
"Kata si bos dibawa kemana?" Tanya seorang pria yang berbadan kurus.
Mobil berwarna hitam itu melaju menembus jalanan dan mereka mengambil jalan pintas yang tidak banyak dilalui orang.
Ada empat orang dewasa didalam mobil itu, satu orang yang duduk di samping supir sesekali menengok ke belakang memandang kedua teman nya yang tengah menjaga seseorang yang sedari tadi belum sadarkan diri.
"Ke markas aja." Sahut nya.
Si kurus mengangguk kemudian dengan cepat melajukan mobil nya agar cepat sampai ke tempat tujuan.
Mobil berhenti di sebuah bangunan yang nampak tua dan usang. Bangunan yang terletak ditengah hutan dipinggir kota X.
Mereka pun keluar dari mobil sambil membopong seorang gadis yang mereka bawa.
Krieeett..
Deritan pintu yang sudah tua nampak menyakiti telinga. Bangunan nya tak terlalu besar namun cukup menampung banyak orang di dalam sini. Dan ada sebuah ruangan kosong yang dikhususkan untuk anak - anak yang mereka culik.
Anak - anak yang sudah mereka culik akan mereka jual ke pasar ilegal. Ya, mereka itu sebenar nya adalah penculik anak - anak, namun kemarin ada seseorang yang meminta mereka untuk menculik remaja SMA.
Awal nya mereka ragu - ragu dan tak mau, tapi karena tergiur dengan bayaran yang sangat mahal, akhir nya mereka memutuskan untuk menuruti permintaan orang itu.
Lalu jadilah sekarang mereka membawa seseorang itu kemari sesuai perintah dari Tuan nya.
Seorang pria berambut gondrong membopong seorang gadis ke dalam ruangan kosong, tak ada jendela disana, hanya ada satu pintu untuk keluar. Dan jika ingin kabur, maka harus melewati pintu itu karena tak ada jalan lain sebagai alternatif.
Ia menaruh gadis itu di sebuah kursi dan mengikat tangan nya kebelakang. Mulut gadis itu juga di lakban agar tak bisa berteriak jika sudah sadar.
Ia merogoh ponsel dan menelpon atasan nya.
"Halo bos! Anak nya udah kita bawa ke sini." Kata nya ketika telepon itu sudah tersambung.
[....]
"Aman. Dia udah kita ikat, mulut nya juga udah di lakban sekalian biar nggak bisa teriak."
[....]
"Siap bos!"
Tut
Sambungan telepon dimatikan, mereka keluar dari ruangan itu dan menutup pintu nya. Membiarkan seorang gadis yang belum sadarkan diri sendirian didalam sana.
Mereka melangkah kan kaki ke ruang tengah dan duduk di sebuah sofa seraya membuka beberapa kaleng soda untuk membasahi tenggorokan mereka yang terasa kering.
"Mau di apa'in ya tuh anak?" Tanya seorang pria berkulit kecoklatan pada teman - teman nya.
Salah seorang pria yang memiliki tato kadal nampak mengendikan bahu. "Di jual kali." Ucap nya asal.
"Masa di jual? Kenapa tuh orang nggak nangkep sendiri aja sih pake nyuruh kita segala." Keluh pria berbadan kurus.
"Nangkep, lu kira kadal?!"
Pria bertato kadal mendelik kesal. "Kenapa?! Lu nyinggung tato gue?!" Tanya nya ngegas.
Si pelaku malah cengengesan saja. Pria berambut gondrong memandangi teman - teman nya yang menenggak soda.
"Kayak nya bentar lagi bos dateng. Kita jagain tuh cewek jangan sampai kabur." Ujar nya membuat mereka semua mengalihkan pandangan ke arah nya.
"Emang nya dia bisa berontak apa?"
"Badan nya kecil gitu nggak mungkin bisa ngelawan kita ber - empat."
Pria berambut gondrong mengusap - usap dagu nya. "Benar juga." Gumam nya. "Inti nya jagain aja walau yakin tuh anak nggak bakal bisa berontak."
Ketiga teman nya pun mengangguk dan menghabiskan minuman mereka sambil menunggu si bos datang.
**
Risya perlahan membuka mata nya, samar - samar ia melihat ruangan yang sedikit luas di pandangan nya. Ruangan dengan cat putih yang telah pudar warna nya, dinding nya pun terdapat beberapa keretakan seperti bangunan yang sudah lama dibangun.
Di mana dia?
Ia ingin bergerak namun ternyata tak bisa, kepala nya menoleh menatap tangan yang terikat dengan tali. Ia juga ingin berteriak namun mulut nya tertutup.
Ia mencoba menggerak - gerakan tangan nya agar tali pengikat itu longgar tapi sia - sia, tali nya terlalu kencang. Yang ada tangan nya lecet dan terasa perih.
Sialan!
Risya mengumpat dalam hati kala mengingat diri nya telah diculik oleh orang yang tak dikenal nya. Apa kah di buku ada adegan seperti ini?
Lalu sepengetahuan dia, ini adalah rencana Soya. Dan perasaan yang harus nya mereka culik itu si Nina, bukan dirinya!! Kenapa sekarang jadi begini?!
