga kenal sama kita."


"Tapi dia itu-"


Ucapan Relvan terhenti kala seseorang membuka pintu rumah Soya. Soya dan Relvan menoleh ke arah sejurus, menatap sang bunda yang baru saja datang.


"Eh! Ada nak vano? Udah lama?"


Relvan beranjak dari duduknya, ia mendekat sambil tersenyum lebar memandang bunda Seya. "Dari tadi, Bun. Vano kangen masakan Bunda," ucapnya manja seraya memeluk bunda dari samping.


"Masakannya aja nih? Bundanya nggak di kangenin?" kelakar Bunda berpura-pura memasang wajah sedih.


"Kangen juga."


"Kangen tapi gak main kesini." Celetuk Bunda.


Relvan tertawa kecil memang sudah lama sih dia tak main kesini, terakhir tiga bulan yang lalu.


Relvan meraih belanjaan di tangan bunda dan membantunya membawa ke arah dapur. Mereka berceloteh ria sampai melupakan sesosok gadis yang tak beranjak dari tempatnya dan memandang mereka dengan jengah.


Ia memutar bola mata malas. Begitulah kalau sudah ada Relvano, Soya berasa di anak tiri kan oleh sang bunda. Tak perlu heran lagi dia memang sudah biasa.


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...tbc...