Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
Bab 69 | Kena Omel Angga



Relvan meninggalkan mall dan mengendarai mobil nya dengan kecepatan diatas rata - rata menuju lokasi yang dikirimkan oleh bocah yang menghubungi nya tadi.


Ia mencoba menghubungi Angga. Setelah beberapa menit dan puluhan kali ia menghubungi, baru lah diangkat oleh lelaki itu. Relvan mendecakkan lidah nya, apa sih yang dilakukan oleh lelaki itu?? Tak biasa nya ia sulit dihubungi.


[Halo? Kenapa, van?]


"Ck. Lu kenapa gak bisa dihubungi?" Tanya Relvan sambil fokus menyetir. Tak ada sahutan beberapa saat.


[Tadi gue sibuk. Eh tadi Rizhan juga ada telepon gue, emang ada apaan? Kalian lagi ngumpul?] Kata Angga.


"Goblok!" Maki Relvan hingga membuat Angga terkesiap kaget.


[Eh kok lu maki gue?!] Keluh nya nampak tak terima dengan makian Relvan.


"Rizhan jatuh dari motor."


[Hah?!]


Relvan meringis sesaat kala Angga berteriak dekat telinga nya. "Ck. Bisa gak jangan teriak?" Tukas nya kesal. Hampir copot gendang telinga nya.


Angga rupa nya tengah cengengesan si balik telepon. [Hehe, elu ngagetin gue sih.] Ujar nya dan seketika ia teringat dengan perkataan Relvan barusan kalau Rizhan jatuh dari motor.


[Eh! Terus tu bocah gimana? Udah sama elu?] Suara nya terdengar nampak panik membuat Relvan menghela nafas berat.


"Gue baru mau ke sana." Sahut Relvan.


[Ah! Tunggu gue. Kasih gue alamat nya.]


Tut!


Setelah itu, telepon pun terputus. Relvan kembali berdecak kesal, bukan karena sambungan telepon terputus melainkan karena macet yang melanda jalanan kini hingga membuat nya harus bersabar dan semoga Angga lebih cepat sampai ke sana.


"Sialan!" Umpat nya kesal.


**


Angga berlari keluar dari kamar hingga membuat Ibu dari lelaki itu menatap nya dengan bingung. Padahal beberapa menit sebelum nya putra nya itu baru sampai di rumah, sekarang mau kemana lagi anak itu??


"Eh, mau kemana kamu?"


Angga menegok sebentar kemudian menjawab namun sambil bergegas. "Angga mau keluar dulu, Mah. Rizhan jatoh."


Ibu Angga nampak terkejut mendengar perkataan putra nya. "Ha? Rizhan-"


"Bukan, bukan. Angga salah ngomong, aduuh... Angga pergi dulu, Mah."


Ibu Angga terlihat bingung sekaligus penasaran dengan maksud perkataan itu, benarkah si Rizhan imut nan kiyowo anak tetangga sebelah itu yang dimaksud putra nya??


Angga berlari ke arah motor, mengendarai kuda besi itu dengan kecepatan tinggi menuju lokasi yang diberikan oleh Relvan.


Usai menghabiskan waktu hampir 10 menit, Angga lebih dulu sampai di lokasi tersebut. Dari jarak yang sedikit jauh, ia melihat Rizhan dipapah oleh bapak - bapak ke sebuah warung di persimpangan jalan.


Angga menambah kelajukan motor nya dan berlari menghampiri Rizhan ketika motor nya sudah ia parkirkan. Tak lama dari itu, Relvan juga datang dan menghampiri mereka.


"Zhan!"


Rizhan dan beberapa pria dewasa serta pemuda yang ada di sana kini menengok ke arah sumber suara.


"Aduh elu kenapa?" Tanya Angga panik.


"Lele..." Mata Rizhan hampir mengeluarkan air mata membuat Angga bertambah panik.


"Pak, biar saya yang bawa dia. Ini temen saya."


Orang - orang yang menolong Rizhan pun membiarkan Angga memapah anak itu.


"Makasih ya, pak." Ucap Angga sambil tersenyum ramah.


Mereka mengangguk dan sebagian mulai bubar dan meninggalkan tempat. Relvan yang baru datang pun ikut memapah Rizhan juga. Rizhan sudah terlihat sangat menyedihkan disini. Mana dapat luka, mana ia juga belum sempat memakan telur gulung milik nya.


"Van?"


"Bawa ke mobil gue aja." Titah Relvan pada Angga yang menatap ke arah nya.


Rizhan menengok ke motor nya lalu menatap kedua teman nya bergantian. "Motor Rizhan gimana?"


"Orang suruhan gue nanti yang bawa." Sahut Relvan dan Rizhan kini menurut saja, lantaran ia tengah sakit jadi tak bisa banyak bertingkah.


"Van, sekalian sama motor gue."


Relvan mengangguk menanggapi permintaan Angga. Mereka masuk ke dalam mobil, Angga dan Rizhan duduk di kursi tengah, sedangkan Relvan duduk didepan sebagai supir.


Kali ini ia tak masalah, lagipula situasi nya lagi tak memungkinkan untuk nya meributkan siapa yang jadi supir.


