
Soya dipapah pelan oleh Laura menuju UKS. Lumayan jauh karena letak UKS dilantai dasar. Mereka menuruni anak tangga dan sesekali juga Laura melirik ke arah tangan Soya yang berbalut almamater milik Soya sendiri.
Sesampai nya di sana Laura membuka pintu UKS perlahan, ia melangkah membawa Soya masuk ke dalam.
"Dokter Jim," panggil Laura ketika mereka berada di depan brankar. Ia memerintah Soya agar duduk di atas sana.
Dokter Jim menoleh, menatap dua orang siswi yang berada di depannya. Lalu tatapan nya beralih pada siswi yang tangan nya berbalut almamater.
"Kalian sakit?" Tanya Dokter Jim seraya menatap kedua nya bergantian.
"Teman saya yang sakit, Dok." Sahut Laura. Ia membuka balutan di tangan Soya dan memperlihatkan nya pada Dokter Jim.
Dokter tersebut beranjak dan mendekat ke arah mereka. Ia memperhatikan tangan pasien yang mengeluarkan darah.
"Ini.." Dokter Jim mendongak menatap Soya. Lalu langsung di sahut oleh Laura.
"Kena pecahan kaca, Dok." Kata Laura. Ia bersender di sisi brankar sambil memperhatikan teman nya.
Dokter Jim mengernyit. Ada ada saja anak muda, kenapa malah bermain kaca? Begitu pikir nya.
Dokter Jim beranjak mengambil kotak obat dan perlengkapan lain nya. Ia berdiri di depan pasien dan menilik tangan tersebut.
"Biar saya bersihkan dulu, kamu tahan ya," pinta Dokter Jim seraya menuangkan air steril pada luka di telapak tangan pasien. Kassa steril yang sudah di rendam dengan cairan povidone iodine ia usap ke area luka secara perlahan. Soya hanya mengangguk, sesekali juga ia meringis menahan perih.
"Ada pecahan kecil yang menancap di kulit, ini harus segera di cabut kalau nanti nanti takut nya jadi infeksi," ucap Dokter Jim ketika melihat benda bening kecil di telapak tangan pasien.
"Sakit nggak Dok kalau di cabut?" Tanya Soya dengan raut takut yang kentara.
Laura mendengus tawa sedangkan dokter Jim malah tertawa kecil.
"Enggak," jawab Dokter Jim. Ia mengambil pinset dan bersiap untuk mencabut.
"Sakit pak dokter!!" Jerit Soya, membuat Dokter Jim serta Laura terkejut karena jeritan tersebut.
"Belum di cabut dodol!" Keluh Laura sambil menyentil gemas dahi Soya.
"Eh, belum ya?" Tanya Soya dengan wajah lugu.
"Saya belum mencabut nya kamu malah berteriak duluan." Soya nyengir kuda kala Dokter Jim geleng geleng kepala. "Ini tidak sakit, tapi hanya sedikit perih," ucap Dokter Jim.
Soya mengangguk pasrah dan Laura sigap mengusap pundak teman nya guna memberikan kekuatan.
"Kamu kelas berapa?" Tanya dokter Jim pada Soya.
"Sebelas pak dokter," sahut Soya.
"IPA ya?" Tanya dokter Jim lagi seraya mencabut pelan pecahan tersebut. Soya mengangguk. "Sekelas nggak sama Angkasa?" Imbuh nya.
"Angkasa si ketua osis?" Tanya Soya memastikan, ia sih tidak tahu apakah ada siswa bernama Angkasa lagi selain ketua osis itu.
"Iya, Angkasa itu keponakan saya lho," jawab dokter Jim.
"Wahh! Pantes aja ganteng kayak pak dokter," sahut Laura. "Iya kan, Soy?" Tanya Laura seraya menaik turunkan alis nya menatap Soya.
Soya hanya mengangguk malas menanggapi ucapan teman nya. Sedangkan Dokter Jim tertawa kecil sambil membalutkan kain kassa pada telapak tangan Soya.
"Kita nggak sekelas, Dok. Angkasa itu di IPA-1 kalau kami IPA-2," ucap Soya.
Dokter Jim mengangguk lalu tersenyum manis. "Saya kira kalian sekelas. Ini Sudah selesai," ucap nya seraya membereskan sisa peralatan.
Soya menurunkan pandangan menatap tangan nya yang berbalut perban. Sudah selesai?? Kenapa sakit nya tak terasa ya?
"Terimakasih dokter ganteng," ucap Laura senang.
"Makasih, Dok." Ucap Soya, ia menarik sudut bibir nya. Tersenyum.
"Lain kali jangan bermain kaca, ya. Apalagi sampai melukai diri sendiri," kata dokter Jim menatap Soya dan Laura.
Kedua gadis itu saling pandang dengan dahi membentuk kerutan halus. Siapa yang bermain kaca? Tanya kedua nya dalam hati.
"Baik, Dok. Teman saya nggak akan main kaca lagi kok," sahut Laura, membuat Soya menyikut lengan gadis itu dengan siku kanan nya.
"Gue kan kena kaca, bukan main kaca!" Keluh Soya berbisik.
