Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
Bab 41 | Astraphobia



Usai menikmati makanan masing masing, Gio nampak memulai pembicaraan mereka.


"Ini, gue udah masukin kesini semua yang lu mau." Ucap Gio, ia menyodorkan flashdisk ke hadapan Risya yang tengah menyedot sisa jus milik gadis itu sendiri.


Risya menerima dengan senang hati seraya menaruh gelas nya ke atas meja. "Berapa rekening lu, biar gue transfer."


Baru saja ia membuka ponsel dan mulai mengetik, ucapan Gio membuat nya jadi terhenti.


"Nggak perlu deh manis. Simpen aja duit lu." Sergah Gio, menolak keinginan Risya.


"Lah, beneran?" Tanya Risya memastikan. Ia mengedip pelan merasa bingung atas penolakan lelaki itu.


Gio mengangguk, namun terlihat kaku di penglihatan Risya. Ia menoleh ke arah Alby karena sedari tadi Gio nampak melirik lirik teman nya itu.


"Kenapa liatin gue?" Tanya Alby, alis nya terangkat sebelah seolah bingung.


"Muka lu mirip badut kali." Celetuk Rhaegar membuat Alby mendengus kesal.


Risya mengalihkan pandangan nya lagi ke arah Gio. "Nggak masalah nih?" Tanya nya lagi.


"Iya, nggak masalah kok." Sahut Gio.


Risya mangut mangut. "Kalau gitu thanks ya." Ucap nya dan Gio pun lagi lagi mengangguk kan kepala.


"Oh iya, lu bisa jaga rahasia kan? Jangan sampai bocor tentang masalah ini."


"Lu tenang aja, gue bakal tutup mulut." Sahut Gio, ia menarik lekuk bibir namun tak jadi karena Rhaegar menatap nya tajam. Tatapan nya sungguh tak bersahabat sama sekali.


"Cowok lu ya?" Tanya nya pada Risya. Gadis itu mengikuti lirikan mata nya menatap lelaki yang tengah menekuk wajah nya di samping Alby.


"Bukan. Itu mah bayi Dugong, bukan cowok gue." Ucap Risya dengan senyum mengejek.


Rhaegar merotasikan mata nya, ia menendang kecil kaki Risya dibawah meja. "Yang keren dikit ngapa sih. Baby Lion misal nya."


"Baby lion, baby lion. Baby monkey kali lu!" Cerocos Alby seraya menggeplak kepala Rhae.


"Kalian satu sekolah ya? Kayak nya deket banget." Tukas Gio memandangi ketiga orang itu.


"Bukan satu sekolah lagi, malahan kita satu kelas." Sahut Rhaegar.


"Oh gitu, pantesan." Kata Gio sambil mangut mangut.


"Lu juga anak sekolah kayak kita?" Tanya Rhae. Risya juga ikut menatap wajah Gio, nampak nya mereka seumuran.


Gio terkekeh. "Seangkatan loh kita, beda sekolah doang. Gue pernah satu SMP bareng Alby." Jawab nya dengan menyunggingkan senyum.


"Iya kah?" Tanya Risya pada Alby.


"Iya." Sahut Alby lembut, ia mengusap surai Risya pelan. Tak tahu saja lelaki disamping nya wajah nya sangat suram.


Gio tertawa kecil, sungguh mereka terlihat lucu. Ia beranjak membuat ketiga orang itu mendongak.


"Gue duluan ya." Ucap Gio seraya menilik jam di pergelangan tangan. Ia memberikan selembar uang merah namun Alby mencegah nya.


"Gue yang traktir, Gi." Alby menyela membuat wajah Gio nampak sumringah.


"Thanks ya, gue cabut duluan." Gio menjabat tangan dua lelaki itu kemudian sedikit mengusap kepala Risya sebelum pergi dari hadapan mereka.


"Al, tahan gue, Al." Rhaegar menyuruh Alby menahan tangan nya, seolah ia hendak mengejar Gio yang telah menyentuh rambut gadis nya.


"Apa sih bikin malu aja lu, baby monkey!" Keluh Risya ketika hampir semua isi kafe menatap ke arah mereka.


Rhaegar menghentikan aksi nya lalu nyengir kuda. Dengan gaya cool, ia kembali duduk di kursi nya. Sedangkan Alby sendiri tak mengindahkan kala Rhae meminta nya memegangi tangan, ia hanya membiarkan Rhae bertingkah seperti reog. Hanya bisa memandang nya jengah dan menghela nafas lelah.


Sudah setengah jam berlalu, mereka kini keluar dari kafe tersebut.


"Lu pulang sama gue."


Risya menatap sinis Rhaegar yang dari nada bicara nya terdengar memaksa. "Gue bisa naik ojek. Sini balikin topi gue dulu." Sahut nya.


"Nggak. Bareng gue." Tekan Rhaegar, ia tak mengembalikan topi milik gadis itu. "Siapa tahu si mamang ojek itu penculik, entar diculik gimana lu?" Lanjut nya.


"Mulut lu ya! Bisa nggak mikir yang baik baik aja?" Keluh Risya, ia ingin menendang kaki Rhae namun sang empu dengan cepat menghindar.


Rhaegar merangkul pundak Alby. "Iya kan, Al?" Ucap nya, Alby mengangguk malas. "Udah gue bilang kan di sini banyak penculikan." Sambung nya lagi.


Risya mencebikkan bibir. "Halah bilang aja lu mau modus. Ya udah cepetan, keburu tengah malem."


Rhaegar tertawa geli sambil melangkah ke arah motor nya. Ia menaiki kuda besi itu lalu mengambil helm dan menyodorkan benda tersebut pada Risya.


