
Rhaegar kembali duduk di kursi yang sebelumnya ia tempati, kursi yang berada tepat di sebelah Alby sambil melipat satu kakinya. "Tawaran gue tadi gimana" Tanya Rhae dengan senyum tipis yang menghiasi bibirnya.
Risya berpikir sejenak sambil melirikkan matanya ke atas sesaat. "Oke, sih, gue gak masalah. Terus semisal gue yang menang gimana?" Ia menatap lelaki itu dengan seksama.
"Terserah, lu mau apa aja bakal gue turutin."
Perkataanya langsung membuat mata Risya berbinar cerah. "Lu gak boleh boong!" Tukasnya.
"Ya, gue bakal nepatin janji."
Sigra nampak memasang wajah masam dan sontak merebut bola basket tersebut dari tangan sang adik. "Daripada sama dia, mending kamu tanding sama Abang," katanya sambil sedikit menjauh ke tengah lapangan. Ia mendribling bola dan kembali berkata, "kalau kamu menang, Abang bakal beliin susu kotak kesukaan kamu. Terserah mau berada dus sesuai permintaan kamu."
Aduh~ Risya jadi bingung nih mau nerima tawaran siapa. Sigra apa Rhaegar, ya? Tawaran dua-duanya terlalu menggiurkan!
"Seriusan?"
"Ya."
Risya terdiam sambil menimbang-nimbang sebuah pilihan. Keduanya memang menguntungkan, haruskah ia mengajak Rhaegar sekaligus dengan Sigra agar bertanding dalam satu permainan melawan dirinya?
"Kalau lu menang lawan Sigra, gue tambahin, gue juga bakal beliin apa yang lu mau."
Mendengar sebuah suara seseorang yang dikenalinya, Risya langsung menengok ke arah sana. Ada empat lelaki yang mendekat ke arahnya, Rizhan, Relvan, Rey, dan juga Angga.
"Apalagi ini?" Batin Risya.
"Gue juga lah," timpal Rizhan sambil terkekeh.
"Gue ikut."
"Gue juga ngikut."
Sial! Semua teman Sigra kenapa malah ikutan juga?! Risya nampak cengo sejenak dan berpikir keras. Ia kemudian berdehem pelan, mengkondisikan suaranya yang ingin keluar.
"Oke, oke. Kalian jangan main keroyokan dong, gue gak nahan sama tawarannya!" Dengus Risya setelah itu.
"Gimana?" Tanya Angga.
"Oke!" Sahut Risya yakin.
"Ini ngapa pada ikut-ikutan, sih?" Celetuk Rhaegar dengan kesal. Kalau kayak gini, kan, artinya Risya sudah pasti akan bermain basket dengan Sigra dan bukan dirinya. Huh!
Angga langsung mendelik ke arah Rhaegar. "Ya terserah kita lah! Emang elu siapa?" Sahutnya dengan pandangan sinis.
"Lu gak kenal gue?"
"Emang lu termasuk orang yang harus dikenal?" Tanya Alby dengan polosnya.
"Lu gak usah ikut ngomong, nyet!" Ketus Rhae seraya menggeplak kepala temannya dengan ringan. Alby langsung mendengus dan menggerutu.
Rhae memandang Rey, Angga, Rizhan dan juga Relvan. "I'm Risya's boyfriend," katanya kemudian hingga membuat Risya terkesiap kaget. Bocah ini memang gila!
Bersamaan dengan itu, sebuah bola basket tiba-tiba melayang ke arahnya dan dengan sigap pula Rhae langsung menangkapnya sebelum mengenai wajahnya. Rhaegar nampak bernafas dengan lega, dan merasa bangga juga dengan reflek dirinya. Kalau kena bola basket, bisa tak terkontrol lagi wajah tampannya.
Lelaki itu kemudian memandang ke arah orang yang melemparkan bola ini ke arahnya tadi. "Woi, Sigra! Hampir kena muka gue anjir!" Omelnya yang tak dihiraukan oleh sang empu di sana.
Sigra menghembuskan nafas kasar dan hanya menatapnya dengan wajah yang nampak datar. "Emang gue perduli?" Ucapnya kemudian.
"Ya harus perduli lah! Gue, kan--"
"Berisik!" Sigra langsung memotongnya. Ia jadi khawatir, entah Rhae hendak bilang bahwa lelaki itu teman dekatnya atau seperti kata-kata sebelumnya yang membuat moodnya jadi terkuras dengan percuma.
"Ck." Rhae berdecak pelan sembari balik melempar bola tersebut ke arah sang empu. "Lu lawan gue, gimana?"
Rhae berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah Sigra. Lelaki yang di sebelah sana terlihat menaikan sebelah alisnya. Sedikit bingung, mungkin.
"Lu nantangin gue?" Tanyanya.
"Gue nawarin, bukan nantangin."
Rizhan sontak memasang wajah melongo. "Ya itu, kan, sama aja bego!" Celetuk nya pelan. Angga yang berdiri di samping anak itu lantas terkekeh mendengar perkataannya.
