
"Masuk aja, guys! Anggap ini rumah orang," ucap Rey sambil membuka pintu apartemennya diiringi dengan kekehan kecil yang keluar dari mulutnya.
"Iya ges, anggap aja ini rumah gue ya karena gue adalah orang." Angga ikutan menyahut seraya tertawa juga.
Mereka semua segera masuk ke dalam agar dapat menghangatkan tubuh dan berganti pakaian. Angga mengedarkan pandangan menilik sekeliling tempat tinggal temannya itu.
"Buset dah! Berantakan banget rumah lu, ege!" Sentaknya sebab apart Rey benar-benar terlihat berantakan untuk saat ini, entah apa yang diulah lelaki itu sehingga jadi begini.
Rey mendengus kesal. "Heh, gak usah rumah shaming lu!" Gerutunya seraya melepaskan tak sekolahnya di ruang tamu. "Gue lupa bersihin ini tadi pagi. Bantu bersihin, ye, gue mau ke dapur dulu mau bikinin kalian minum."
Ia berjalan ke arah dapur namun kemudian ia berhenti dan berbalik menghadap teman-temannya. "Oi, kalian ganti baju aja sekalian, pilih aja ye apa yang pengen kalian pakai." Setelah itu ia kembali melanjutkan langkahnya.
Rizhan memandang ke arah Sigra. "Gra, Risya suruh ganti seragamnya juga, biar lebih anget," katanya.
"Bangunin sebentar, Gra." Relvan mendekat ke arah Sigra dan menyodorkan hoodie hitam miliknya. "Pakai hoodie gue aja," ucapnya kemudian.
Angga sontak menyenggol pelan lengan Rizhan sambil melirik bocah itu. Wajahnya terlihat sedikit terkejut dan tatapannya seolah bertanya; tumbenan Relvan mau meminjamkan hoodie miliknya itu ke seorang perempuan? Nina saja tak pernah ia pinjamkan, namun Risya?
Sigra menatap sebentar benda yang disodorkan Relvan, lalu menyambutnya dengan ringan dan kemudian membawa Risya ke arah kamar.
Sebelum Sigra menjauh, Rizhan sontak memekik pada lelaki itu. "Gra! Risya-nya jangan lupa dibangunin, jangan elu yang gantiin!"
Sigra terlihat mengabaikannya saja namun tanpa mereka lihat, lelaki itu sempat mendengus kala mendengar perkataan bocah itu. Sigra tahu kok dengan hal itu, tak perlu diperingati juga ia sudah mengerti.
Mana mungkin Sigra bertindak tidak sopan seperti itu terlebih pada adiknya sendiri, bisa-bisa sang mommy akan ngamuk padanya. Mommy tak pernah mau jikalau tubuh anak perempuannya terlihat oleh laki-laki lain sekalipun itu Sigra yang notebene-nya adalah kakak kandung dari Risya.
Sigra membuka kenop pintu kamar tersebut dan melangkah masuk ke dalam. Ditepuknya punggung Risya pelan bermaksud untuk membangunnya dari tidur. Setelah sampai ke tempat ini tadi, Risya kembali menutup matanya saat Sigra kembali menggendongnya ala koala.
"Ca," panggilnya lembut.
"Eung?" Risya menggeliat tak nyaman dalam pelukan lelaki itu, tidurnya terganggu seketika padahal ia rasanya baru saja memejamkan mata.
"Bangun sebentar, ya, ganti seragam kamu." Sigra menurunkan Risya dan gendongannya, didudukkan nya sang adik di pinggir kasur sambil menahan tubuhnya agar tidak limbung.
"Udaranya masih kerasa dingin, ganti pakai ini." Sigra menyodorkan hoodie milik temannya itu kepada adiknya. "Hujan di luar udah berhenti, jadi jangan khawatir, gak ada yang bakal bikin kamu takut lagi."
Sigra mengusap kepala sang adik sambil mengulas senyuman hangat. "Abang tunggu di luar, ya, tapi kalau kamu mau lanjut tidur gapapa, tidur aja." Kemudian ia meninggalkan Risya yang masih terlihat cengo di tempat.
Risya terbengong, termenung menatap sekeliling kamar yang sekarang ia tempati. Suasananya terlihat nyaman, gelap karena warna catnya dark. Tapi ia suka.
Ini rumah siapa?
