
Mentari mulai menyingsing dari singgasana nya, dingin nya buliran - buliran embun pagi ini sangat terasa menembus kulit. Risya duduk di depan cermin seraya mengeringkan rambut nya yang masih basah bekas keramas.
Ia mengembangkan senyum sambil menatap pantulan diri di dalam cermin. Setelah usai mengeringkan rambut, Risya melangkah ke meja belajar nya. Ia nampak mencoret - coret buku diary milik Risya, entah apa yang ia tulis. Bisa saja tentang beberapa kejadian yang menimpa nya ataupun pada tokoh lain nya, tanggal kejadian beserta kejadian yang nampak berubah dari kisah asli nya.
Risya mengulas senyuman sebelum tangan nya menutup buku tersebut dan menyimpan nya di laci meja yang tertutup rapat. "Mending gue turun deh." Ia bergumam kecil seraya mendongakkan kepala melihat jam dinding yang terpasang di kamar nya.
"Oke, entar malah dikira gue gak sekolah lagi kalau lama keluar kamar." Ia kemudian melangkah keluar, menuruni anak tangga, untuk menuju ke arah meja makan. Di sana ternyata sudah terlihat Mommy, Daddy dan Sigra yang tengah menunggu diri nya.
"Pagi Mommy, Daddy." Risya mengecup pipi kedua orangtuanya lalu duduk di samping Sigra.
"Pagi sayang!" Mommy Aliya mengusap kepala putri nya dengan sayang.
"Abang enggak?" Risya lantas melirikkan mata nya ke arah Sigra yang memasang wajah masam lalu seketika ia memberikan cengiran nya pada kakak laki-lakinya.
"Oh, iya lupa." Risya mengecup pipi Sigra. "Pagi abang!" Ucap nya. Yang di balas Sigra kecupupan singkat di kepala Risya.
"Pagi!"
"Kamu yakin mau sekolah hari ini?" Risya menolehkan kepala nya menatap sang Mommy yang bertanya, kemudian ia mengangguk sekali sebagai jawaban. "Beneran?" Tanya mommy sekali lagi dan lagi - lagi Risya menganggukkan kepala.
Sigra menatap ke arah Risya dengan lekat. "Sini biar aku cek dulu." Ia menyentuh dahi Risya lalu kemudian ke arah leher untuk mengecek suhu tubuh adik nya.
"Normal, kan?" Tanya Risya. Mommy menatap juga Sigra, harap - harap mendapatkan jawaban yang sama dengan putri nya.
"Gimana, Gra?" Tanya mommy. Sigra menjauhkan tangan nya lalu mengangguk sekali.
"Tuh, kan! Kalau Caca bilang sehat berarti emang udah sehat, jangan khawatir. Okey?" Mommy dan Daddy saling pandang, tatapan nya seolah masih ragu dengan perkataan putri mereka namun mau tak mau mereka juga memaksa untuk tetap percaya.
Sigra kembali menoleh ke arah adik nya lagi. "Kamu gak ada ngerasa pusing?" Tanya nya memastikan. Risya menggelengkan kepala. "Ngerasa nggak enak badan atau apa gitu?" Jawaban nya tetap sama, Risya menggelengkan kepala.
Melihat itu, Daddy Vino nampak menghela nafas berat. "Kamu Daddy izinin sekolah tapi jangan sampai kecapean, kamu juga nggak boleh terlalu banyak beraktivitas dibawah panas matahari," jelas nya panjang lebar.
"Siap!" Seru Risya seraya terkekeh kecil.
" Dan jangan lupa pakai jaketmu, pagi ini udara nya dingin," tambah Daddy Vino lagi. "Abang kamu yang bakal ngawasin kamu nanti." Risya sontak memiringkan kepala nya bingung. Kenapa mereka jadi protective sekarang??
"Harus?"
"Iya," sahut Daddy Vino.
"Arti nya kamu juga harus nurut sama Abang saat di sekolah nanti." Risya mengernyit menatap Sigra. "Kenapa harus gitu?" Tanya nya. Sigra mengusal rambut Risya pelan. "Nurut aja," kata lelaki itu.
Risya akhir nya menganggukkan kepala dengan sedikit tak rela. Sarapan mereka kini telah selesai dan saat nya Sigra dan Risya berangkat ke sekolah serta Mommy dan Daddy berangkat bekerja.
Risya memasang helm ke kepala nya dengan wajah cemberut menatap Sigra yang acuh tak acuh dengan gerutuan yang keluar dari mulut nya. "Berangkat nya juga harus sama abang?" Tanya nya. Aduh, ia benar benar malas sekarang. Jadi pusat perhatian sudah tak dapat ia hindari untuk saat ini.
Sigra tak menjawab pertanyaan adik nya, ia hanya tersenyum kecil sembari melapas jaket yang tadi ia kenakan dan memasangkan nya ke pinggang Risya. Mungkin itu karena rok Risya terlalu pendek saat menaiki motor nya.
"Ayo, entar kita telat," ajak Sigra.
