
Daddy Vino yang berada di ruangan khusus pemilik yayasan pun terkesiap dan kaget ketika membaca pesan masuk dari putranya.
"Tha, kita ke rumah sakit."
Sekretaris Daddy Vino yang bernama Natha ini pun mengangguk kan kepala.
"Baik, Tuan." Sahutnya tanpa banyak bertanya, nanti setelah disana ia juga akan tahu apa yang telah terjadi.
Daddy Vino dan sekretaris Natha lantas bergegas turun kebawah karena ruangan ini berada dilantai atas. Seorang guru pengajar disini yang tak sengaja melihatnya terburu-buru pun bertanya.
"Mau kemana atuh Pak Vino kok buru - buru?" Tanyanya.
Daddy Vino berhenti sejenak dan membalas pertanyaannya. "Saya ada urusan diluar."
Ia pun hendak berlalu dari hadapan si guru tadi tapi wanita itu malah menghentikan pergerakannya.
"T-tunggu Pak!" Ujarnya.
"Ya?"
Daddy Vino menatap nya dengan kernyitan, wanita itu nampak ingin mengatakan sesuatu namun seperti nya ia bingung mau memulainya dari mana.
"Anu Pak..." Ucapnya namun terjeda.
"Ya?"
Dia ini lama sekali memberi jeda bicara, Daddy Vino kan lagi terburu - buru malah diperlambat.
"Itu, tadi di lapangan basket ada kekacauan sedikit karena ada anak yang pingsan, tapi sedikit beruntung karena permainan sudah selesai."
Daddy Vino terdiam, ternyata guru itu ingin membuat laporan padanya tentang kekacauan karena ada anak yang pingsan. Eh? Jangan-jangan anak yang dimaksud dia adalah putrinya??
"Iya, tidak apa - apa. Lanjut kan saja acara ini sampai selesai, nanti beritahu kepala sekolah untuk memberikan laporan keseluruhannya kepada saya."
"Baik, Pak."
Daddy Vino mengangguk sekali dan cepat berlalu dari hadapannya. Sesampainya di dekat mobil, sekretaris Natha langsung membukakan pintu mobil dan ia pun masuk kedalamnya.
Karena mereka sudah masuk, mobil pun dikemudikan dan melesat cepat meninggalkan sekolahan.
**
"Ah sial!!"
Sigra menggendong Risya dan berlari ke dalam rumah sakit, beberapa orang suruhan Daddy Vino pun juga masuk mengikutinya.
Beberapa suster yang melihat anak pemilik rumah sakit berlari sambil menggendong seseorang pun terkesiap kaget.
Mereka gelagapan dan dengan cepat membawakan brankar dorong untuknya. Sigra dengan cepat menaruh Risya disana dan terus menemani sampai pada ruangan yang ia sebutkan.
"VVIP."
Mereka mengangguk dan segera membawa gadis itu ke ruangan terbaik dan sigap menanganinya dengan baik.
Pintu ruangan tertutup, dan Sigra tak diperbolehkan masuk. Ia hanya mondar - mandir tak jelas di depan ruangan itu. Sigra mengusal rambut nya frustasi, dan dengan kecemasan yang tinggi sambil sesekali menatap ruangan itu.
Sebuah mobil mewah terparkir di lobby rumah sakit, dua orang pria keluar dari mobil itu dan bergegas masuk ke dalam rumah sakit.
Para pekerja di rumah sakit itu langsung membungkuk kan badan sebagai bahasa penyambutan. Tadi mereka sudah terkejut saat anak pemilik rumah sakit datang, sekarang pun tak kalah terkejut nya kala pemilik rumah sakit yang berkunjung dadakan tanpa ada informasi lebih dulu.
Ini sebenarnya ada apa??
Kepala rumah sakit yang tengah berada di dalam ruangan nya langsung bergegas keluar, ia mendapat kabar bahwa pemilik rumah sakit tiba - tiba saja berkunjung.
Sesampainya di sana, ia pun sedikit membungkuk di hadapan Daddy Vino kemudian kembali menegakan tubuhnya.
"Selamat siang Tuan Vino, ada yang bisa kami bantu?" Tanyanya ramah.
"Dimana ruangan putra saya?" Daddy Vino sedikit bingung juga dengan perkataannya, harusnya ia bilang dimana ruangan putri saya bukan putra. Namun kalau ia bilang begitu juga tidak ada yang tahu siapa putrinya.
Si kepala rumah sakit nampak melirik ke arah karyawan lain. Seorang suster pun dengan tegas menjawab pertanyaan itu.
