
Risya menggeliat tak nyaman dalam tidurnya, alisnya berkerut dan keringat mulai mengucur di dahi.
Eughhh... Hiks.
Sigra yang tertidur di samping Risya kini terbangun karena mendengar lenguhan dari sang adik, ia bangun sambil mengucek mata lalu menatap Risya yang nampak berkeringat serta lelehan air keluar dari matanya.
Sigra tersentak dengan sigap menempelkan telapak tangannya ke dahi Risya yang terasa hangat. Ia mengelap keringat serta air mata Risya dengan tangannya.
"Kamu kenapa, hei?" Tanya Sigra memandang Risya yang tak membuka matanya.
Air mata Risya kembali mengalir, Sigra yang panik langsung saja mendekap sang adik erat seraya mengelus puncuk kepalanya pelan.
"Sstt... Jangan nangis."
"Huu hiks... Kak."
Kak? Sigra terdiam tapi tangannya tetap bergerak mengelus kepala Risya. Sejak kapan Risya memanggilnya kakak biasanya Risya memanggil dia Abang bukan kakak??
"Iya, kakak disini. Tidur lagi ya." Ucap Sigra mencoba menenangkan adiknya.
Risya membalas dekapan Sigra tapi tetap dalam keadaan tidur setengah sadar ia berujar, "kak... Riel takut disini..."
Setelah berkata begitu Risya kembali tenang dalam tidurnya, tak ada lagi terdengar segukan tangis dan lenguhan yang keluar dari bibirnya.
Dalam diamnya Sigra mengernyit, siapa Riel?? apa adiknya tengah mengigau karena bermimpi buruk?? Separah apa mimpi buruknya sampai ia berkeringat dan menangis begitu??
...•...
...•...
...•...
...•...
...•...
Pagi Minggu yang begitu cerah di awali dengan semangat para manusia yang melepas lelah. Mentari di ufuk timur menyembul di tambah suara kicauan burung menyambut datangnya pagi ini. Cahayanya menyinari jagat raya, tanaman bergoyang dengan indahnya menerima guyuran air yang menyiram ujung pucuk hingga akar mereka.
Air mengalir melalui lubang-lubang kecil dari alat penyiraman tanaman, membasahi setiap dedaunan yang di lewatinya. Seorang gadis cantik terlihat tengah menyirami bunga di taman samping rumah, yang sudah menjadi rutinitas gadis itu di pagi Minggu sambil menghirup udara segar yang tidak tercemar polusi.
Di taman rumahnya terdapat berbagai macam bunga serta beberapa bonsai yang mengelilingi pinggir taman, ada bangku bersantai disini dan sebuah meja kecil sebagai pelengkapnya. Ada juga ayunan dari papan yang di tali menggunakan rantai, ayunan itu berada di bawah pohon besar yang selalu menaunginya.
Disini lah biasanya ia dan bunda sering duduk menikmati sore hari sambil bersitatap dengan senja yang hampir menghilang dari bumi. Bercanda sambil bercerita dan menikmati waktu kebersamaan mereka. Gadis itu begitu menyukai senja, senja kehadirannya begitu singkat tapi bisa membuat orang lain merindukannya.
Ia tersenyum tipis, ada rasa iri juga dengan senja yang di sukai banyak orang dan dirindukan kehadirannya walau sebentar. Ia jadi patah hati, mengingat dirinya yang tak pernah dilirik oleh lelaki yang ia harapkan, hadirnya yang tak pernah di anggap dan cintanya yang selalu di tolak.
Walau lelaki itu tak mengatakannya langsung, tapi hatinya langsung peka atas perlakuan sikap lelaki tersebut. Tapi sikapnya tak serta-merta membuat gadis itu menyerah begitu saja, ia masih ingin memperjuangkan cintanya sampai lelah menghampirinya.
Gadis itu menghentikan kegiatannya kala matahari mulai meninggi dari posisi awal. Ia masuk melalui pintu belakang lalu mencuci bersih tangannya di wastafel.
"Ila!"
"Iya, Bun!" Sahutnya setengah berteriak.
Seorang wanita melangkah, mendekati anak perempuan nya yang sedang mencuci tangan. Wajahnya tetap cantik walau usianya sudah tak terbilang muda, wanita itu mengelus rambut anaknya lembut.
"Bunda mau keluar sebentar, kamu jaga rumah ya."
Soya menoleh memandang sang bunda dengan senyuman manis. "Siap, Bun!" Ia memberi hormat ala prajurit membuat bunda terkekeh menatapnya.
"Ada-ada aja kamu ini." Soya memberikan senyum Pepsodent sampai matanya pun ikut menyipit. "Oh iya, Abang kamu juga jangan lupa di bangunin. Heran bunda sama dia, anak bujang kok bangunnya kesiangan, apa lagi hari Minggu kayak gini. Bunda sampai mijit kepala lihat tingkahnya."
