Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
Bab 46 | Sandera



Beberapa anak buah pilihan Daddy Vino dikerahkan mencari anak perempuan dari keluarga Serville itu. Mereka sudah mencari hampir di seluruh tempat, namun tak kunjung menemukan juga.


Salah satu anak buah nya yang mencari di dekat sekolah menemukan sebuah petunjuk mengenai gadis itu.


Mereka mendekat ke arah penjual di seberang GIBS dan bertanya pada salah satu pedagang.


"Bapak apa ada melihat anak perempuan ini, sekitar jam pulang sekolah tadi?" Seorang pria berbadan tegap memperlihatkan sebuah foto pada pedagang itu.


Si pedagang nampak gugup kala beberapa orang itu memberikan raut dingin dan juga tajam. "Sa-saya ada lihat. Tadi a-ada mobil berwarna hitam berhenti di dekat dia. Namun saya tak terlalu jelas melihat nya karena saya sibuk dengan pelanggan. Dan se-setelah mobil itu melaju, gadis itu juga sudah tidak ada di tempatnya." Sahut nya.


"Ke arah mana?"


"Ke arah sana." Tunjuk pedagang ke arah kanan.


**


Di sebuah kediaman yang terlihat megah terdapat sepasang suami istri yang sedang bersedih. Sang suami selalu sigap mengusap pundak sang istri seolah memberikan kekuatan untuk nya bersabar.


"Dad, anak kita.."


Si suami menghela nafas berat. "Mommy tenang dulu ya, Daddy udah kerahin anak buah Daddy buat cari Caca."


Ia pun sekarang juga pusing, baru saja pulang malah disuguhi masalah seperti ini. Sampai ini pun masih tak ada kabar tentang keberadaan anak perempuan mereka itu.


Mang Asep yang melihat Nyonya Aliya menangis di pelukan Tuan Vino pun merasa bersalah akan kejadian ini. Kalau saja ia lebih dulu menjemput nona nya mungkin kejadian ini tak akan pernah terjadi.


Mang Asep tiba - tiba berlutut dihadapan kedua majikan nya. Bila harus dihukum pun ia tak apa, ia rela sebagai penebus kesalahan nya ini. ART yang lain pun hanya bisa menunduk diam, tak berani mengangkat kepala apalagi bersuara.


"Saya mohon ampun Tuan, jika saja saya tidak terlambat menjemput nona muda mungkin hari ini Enon sudah ada di rumah dan berkumpul bersama disini."


"Saya meminta maaf sebesar - besar nya atas kelalaian yang saya perbuat."


Bi Iyem juga ikut berlutut karena ia juga merasa bersalah akan hal ini. "Mohon ampun Tuan dan Nyonya, maafkan kesalahan suami saya. Kami sudah siap menerima hukuman atas kejadian ini."


Mommy Aliya melepaskan dekapan suami nya, ia menghapus air mata nya dan melangkah ke arah Mang Asep dan Bi Iyem.


"Mang Asep, Bi Iyem, ayo berdiri." Ucap Mommy Aliya seraya menunduk sejajar dengan mereka berdua. "Kami tidak menyalahkan kalian berdua atas hal ini, kita bisa sama - sama cari Caca agar cepat ketemu. Walaupun saya sendiri juga masih tidak menyangka kejadian ini bakal terjadi."


Ia membantu kedua nya berdiri, dan berkata 'tidak apa - apa' ketika kedua nya terus saja meminta maaf.


Brak!!


Pintu rumah di buka kasar oleh seorang lelaki muda berbadan atletis. Suara itu membuat semua orang tersentak kaget, mereka memandang ke arah sejurus ketika lelaki itu masuk dengan langkah cepat.


"Mom, Dad! Sigra nggak salah dengar kan?!" Tanyanya ketika sudah berada didepan kedua orang tuanya.


Daddy dan Mommy nya terdiam membuat hati nya bertambah gelisah dan segenap rasa takut membuncah di dalam dada.


"Mom.." ia menggenggam tangan Mommy nya. "Bilang kalau itu nggak bener. Caca ada di rumah kan?"


Tubuh nya lemas seketika kala sang Mommy menggeleng pelan. Menandakan apa yang ia dengar itu benar - benar terjadi dan bukan rekayasa semata.


"Nggak, nggak mungkin..." gumam nya lirih.


Ia menoleh memandang sang Daddy. "Udah coba hubungin Caca, Dad?"


"Sudah, Daddy sudah coba hubungin ponsel Caca, tapi seperti nya ponsel nya dimatikan." Ucap Daddy Vino.


Drrtt.. drrttt..


Sigra merogoh ponsel di saku celana bersamaan dengan sang Daddy yang menatap ponsel nya yang juga berdering.


"Daddy angkat telepon dulu." Daddy Vino beranjak meninggalkan Mommy dan Sigra di ruang tengah.


"Bagaimana?" Tanya Daddy Vino setelah sedikit menjauh dari mereka.


[Tuan, kami sudah menemukan petunjuk. Sepertinya Nona Risya dibawa pergi oleh seseorang.]


"Lacak tempat nya dan temukan anak saya!"


[Baik!]


Di ruang tengah, Sigra menilik ponsel nya lekat. Nomor tak dikenal masuk dan melakukan panggilan dengan nya.