"Maaf tuan, tadi putra anda membawa seorang gadis yang tengah pingsan. Seperti nya tuan muda membawanya ke ruang VVIP."
Daddy Vino lantas berlari ke arah sana diikuti oleh sekretaris Natha. Mereka yang berada di lorong rumah sakit hanya bisa memandang Tuan mereka dengan bingung karena tidak tahu apa - apa.
"Sigra."
Sang putra menoleh menatap Daddy Vino yang berlari terengah - engah menghampirinya.
"Gimana?" Tanya Daddy. Sigra menggeleng lemah membuat Daddy lemas seketika.
"Mommy gimana, Dad? Kasih tau?" Daddy Vino membelalakkan matanya.
"Jangan deh!" Sergahnya. "Kalau Mommy kamu ngamuk disini gimana? Bukan cuma Daddy yang kena, kamu juga pasti kena omelannya!"
Sigra mengacak - acak rambutnya dan menghembuskan nafas kasar. "Terus gimana, Dad?" Tanyanya.
"Kita tunggu kabar dari Caca, kalau memang tidak memungkinkan kita kasih tau Mommy kamu." Ujar Daddy membuat Sigra memutar bola matanya.
"Ya sama aja bakal kena omel. Justru kalau lama ngasih tau nya makin bikin Mommy marah." Sahut Sigra.
Daddy Vino tersenyum kecut. Benar juga kata putranya, kalau istrinya terlambat mengetahui kabar ini bisa habis semuanya. Istrinya itu benar - benar akan marah.
"Ya mau gimana, Gra. Daddy cuma nggak mau Mommy kamu shock denger Caca masuk rumah sakit." Ucap Daddy Vino seraya menghela nafas panjang.
Klek!
Mereka menolehkan kepala ketika pintu ruangan didepan mereka terbuka. Dan buru - buru bertanya pada dokter yang keluar dari ruangan itu.
"Gimana, Dok?"
"Gimana anak saya?"
Pak dokter terkesiap mendengar perkataan Daddy Vino. Anak saya?? Apakah yang dimaksud nya anak perempuan didalam itu??
Pak dokter nampak terdiam sekejap sebelum berbicara. "Kami sudah memeriksa anak perempuan itu dengan benar dan kami menyatakan bahwa kondisi nya baik - baik saja. Kemungkinan beberapa jam lagi pasien akan sadar." Tukasnya.
Sigra dan Daddy Vino langsung masuk ke ruangan Risya dirawat tanpa meminta izin dari pak dokter. Sekretaris Daddy Vino langsung berbicara dengan dokter tersebut dan membiarkan Tuan Besar serta Tuan mudanya masuk ke dalam ruangan.
**
Disebuah taman yang luas terdapat seorang gadis yang tengah menutup matanya.
Perlahan netra itu terbuka saat seseorang terus memanggil namanya berulang kali. Ia menahan pandangan nya dengan tangan kala cahaya silau itu terlalu menyakiti kornea mata.
Ini...
Taman bunga??
Tapi dimana? Ia tak pernah tahu tempat ini.
Dahi nya berkerut, tadi ada yang memanggil nama nya. Nama aslinya. Apakah ada yang mengenalinya??
Ia beranjak seraya menatap sekeliling tempat. Tak terlihat seorang pun manusia selain dirinya. Lalu siapa yang memanggil tadi?
"Halo! Ada orang?"
Ia memekik agar se siapa pun bisa mendengar suara nya. Namun tak ada apa - apa, hanya angin yang berhembus lembut itu yang seolah membalas sapaannya.
Ia terdiam, lalu mengangkat tangannya ke arah langit biru. Memandang nya dengan seksama. Kenapa jarinya sedikit membesar dari jari - jari mungil Risya? Apa ini bukan tangan si Risya? Lalu tangan siapa?
"Azriella."
Ia menoleh kebelakang ketika suara lembut seseorang menyapa indera pendengarannya. Seorang gadis cantik memakai gaun putih, tubuh nya tidak terlalu tinggi, wajah nya imut dan pipi nya gembul. Seperti pernah melihat, tapi siapa ya??
Eh?
"Elu kan..."
Gadis bergaun putih itu mengangguk seolah tahu kelanjutan dari perkataan gadis yang bernama Azriella itu.
Ia menarik tangan Azriella untuk duduk. Azriella hanya mengikutinya tanpa membantah.
Mereka duduk bersebelahan. Tak ada yang membuka suara selama beberapa detik, kedua nya hanya diam menatap sejurus ke depan.
"Elu Risya? Pemilik tubuh yang gue tempati?"