Risya menghela nafas lelah kemudian menurut saja untuk naik ke atas motor Abang nya. Di sepanjang perjalanan ke sekolah, Risya terlihat menarik lekuk senyum nya. Gadis itu nampak sangat menikmati udara pagi yang terasa sejuk ini.
Tak menghabiskan waktu yang lama, akhir nya Sigra dan Risya pun sampai di sekolah mereka. Saat tiba diparkiran, ternyata ada teman-teman Sigra yang tengah berada di sana. Mungkin saja kebetulan menunggu satu teman mereka yang barusan datang ini.
Risya bergegas turun dan melepas helm di kepala nya. Ia membenarkan rambut nya yang sedikit berantakan akibat tertiup angin jalanan tapi Sigra malah mengacak rambut nya kembali hingga membuat ia kesal sendiri.
"Ayen! Jangan diberantakin," keluh Risya sambil melemparkan tatapan sinis pada abang nya. Sigra sontak terkekeh geli dan tak perduli, ia malah hendak meraih kepala Risya lagi tapi tak sempat karena lebih dulu di tepis oleh sang empu.
"Pantes lu Gra gak mau bareng, ternyata sama cewek nya," celetuk Angga setelah ia mengamati Risya dan juga Sigra.
Risya lantas menatap Angga sambil mengerjap cepat. "Cewek nya?" Tanya nya dengan memiringkan kepala nya bingung.
"Jangan di dengerin omongan dia." Risya menengadahkan kepala nya seolah meminta penjelasan pada Sigra namun lelaki itu malah tak mau melihat ke arah nya.
"Pagi, Sya!" Sapa Rizhan tiba - tiba seolah mereka sudah akrab dari lama.
Risya langsung menoleh dengan senyuman kecil "Oh, pagi! Lu Rizhan ya?" Sahut nya sekaligus bertanya.
Rizhan mengangguk sambil membalas senyuman gadis itu. "Lu tau?" Tanya nya sambil mengerjap pelan. Kalau dipikir-pikir, Risya pasti kenal dengan nya sih. Tidak heran juga.
Risya mengangguk sekali. "Tau lah! Lu cowok paling imut seantero sekolah," tukas nya hingga membuat Angga seketika menutup hidung nya agar bisa menahan tawa nya yang terasa ingin pecah.
Rizhan mendengus kesal, bukan karena perkataan Risya melainkan karena Angga yang ingin menertawakan nya. Bocah itu langsung menendang kaki Angga hingga membuat lelaki itu meringis sakit.
"Tapi lu emang imut." Risya mengacak rambut Rizhan pelan, gemas sekali dengan bocah SMA itu.
"Udah," ucap Sigra seketika menghentikan usapan Risya pada rambut Rizhan sebab lelaki itu meraih tangan mungil adik nya dengan wajah dingin nya.
"Cih! Cemburu lah tuuu..," ejek Rizhan dengan wajah yang begitu menjengkelkan. Sigra berdecak kesal dan meninggalkan mereka seraya menarik Risya untuk mengikuti nya.
"Kelas," tukas Relvan datar seraya yang melangkah meninggalkan ketiga teman nya yang masih melongo di tempat.
Risya berdecak kesal saat Sigra ternyata benar - benar mengantar dia sampai ke depan pintu kelas nya. Sigra menatap adik nya itu. "Nanti istirahat kamu di kelas aja, biar aku jemput," ucap nya sembari menepuk - nepuk puncuk kepala Risya.
"Aku bisa jalan sendiri, gak usah pake di jemput lah," tolak Risya halus.
"Nurut."
Risya mendecakkan lidah nya pelan. "Okey," sahut nya dengan sedikit ketus. Ia langsung berbalik setelah Sigra meninggalkan kelas nya.
"Hei, Sya. Udah sehat?" Risya mengangguk semangat menanggapi pertanyaan teman sekelas nya. Gadis itu kemudian melangkah ke arah tempat duduk nya.
"Iya lah! Gak lihat?" Sahut Risya membuat Rhaegar terkekeh kecil. Ia menaruh tas nya di atas meja lalu duduk di sebelah Rhae dengan santai.
"Alby ke mana, Rhae?" Tanya Risya sambil celingukan menilik kelas nya.
"Keluar kelas bentar tadi," ujar Rhaegar sambil terus fokus pada buku yang ada di atas meja nya.
"Ke mana?"
"Gak tau gue," sergah Rhaegar. Sedetik kemudian setelah mereka membicarakan si Alby, sang empu malah masuk ke dalam kelas. "Nah tuh makhluk nya, baru juga dibicarain," sambung nya.
"Ngapain ngomongin gue?" Tanya Alby yang baru saja menaruh bokong nya di tempat duduk milik nya.
"Erin nyariin elu," ucap Rhaegar. Alby nampak tersentak saat baru tersadar kalau Risya ada diantara mereka.
"Eh, lu udah sekolah?" Tanya Alby sumringah membuat Risya mendengus sebal karena nya.
"Enggak!" Sahut Risya ketus lalu mengerucutkan bibir nya.