Relvan mencari kotak P3K didalam mobil nya, ia memang selalu membawa itu kemana pun ia pergi selagi menggunakan mobil. Tak ada salah nya kan kalau kita berjaga - jaga kalau terjadi sesuatu??


"Obatin luka lu."


Relvan memberikan kotak tersebut tersebut kepada Rizhan namun disambut cepat oleh Angga.


Angga semakin panik melihat siku bagian kiri Rizhan nampak merah karena darah. "Ha? Tangan lu berdarah!"


Rizhan menganggukkan kepala membuat Angga membolak - balikkan tubuh nya. "Dimana lagi yang luka?" Tanya nya.


"Lu jatoh gara - gara apa?" Tanya Angga mengintimidasi.


"Gara - gara ibu - ibu yang gak liat jalan."


"Terus?"


"Terus ya gitu, untung gak ketabrak."


Angga membersihkan luka di siku menggunakan alkohol. Menekan-nekan nya hingga membuat Rizhan meringis menahan perih.


"Pelan-pelan Le. Sakit." Keluh Rizhan.


"Maka nya jangan pergi sendiri lagi. Udah dibilangin juga bahaya masih aja bandel!" Omel Angga membuat Bocah itu menggigit bibir bawah nya.


"Zhan kan pingin jalan - jalan, tapi gak ada temen. Jadi nya ya sendirian aja." Jawab Rizhan lirih.


Angga menempelkan plester luka pada siku kecil itu. "Lain kali kalau gue gak bisa dihubungin langsung samperin aja ke rumah. Atau sekalian gak usah jalan - jalan kalau lu sendiri!"


Rizhan terdiam kala suara Angga nampak meninggi sesaat. Relvan hanya menatap kedua nya dengan intens, ia tak yakin Rizhan tak menangis setelah ini.


Rizhan tak bisa mendengar suara keras sejenis bentakan dan semacam nya, itu bisa membuat dirinya takut terhadap lawan bicara nya.


"Denger gak?" Tanya Angga seraya membersihkan luka di lutut Rizhan lalu menempelkan plester luka seperti luka sebelum nya.


"Denger." Sahut Rizhan lirih.


"Denger, denger, tapi nanti gak didengerin." Gerutu Angga lagi.


Relvan menghela nafas melihat teman nya itu. "Jangan dimarahin, Le." Tegur nya.


"Kalau gak dimarahin gak dia bakal dengerin, Van!"


Relvan menatap Rizhan yang tengah menundukkan kepala. "Udah lah pelan - pelan aja, nanti dia juga ngerti. Jangan terlalu keras."


"Ck!" Angga mendecakkan lidah seraya menyandarkan punggung pada kursi mobil. P3K tadi sudah dibereskan dan ditaruh ketempat semula.


"Lu sekali - kali jangan belain dia coba!


Manj-"


"Angga! Omongan lu bisa gak di jaga?!" Bentak Relvan dan memandang Angga dengan tajam. Omongan Angga bisa memperburuk permasalahan mereka saja. Bukan nya selesai malah tambah ruyem.


"Anak orang nangis gue sleding kepala lu!" Ancam nya.


Angga menghela nafas pasrah, sesekali ia melirik Rizhan dari ekor mata nya. Sebenar nya ia merasa kasihan dan tak tega untuk memarahi, namun sesekali harus ia lakukan. Biarlah anak itu belajar dewasa karena keadaan.


Rizhan masih menundukkan pandangan, tak mau menatap Angga. Ia hanya diam saja kemudian meraba ponsel dan mengetikkan sesuatu pada ponsel nya.


Mobil mereka sudah melaju menyusuri jalanan ramai. Namun langit nampak terlihat mendung dan tak berselang lama gerimis pun turun membasahi sedikit demi sedikit jalanan kota.


Rizhan terlihat mengantuk mungkin karena lelah setelah jalan - jalan berkeliling, ditambah ia juga menangis atau bisa jadi sekarang sudah waktu nya untuk tidur siang.


Tuk!


Rizhan meringis saat kepala nya terbentur kaca mobil. Melihat itu, Angga langsung memerintah Rizhan agar mendekat ke arah nya.


"Sini." Ujar nya. Rizhan masih sedikit takut namun ia kemudian mendekat kearah lelaki itu.


Angga menarik Rizhan untuk merebahkan tubuh nya dengan paha lelaki itu sebagai bantalan. Angga mengusap kepala Rizhan pelan. Luluh sudah hati nya dan sekarang ia tak bisa marah lagi.


Rizhan sudah ia anggap seperti adik laki-lakinya, jadi wajar kan seorang kakak marah saat adiknya tak mendengarkan perkataan nya??


Relvan hanya melirik dari kaca dalam, tersenyum tipis melihat pemandangan itu. Ia tak pernah bisa marah dengan bocah itu.


"Kenapa berhenti, Van?" Tanya Angga kala mobil berhenti di pinggir jalan.


Relvan menengok sekilas lalu bersiap untuk turun dari mobil. "Tuh bocah pingin telur gulung." Ujar nya.


Angga mengernyit heran. "Emang kapan dia bilang?"


Relvan hanya menatap Angga lalu keluar dari mobil nya. Angga yang ditinggal kan pun terlihat bingung, ia menatap Relvan dan Rizhan bergantian.


Kapan mereka berbicara??


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...Bersambung...