Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
Bab 133



Brak!!


Pintu terbuka dengan sempurna, Rhaegar sampai terkesiap kaget melihat keadaan Risya yang begitu terlihat kacau. Ia seketika langsung berjongkok di dekat Risya, meraup wajah gadis itu yang nampak bercucuran air mata.


"Hei lu kenapa?" Tanyanya dengan panik. Wajah Risya benar-benar terlihat memerah dan begitu menggoda. Sialan! Apa sih yang ia pikirkan?!


Rhaegar menggelengkan kepalanya, setan-setan tolonglah menjauh dari kepalanya. Jangan sampai membuatnya gila dan kehilangan kewarasan.


"Gar..." Risya berucap, suaranya terdengar parau tapi itu sempat membuat darah Rhaegar terasa berdesir karenanya.


Rhaegar baru sadar kalau baju seragam gadis itu terbuka, ia yang merasa pikirannya masih waras pun membantunya untuk mengancingkan kembali agar tak mengganggu pemandangannya.


"Lu kenapa, heh? Badan lu panas banget, lu sakit?" Rhaegar meraba dahi Risya, lalu memegang tangan Risya yang juga terasa panas.


Risya diam sambil menatap Rhaegar dalam, saking kepalanya tak bisa berpikir jernih lagi, ia langsung menerjang bibir laki-laki itu. Untung tidak sempat kena, karena Rhaegar dengan reflek mendorong Risya sedikit menjauh dari tubuhnya.


"Rin! Jangan bikin gue gila, please." Rhaegar menatapnya dengan lekat. "Lu gak bakal sadar sama apa yang udah lu lakuin."


Rhaegar benar-benar dibuatnya kaget. Jantungnya berdegup dengan kencang saat melihat wajah dan tatapan sayu yang diberikan oleh gadis di depannya ini.


"Gue sadar."


"****!" Umpatnya singkat sembari mengalihkan pandangan ke arah lain.


"Egar, bantuin gue." Risya berucap sembari menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Ia takut jika menatap wajah Rhaegar. Takut kalau ia khilaf dan melakukan kesalahan.


Rhaegar memijit kedua sisi pelipisnya. Lalu kemudian, ia menarik kedua tangan yang menutupi wajah cantik Risya. Ia lihat, Risya hanya hanya meliriknya dari balik bulu mata. Pun tangan gadis itu terasa gemetar di genggaman tangannya.


"Jujur sama gue, lu ada makan sesuatu gitu sebelumnya atau minum?"


Ia sebenarnya tak yakin dengan tebakannya sendiri, namun melihat efek yang diterima oleh Risya. Sepertinya Rhae tahu dia terkena apa.


Risya menggelengkan kepala, ia juga tidak tahu kenapa. Mungkin ia lupa karena dibawah pengaruh rasa yang diterimanya, ia tak bisa berpikir apapun untuk sekarang ini.


"Gar, please..."


Risya kembali memohon dan menatapnya dengan sayu, laki-laki itu hampir saja kehilangan akal sehat saat memandangnya. Tapi, Rhaegar tak bisa mengambil kesempatan begitu saja. Ia tak mau sesuatu hal yang tak diinginkan terjadi pada mereka.


"Sorry, Rin. Tapi gue gak bisa. Ayo, biar gue antar lu ke UKS, lu bisa tahan sebentar, kan?"


Rhaegar bertanya seraya merapikan baju Risya. Jujur, ia juga sambil menelan ludahnya dengan susah payah. Begini-begini Rhaegar juga laki-laki normal, masih punya nafsu jika disuguhkan hal yang seperti ini.


Ia menengok ke arah lantai dan mengambil almamater Risya yang tergeletak di sana. Saat ia mengambil benda itu, Risya malah menarik dasinya hingga menyebabkan ia terdorong ke depan. Pergerakan dari Risya, lagi-lagi membuatnya terkesiap dan sungguh kaget.


Rhae yang merasa ini bahaya, ia langsung reflek menjatuhkan tangannya ke dinding bilik, menahan tubuhnya agar tidak menindih Risya.


Beberapa detik berikutnya, lki-laki itu sontak terdiam kaku saat merasakan bibirnya bersentuhan dengan benda lembut nan kenyal dan sedikit lembab itu. Ini... Bibir Risya?


Mungkin, karena merasa tak ada penolakan, Risya malah ingin lebih dari sekedar kecupan saja. Ia lalu ******* bibir sang empu, kegiatan itu berhasil membuat tubuhnya yang tadinya terasa panas, kini sedikit mereda.


Oke, Rhaegar merasa bahwa ia akan jadi laki-laki brengsek untuk kali ini. Setelah tersadar dengan keadaan, Rhae tanpa berpikir dua kali ia pun membalas ciuman yang diterimanya.


Namun, ia juga harus menahan kewarasannya dan hanya membalasnya dalam batasan wajar. Pintu sudah tertutup dan terkunci, wanti-wanti takut kalau ada yang tiba-tiba datang dan memergoki mereka di saat seperti ini.