"Pakai." Ucap nya.


Risya memandang Rhae dengan alis berkerut. "Dimana mana itu supir kali yang pakai helm, masa penumpang nya?" Gerutu nya.


"Ya nggak apa apa, kali ini beda untuk nona muda Erin." Kata Rhaegar.


"Apa sih? Gak jelas banget." Ketus Risya seraya mengambil kasar helm di tangan Rhaegar.


Ia naik ke atas motor dan menepuk pelan pundak lelaki itu. "Kuy jalan!"


Rhaegar menatap Alby dan diangguki oleh lelaki yang ia tatap. Motor mereka melaju meninggalkan kafe 'X yang masih terlihat ramai pengunjung.


**


Risya mencondongkan kepala sedikit kala suara Rhaegar terdengar samar di pendengaran nya. Mereka masih di perjalanan, jadi suara yang bertabrakan dengan angin menjadikan nya tak terlalu terdengar.


Mereka sudah berpisah dengan Alby, karena rumah Risya dan lelaki itu berbeda arah.


"Apa?" Tanya Risya sedikit keras.


"Lu cantik." Sahut Rhaegar dengan senyum tipis menghiasi bibir nya.


"Hah? Gak jelas Gar, coba yang kenceng. Gak denger gue." Pekik Risya.


"Tuli ya lu?" Balas Rhae.


"Sialan lu!" Umpat Risya. "Bukan tuli gue, lu nya aja yang ngomong gak kenceng."


Rhaegar terkekeh. "Rin, dingin gak?" Tanya nya random membuat Risya menelengkan kepala.


"Nama nya juga malem ya dingin. Kalau panas nama nya siang." Sahut Risya, nampak jengah.


Rhaegar menilik ke atas, menatap langit gelap yang dihiasi awan hitam. "Kayak nya mau hujan deh, langit nya gelap banget." Celetuk nya.


Risya mengangkat kepala menatap langit, memang langit sudah sangat gelap dan angin mulai berhembus kencang.


"Gar, cepetin jalan nya keburu ujan." Tukas Risya, pupil mata nya terlihat bergetar.


Tak berselang lama, kilatan petir mulai menyambar, disertai suara guntur yang memecah di telinga.


Risya yang tersentak dengan reflek memeluk Rhaegar, tangan nya berkeringat dingin serta seluruh tubuh nya bergetar hebat.


Sedangkan Rhaegar sedikit terlonjak kaget, hampir saja ia oleng karena sentakan mendadak yang diterima nya. Ia merasakan tangan gadis di belakang nya bergetar dan ia rasa pelukan Risya semakin erat.


Rhaegar menyentuh tangan Risya yang terasa dingin. "Rin, lu baik baik aja kan?" Tanya nya, khawatir. Ia tak dapat melihat ekspresi Risya saat ini.


Risya tak menjawab, bersamaan dengan hujan deras yang mulai mengguyur jalanan kota. Ini terlalu berisiko jika di paksa menerobos hujan, jadi Rhaegar memilih berteduh sebentar di halte.


Rhaegar melajukan kuda besi nya menuju halte. Ia menghentikan motor nya, tapi ia kesusahan saat hendak beranjak, nampak nya Risya tak ingin melepaskan pelukan nya.


Tak ada cara lain sebelum semua pakaian basah kuyup, ia menggendong Risya dari belakang. Membawa gadis itu berteduh dari guyuran air yang tak berhenti turun.


Rhaegar mendudukkan Risya di bangku halte, saat melepas helm nya ia tersentak melihat netra gadis itu sudah berlinang air mata.


Ia menggenggam tangan mungil yang bergetar itu, menghapus air mata yang mengalir dengan lembut. "Lu kenapa?" Tanya nya.


"Egar, hiks.. takut.." ucap Risya. Wajah nya terlihat pucat membuat Rhae bertambah khawatir.


"Hei, nggak apa apa, gue disini." Tukas Rhaegar.


Jederrr!!!


"Kak Agas!!" Pekik Risya seraya menyembunyikan wajah nya di antara lutut, ia memeluk tubuh nya sendiri.


Rhaegar tersentak kala petir menyambar, ia menilik sekeliling menatap hujan yang semakin deras saja. Ia bingung terhadap Risya, apa gadis itu takut hujan di sertai petir? Astraphobia??


*Astraphobia adalah ketakutan yang berlebihan terhadap guntur, petir, dan kilat.


"Hiks.. kak Agas.."


"Jangan, hiks.. jangan tinggalin Riel.."


"Mama, papa... Riel takut..."


Risya meracau dan Rhaegar tak dapat berbuat apa apa. Selain mengusap kepala Risya pelan sambil membisikan kata kata penenang.


Ditengah kebingungan, Rhae mencari ponsel nya dan menghubungi nomor seseorang. Hujan nampak nya memang tak mau berhenti dan terus menyiram bumi.


Telepon tersambung. "Bawakan mobil ke jalan xx, saya tunggu lima menit." Setelah berucap, Rhae mematikan sambungan telepon secara sepihak tanpa menunggu jawaban dari seseorang disana.


"Tenang ya, gue bakal bawa lu pulang.." bisiknya ditelinga Risya.


Tin! Tin!


Lampu mobil menyorot kedua nya, Rhaegar segera beranjak dan menggendong Risya ala koala. Beberapa orang berpakaian formal nampak keluar dari mobil, mereka memakai payung dan memayungi Rhaegar sampai ke pintu mobil.


"Bawa motor tuan muda dan kita harus segera pulang." Perintah seseorang pada beberapa orang disana.


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...tbc...