Soya tertawa mendengar keluhan bunda mengenai abangnya, Elio. El adalah manusia pemalas yang pernah ia temui, kerjaannya hanya tidur kalau gak tidur ya nongkrong bareng temen-temennya. Tapi, itu hanya Elio lakukan disaat harinya free tanpa kegiatan dan tugas lainnya. Walau begitu, El adalah anak penurut, ia tak pernah membantah ucapan sang bunda dan selalu menuruti perkataannya.
"Iya ih, Abang mah kebo, Bun."
Ibu dan anak itu tergelak bersama menertawakan seseorang yang berdiri diambang dapur dari beberapa detik lalu.
"Mana ada kebo, Bun. El udah bangun kok." Sahut seseorang dari arah belakang.
Soya dan bunda menoleh bersamaan menatap orang yang mereka bicarakan tengah memasang wajah masam.
"Lah, udah bangun? Padahal tadi mau bunda siram pake selang kalau masih belum bangun." Elio mengerucutkan bibirnya kala mendengar penuturan sang bunda.
"Bunda tega banget sama El."
"Tau begitu tadi Ila juga gak jadi siram tanaman, Ila siram Abang aja. Siapa tau bisa tumbuh, terus berbunga dan berbuah kan bisa di jual." Ucap Soya dengan senyum mengejek.
"Mata lu dijual." Sungut Elio.
"Udah, udah. Bunda mau keluar sebentar, kalian jangan berantem di rumah." Lerai bunda Seya.
Bunda Seya berlalu meninggalkan dapur, menyisakan Soya dan Elio yang saling melemparkan pandangan sengit seperti ada listrik diantara keduanya. Lalu bersamaan membuang pandangan ke arah lain.
"Abang jelek!" Soya berlari ke kamarnya sebelum Elio sempat mengejar. Ia menjulurkan lidahnya mengejek Elio yang nampak berapi-api di dapur.
"SOYA AILA ALDIC!!" Soya terbahak-bahak mendengar pekikan bang El. Ia tak menghiraukan dan masuk ke kamarnya.
Ding dong!
Wajah Elio yang berapi-api kini tergantikan dengan raut bingung kala suara bel rumah terdengar, ia mengernyit cepat sekali bunda datang perasaan tadi baru saja keluar. Tapi untuk apa juga bunda menekan bel? Seperti tak ada kerjaan saja. Ia mendekat ke arah pintu sambil bertanya.
"Kok cepet banget balik...
...Bun?" Elio terkejut saat membuka pintu rumah, ia kaget karena bukan sang bunda yang ada di balik pintu melainkan seorang lelaki yang berdiri disana.
"Eh, pagi bang!" Sapanya kepada Elio.
"Vano, lu ngagetin aja dah! Gue kira tadi bunda."
Relvano mengernyit. "Emang bunda Seya nggak ada di rumah, bang?" Tanyanya sambil melangkahkan kaki memasuki rumah kala Elio mempersilakan nya.
"Tadi katanya keluar sebentar. Elu gak ada berpapasan sama bunda apa tadi di luar?"
"Gak ada, sih. Gue juga baru dateng."
"Elu kesini mau ketemu bunda apa Aila?" Tanya Elio.
"Bunda lah," sahut Relvano sambil duduk di kursi ruang tamu. Ia melemparkan senyum smirk pada Elio.
Elio terkekeh, masih saja Relvano mengelak padahal jelas-jelas ia tengah membawa red velvet cake. Dan Elio tahu itu adalah kue kesukaan Soya bukan bunda.
"Iya deh yang mau ketemu bunda." Ucap Elio dengan nada mengejek. "Gue ke atas dulu, lu kalau mau minum ambil sendiri di dapur. Gak usah manja!" Imbuhnya lalu melangkah meninggalkan Relvano dibawah.
Relvano mendengus sebal, begini lah jika Elio yang menyambutnya, ia pasti akan di suruh mengambil sendiri jika ingin sesuatu. Lain hal jika bunda Seya, ia pasti akan lebih dimanja. Huh!
Tok! Tok! Tok!
Elio mengetuk pintu kamar Soya lalu sedetik kemudian ia mengernyit sebal kala mendengar sahutan Soya dari dalam.
"Nggak mau buka! Nanti Abang pukul Ila!"
"Lu kira gue tukang pukul apa?!" Pekik Elio dari depan pintu. "Buka dulu, itu ada vano di bawah."
Tak sampai sedetik setelah ia berkata pintu kamar terbuka menampakkan kepala Soya yang menyembul dari sana. "Vano?" Tanya Soya memandang Elio dengan mata berbinar.
Belum sempat Elio menjawab, Soya lebih dulu berlari meninggalkan nya. Elio memutar bola mata, gitu ya kalau sudah bucin denger nama doi yang disebut aja mata sudah berbinar-binar. Ini nih adiknya termasuk satu spesies yang semacam itu. Elio sampai geleng-geleng kepala melihatnya lalu berjalan ke kamar untuk segera mandi.
Elio sangat tahu seberapa bucin adiknya terhadap Relvano, tapi Elio juga tidak tahu separah apa Soya mengejar cintanya sampai nekat membully orang yang berusaha mendekatinya.
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
...tbc...