Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
Bab 116



"Nin, lu gak pa pa 'kan?" Lila mengusap punggung Nina untuk menenangkan perempuan itu dari tangisnya. Tadi ia sempat berpapasan dengan Rey, ia diberitahu lelaki itu kalau Nina lari keluar dari kafetaria dan Rey kehilangan jejaknya.


Lila yang awalnya tak mengerti pun hanya menganggukkan kepalanya kala lelaki itu menyuruhnya untuk mencari Nina dan kalau ketemu katanya tolong tenangkan saja.


Lila kemudian hanya berjalan sembarang ke arah karena ia juga tidak tahu kemana Nina melarikan diri. Saat ia kebelet buang air kecil dan kebetulan tanpa sengaja ia mendengar suara isak tangis seseorang salah satu bilik di dalam toilet.


Lila kira ia hanya salah dengar dan ia juga berusaha untuk mengabaikannya saja. Namun karena isak tangis itu tak kunjung berhenti dan karena rasa penasaran sekaligus takut, ia kemudian memberanikan diri untuk mengetuk salah satu pintu yang tertutup. Lalu tanpa ia duga, ternyata itu adalah Nina.


Saat ia menemukannya, keadaan Nina memang terlihat sangat kacau dan begitu berantakan. Jadi Lila memutuskan untuk membawa Nina ke area taman belakang sekolah, di sana tempatnya lumayan sepi dan cocok untuk merilekskan diri.


Dan sekarang ini mereka duduk di kursi yang disediakan oleh taman tersebut. Keduanya hanya saling terdiam. Hanya suara tangisan kecil yang memenuhi pendengaran.


"Hiks..." Nina masih terisak kecil dan dengan sigap Lila terus mengusap punggungnya guna mencoba menenangkannya.


"Udah, Nin. Nih mending lu minum dulu, biar tenang dikit." Lila menyerahkan sebotol air mineral. Ini bukan darinya, melainkan dari seorang perempuan yang sepertinya memang sengaja mencarinya.


Lila masih mengusap punggung perempuan itu sembari merapihkan rambut temannya yang terlihat berantakan. Ia pun membantu perempuan itu untuk mengikat rambutnya dengan benar.


Setelah itu, Nina kemudian meneguk minuman yang diberikan oleh Lila. Diteguknya minuman itu hingga setengah lantaran karena tenggorokannya juga terasa kering. Nina baru menyadari kalau ternyata menangis itu juga menguras tenaga.


Jadi kalau mau menangis lagi, maka diperlukan juga tenaga yang banyak biar nangisnya jadi lebih bersemangat.


"Hiks... aku ada salah apa sih sama mereka?" Tanya Nina seraya menatap ke arah Lila dengan wajah yang sungguh terlihat menyedihkan. Seolah perempuan yang sangat tidak berdaya dan terus disakiti oleh semesta.


Lila menghela nafas panjang lalu kemudian ia juga membalas tatapan temannya. "Lu gak ada salah apa-apa, Nin. Mereka aja tuh yang sok banget!" Sahutnya. "Gue tebak ini pasti karena Soya lagi 'kan? Dia yang bikin salah sama lu?"


Nina menganggukkan kepalanya, melihat hal itu, Lila sontak ingin pergi mendatangi Soya dan mengacak-acak wajah perempuan itu. Bisa-bisanya Soya selalu menyakiti temannya ini, apa Soya tak kasihan ya pada Nina??


"Emang ya tuh cewek! Bener-bener! Maunya apaan sih?!"


Nina langsung menahan tangan Lila dan menyuruhnya untuk kembali duduk saja. "T-tapi kamu jangan marah sama Soya, Lil," ucapnya.


Lila terlihat memutar bola matanya lalu kembali duduk di tempat ia sebelumnya sambil menghadap ke arah Nina.


"Nina, Nina, lu tuh kenapa sih dari kemarin-kemarin selalu aja belain Soya?!" Keluhnya. "Dia tuh nyari masalah mulu sama lu, tau! Harusnya lu marah kek sekali-kali sama dia! Bukannya diem aja!"


"Udah, Lil, a-aku beneran gak apa-apa, kok," ujar Nina dengan pandangan yang menunduk ke bawah.


"Tsk!" Lila mendecakkan lidahnya. "Lu tuh juga, jangan nunduk mulu ngapa sih? Angkat pandangan lu, Nina, kalau lu kayak gini terus yang ada kesannya emang pantes lu kena bully," ucapnya tanpa sadar.


"Eh, bukan gitu maksud gue, Nin," sambung Lila dengan panik.


"Iya aku tau, kok, aku emang pantes jadi bahan bullyan."


"Ya ampun, Nin. Sorry banget, bukan gitu nah maksud gue. Maaf, ya," pinta Lila dan dengan cemas pula ia menunggu jawaban Nina.


Nina terdiam hingga membuat Lila jadi bertanya lagi, "lu... Marah sama gue, ya?"


