Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
Bab 79 | Sadar



Drttt... Drttt...


Nina merogoh ponsel nya yang terasa bergetar di dalam tas mini yang ia bawa. Dilihat nya layar pipih itu dengan seksama, ada sebuah panggilan masuk. Ia menatap Relvan yang tengah mengunyah buah apel yang sudah ia salin ke piring kecil.


"Em.. kak, aku angkat telfon dulu ya." Relvan melirik lalu menganggukkan kepala, ia menatap punggung Nina yang menghilang dari balik pintu.


"Dia pulang?" Tanya Rizhan seraya menatap Angga yang duduk disebelah nya.


"Gak tau gue." Sahut lelaki itu, ia beralih menatap Relvan yang duduk anteng di ranjang pasien. "Nina kemana, Van?" Tanya nya pada Relvan.


Relvan menengok sesaat. "Angkat telfon," tukas nya sambil terus mengunyah.


"Ooh.."


"Tadi belajar apa di kelas?" Relvan menatap mereka satu persatu.


"Ulangan kayak biasa," sahut Rizhan.


"Bu guru yang pake kaca mata itu ngasih soal susah banget njir! Sampe pusing gue," keluh Rey hingga membuat Angga menoyor kepala lelaki itu.


"Lu gak belajar kali!" Sarkas Angga. Rey justru tak terima dengan pernyataan teman nya, ia kan sudah belajar tapi ya begitu, otak nya sudah mencapai kapasitas maksimum jadi tak bisa lebih banyak menampung lagi.


"Enak aja!" Bantah Rey sambil terus menggerutu. "Gue udah belajar. Cuma ya gitu, otak gue masih aja gak bisa nerima pelajaran apapun."


"Otak lu kotor mulu sih isi nya. Maka nya di reset, biar loss," celetuk Angga, lagi. Memang suka sekali berdebat dengan Rey nampak nya.


Rey mendecakkan lidah, kenapa ia bisa punya teman macam mereka? Sungguh menyebalkan tapi ia sayang.


"Kalau ke reset semua nya mampus dah." Rizhan tertawa sendiri mendengar perkataan nya. Tapi memang nya otak bisa di reset? Cuci otak kali!


"Emang mau gue gak inget ama lu pada?!"


"Boleh," sahut Angga santai, lantas di detik berikut nya Rey langsung memiting kepala Angga dan mengampit nya di antara ketiak nya.


Angga sontak berteriak meminta tolong, Rizhan di samping puas terbahak melihat Angga tersiksa. Relvan nampak tersenyum tipis melihat kelakuan absurd teman - teman nya.


"Kalau mau senyum, senyum aja, Van. Yang lebar, jangan tipis - tipis." Seketika wajah Relvan berubah datar kala mendengar celetukan Rizhan.


Rizhan memeletkan lidah dan mengejek Relvan. Lelaki itu memutar bola mata nya, lalu ia menghabiskan sisa buah tadi dan setelah itu meminum obat nya.


Di luar ruangan VVIP itu, Nina kemudian menjawab telepon dan mendekatkan ponsel tersebut ke telinga.


"Halo, Dad?" Sahut nya pelan.


[....]


"Ara masih di rumah sakit." Nina menatap sekeliling nya sembari terus menjawab panggilan tersebut.


[....]


"Hm? Iya ada temen Ara yang lagi sakit."


[....]


"Iya, Ara gak akan lama," kata nya sebelum sambungan telepon terputus.


Usai mematikan telepon, ia kembali memasukan benda elektronik itu ke dalam tas. Saat mendongak dan menatap lurus ke depan, netra nya tak sengaja melihat sosok Sigra yang melangkah entah kemana.


Nina menelengkan kepala. Benarkah itu Sigra? Karena penasaran pun ia mencoba mengikuti lelaki itu secara diam - diam dari jarak yang lumayan jauh. Ia berhenti dan menilik Sigra dari balik tembok, lelaki itu nampak masuk ke salah satu ruangan di rumah sakit ini.


"VVIP?" Nina bergumam saat tahu ruangan apa yang dimasuki Sigra. Ia masih penasaran tapi sayang nya ia tak bisa lagi mengikuti lelaki itu sampai ke depan pintu. Karena di depan pintu tersebut ada dua orang pria berbadan kekar yang berjaga nya.


