Do Not Leave Me

Do Not Leave Me
Bab 138



Gelak tawa beberapa orang pemuda terdengar di dalam salah satu ruangan kelas di sana. Ruangan yang lumayan luas dan sejuk, ditambah ada AC serta kipas angin yang melengkapi fasilitasnya.


"Eyy, lu curang banget, Zhan!"


Angga menyergah dengan wajah kesal. Beberapa kali ia sudah kalah dalam permainan teka-teki, melawan Rey dan Rizhan yang sekarang imbang memimpin permainan.


Rizhan mendelik. "Apaan? Orang elu nya aja tuh yang gak bisa nebak!" Tukasnya sambil mendengus.


"Bener, Zhan." Rey membenarkan, dan secara otomatis juga membela Rizhan. Laki-laki itu tertawa terpingkal-pingkal, mengejek teman mereka yang satu itu.


Sigra tak ikutan, begitu pula dengan Relvan. Kedua pemuda itu hanya diam memperhatikan teman-temannya dan sesekali ikut menimpali juga. Relvan juga hanya bisa geleng-geleng kepala melihat perdebatan kecil yang dilakukan ketiga bocah itu.


"Eh, menurut lu pada, Risya bakalan minta apa, ya, sama kita?"


Rey menyeletuk, menatap keempat orang temannya secara bergantian. Sedangkan tangan kanannya nampak tengah memutar-mutar bolpoin di jemarinya. Permainan telah selesai, Angga protes dan berakhir menyerah. Jadi ya sudahlah, akhiri saja semuanya biar adil.


Rizhan sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan. "Gue rasa dia bakal minta beliin makanan," sahutnya nampak yakin. Ia kemudian menatap ke arah Sigra yang notebene-nya adalah kakak dari Risya.


"Menurut lu gimana, Gra?" Tanyanya pada laki-laki itu.


Sigra terlihat menganggukkan kepala. "Itu sih pasti," katanya kemudian. Risya memang suka makan, jadi ia tak perlu merasa heran.


Angga lalu manggut-manggut mengerti saat mendengar jawaban Sigra, tangannya mengetuk-ngetuk dagunya sambil melirikkan mata ke arah lain, sesaat.


"Bener, sih. Gue liat dia emang suka makan, terlebih dia maniak susu yang rasa stroberi." Ia ikut menimpali obrolan teman-temannya juga.


"Beliin aja kalau emang dia minta susu, berapapun yang dia mau," ujar Relvan pada detik berikutnya.


Tak masalah sih, lagian harga satu dus susu juga tidak seberapa. Tak mau sombong, tapi ia sendiri pun sanggup membayarnya apalagi ini bersama teman-temannya. Mungkin akhirnya Relvan hanya keluar uang sedikit saja.


Rizhan memeluk sandaran kursinya. "Yang kedua, pasti Risya bakal ngajak kita pergi ke suatu tempat," ucapnya hingga membuat Sigra seketika menengokan kepalanya menatap dirinya.


"Cuma tebakan?" Tanyanya pada Rizhan.


Rizhan melirik ke arah laki-laki itu lalu mengendikan bahunya. "Setengahnya cuma tebakan, setengahnya lagi -pasti beneran. Soalnya dari yang gue lihat, Risya suka banget jalan-jalan makan angin."


Dahi Angga mengerut seketika. "Kenapa jadi makan angin? Kan masih ada makanan lain?" Ia bertanya dengan wajah cengo nya, seolah penuturan Rizhan sangat membingungkannya.


Rizhan langsung mendelik dan menggeplak lengan temannya itu tanpa perduli Angga yang langsung mengaduh. "Itu tuh cuma istilah!" Katanya ketus. Ia kemudian menatap ke arah mereka lagi.


"Risya itu suka tempat yang sejuk, kayak hutan, taman, ataupun pantai."


Sigra menaikan sebelah alisnya, ternyata Rizhan itu lumayan tahu banyak tentang adiknya. Sempat membuat Sigra tak percaya, namun itu sepertinya memang betulan dan bukan hanya sebuah kebetulan.


"Setuju aja kalau dia mau pergi ke sana, tapi hutan pengecualian." Relvan menyahut.


Rey mengangguk-anggukan kepala, nampaknya ia juga menyetujui ucapan Relvan barusan. "Bahaya, banyak nyamuknya. Terlebih, kita juga gak tau ada binatang buas atau enggak di dalamnya."