Nina terdengar menghela nafas dan mengangkat pandangannya ke arah Lila. "Gak pa pa, Lil. Gak usah minta maaf, gue juga gak marah, kok."


"Seriusan?" Nina mengangguk. "Tapi gue beneran loh bukan maksud sengaja bilang kayak gitu."


"Udah, gak apa-apa, kok. Tenang aja," sahut Nina hingga membuat Lila langsung memeluk ke arahnya.


"Makasih, lu emang temen yang baik," ujarnya. Nina hanya menarik sudut bibirnya agar tersenyum padahal dalam hati ia malah mendengus kesal dan sibuk mengumpat saja.


Lila melepaskan pelukan mereka. "Oh, iya, minuman yang tadi itu bukan gue yang beli."


Nina lalu mengernyit dengan heran. "Dikasih?" Terkanya tapi Lila malah mengangguk membenarkan.


"Kok lu bisa tau sih?"


"Emang dikasih siapa?"


"Emm... Siapa, ya?" Lila seketika bingung sendiri karena tak bisa mengingat nama orang yang memberikannya itu, penyebutan namanya tak terlalu susah, terdengar mudah saja tapi ia lupa itu siapa.


"Aduh... gue lupa, Nin," kata Lila sambil mencoba mengingat siapa namanya. Bisa-bisanya otaknya ini di saat seperti ini malah tidak berguna??


Nina juga ikutan terlihat bingung. "Bukan kak Relvan, Lil?" Tanyanya.


"Bukan, Nin," sahut Lila lagi.


"Kalau gitu kak Rey?" Tebak Nina. Kalau yang ini bukan juga, lalu siapa?? Sigra? Ia malah tak yakin akan hal itu.


Lila menggelengkan kepalanya. "Bukan, Nina, yang ngasih itu cewek," ujarnya membuat Nina kini bertambah bingung.


"Cewek?" Bingungnya.


Lila menganggukan kepalanya. "Iya betul, tapi siapa ya? Namanya kayak Ri-Ri gitu," ucapnya. "Gue lupa astaga!"


Nina nampak terdiam sembari memikirkan perkataan Lila. Ia tak punya teman perempuan selain Lila dan Ana. Tapi kalau Lila tidak kenal berarti bukan salah satu dari mereka. Apa fans-nya??


"Emm, itu loh, lu tau gak cewek yang akhir-akhir ini keliatannya deket banget sama kak Sigra?"


Nina mengerutkan keningnya seraya mengerjap pelan. Ia tidak begitu tahu tapi apa akhir-akhir ini ada perempuan lain yang lagi dekat dengan Sigra kecuali Risya?


Eh?!


Nina terkesiap sendiri, jangan-jangan yang dimaksud Lila ini adalah Risya?! Apa ia begitu??


"Kenapa, Nin?" Tanya Lila yang melihat Nina sedari tadi terlihat melamun.


Nina menggeleng kecil sambil menatap ke arah Lila. "Lil, maksud kamu cewek itu yang ngasih minuman ini buat aku? Cewek yang Deket sama Kak Sigra itu?"


"Gue rasa iya, gue inget persis gimana mukanya," sahut Lila. "Katanya ini minuman buat Nina biar emosinya itu cepet reda. Dia cuma bilang kayak gitu."


Nina langsung saja menilik ke arah air minumnya. Entah kenapa ia jadi takut kalau Risya sudah memasukkan sesuatu di dalamnya dan bisa membahayakan dirinya.


"Dia gak masukin apa-apa, Nin," ujar Lila. Respon pertamanya saat menerima minuman itu juga sama seperti Nina. Lila langsung memeriksanya setelah orang itu berlalu dari hadapannya.


"Lagian bagian botolnya masih ke segel kok pas gue terima itu. Gue juga awalnya ngerasa curiga sama kayak lu," tambah Lila.


Nina langsung bisa bernafas dengan lega. Tidak ada salahnya juga 'kan bila ia mencurigai Risya? Dan aneh saja jika Risya memberikannya sesuatu padahal mereka tidak dekat. Ia juga pernah membuat mood perempuan itu anjlok pada hari itu.


"Eh tapi kalian udah saling kenal apa? Kok dia bisa baik gitu sama lu?" Lila berucap dengan rasa yang curiga.


"Aku juga gak tau, Lil. Mungkin karena aku deket sama kak Sigra ya makanya dia baik begitu."


Lila mengangguk dengan paham. "Mending lu hati-hati deh, Nin, takutnya kalau dia punya niat buruk gitu sama lu. Siapa yang tau 'kan bisa jadi dia cemburu karena lu deket sama lima pangeran sekolah termasuk kak Sigra," katanya memperingati Nina.


"Iya, aku bakal hati-hati, kok," sahut Nina Sambil mengulas senyuman.


...•...


...•...


...•...


...•...


...Bersambung...