"Udah ngikut aja! Entar dokter nya malah bahas lagi, elu mau di ceramahi panjang lebar?" Tanya Laura berbisik juga.
"Enggak lah!" Sahut Soya.
"Nah makanya itu," ucap Laura.
"Kalian kenapa bisik bisik?" Tanya dokter Jim membuat Laura serta Soya gelagapan.
"Ah! Ahahaha... Kita itu lag-"
Ceklek!
Perkataan Laura terhenti ketika seseorang membuka pintu UKS, membuat mereka bertiga menoleh serentak menatap pintu.
"Permisi," ucap siswi tersebut seraya mencondongkan kepala dari balik pintu. "Kak Laura sama kak Soya di panggil Pak Didi kata nya di suruh ke ruang BK," lanjut nya.
"Ruang BK?" Tanya Soya dan Laura bersamaan. Mereka berdua saling pandang sambil kesusahan menelan ludah.
................
Tok
Tok
Tok
Bunyi ketukan pintu mengalihkan atensi beberapa orang yang berada di ruang BK. Mereka menoleh bersamaan menatap dua gadis yang berdiri di depan pintu.
Pak Didi selaku guru yang bertugas di Badan Konseling mempersilakan mereka masuk dan duduk di depannya bergabung dengan siswa yang lain.
"Soya Aila, kata anak disini kamu juga ikut membuat masalah. Kamu menuduh Nina dan menyebabkan awal kekacauan kafetaria. Apa kamu punya pembelaan atas tindakan kamu?" Tanya pak Didi menatap Soya yang nampak terdiam.
"Soya nggak punya pembelaan, pak." ucap Soya. Angga, Rey, Relvan, Nina, Laura dan Rizhan menatap tak percaya akan ucapan Soya. Mereka tak percaya Soya tak mengelak dan tak menyanggah semuanya, biasanya ia terus melakukan pembelaan diri. Tapi sekarang?
"Jadi kamu memang salah?"
"Kalau Soya bilang nggak salah juga ujung ujungnya Soya tetap di salahin, pak." ucap Soya sambil melirik Nina yang nampak meremas ujung rok nya.
"Kalian mau Bapak keluarkan surat untuk orang tua masing - masing?" Tanya pak Didi menatap anak anak didepan nya.
"Jangan dong, Pak." Sahut Rey memelas.
Pak Didi mengalihkan pandangan ke arah dua lelaki yang nampak bonyok. "Kalian juga. Ini sekolahan, bukan tempat perkelahian, Kalau mau tonjok menonjok di ring tinju bukan di sini!!" Kecam nya.
"Bukan salah Angga, Pak. Salah Relvan tuh!" Sangkal Angga.
"Bukan Relvan," bantah Relvan membuat Angga mendelik sinis.
"Lu duluan kan yang dorong Soya!" Seru Angga.
"Lu duluan yang nonjok gue," balas Relvan.
"Lu-"
"Diam!!" Sentak Pak Didi geram. "Bapak panggil kalian kesini bukan untuk saling tuduh!! Bapak ingin mendengar penjelasan kalian. Mau bapak keluarkan surat itu tanpa syarat?!" Sambung nya.
Mereka nampak terdiam, pak Didi menghela nafas panjang. Anak - anak di depan nya ini belum pernah masuk ruang BK dan lagi mereka ini anak berprestasi. Sekarang malah membuat masalah dengan mengacaukan kafetaria.
"Jadi bagaimana, kalian mau bapak skorsing selama tiga hari?" Dan kali ini Rizhan yang menyanggah ucapan pak Didi.
"Jangan, pak." Sanggah Rizhan. "Rizhan nggak mau di skorsing, teman teman Rizhan disini juga nggak ada yang mau, pak. Zhan mohon jangan skorsing kita, kita bisa terima hukuman yang lain, pak. Apa aja deh, asal jangan itu." Desak nya membuat pak Didi nampak berpikir.
"Jadi mau bapak panggil orang tua kalian?"
"Ya jangan juga, pak!" Sergah Laura. "Gimana kalau papi Lau tau, pasti papi bakal kecewa banget." Lanjut nya dengan wajah sedih agar pak Didi luluh.
"Iya pak jangan. Mama Rey galak, kalau mama tau pasti Rey bakal diusir dari rumah." Sambung Rey dramatis.
"Buna Rizhan juga galak, pak. Bisa bisa Rizhan bakal di sambit pakai galon.." desak mereka beramai-ramai pada pak Didi.
"Aduuhh.. iya iya! sudah kalian jangan ribut!" Keluh pak Didi sambil mengurut dahi.
"Jadi gimana, pak? Hukuman lain aja ya pak." Rayu Laura.
"Ya sudah. Kalau begitu, kalian semua disini, habis ini bersihkan taman belakang sampai bersih!! Sekarang! Tapi kalau nanti kalian mengulangi perbuatan kalian lagi, bapak akan ambil tindakan lanjut ya!"
"Baik, pak!" Jawab mereka serempak.
"Taman belakang lagi?" Gumam Rizhan pelan. Mau dia sih tadi dihukum bersihkan toilet kelas masing-masing lebih mudah daripada bersihkan taman belakang yang seluas dunia.
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
...tbc...