Akhirnya Azriella membuka suara, ia sedikit melirik Risya dari ekor mata. Risya tersenyum manis seraya menoleh menatap gadis disampingnya.
"Kamu... Baik - baik aja?" Tanyanya.
Azriella mengernyit lalu memutar tubuhnya menghadap Risya hingga membuat mereka bertemu pandang.
"Gue nggak akan baik - baik aja kalau masih tinggal di dunia elu." Tukas Riel. "Dan kenapa baru sekarang elu nemuin gue?"
Risya masih saja tersenyum menatap Azriella. Bukan bermaksud tak ingin menemuinya, tapi ia perlu waktu sebentar untuk terbiasa. Ia hanya diberi satu kesempatan oleh Dewi untuk menemui jiwa baru yang menempati tubuhnya.
Dan ia mengambil kesempatan yang pas agar tak sia - sia.
Waktu itu ia juga sempat menemui Abang nya lewat mimpi, sekejap. Hanya sekejap. Ia tak bisa berlama - lama, itu pun hanya memberikan clue. Dan ia harap Abang nya dapat mengerti.
"Maaf." Hanya kata itu yang bisa ia ucapkan.
Azriella mengurut pangkal hidungnya. "Terus sekarang apa elu mau balik lagi ke tubuh lu sendiri?" Tanyanya.
Risya menggeleng pelan, wajah nya terlihat sedih membuat Azriella menatap nya iba.
"Aku udah nggak ada lagi, Riel. Dan jiwa ku udah nggak bisa nempatin tubuh itu. Aku udah punya dunia baru, dunia yang lebih indah dari dunia ku dulu."
Azriella reflek menepuk - nepuk kepala Risya pelan seolah menghiburnya agar tidak larut dalam kesedihan.
"Sya, tubuh gue disana gimana?"
"Kamu koma." Jawab Risya.
"Koma?" Gumam Azriella. Lalu kembali menatap Risya. "Sya, elu punya rahasia besar tapi kenapa gak jujur ke nyokap bokap lu?"
"Aku nggak bisa, Riel. Aku takut nyakitin perasaan mereka."
Azriella menghela nafas berat. "Justru elu yang pergi tiba - tiba itu bisa memukul batin mereka, Sya. Lalu gimana kalau mereka tau kalau gue itu bukan elu? Gimana kalau orang tua lu nggak bisa nerima jiwa gue yang bukan darah daging mereka?"
Risya menggenggam tangan Azriella dengan erat seraya menatap dalam kedua mata Riel.
"Kamu bakal diterima dengan baik oleh mereka, Riel. Kamu bisa percaya itu." Ucap nya.
"Riel." Panggilnya, lagi. "Jaga keluarga aku ya seperti kamu menjaga keluarga kamu sendiri. Kamu boleh cintai mereka seolah mereka memang orang tua kamu."
"Azriella, aku nggak apa-apa. Tubuh aku udah jadi milik kamu yang berarti keluarga aku juga milik kamu. Aku rela karena kamu yang menjaga mereka, setidaknya sampai waktu kamu tiba." Lanjutnya.
"Waktu gue tiba?"
Risya mengangguk. "Ini kesempatan untuk kamu, Riel. Jangan sampai kamu sia - siakan. Kamu bisa merasakan bagaimana di perhatikan ayah dan ibu, disayangi oleh mereka, dan kamu juga bisa ngerasain punya Abang. Kamu ingin itu, kan?"
"Azriella, apa kamu tidak senang?" Tanyanya kala melihat Azriella nampak menundukkan kepala.
Azriella menggeleng pelan, ia mendongakkan kepala perlahan. Matanya berkaca - kaca dan tak lama cairan bening itu terjun membasahi pipinya.
"Hiks, gue... Gue seneng, Sya." Ucap Riel sambil menghapus air matanya yang tak berhenti turun. "Gue emang pingin ngerasain itu semua dari dulu. Tapi gimana... Gimana sama kakak gue? Gimana dia hidup tanpa gue, Sya? Dia pasti terpuruk karena kehilangan gue."Ujarnya lirih.
Risya langsung memeluk Azriella seraya mengusap punggung gadis itu agar tangisnya mereda.
"Apa gue bisa balik ke dunia gue lagi?"
Risya tersenyum tipis. "Iya, kamu bisa pulang. Tapi dengan syarat." Sahutnya.
"Syarat?"
Risya mengangguk, ia mengusap air mata di pipi Azriella. "Iya, setidaknya sampai cerita ini tamat." Tukasnya sambil memandang gadis itu dalam.
"Tolong jalani kehidupan ini, nanti kamu sendiri yang akan menemukan cara untuk pulang."
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
...Bersambung...