Ngapain ya? Siapa yang sakit? Ia terus sibuk dengan pikiran nya sambil terus melihat dari balik tembok, tanpa sadar ada seseorang yang berdiri disekat nya.


Seseorang itu yang menyentuh pundak nya hingga membuat Nina terperanjat kaget. "Ampuuun! Jangan tangkap saya." Nina sampai menutupi wajah dengan tas mini itu.


Merasa tak ada sahutan dan pergerakan dari orang tersebut, Nina mengintip sedikit dari balik tas. Ia seketika bernafas lega, ternyata hanya seorang perawat yang berdiri disamping nya dan menatap nya dengan bingung.


Nina reflek nyengir kuda dan menyingkirkan tas nya dari wajah. "Eh, ada mba perawat," ucap nya ramah.


Perawat itu tersenyum menatap Nina. "Adek ngapain disini?" Tanya nya. Ia tadi tak sengaja melihat perempuan ini nampak menilik sesuatu di balik tembok. Tak tahu apa yang ditilik nya, tapi pergerakan nya terlihat mencurigakan maka nya ia kesini dan menghampiri.


Nina nampak panik namun sebisa mungkin ia harus menutupi nya. Ia nyengir lagi dengan ekspresi polos nya. "Gak ngapa - ngapain mba perawat. Kalau gitu saya permisi dulu ya."


Nina bergegas meninggalkan tempat saat melihat si perawat itu sudah menganggukkan kepala. Ia mengusap dada nya yang masih terasa berdebar.


"Huh.. selamat," ucap nya pelan.


Ia kemudian melangkahkan kaki ke arah toilet karena ingin buang air kecil. Selesai itu ia mencuci tangan sampai bersih, membenahi riasan wajah nya dengan menambah sedikit bedak dan lipbalm pada bibir nya.


"Perfect." Nina tersenyum cerah lalu berjalan keluar dari toilet. Namun baru beberapa langkah, tanpa sengaja ia mendengar seorang office girl dan seorang perawat tengah membicarakan sesuatu.


Karena sudah terlanjur begini jadi ia memutuskan untuk menguping pembicaraan mereka. Biar lah, semoga mereka tak menengok ke arah sini.


"Beneran?" Tanya si office girl pada si perawat.


"Iya. Dan lu tau gak? Kata nya rumah sakit ini bukan atas nama keluarga tapi atas nama penerus resmi keluarga mereka."


"Ngomong - ngomong nama anak nya siapa?"


"Sigrayen Diva Serville."


Nina semakin mengernyit mendengar hal itu. Mereka tengah membicarakan Sigra ternyata, ia jadi semakin penasaran dengan omongan mereka. Ia memasang telinga baik - baik agar tak terlewat satu pun informasi.


"Sumpah dah, anak tunggal kaya raya terus jadi penerus keluarga. Punya rumah sakit dan beberapa perusahaan besar, uuh bisa lu bayangin aset kekayaan mereka kayak gimana," celetuk si perawat membuat mata Nina seketika membesar dan pendengaran nya semakin tajam.


"Kaya banget itu, tapi ya wajar sih karena keluarga Serville itu keluarga terkaya nomor satu. Udah bukan rahasia umum lagi."


Si perawat menganggukkan kepala nya. "Ditambah lagi, si Sigra tu punya perusahaan sendiri yang baru-baru ini budget nya naik saat dia yang mimpin perusahaan itu."


"Kalau gue jadi jadi istri nya, behh!! Tinggal molor di rumah gak perlu capek - capek nyari kerja."


"Kalau gue jadi istri nya-"


"Heh!" Si perawat menoyor kepala teman nya itu. "Lu udah punya pacar, ege!" Sarkas nya.


si office girl nampak mengerucutkan bibir nya. "Ya emang kenapa? Belum tentu juga nyampe ke pelaminan, yang ada malah jagain jodoh orang." Setelah itu mereka lanjut berbincang - bincang lagi.


Sedangkan Nina yang menguping obrolan mereka pun terlihat menyeringai senang. "Begitu?" Gumam nya kecil.


"Boleh dong ya gue coba deketin dia lebih jauh lagi." Ia kemudian berlalu, pura - pura tidak tahu dan tidak mendengar pembicaraan mereka. Ia melangkah kembali ke arah ruangan Relvan.






