Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
Bab 123



Relvan seketika terkesiap kala mendengarnya. "Lho kok bisa, Bang?" Tanyanya dengan alis mengerut.


"Ya gue juga tau, Van," sahut Elio. "Biasanya jam segini dia udah stand by di kamar, tapi pas gue periksa orangnya malah gak ada. Gue nyamperin Bunda juga ternyata gak ada, biasanya dia tuh suka banget ngintilin emaknya."


"Udah coba dihubungin belum?"


"Udah, tapi ponselnya gak aktif. Padahal udah jam segini juga gak tau ke mana perginya dia." Elio menatap jam di ponselnya lalu kembali ia alihkan ke arah Relvan.


"Lu ada liat dia pas pulang sekolah tadi gak?"


Relvan hanya melihatnya saat berada di parkiran saja, sebelum itu ia juga sempat melihat Soya bersama temannya namun setelah itu tak tahu lagi.


"Waktu gue mau pulang, gue ada liat dia lagi di parkiran, Bang," sahutnya membuat Elio menatap lekat ke arahnya.


"El! Itu Ila atau bukan?" Suara Bunda langsung mengalihkan atensi kedua pemuda itu.


"Bukan, Bun!" Balas Elio sambil menengok ke arah dalam. Setelah itu ia kemudian kembali menatap Relvan. "Masuk dulu, Van, biar bicara di dalem."


Relvan pun sontak menganggukkan kepalanya dan melangkah ke dalam rumah.Elio juga kembali menutup pintu tersebut. Ia tak langsung jadi berangkat karena mungkin ingin mendengar sebuah informasi lain dari lelaki yang barusan datang itu. Seraya mengikutinya, Elio nampak menimbang-nimbang perasaannya. Pergi jemput atau tidak? Tapi bukankah ini sudah menjadi tanggung jawabnya sebagai kakak?


Relvan yang melihat Bunda pun langsung tersenyum hangat. "Bunda," sapanya.


"Eh? Kamu di sini?" Bunda Seya deranjak dari tempat duduk membuat relvan langsung memeluknya dan cipika-cipiki dengan Bunda.


"Tumbenan banget kamu ke sini pas langit masih cerah? Biasanya pas langit udah gelap gulita," sindir Bunda setelahnya hingga membuat Relvan terkekeh geli.


Iya juga, ya, di beberapa kali kesempatan, Relvan selalu datang ke sini saat malam tiba. Kalau siang ia punya banyak acara dan juga perlu merehatkan otaknya usai pulang sekolah.


"Gak tau deh, Bun, lagi kepengen aja," ujarnya. "Oh, iya, Vano juga bawa kue kesukaan bunda," tambahnya seraya tersenyum sambil menenteng keresek yang dipegangnya ke hadapan bunda Seya.


"Duh kok jadi enak nih?" Gurau Bunda sembari tertawa kecil.


"Idih Bunda!" Sinis Elio.


Bunda seketika memasang wajah cemberut. "Apa sih kamu? Suka banget iri sama Bunda," katanya.


Interaksi dari keduanya malah membuat suasana terasa hangat bagi Relvan. Kapan, ya, ia bisa merasakan kehangatan kembali keluarganya seperti ini?? Ia iri...


Bunda Seya mengalihkan pandangannya pada Relvan. "Maaf ya, Van, bunda malah jadi ngerepotin kamu."


Relvan menggeleng kecil. "Gak apa-apa, Bun, Vano malah senang kalau direpotin sama Bunda," ujarnya dengan senyuman hangat.


"Bisa banget kamu," celetuk Bunda. Wanita itu kemudian menatap ke arah anak sulungnya. "El, kamu gak jadi keluar?" Tanyanya.


"Jadi, kok, Bun," sahut Elio. Tapi ia masih tak bergeming dari tempatnya seolah tengah mengulur waktu entah untuk apa.


"Ila beneran belum pulang, ya, Bun?" Relvan menatap Bunda Seya yang terlihat menganggukkan kepala.


"Belum pulang, ya?" Gumam Relvan dalam hati. Kenapa bisa? Setahunya juga, Soya tak ada mengambil kelas tambahan di sekolah atau les di luar sekolah, lantas kenapa ia malah tak kunjung pulang? Ini sudah hampir sore sekali.


"Dia gak ada ngabarin Bunda?"


"Gak ada, Van. Bunda juga gak tau kenap." Bunda Seya lalu berkata kembali, "cariin aja lah, Bang. Takutnya adekmu malah kenapa-kenapa di sana."


Terlihat guratan cemas di wajah cantik wanita itu. Relvan jadi iba seketika dan mengajukan dirinya juga untuk membantu mereka. "Gue ikut deh, Bang," ujarnya tiba-tiba.


Bunda sontak menoleh. "Kamu mau ikut juga?"


Relvan balas menatap ke arah Bunda Seya sembari menganggukkan kepala sekali. "Gak apa-apa kan, Bun?" Tanyanya. Takutnya malah jadi mengacaukan mereka kalau tidak meminta izin.


Bunda mengulas senyuman. "Gak apa-apa, kalau gitu hati-hati aja kalian," ucapnya.