Sedangkan Risya nampak melipat tangannya ke depan dada sambil memasang ekspresi masam seketika. Ini kenapa jadi mereka yang ingin bermain? Padahal di sini ia yang menginginkan hal itu.
"Oi, gue gak nyuruh kalau kalian berdua yang bakal tanding," lerai Risya sembari berjalan ke arah Sigra dan juga Rhaegar. Ia merebut bola itu dan menatap malas ke arah keduanya.
"Sama gue, mau satu lawan satu atau satu lawan dua?" Risya menatap Rhae dan Sigra secara bergantian.
Mendengar hal itu, Relvan lantas menyergah perkataannya. "Satu dari kalian lebih baik ngalah," katanya sembari duduk di kursi yang tersedia di sana. "Dia cewek, jangan main keroyokan."
Risya menoleh dengan sinis. Relvan terlalu meremehkan dirinya, padahal dulu ia adalah kapten basket putri yang paling berkelas di kampusnya. Satu lawan tiga juga bakal ia jabanin, kok!
"Betul tuh!" Tambah Alby sambil menganggukkan kepala. "Satu lawan satu aja, Sya, biar gampang. Lu pendek sedangkan mereka berdua tinggi, rada susah keliatannya."
"Apa sih? Lu ngeledek gue?" Sergah Risya dengan wajah kesal.
"Eh, bukan gitu, Sya." Alby menggaruk kepalanya yang sebenarnya tak terasa gatal, tak tahu hendak mengelaknya kayak gimana, di satu sisi itu memang fakta.
Sigra memandang Rhaegar. "Lu ngalah, biar gue sama Risya."
Rhae langsung hendak protes tapi tak jadi karena Risya lebih dulu melotot ke arahnya dan mengode dirinya lewat mata, 'turutin aja, biar Sigra gak cerewet lagi' begitu katanya. Dan pada akhirnya Rhae juga mengalah dan membiarkan mereka berdua. Ia lalu kembali ke tempat duduknya di sebelah Alby, capek berdiri.
Alby yang melihat nasib temannya pun lantas tergelak, ia menepuk pundak Rhae dan berkata, "gak apa-apa, Rhae. Biarin si Kakak lagi mau main sama Adeknya." Tapi Rhae tak meresponnya dan hanya menatap lekat ke arah Risya.
Risya, gadis itu menatap sang Kakak dengan seksama. "Taruhannya masih berlaku gak?" Tanyanya.
"Iya," kata Sigra dengan senyuman tipis yang mengembang di bibirnya.
"Tapi kalau aku kalah gimana?" Risya kembali bertanya.
"Ntar Abang pikirin." Sigra terkekeh setelahnya.
Risya mengangguk-anggukan kepalanya. "Oke, tapi jangan yang macem-macem, aku gak bakal mau." Ia langsung mendribling bola dan menjauh dari Sigra.
Lalu permainan pun dimulai dengan semangat 45 yang mengiringi keduanya. Tepuk tangan meriah dari enam lelaki yang menonton mereka terdengar saat Risya berhasil memasukkan bola ke keranjang. Peluhnya menetes membasahi dahi serta leher gadis itu tapi semua itu tak membuatnya merasa kelelahan.
"Nyerah gak?" Tanyanya pada Sigra.
"Gak," sahut sang Kakak.
Tak disangka ternyata Risya memang jago dalam permainan ini, kok bisa? Padahal sudah lama sekali Sigra tak pernah lagi melihat sang adik memegang bola basket ini.
"Wih~ seimbang tuh! Mantep juga!" Celetuk Angga dengan senyum sumringah.
"Namanya juga Risya, kalau gak seimbang itu namanya elu!" Sahut Alby yang sontak membuat Angga memasang ekspresi datar.
Rizhan terkekeh geli. "Alby gak boleh gitu. Ntar Angga bisa nangis," ujarnya hingga membuat keempat lelaki itu mendengus tawa.
***
Di depan teras kelas Nina nampak terdengar gaduh, entah tengah membicarakan apa hingga membuat Nina mau tak mau harus bertanya.
"Lil, di luar pada kenapa?" Tanyanya pada Lila yang baru saja masuk ke dalam kelas.
"Gak tau tuh, ribut banget!" Sahutnya. "Cuma karena liat Kak Sigra lagi main basket sama cewek yang ngasih lu minuman kemarin."
Nina mengerjap cepat. Cewek yang ngasih di minuman kemarin? Risya, ya?
"Tuh cewek pasti lagi caper sama Kak Sigra dan anak-anak GIBS lainnya!" Sambung Ana. "Dasar centil!"
Lila tak menyahuti obrolan kedua temannya lagi, ia terdiam sambil menatap Ana dan juga Nina. Sepertinya ia menyadari sesuatu, saat tadi ia menyebut Sigra dan juga cewek itu, ekspresi Nina seketika berubah. Nampak tak suka, hanya sekilas dan langsung kembali seperti semula.
Kenapa, ya? Atau matanya yang salah lihat?
...•...
...•...
...•...
...•...
...Bersambung...