Suara itu perlahan menghilang diikuti cahaya silau yang perlahan juga memudar. Keadaan menjadi gelap dan hening tanpa terdengar suara - suara lain.


Tapi lama kelamaan, sayup - sayup terdengar suara beberapa orang di sekeliling nya. Suara yang tak asing ditelinga nya. Semakin lama suara itu semakin terdengar jelas saja seolah memang berada dekat dengan nya.


Mata cantik itu perlahan terbuka namun cahaya silau yang terlihat benar - benar menyakiti mata hingga membuat nya kembali memejamkan mata beberapa detik kemudian di buka lagi. Pandangan yang pertama kali ia lihat adalah langit - langit ruangan yang bercat putih yang terasa familiar di mata nya.


"Gue dimana?" Ia mengerjap cepat. "Apa gue udah nyampe surga?"


Apa iya ini surga?


Ia nampak meracau lalu sedikit memiringkan pandangan menatap ke arah tiang infus yang berada disisi ranjang.


"Hm? Tiang infus?" Ia mengernyit dengan sangat. "Memang nya di surga ada benda kayak gini ya? Apa surga sudah upgrade?"


Ctak!


"Awh!!" Ia mengaduh saat tangan besar seseorang menjitak dahi nya dengan tidak pelan.


"Omongan kamu ngelantur."


Ia sontak menengok ke arah samping kanan nya, terlihat beberapa orang yang tengah menatap lekat ke arah nya. Ada juga yang tengah menitikan air mata.


Daddy? Sigra? Mommy? Dan... Siapa itu? Seorang pria yang sudah berumur duduk di dekat Sigra. Ia tak tahu itu siapa.


Mommy lantas berlari memeluk Risya dengan erat. "Caca..." Wanita itu menangis sambil mencium seluruh wajah putri nya -kecuali bibir-.


Sedangkan Risya sendiri masih diam dan termenung. Apa ini? Apa ia tadi hanya bermimpi mendengar suara kakak perempuan nya dan teman baik nya?


Apa karena ia begitu rindu sampai membuat nya jadi berhalusinasi? Tapi sungguh ia mendengar suara mereka dengan jelas walau tak melihat wajah mereka sekalipun.


"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Mommy kala melihat putri nya nampak termenung dan tak merespon mereka.


"Dad! Cepat panggilin Dokter!" Titah nya pada sang suami. Ia cemas sambil menatap mata putri nya yang nampak terlihat kosong.


Sang suami dengan cepat melangkah keluar meninggalkan mereka, saking panik nya sampai lupa ada tombol pemanggil di dalam ruangan itu.


Sigra mengusap dahi Risya dengan jari jempol nya. Gadis itu perlahan menoleh ke samping sambil mengerjap bingung.


"Abang," gumam nya kecil.


"Sayang, ini Mommy." Risya mengalikan pandangan nya ke arah wanita itu.


"Mommy." Mommy mengangguk sambil tersenyum ke arah nya. "Caca pengen duduk." Ia mencoba bangkit namun di tahan sang Mommy.


"Rebahan aja, sayang. Kamu baru aja bangun," sergah Mommy. Risya menggeleng ribut, kepala nya bisa sakit jika rebahan dalam waktu yang lama.


Mommy menghela nafas dan membantu Risya untuk duduk. "Mau minum dulu?" Tawar wanita itu pada putri nya.


Risya mengangguk pelan dan dengan sigap Sigra mengambilkan segelas air untuk adik nya. Risya meneguk air itu hingga tinggal seperempat dari gelas.


"Mom, ini dimana?" Tanya Risya dengan raut bingung.


"Di rumah sakit, sayang." Mata nya terbelalak lebar, Risya baru sadar ternyata ia tengah berada di rumah sakit sekarang ini. Pantas saja langit - langit ruangan ini terasa familiar, ditambah ada tiang infus juga. Harus nya ia menyadari itu dari awal.


Risya benar - benar tidak ingat apapun, terakhir kali ia tanding basket. Itu saja, sisa nya ia tak tahu. "Caca kenapa, Mom?" Tanya nya menatap sang Mommy.


"Kamu--" Ucapan Mommy terhenti kala seorang dokter memasuki ruangan bersama dengan suami nya dan sontak membuat mereka menoleh ke arah sejurus.


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...Bersambung...