Cukup lama kegiatan itu berjalan, saat merasa pasokan oksigen sudah mulai habis, Rhae langsung melepaskan ciuman mereka. Ia menatap ke arah Risya dengan sayu. Ia tak menyangka ciuman pertamanya adalah dengan perempuan yang paling ia sukai.


Di satu sisi, Rhaegar merasa senang. Namun di sisi yang lain, ia pun merasa bersalah atas hal ini. Pandangannya terlihat sendu saat ia mengusap bibir Risya yang terdapat sisa saliva mereka.


"Bae, you okay?" Ucapnya dengan suara pelan dan serak.


Risya menggelengkan kepala, pertanda ia tidak baik-baik saja. "Again, please," pintanya pada Rhaegar.


Rhaegar menghela nafas sedikit kasar. "No, i can't help you," sahutnya. Ini saja sudah membuatnya takut, takut kalau menghancurkan pertemanan di antara mereka. Takut juga kalau akan menghancurkan masa depan mereka.


Buk!


Rhaegar langsung menahan tubuh Risya yang sontak melemah. Dia pingsan, sebab Rhae langsung memukul tengkuk belakang kepala gadis itu.


"Sorry, tapi ini lebih baik buat kita bersama."


Ia merapikan rambut Risya yang berantakan, baju seragamnya dan memasangkan almamater Risya dengan benar. Setelah itu, ia lalu menggendong gadis itu keluar dari toilet. Menilik ke sisi kanan dan kiri. Dan beruntung tak ada siapapun di sana hingga memudahkannya untuk berjalan keluar.


Rhaegar membawa Risya ke UKS, itu tempat satu-satunya di sekolah yang bisa menangani gadis ini.


"Bertahan, Rin. Dan gue harap lu gak benci gue saat lu sadar nanti." Tapi semoga saja, Risya tak mengingat kejadian ini.


***


Di dalam kelas, Alby memainkan pulpennya seraya sibuk memandang keluar jendela. Rhaegar sedari tadi juga belum kembali ke kelas. Entah apa yang tengah dilakukan oleh anak itu. Kalau ke toilet, kan, tidak mungkin selama ini sampai-sampai guru di depan sudah keluar dari kelas ini.


Tok! Tok! Tok!


Suara ketukan pintu membuyarkan keramaian anak-anak di kelas ini, mereka semua terdiam tak terkecuali dengan Alby. Menatap ke arah pintu yang diketuk sebelum melihat siapa yang masuk.


Rhaegar, ia menyembulkan kepalanya ke dalam. Menilik dengan seksama dan ternyata di dalam sudah tak ada guru yang sebelumnya. Karena keadaanya sudah seperti itu, ia bisa masuk dengan santai tanya membuat-buat berbagai macam alasan.


Saat ia kembali ke mejanya, ia melihat tatapan Alby yang memicing ke arahnya. "Kenapa lu?" Tanyanya dan duduk dengan santai.


Alby mendecakkan lidahnya. "Lu ngapain sih, kok lama amat?!" Sentaknya dengan nada curiga.


"Gak ngapa-ngapain."


Alby mengernyit mendengarnya. "Terus Risya-nya kemana? Bukannya tadi lu disuruh nyari dia sekalian, ya?"


Jelas Alby bingung, pasalnya Rhaegar malah kembali ke kelas tanpa bersama Risya. Dia yang disuruh mencari tapi kenapa pulang sendiri?


Rhaegar menghembuskan nafasnya. "UKS," ujarnya singkat tapi berhasil membuat Alby terkesiap.


"Hah?!"


Rhaegar sontak meringis karena teriakan temannya itu. "Gak usah teriak monyet!" Dengusnya. Teman-teman di kelas juga menatap sejurus ke arah mereka dengan tatapan tanya.


Alby langsung kicep dan terdiam, ia membenarkan posisi duduknya menghadap Rhaegar. "Tapi serius sama apa yang lu bilang tadi?" Rhaegar mengangguk. "Emangnya dia ngapain di sana? Bukannya masuk kelas, kok, malah lari ke sana?"


"Pingsan," ucap Rhae dengan wajah tanpa ekspresi.


Untuk kedua kalinya, Alby terkesiap kaget mendengar perkataan Rhaegar. Apa Risya sedang sakit, makanya tadi Rhaegar terlihat gelisah dan langsung menyusulnya?


"Dia sakit?" Tanya Alby lagi. Rhaegar lalu menganggukkan kepala.


Alby dibuat terdiam, ia pun memandang Rhae dengan cermat. Ia merasa seperti ada yang aneh dengan sikap temannya ini, tapi ia tak tahu apa.


"Ya udah, ntar kita jengukin pas istirahat kedua nanti."


Rhaegar lalu kembali mengangguk sekali. Melihat responnya hanya sebatas itu, Alby jadi bingung. Tapi ya sudahlah, ia juga tak mau mempermasalahkan nya.


...•...


...•...


...•...


...•...


...Bersambung...