
Soya kini melirik Nina sekilas lalu menatap Relvan. "Tuh, cewek lu gak disuruh duduk apa? Gak perhatian banget jadi cowok."
Lelaki itu menatap Soya dengan kernyitan, siapa yang Soya maksud? Apakah dirinya? Tapi Nina bukan ceweknya.
Angga menyikut lengan Relvan. "Ahaha... Duduk, Nin. Itu kursi Risya kosong," timpalnya. "Katanya tadi gak bisa duduk 'kan? Itu udah dikasih kursi lu nya masih aje berdiri."
Risya menganggukkan kepala. "Ambil aja tuh kursi, gue juga udah punya tempat duduk baru," ucapnya.
Nina seakan merasa tak enak dengan perempuan itu. Seperti hendak menolak namun hendak menerima juga. "Gak apa-apa, Sya? K-kamu bisa kok duduk ditempat kamu sebelumnya, biar-"
"Biar apa?" Sergah Risya bahkan Nina belum menyelesaikan perkataannya. "Biar lu bisa duduk di pangkuan Sigra, gitu?"
"E-eh, aku gak gitu, Sya. Aku juga gak ada punya niatan kayak gitu," sahut Nina cepat.
"Kok lu jadi nuduh Nina sih, Sya?" Tambah Rey.
"Hm?" Risya menyendok es krimnya yang terakhir dan memasukkannya ke dalam mulut. "Gue cuma bilang doang, bukan nuduh dia. Iya 'kan, Ay?" Ia mengedipkan matanya ke arah Sigra.
Sigra mencubit hidung Risya lalu mengusap es krim yang belepotan disudut bibir sang adik. "Nakal banget sih, adik siapa ini?" Bisiknya kecil.
Ia kemudian menatap Rey. "Dia cuma ngomong sembarang, Rey. Jangan lu masukin ke hati," bela Sigra.
Risya tersenyum penuh arti menatap Nina yang telah duduk di depannya, yakni; di kursi yang ia tempati sebelumnya.lalu kemudian mengendikan bahunya acuh sambil membersihkan tangannya menggunakan tisu.
Ini lebih menyenangkan saat melihat raut wajah Nina kesal. Pasti ia tengah dimaki oleh perempuan itu di dalam hati, apalagi sekarang ini, Nina pasti tengah panas sampai ingin meledak-ledak melihat dirinya dengan sigra yang terlihat mesra layaknya sepasang kekasih. Padahal 'kan bukan.
***
Tak terasa kini jam di dinding telah berlalu dengan cepat. Di dalam kelas tersebut Risya masih tertinggal di dalam sana dengan beberapa anak lainya. Sebagian dari mereka yang terlambat pulang disebabkan oleh tugas sekolah yang harus diselesaikan hari ini juga.
Seperti Risya sekarang. Harusnya Alby dan Rhaegar juga bersamanya saat ini, namun kedua lelaki itu disibukkan oleh sesuatu yang mengharuskan mereka untuk meninggalkan kelas. Materi yang tertinggal nanti bisa disusul.
Satu persatu anak yang tertinggal di dalam kelas kini mulai beranjak dan meninggalkan ruangan tersebut. Risya juga sedikit lagi akan selesai jadi tak perlu terburu-buru untuk keluar.
"Kita duluan ya, Sya," ucap mereka sambil melangkah ke arah pintu.
"Oke!" Sahut Risya sambil tersenyum.
"Jangan lupa matiin ac-nya juga, jendelanya ditutup ye." Anak-anak di kelas ini sudah terbiasa untuk saling memperingati satu sama lain pada setiap mereka yang pulang paling akhir.
Risya mengangkat jempolnya sebagai tanda telah menyetujui dan mendengarkan perkataan mereka. Tak berselang lama, Risya menutup bukunya sambil memandang ke arah luar jendela. Angin berhembus dengan kencang menerbangkan helaian daun di pepohonan, langit juga terlihat menghitam dan sepertinya sebentar lagi akan turun hujan.
Ia memasukkan bukunya ke dalam tas lalu hendak beranjak menutup jendela. Namun tiba-tiba...
Jederr!!
Zrasshhh!!!