Rizhan mencebikkan bibirnya. Padahal bukan hutan yang seperti itu maksudnya. Ia rasa teman-temannya salah pengertian.


"Ya, maksud gue bukan hutan liar, bukan juga hutan yang gak ada penjaganya! Kalau itu mah jangankan Risya, gue juga takut kalau di suruh ke sana!" Sergahnya sembari merotasikan bola matanya.


Rey dan Angga lantas mangut-mangut mengerti seperti orang bodoh saja. Rizhan hanya bisa menghela nafas panjang dan menyandarkan punggungnya sambil menatap mereka bergantian.


Sigra sendiri tak banyak menanggapi perkataan keempat temannya. Laki-laki itu nampaknya juga sibuk berpikir. Entah mengapa, rasanya, ia merasa sedikit iri saat temannya yang satu itu bisa langsung memahami sang adik padahal waktu yang mereka habiskan hanya beberapa jam saja. Sedangkan dirinya, ia masih belum bisa.


"Hah? Yang bener aja lu?"


"Mana gue tau, cuy! Gue juga taunya dari adik kelas kita tuh, pas gue lewat pada ngomongin itu."


Kelima pemuda yang sejak tadi berceloteh ria seketika lantas terdiam, mereka saling melirik saat mendengar anak-anak di dalam kelas nampak berbisik-bisik dengan suara yang tidak terlalu pelan hingga mereka masih bisa mendengar.


Rizhan kembali mencondongkan tubuhnya. "Pada ngomongin apaan, ya? Kok kayak rame?" Ia membuka suara dengan nada berbisik kepada teman-temannya.


Angga sontak mengangkat bahunya sembari menolehkan kepalanya menatap ke sekeliling ruang kelas. Rey juga membalikkan kepala, menatap salah satu anak di kelasnya.


"Oit! Pada ngomongin apaan?" Tanyanya pada mereka.


Salah seorang siswa yang duduk tak jauh dari meja mereka pun langsung menoleh ke arah sumber suara. "Itu tuh, adik kelas ada yang berantem," ujarnya menyahuti pertanyaan yang Rey ajukan.


Rey mengernyit heran. "Cowok?" Tanyanya lagi.


Teman kelasnya itu langsung menganggukkan kepala. "Iya cowok, tapi berantemnya sama cewek katanya."


Kini giliran Angga yang mengernyit. "Mereka adu jotos?" Ia ikut bertanya.


"Baku hantam?" Tambah Rizhan yang juga penasaran.


Si siswa menggelengkan kepala. "Enggak sih, cuma adu mulut doang," ujarnya.


"Ngeri banget sih kalo baku hantam." Siswa yang lain juga menyahut dan nampak bergidik saat membayangkannya.


Sigra yang sejak tadi banyak diamnya kini membuka suara. "Siapa?" Tanyanya.


"Rhaegar sama Soya, Gra. Katanya itu juga ada hubungannya sama Risya."


Seketika itu juga, Sigra langsung berdiri dari duduknya. Rizhan, Rey, Angga serta Relvan tak kalah terkejutnya, tapi lebih terkejut lagi karena Sigra yang tiba-tiba saja beranjak.


Laki-laki itu melangkah cepat ke arah lintu. Mereka yang melihat itu pun sontak menyusul, mengejar Sigra yang sudah keluar dari kelas mereka.


***


Di tempat lain, jantung Risya terasa berdetak lebih cepat sekarang ini, ia berlari tergopoh-gopoh mendatangi tempat yang menjadi tujuan utama mereka.


Bahkan gadis itu juga sempat mengomel saat beberapa orang siswa berada di tengah lorong hingga menghambat pergerakannya. Padahal kalau dipikirkan pun ini salah keduanya.


"Egar!"


Risya langsung memanggil nama Rhaegar saat kakinya baru melangkah masuk ke dalam ruang kelas XI-IPA2. Rhaegar yang mendengar suara seseorang yang sangat dikenalinya pun seketika menoleh, wajahnya terlihat begitu kaget akan kedatangan Risya dan juga Alby yang mengikuti gadis itu dari belakang.


Soya serta Laura pun juga, mereka memasang ekspresi serupa. "Sial! Apa mereka semua bakalan berantem?" Laura membatin sembari menatap teman-temannya, khawatir.


...•...


...•...


...•...


...•...


...Bersambung...