Gadis itu mengalihkan pandangannya ke arah hoodie yang diberikan oleh Sigra. Diciumnya bau parfum yang menempel di pakaian itu. Sejujurnya Risya tak suka memakai pakaian orang lain, namun sepertinya ia tak bisa menolak itu untuk kali ini. Baju yang terasa sedikit lembab bisa membuat pemakainya merasa tak nyaman.
Lagipula, bau parfum ini lumayan nyaman. Jadi sepertinya oke-oke saja.
Tapi ini punya siapa ya? Baunya bukan seperti bau parfum Sigra...
***
Di ruang tamu apart Rey terlihat tiga pemuda yang duduk di sana sambil menyandarkan punggung mereka. Mereka juga sudah mengganti pakaian agar lebih hangat.
"Van, kok lu tumbenan mau pinjemin pakaian lu ke orang lain?" Relvan seketika langsung menatap ke arah Angga.
"Emang kenapa?" Tanyanya.
"Ya gak apa-apa sih, cuma heran aja gue."
Relvan pun tidak mengerti kenapa ia bisa bertindak seperti itu, semacam refleksi dari dirinya. Entah kenapa ia tba-tiba jadi khawatir melihat Risya, tak ingin melihatnya sakit atau terluka. Ia juga tidak keberatan berbagi sesuatu dengannya.
"Bukan karena lu suka, kan?" Angga memicingkan matanya.
"Bukan," sahut Relvan singkat.
Bukan karena tak suka kalau semisalnya Relvan memang menyukai Risya, hanya saja... gimana ya? Relvan tuh masih berhubungan rumit dengan Nina juga belum selesai dengan Soya.
Angga hanya tak ingin Risya ikut terluka di antara hubungan lelaki itu.
"Gue nanya serius, Van."
"Gue juga udah jawab serius," sahut Relvan seraya mendengus. Harus bagaimana ia menjelaskannya agar mereka percaya bahwa ia tak menyukai adiknya Sigra?
"Udah lah, Le, Relvan udah ngomong jujur kok." Rizhan nampak membela Relvan membuat Angga langsung menatap ke arahnya.
"Dari mana lu tau kalau dia jujur?" Tanya Angga.
"Liat aja mukanya!" Ketus Rizhan. "Tapi kalau Relvan beneran suka sama Risya ya 'kan gapapa. Elu keberatan apa begimana?"
Angga mencebikkan bibirnya. "Bukan keberatan! Gue tuh-"
"Relvan suka sama Risya?"
Seketika mereka menoleh bersamaan kala mendengar suara Sigra, bersamaan dengan Rey yang juga melangkah ke arah mereka.
"Eh? Lu suka sama Risya, Van?" Rey ikutan bertanya sambil menaruh nampan di atas meja, nampan yang berisikan beberapa teh hangat untuk teman-temannya.
"Gak!" Sahut Relvan. "Lele tuh ngomong asal!"
"Oh iya?" Tanya Rey sambil duduk di antara mereka. Ia kemudian menatap ke arah Sigra. "Eh si Risya lu tinggal di mana, Gra?" Tanyanya pada lelaki itu.
"Kamar," sahutnya sambil duduk juga.
Rey mengangguk-anggukan kepala. "Bagus deh, tadi gue mau bilang juga tapi malah lupa," katanya. "Dia ganti seragam gak? Takutnya masuk angin kalau pakai pakaian yang agak lembab-an kayak gitu."
"Udah," sahut Sigra lagi.
Angga menyesap teh hangat tersebut, merasakan rasa hangatnya yang mengalir di tenggorokan dan rasa manisnya yang terasa di indera pengecapnya.
"Lu kudu jelasin semuanya ke kita, Gra," celetuknya sambil menaruh kembali gelas di atas meja.
Sigra melirik ke arah Angga. "Jelasin apalagi? Bukannya kalian udah liat sendiri bahkan kalian juga udah dengar, kan?"
"Denger apaan sih maksud lu?!" Rey seketika menatapnya dengan sengit. "Lu gak ada jelasin apa-apa lah bangsat! Kita cuma denger dia bilang lu Abang, emang menurut lu itu bisa ngejelasin semuanya gitu?!"
"Oi, oi, jangan pakai emosi, ges," lerai Rizhan. "Kita bisa bicara baik-baik, oke?" Ia kemudian menatap Sigra. "Dan lu juga, Gra, bukannya apa tapi lu pasti ngerti apa maksud mereka."
"Lu tau 'kan, suatu pertunjukan tanpa penjelasan itu percuma," katanya membuat Sigra seketika merasa terbebani dengan tatapan tanya dari semua teman-temannya.
...•...
...•...
...•...
...•...
...Bersambung...