Suara petir serta air hujan yang turun beriringan dengan derasnya sekejap langsung membasahi semesta. Risya sampai berteriak ketakutan, dan seketika rasa kalut melanda pikirannya. Badannya bergetar hebat. Ya Tuhan... Ia takut.
Diluar sekolah, lebih tepatnya di area parkiran kendaraan roda dua. Sigra sedari tadi mengecek ponselnya berkali-kali memastikan ada pesan dari Risya atau tidak.
Hujan kini turun dengan amat derasnya disertai petir yang menyambar beberapa kali, mungkin mereka tak bisa bergegas pulang ke rumah apalagi sampai nekat menerobos hujan. Bahaya.
Sigra mengusap lengannya kala dinginnya angin yang berhembus menyapu kulit arinya. Dinginnya terasa menembus sampai ke tulang padahal ia sudah memakai jaket yang sedikit tebal.
Ia terdiam sejenak, menatap gedung sekolah yang tidak terlalu bisa dilihat sebab bercampur dengan derasnya angin dan hujan. Sigra lupa, apa tadi adiknya membawa jaket, ya? Ia takut Risya akan sakit.
Bocah itu tidak memakai jaketnya, apa tidak kedinginan, ya?
"Jangan main air," tegur Angga. "Entar baju lu basah, kalo lu pakai pakaian yang basah entar lu bisa sakit."
Yang di tegur malah terlihat mengerucutkan bibirnya seolah tak terima dengan teguran yang diberikan oleh lelaki itu.
Padahal bermain air itu menyenangkan, apa lagi bermain air di derasnya hujan. Kenapa ya, terkadang sesuatu yang menyenangkan itu bisa menyakiti diri kita sendiri?
Sigra merasa tak nyaman, ada perasaan cemas yang tiba-tiba membuncah di dada. Ia melirik jam yang ada di pergelangan tangan, harusnya Risya sudah keluar dari kelasnya sedari tadi. Tapi tak ada tanda-tanda kehadiran sang adik bahkan sampai hujan yang kini mengguyur semesta tak juga memunculkan tanda-tanda.
Tak ada sebuah chat atau pesan yang disampaikan Risya sebelumnya. Tidak mungkin juga kalau adiknya pulang terlebih dahulu tanpa mengabarinya.
Sigra lalu merogoh ponsel di saku celananya, ia bermaksud menghubungi sang adik namun tiba-tiba ada sebuah panggilan masuk yang tertera dilayar ponselnya.
"Rhae?" Gumam Sigra. Ia tak mengerti kenapa lelaki ini tiba-tiba saja menghubungi, tumben sekali.
Sigra menggeser tombol hijau, diangkatnya panggilan tersebut seraya meletakkannya tepat di telinga. Harus menambah volume suara juga, jika tidak mungkin akan kalah dengan gemuruh air hujan.
[Halo, Gra!]
Suara Rhaegar mulai terdengar dari sambungan telepon. Belum sempat Sigra menjawabnya, Rhae kini berkata lagi.
[Risya lagi sama lu gak?] Rhaegar juga sedikit berteriak agar suaranya sampai ke pendengaran Sigra.
[Dia udah pulang belum?]
"Belum," jawab Sigra. "Gue kejebak di parkiran."
[Risya?]
"Dia belum nyamperin gue dari tadi," sahut Sigra lagi.
[Sial!] Umpat Rhaegar dari balik telepon.
[Cepetan lu cari Risya, Gra!] Pekiknya. [Lu jangan lupa kalau dia punya Astraphobia!]
Mata Sigra lantas terbelalak lebar, sambungan telepon tadi langsung terputus dengan perkataan Rhaegar sebagai akhir obrolannya. Ia melupakan hal itu, Risya... Takut hujan disertai dengan petir.
Ah, d*mn it!
Sigra lekas memasukkan ponselnya kembali, ia kemudian berlari ke arah sekolah. Tak perduli lagi dengan derasnya hujan yang mengguyur tubuhnya dan membasahi pakaiannya. Ia harus menemukan Risya. Anak itu pasti sedang ketakutan sekarang ini.
Tolong bertahan sebentar...
...•...
...•...
...•...
...•...
...Bersambung...