"Siapa, nak?" Tanya Mommy Aliya.


Sigra menggeleng. "Nggak tau Mom." Sahut nya.


"Angkat nak, siapa tahu itu penting." Dalam perkataan nya, Mommy Aliya berharap jika yang menghubungi itu adalah anak perempuan nya.


Sigra mengangguk dan menggeser tombol hijau pada panggilan itu.


"Siapa?" Sahut nya dingin.


[....]


"Apa?!"






"Nah begini kan enak juga." Ucap Risya ketika tali itu sudah terlepas dari tangannya. Ia merenggangkan badan yang terasa pegal sampai tulang - tulang nya berbunyi.


Mereka yang melihat pun menelan ludah kala gadis itu terlihat begitu menggoda namun di satu sisi ada perasaan was - was juga dengan makhluk cantik di depan mereka ini.


"Sini om handphone nya." Pinta Risya sambil menadahkan tangan.


Bos buncit nampak sedikit ragu. "Tapi kau jangan telepon polisi!" Seru nya.


"Beres!" Jari Risya membentuk 'oke seraya mengambil ponsel tersebut dari tangan bos buncit. Namun si bos memundurkan tangan nya hingga Risya tak bisa menjangkau.


"Kau beneran menghubungi keluarga mu kan? Bukan polisi?"


Risya menghela nafas. "Si om banyak tanya nih! Nanti saya beneran telepon polisi loh kalau tanya sekali lagi."


"Kalau kau bohong besok ku pastikan kau tak bisa melihat matahari lagi!" Kecam bos buncit seraya memberikan ponsel nya.


"Iya deh, uuh takut nya saya."


Risya mengambil ponsel tersebut, jari kecilnya bergerak lincah diatas layar pipih itu. Menekan beberapa angka lalu menekan ikon panggilan.


"Loud speaker."


Risya mencebikkan bibir namun tetap menekan tombol loud speaker.


[Siapa?]


Suara dingin dari balik telepon itu menyapu indera pendengaran mereka. Para penculik saling melirik dari ekor mata.


"Ini Caca." Sahut Risya singkat.


[Caca? Caca ini beneran kamu?! Ini nomor siapa? Kamu kemana aja?]


[Sayang kamu dimana, nak?]


Seketika suara serak sang Mommy membuat hati Risya bergetar. Apa Mommy habis menangis??


"Caca nggak tau dimana, Caca diculik." Suara pelan Risya mampu membuat kegaduhan dari seberang sana.


[Apa?!!]


Risya sedikit menjauhkan ponsel itu ketika pekikan Sigra terlalu menyakiti telinga.


[Kamu jangan bercanda, Ca! Abang nggak suka!]


"Lah nggak percaya?" Gumam Risya.


"Nggak bercanda bang. Nih kalau nggak percaya." Risya mengarahkan ponsel itu pada bos buncit. "Om ngomong dong! Abang saya nggak percaya nih kalau saya diculik."


"Eh, kok rada aneh ya?" Bisik salah satu anak buah bos buncit.


Teman nya mengangguk. "Enteng bener mulut dia ngomong kalau lagi diculik." Celetuk nya.


Salah satu teman mereka yang mendengar itu langsung maju dan merebut paksa ponsel tersebut. Ia menarik rambut Risya tanpa aba - aba hingga membuat sang empu mengaduh kesakitan.


"Aduh Om kurus!!"


[Caca!!]


"Anak kalian bersama kami! Berikan uang tebusan jika ingin dia kembali."


Bos buncit yang awal nya tersentak karena tindakan mendadak dari anak buah nya kini menyunggingkan senyum sambil melipat tangan ke dada.


Pria kurus itu menarik rambut Risya lebih kencang dari sebelum nya. "Cepet ngomong minta tolong." Titah nya dengan pekikan tertahan.


"Awh!! Abang tolongin Caca!!"


[Kamu jangan macam - macam ya sama anak saya!!]


Suara dari Daddy Vino akhir nya terdengar juga. Mata Risya berkaca - kaca seakan air mata nya sudah ingin terjun.


"Daddy.."


[Lepaskan anak saya!! Saya akan laporkan kalian atas penculikan ini!]


Suara tertawaan para penculik terdengar nyaring. "Eits, tidak bisa begitu dong. Berikan tembusan dulu, enak saja mau gratis. Dan laporkan saja jika kalian bisa melacak posisi kami."


[Kalian ingin berapa?] Tanya Daddy Vino.


"Nah begitu dong. 100 miliar!" Sahut bos buncit.


Risya mendelik sinis. "Buset dah banyak bener!" Celetuk nya dalam hati.


[Saya akan bayar tapi kalian harus lepaskan anak saya.]


Bos buncit terkekeh. "Kau harus sediakan uang sebanyak itu, tunai. Kami tidak menerima kredit."


"Temui kami di jalan xx, harus kau sendiri dan jangan membawa polisi. Kalau tidak, anak kalian tidak akan selamat!" Lanjut nya.


Sebelum telepon dimatikan Risya sempat berteriak hingga membuat mereka murka.


"Dad!! Caca ada di dalam bangunan di tengah hutan kota X bagian Utara!!"


Bugh!


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...tbc...


Selalu dukung karya ini ya🥰 Like, Komentar, Vote, dan Favoritnya. Terimakasih🙏🙏