Relvan nampak mengangguk sambil tersenyum begitu juga dengan Elio. Saat baru saja melangkahkan kakinya mendekati Elio, pintu rumah tiba-tiba terbuka hingga membuat mereka lantas terkesiap dan langsung menatap ke arah sejurus.


"Ila?!" Ucap mereka hampir serentak saat melihat sosok Soya yang muncul di depan mata.


Setelah menutup pintu, ia berjalan mendekati sang Bunda sambil tersenyum tipis. "Bund, Ila pulang," ucapnya seraya mengecup singkat pipi Bunda-nya. "Maaf Ila pualng telat."


Soya nampak tersenyum kecut. Beruntung ia tengah memakai hoodie yang agak besaran dan bisa menutupi tangannya yang berbalut perban. Kalau Bunda melihat pasti wanita itu akan mengomelinya tiada henti, belum lagi Elio yang menambah omelannya. Bisa langsung pusing Soya.


Soya menggaruk pipinya yang tak gatal. "E... Itu tadi mobil Ila mogok dan harus dibawa ke bengkel dulu," dalihnya. Semoga mereka semua percaya.


"Mogok?" Soya menatap ke arah Elio. "Kenapa gak hubungin Abang, La? Kalau kayak gitu kan Abang bisa jemput."


Soya menghela nafas panjang. "Ponsel gue lowbet, Bang. Sorry..." Perkataanya membuat Elio terlihat mengambil helaan nafas juga.


"Dari kapan? Kenapa gak bilang sama gue aja?" Timpal Relvan dan membuat Soya lantas melirik ke arah lelaki itu.


"Kita gak searah dan gue mogok pas di jalan. Dan lu juga denger, kan, tadi kalau ponsel gue lowbet?"


Suasana seketika menjadi tegang usai Soya berkata seperti itu. Bunda yang merasa ada keanehan di antara mereka pun sontak membuyarkan suasana tersebut.


"Ya udah lah, Bang, gak apa-apa yang penting adek udah pulang juga." Bunda menatap sang anak dengan lembut. "Lain kali bawa power bank, Nak, kalau perlu, jadi kalau ada apa-apa dan kebetulan ponsel kamu lowbet bisa di charge dulu biar bisa hubungin Bunda."


"Iya, Bun. Ila juga minta maaf udah bikin Bunda khawatir." Soya tersenyum hangat ke arahnya.


Bunda menganggukan kepala. "Kalau gitu kamu bersih-bersih badan dulu, gih. Kalau capek gak apa-apa istirahat dulu, ntar pas makan malem baru bunda panggil."


Soya langsung mengangguk dengan antusias. "Ila ke kamar dulu,Bun," pamitnya seraya berlalu dari hadapan mereka dan menaiki satu persatu anak tangga.


"Van, maaf, ya, Ila kalau mood dia lagi gak bagus anaknya emang suka kayak gitu. Suka bikin suasana jadi gak enak."


Relvan nampak mengulas senyuman saat melihat Bunda Seya yang terlihat tak enak karena ucapan Soya. "Vano paham, Bun, jadi gak apa-apa," ujarnya.


Bunda merasa lega dengan respon positifnya. "Ayo duduk, Van, bunda mau bikinin minum dulu." Lalu wanita itu pun juga berlalu menuju ke arah dapur di rumahnya.


***


Di sebuah kedai eskrim yang paling enak di kota X, terlihat dua anak muda yang sedang duduk dengan santainya sambil menikmati lelehan eskrim yang mencari di dalam mulut masing-masing.


Risya, gadis itu nampak terlihat bahagia, aura positifnya sangat terasa memancar di sekitarnya. "Seru, kan? Gue bilang juga apa," katanya sambil terkekeh kecil.


"Tapi kasian juga sama temen gue, untung gak bonyok banget," ujar Rizhan menimpali. Ya, keduanya mampir di sini sebelum lanjut berjelajah ke toko kue di ujung jalan sana.


"Tapi, kok, lu bisa tau, Sya?" Sambungnya lagi dengan tatapan penasaran.


"Tau apa?" Tanya Risya seraya menelengkan kepalanya.


"Tau kejadian ini," sahut Rizhan kemudian.


Risya mengangguk-anggukan kepalanya mengerti, ia terlihat berdiam diri sejenak dalam beberapa saat.


"Gue cenayang."


Wajah Rizhan seketika mendadak jadi serius saat mendengar perkataan Risya. Melihat hal itu pun Risya langsung saja tergelak karena tak tahan dengan ekspresi yang ditampilkan lelaki itu padanya. Rizhan terlihat kiyowo saat serius begitu. He he.


Tersadar, Rizhan pun sontak mendengus karenanya. "Gak lucu, Sya!" Tukasnya.


"Ya emang gak lucu, gue 'kan gak lagi ngelawak, Zhan," sahut Risya gamblang.


Rizhan mengurut pangkal hidungnya sesaat. "Serius, Risya, dari tadi lu bercanda mulu perasaan," keluhnya hingga membuat sang empu menatapnya dengan jengah.


"Emang harus gitu. Kalau gue jawab serius ntar misal lu tiba-tiba syok di tempat gimana?" Sahut Risya dalam hati.


...•...


...•...


...•...


...•...


...Bersambung...