"Maaf." Alby terkekeh kecil sambil mengacak rambut Risya pelan. Ia juga sekaligus mengecek suhu tubuh Risya dengan meletakan punggung tangan nya di dari gadis itu. "Udah sehat ye cewek kita," celetuk nya tanpa menyadari Rhaegar tengah mendelik nya dengan sinis.
"Cewek gue," sergah Rhae tak terima.
Risya menghela nafas panjang melihat keributan kedua nya, apaan coba yang mereka ributkan?? Ia bukan milik siapa - siapa dan tak ingin diperebutkan oleh siapapun juga. "Ck. Bukan cewek lu pada!" Ketus nya lalu menggeplak kepala kedua lelaki itu dengan kesal.
Risya mengalihkan pandangan nya tepat ke arah Rhae sedang mencatat sesuatu di buku. Karena keinginan tahuan nya kuat jadi ia langsung mengambil buku tersebut dan menilik nya lekat - lekat. "Apaan nih?" Tanya nya kepo. Setelah melihat buku tersebut, ia kembali menatap Rhaegar dengan kernyitan. "Ih lu nyontek anjir!" Tukas nya.
"Bukan nyontek," sahut Rhaegar santai.
"Terus?" Risya mengernyit dengan sangat.
"Cuma nyalin doang."
"Yee sama aja dongo!"
Rhaegar lantas menarik pipi Risya dengan pelan, gemas sekali dengan sikap menjengkelkan gadis itu. "Rin, lu baru sembuh kok ngeselin banget?" Keluh nya membuat Risya memeletkan lidah ke arah nya.
"Tapi ini tugas loh, lu gak mau nyalin juga?" Alby ikut menimpali mereka seraya menaik-turunkan alis nya untuk menggoda Risya. Risya sendiri terlihat melebarkan pupil mata nya, sialan! Jadi ini tugas?
"Gue nyalin," sergah Risya lalu mengambil buku tulis milik nya dengan cepat.
Rhaegar sontak memutar bola mata nya. "Siapa yang tadi ngejekin gue, hm? Sekarang malah ikut nyalin juga." Risya lantas terkekeh dan tak ingin menanggapi perkataan lelaki itu, Rhae membiarkan Risya menyalin lebih dulu sebelum pembelajaran pertama mereka dimulai.
**
"Ini satu ya, mbak. Sama yang ini juga deh," ucap Laura sambil menunjuk sebuah roti dan memesan satu teh hangat.
Setelah beberapa saat, ia kembali menerima roti dan segelas teh hangat lalu membayar nya dan meninggalkan kafetaria. Ia berjalan menyusuri selasar kelas tanpa terburu - buru. "Gue denger Risya udah sekolah." Laura bergumam sambil terus berjalan ke arah UKS sekolah. "Tadi pagi dia berangkat bareng Sigra, kakak kelas yang kaku nya luar biasa," celetuk nya sambil mendengus tawa.
"Tidak terbayang sih kalau Risya pacaran dengan Sigra. Pasti Risya akan jadi perempuan yang sabar nya luar biasa."
Laura berhenti tepat di depan pintu UKS sebelum tangan nya mendorong pintu tersebut dan melangkahkan kaki nya masuk ke dalam. Diletakkan nya roti dan teh hangat di atas meja kemudian ia mendudukkan diri di kursi yang ada di sana.
"Gimana, Soy?" Tanya nya pada Soya yang masih terlihat pucat. Tadi magh Soya tiba - tiba kambuh, mungkin ia tidak sempat mengisi perut nya lebih dulu hingga membuat nya jadi seperti itu.
Soya mengulas senyuman tipis. "Udah gak mual lagi," sahut nya.
Laura menganggukkan kepala nya. "Kenapa gak sarapan dulu sih? Untung gak ada kegiatan pagi, kalau enggak lu bisa pingsan." Soya nampak tertawa kecil kala mendengar perkataan nya. "Malah ketawa lu! Gue bener - bener khawatir tau!"
"Iya maap," ucap Soya pada akhir nya.
Laura menghela nafas, netra nya menatap Soya sekilas lalu meraih sebuah roti yang ia beli tadi. "Nih, makan dulu roti nya." Ia menyerahkan roti tersebut. "Gue juga beliin teh anget biar perut lu rada enakan," timpal nya lagi.
"Thanks ya. Gue nyusahin lu mulu," kata Soya dengan perasaan sedikit tak nyaman sebab takut kalau ini membebani Laura.
"Lu emang nyusahin," sahut Laura ketus.
Soya mengerucutkan bibir nya dan memelas. "Ishh lu tega bener."
"Bercanda," tukas Laura sambil terkekeh geli. "Udah cepetan abisin, terus lu istirahat. Kalau mau tidur juga gak apa - apa, entar jam istirahat gue bangunin." Soya mengangguk saja. Ia menghabiskan roti yang dibelikan Laura dan meminum teh hangat tersebut. Ia beristirahat sejenak setelah selesai meminum obat untuk lambung nya.
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
...Bersambung...