Tapi hati nya ragu kalau ini benar rencana Soya, lalu ia juga tak punya salah dengan gadis itu. Apa ini target salah sasaran??
Di luar ruangan, seorang pria dengan perut buncit masuk ke dalam bangunan itu. Anak buah nya dengan sigap berdiri dalam menyambut bos mereka.
"Dimana dia?" Tanya si bos.
"Didalam bos!" Sahut pria bertato kadal.
"Bagus!"
Bos perut buncit melangkah ke arah ruangan itu diikuti anak buah nya. Ia membuka pintu tersebut dan memandang ke arah perempuan yang sudah sadarkan diri.
"Rupanya kau sudah bangun?"
"Hmmmp- hmmmp-!"
Tawa bos perut buncit menggema di dalam ruangan. "Hahaha.. kau tak bisa bicara ya? Kasihan sekali. Percuma saja bergerak seperti itu, tak akan bisa lepas juga."
Ting!
Si bos mengalihkan pandangan pada ponsel. Mata nya menilik lekat layar pipih itu lalu memandang ke arah gadis didepannya kemudian ke arah ponsel lagi dan ke arah gadis itu lagi secara bergantian.
"Kalian menyelesaikan pekerjaan dengan benar kan?" Tanya nya pada anak buah nya.
Mereka mengangguk yakin. "Bener bos!"
Salah satu nya ikut menyahut lagi. "Anak perempuan berambut cokelat dan berkulit putih, memakai tas bermerek Gucci berwarna silver."
Bos perut buncit menautkan alisnya. "Nih coba lihat! Benar apa tidak." Ia memperlihatkan sebuah foto kepada mereka.
Setelah melihat mereka nampak saling melirik satu sama lain.
"Bener nggak sih?" Bisik salah satu.
"Kok muka nya agak beda ya?"
Mereka memberanikan diri mengangkat kepala. "Anu bos... Kayak nya ada yang salah deh." Ujar nya sedikit gagap.
"Apa yang salah?!"
Mereka menunduk dan hanya melirik dari balik bulu mata. "Seperti nya kami salah culik..."
Si bos seketika melotot garang sambil bertolak pinggang. "Hah?! Kalian salah culik orang?! Bagaimana sih kerja kalian itu?!" Tanya nya.
"Tapi maaf bos, ciri - ciri yang bos bilang itu ada pada anak ini juga. Maka nya kita culik dia." Ujar salah satu nya seraya menunjuk Risya.
"Apa ini benar - benar anak SMA? Kenapa kecil sekali?" Tanya si bos, ragu.
Sialan! Body shaming lu buncit!!
Si bos perut buncit mendengus seraya memijit kepala nya. Bagaimana ini? Apa mereka tak akan dapat uang jika begini??
"Cepat kalian cari perempuan itu sampai dapat dan bawa dia kemari!!"
Beberapa anak buah nya bergegas pergi. Sedangkan sisa nya bersama si bos di dalam ruangan ini.
Lalu gadis ini dikemanakan ya? Eh, tunggu sebentar...
Ia tersenyum sumringah ketika mendapatkan sebuah ide.
"Heh! Kau anak orang kaya kan?" Tanya bos perut buncit pada Risya.
Risya meringis kala bos buncit menarik rambut nya agar mendongak.
"Kau ternyata cantik juga ya? Boleh lah kita nikmati sama - sama." Kemudian ia tertawa keras usai berkata.
Risya hanya menatap datar ke arah nya walau perasaan takut itu juga ada, ia harus tenang dulu sambil memikirkan sebuah cara.
Bos buncit menyodorkan ponsel ke hadapan Risya. "Cepat kau tulis nomor telepon keluargamu!" Titah nya.
"Hmmpt-"
"Hah?! Bicara apa kau ini?! Kau bisu ya?"
Salah satu anak buahnya membuka suara. "Bos.." bos buncit mengalihkan pandangan. "Mulut nya kan belum dibuka bos, jadi dia nggak bisa ngomong."
Bos buncit langsung memandangi Risya lagi. "Benar juga ya, hahaha.." ia menarik lakban di mulut Risya dengan kasar.
Srekk
"Kasar banget sih om! Sakit tau nggak?!" Keluh Risya sambil mendelik tajam. Mulut nya benar - benar terasa perih sekarang.
"Kau kira aku takut kalau kau menatap ku tajam begitu?! Sudah cepat tulis!" Desak bos buncit.
Risya merotasikan mata nya. "Tangan nya kan belum dibuka juga om, gimana cara saya nulis nya? Pakai gigi?!" Tukas nya, rada kesal juga dengan om - om satu ini.
"Nanti kau malah kabur kalau dilepas!"
Risya berdecak pelan. "Ya om pikir aja sendiri gimana saya bisa kabur kalau kayak gini!"
Bos buncit menatap sekeliling, ada dua penjaga di pintu lalu ada lima orang yang berdiri di depan gadis ini. Tak ada cara buat dia kabur, kalau melawan juga seperti nya tidak mampu.
"Ya sudah, cepat lepaskan tangan nya! Awas saja kalau kau kabur!"
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
...tbc...
Selalu dukung karya ini ya🥰 Like, Komentar, Vote, dan Favoritnya. Jangan bosan dan terimakasih🙏🙏